
Lord Betelgeuse’s Power
SERPIHAN ASTEROID ITU, meskipun ukurannya kecil serupa jempol orang dewasa, saat Levi hendak menggenggamnya, keanehan terjadi. Benda itu melayang dari peti batu dan mengambang di langit-langit. Levi menutupi pandangannya saat sinar emas yang memancar meluap-luap dari sana. Ia merasa sensasi seperti terbakar. Serpihan asteroid yang awalnya kecil, mulai membesar bahkan sampai meruntuhkan atap ruangan ini. Levi dengan sigap menghindar dari tempatnya berdiri agar tidak tertimpa reruntuhan.
“Sial, serpihannya saja sebesar ini dan masih menyimpan kekuatan yang besar,” ujar Levi. Ia menggunakan kemampuan alkimianya dengan membentuk sebuah pelindung dari tanah. “Pelindungku tidak mungkin bertahan lama, aku harus melakukan sesautu.”
Tanpa pikir panjang, Levi meletakkan kedua tangannya ke tanah dan membentuk sebuah ombak. Ombak dari tanah itu mencoba melahap serpihan asteroid yang bergejolak, tetapi seketika meleleh saat mendekati asteroid. Sesaat kemudian, gelombang energi emas memancar mengempaskan semua yang ada di dekatnya, bahkan termasuk Levi. Anak itu tidak berhasil menahan energi Asteroid Emas dan terpental menghantam tembok. Levi meringis kesakitan dan terbatuk.
Ada darah yang keluar dari dalam mulutnya.
“Kuat sekali,” ujarnya sambil memegang dada. “Jika serpihannya sudah sekuat ini, bagaimana dahulu saat masih utuh?! Aku tidak akan, kalah!”
Levi mengibaskan jasnya dan mengambil semua botol berisi cairan yang tersisa di dalam pocket. Dalam hatinya, ia sangat mengharapkan kehadiran Lord Betelgeuse, tapi pria itu masih bertarung. Suara tabrakan antar kekuatan masih terdengar di belakangnya. Namun, jika ia hanya menunggu kehadiran Lord Betelgeuse, semuanya tidak akan berubah. Ia hanya akan berakhir menjadi kematian. Maka dari itu, Levi melempar tiga botol alkimia ke udara, lalu menghadapkan kedua tangannya ke arah benda-benda itu. Dengan satu tekad yang penuh, Levi mengerahkan kekuatan terakhirnya.
“Alchemist Combination: Volcano.”
Saat kemampuan alkimia diaktifkan, cairan pada botol bergabung menjadi satu, membentuk lava pijar yang panas. Lava tersebut membesar dan melahap apa pun yang menghalangi. Meskipun tampak mengesankan, tetapi saat ini Levi sangat kewalahan mengendalikannya. Apalagi, beberapa bagian pada sarung tangannya mulai retak. Ia berteriak sekali lagi.
“Aku tidak akan kalah!” pekiknya. “Bagaimanapun, aku harus kembali dari tempat ini dan memamerkan semuanya pada seluruh warga Maple Academy!”
Adrenalin yang terpacu membuat aliran lava pijar panas mengerubungi serpihan asteroid. Melahapnya dengan ganas bagai lava saat gunung api meletus dahsyat. Energi yang meluap dari asteroid sempat terhambat dan terkurung dalam lautan api itu. Levi menyeringai saat ia mengira bahwa kemampuannya berhasil meredam serpihan asteroid. Namun, takdir berkata lain.
Tanpa pernah Levi sangka-sangka, dalam sekali serangan balasan, lava panas yang semula tampak meyakinkan seketika berserakan bagai abu diterpa angin. Saat itu Levi terpana, tak bisa bergerak sedikitpun, bahkan ketika sarung tangan alkimianya hancur menjadi rongsokan. Kedua tangannya memerah terkena suhu yang teramat panas. Lalu, ketika sambaran sinar keemasan dari serpihan asteroid hendak menyerangnya dengan keji, tanpa sadar Levi meneteskan air mata.
Sepertinya ini benar-benar menjadi akhir dari hidupku ….
“Bukankah aku sudah berjanji untuk melindungimu, Levi Strauss?”
Serangan asteroid terpental. Baru saja, kegelapan yang pekat membentuk penghalang yang kuat menyelamatkan Levi dari kematian. Levi tersentak saat ia melihat seorang malaikat turun dari langit. Lord Betelgeuse, saat itu mengembangkan sayapnya dan menggerakkan sebelah tangan, dari sana tangan-tangan kegelapan bermunculan menghadang serpihan asteroid. Sementara tangannya yang satu, sedang mengangkat tubuh seorang perempuan.
“Lord Betelgeuse …,”
“Kerja bagus, Nak,” ujarnya tersenyum. Levi membelalak. Baru kali ini ia melihat Lord Betelgeuse tersenyum. Senyum yang penuh ketulusan. “Sekarang, biarkan aku yang akan mengakhirinya.”
