Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
Levi Strauss and the Journey to the North-West - Sweet Dream




Sweet Dream


IA MENDAPATI DIRINYA duduk di dekat perapian yang berkobar. Di sini, di rumah sederhana berdinding kayu yang nyaman dan hangat. Suasana yang tercipta membuatnya yakin kalau saat ini ia sudah pulang. Anak laki-laki itu berdiri, berjalan ke arah ruangan yang berukuran lebih besar. Di sana, ia menemukan sesuatu yang hilang dari hidupnya.


Keluarga.


“Ayah? Ibu?” panggilnya lirih, tapi cukup mengalihkan perhatian dua orang yang sedang bercengkrama dengan wajah bahagia. Ketika dua pasang mata itu menemukan sosok anak laki-laki yang sudah berbalut kerinduan, mereka tersenyum hangat.


“Levi, kamu akhirnya pulang, Nak.” Sang Ibu berkata sambil memeluk tubuhnya. Pelukan yang terasa nyata dan menenangkan.


“Aku sangat merindukan kalian. Sejak hari itu ….”


“Kami juga merasakan hal yang sama, Nak,” balas sang Ayah.


Levi duduk di sofa menghadap ke arah mereka. Ia masih tidak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Kedua oranguanya benar-benar nyata. Apakah ini hanyalah mimpi yang muncul akibat rasa rindunya yang berlebihan? Levi mencubit tangannya dan ia mengerang pelan. Sakit. Itu artinya ia tidak bermimpi. Kemudian, ayah dan ibunya mendadak menyuruhnya duduk dengan tenang selagi mereka menunggu.


“Siapa yang akan datang?”


Kedua orang tua Levi memandangnya dalam sambil melontarkan senyum yang sama. “Kita akan kedatangan tamu spesial. Kebetulan sekali kamu hadir bersama kami untuk menyambut orang itu, Sayang,” jelas ibunya.


Namun, Levi masih tidak mengerti. Banyak hal yang berputar di dalam kepalanya sekarang. Hal-hal yang membutuhkan jawaban, tapi orang tuanya tidak lagi bicara. Seolah mengabaikan pertanyaannya. Padahal, ia baru saja bertemu kembali dengan mereka. Harusnya, saat ini mereka tertawa melepas rasa rindu atau makan malam bersama. Di kala kebingungan menyelimuti Levi, pintu rumah diketuk pelan tiga kali. Matanya mengarah tepat ke arah pintu saat orang tuanya mulai merespons kehadiran seseorang.


“Ia sudah datang. Ia sudah datang.”


“Sang Pangeran ….”


Levi membelalak. Pintu rumah dibuka dengan pelan saat sosok tinggi yang dikelilingi asap hitam itu masuk. Hanya kegelapan yang ia temukan. Ia tidak bisa melihat parasnya. Seperti terhalangi sesuatu. Kedua orang tua Levi, seketika berlutut menghadapnya. Levi mundur ke belakang menyaksikan pemandangan aneh itu. Terlebih saat asap hitam menyerap tubuh orang tuanya hingga hilang sekejap mata. Kini, hanya ia dan sosok asing tak dikenal berhadapan satu sama lain.


“K-kau … siapa?”


Tanpa menjawab pertanyaan Levi, sosok tinggi itu menunjuknya. Ajaib, beberapa detik setelah sosok itu melontarkan telunjuk, dunia di sekeliling Levi berubah. Ia dibawa menyaksikan potongan adegan-adegan seperti menonton layar tancap. Hanya, ia tidak bisa bergerak sedikit pun. Ada rantai tak terlihat mengikat seluruh tubuhnya. Levi menyaksikan peristiwa saat kehadiran meteor yang sangat besar menghantam dunia di bawahnya.


Saat radiasi tersebut menyilaukan mata, keadaan berubah. Levi berada di sebuah tempat lain. Akademi. Apakah itu Maple Academy? Tidak! Ketika pemandangan semakin jelas, Levi sangat percaya itu akademi yang lain. Seperti akademi para Wizard. Lalu sosok itu menunjukkan dua orang yang berbeda saling berhadapan. Satu hitam dan satunya putih. Entah kenapa, Levi merasa sangat kenal dengan dua orang yang sedang bertarung itu. Hanya, ia tidak diperkenankan melihat wajah mereka lebih dekat.


Dan dunia kembali berubah. Sebuah gurun yang gersang. Tanpa kehidupan. Di tengah gurun, sesuatu yang awalnya tak terlihat kini menampakkan diri. Sebuah kerajaan megah. Kerajaan itu menyala terang keemasan. Seakan-akan setiap inci bangunannya terbuat dari emas. Levi dibawa menjelajahi istana itu sampai ke sebuah ruangan tersembunyi. Di dalamnya tersimpan peti besar dengan ukiran dan tulisan yang tak bisa ia pahami. Anehnya, cahaya keemaasan membuncah dari dalam kotak itu. Apa yang terkubur di sana?


Baru saja Levi hendak membuka peti, ia dikembalikan dengan paksa ke kondisi semula. Levi duduk bersimpuh, kepalanya sekarang terasa berat. Suasana rumah yang semula hangat, tiba-tiba berubah menjadi dingin. Levi menengadah saat sosok berbalut kegelapan itu mengulurkan tangan kepadanya. Ia juga mendengar sosok itu berbicara, tetapi otaknya tidak mampu untuk menerjemahkan perkataannya.


Di saat Levi hendak menggapai tangan tak dikenal itu, seseorang memanggil namanya dari belakang. Dengan cepat Levi berbalik karena suara yang memanggilnya berasal dari orang yang sangat ia kenali.


“Lord Betel—“


Gelap sekali lagi.


 “Lord Betelgeuse!” pekik Levi saat ia terbangun. Tubuhnya mengeluarkan banyak keringat dan napasnya tidak beraturan. Ia memandang sekitar, pada malam hari di gurun antah-berantah. Ia bahkan menyadari sudah berada di dalam tenda terbuka.


“Sudah