“Kupikir, aku akan menyusul kedua orang tuaku.”
Lord Betelgeuse berdiri tegak membelakangi Levi setelah ia meletakkan tubuh perempuan di samping anak itu. “Kau masih terlalu muda untuk mati, Levi Strauss,” ujarnya. “Lagipula, bukankah pahlawan selalu datang di saat-saat menegangkan?”
“Manusia juga masih punya perasaan … kau harus ingat itu.”
Kemudian, Lord Betelgeuse dengan gagah berjalan mendekati asteroid. Di sekelilingnya sekarang, aura kegelapan berkumpul dan mengerubunginya. Kedua matanya yang merah, menyala terang. “Sisa-sisa masa lalu harus segera dihancurkan,” katanya lantang. “Biar aku tunjukkan padamu kekuatan dari orang yang telah mati. Orang-orang yang terbunuh saat kejadian itu.”
Lord Betelgeuse melukai tangan kanannya dan membiarkan darah itu jatuh ke tanah. Sembari merapal mantra, aliran darah membentuk lingkaran dengan simbol bintang segilima. Api biru menyala di setiap titik di simbol itu bersamaan dengan suara-suara dari alam lain. Suara dari orang mati. Lord Betelgeuse merapal mantra.
“Mereka yang bersemayan di Neraka, kini menuntut balas dan penuh amarah.
Api abadi yang berkobar, tak meredamkan dendam dan pengkhianatan.
Aku, sang Raja Kegelapan, memerintahkan. Datanglah menuntut balas!”
Dari dalam kehampaan, suara teriakan alam gaib bercampur, membuka sebuah portal. Arwah-arwah bermunculan seakan berusaha memenuhi tempat itu. Satu per satu, mereka yang dipanggil berdiri dengan rapi di belakang Lord Betelgeuse. Meskipun serpihan asteroid menyerang dengan energinya yang kuat, yang terjadi malah energi tersebut memencar menghantam dan menghancurkan benda-benda yang lain. Tak jauh di belakangnya, Levi berusaha menggerakkan tubuhnya yang lemas agar tidak terkena dampak dari energi yang tidak beraturan. Ia bersusah payah, hingga akhirnya kakinya tidak bisa diajak kompromi. Saat sebuah reruntuhan memelesat ke arahnya dengan cepat, tanpa sempat ia bergerak menghindar, reruntuhan itu mendadak pecah sebelum mengenai tubuh Levi. Ia tak percaya begitu menyadari ada dua sosok arwah lain melindunginya dari kematian. Saat ini, dua arwah itu duduk bersimpuh satu sama lain dengan tubuh yang dibungkukkan seolah menjadi tameng.
“T-tidak mungkin ….”
Dua arwah yang menolongnya saat ini menampilkan senyum. Senyum yang selama ini hilang dari hidup Levi Strauss. Senyum kedua orang tuanya. Arwah mereka terpanggil dari alam baka ke tempat ini, menjadi pelindung terbaik baginya.
“Dengan begini, semuanya akan selesai.” Lord Betelgeuse menyahut. Ia merentangkan sebelah tangan ke depan, diikuti dengan arwah-arwah di belakangnya. “Dark Magic: Soul Liberation.”
Energi dari para arwah mengalir dari tangan menuju tubuh Lord Betelgeuse di depannya. Saat semuanya sudah terkumpul, Lord Betelgeuse berteriak dengan lantang melancarkan sebuah serangan mahadahsyat tepat ke inti serpihan tersebut. Serangan mematikan yang cepat menghantam serpihan asteroid hingga menghasilkan suara yang keras bagaikan suara ledakan nuklir berskala tinggi. Tidak ada yang sempat melihatnya.
Hening yang panjang ….
Levi membuka mata perlahan setelah beberapa menit terdiam. Arwah orang tuanya sekali lagi tersenyum sebelum memudar. Ia berusaha menghentikan mereka, tapi tidak ada yang berubah sampai arwah itu sirna dari pandangan. Levi bergerak sangat pelan, menyusuri bangunan yang sepenuhnya menjadi reruntuhan itu. Karena kekuatan yang dahsyat tadi, ia tidak sempat melihat sosok Lord Betelgeuse. Dengan stamina yang masih tersisa, Levi berteriak parau memanggil nama pria itu.
Tidak ada jawaban.
“Lord Betelgeuse, jangan bercanda!” pekiknya. “Anda tidak mungkin mati begitu saja kan. Anda sudah berjanji!”
Beberapa saat setelah Levi mengerang dengan perasaan kesal bercampur sedih, terdengar tawa geli familier dari balik asap. Sosok itu mendekat dengan tatapan yang lembut. “Aku baik-baik saja, Levi Strauss.”
Levi jatuh terduduk, berusaha menahan tangis. “Syukurlah … syukurlah.”
Orang yang dicarinya masih ada bersamanya.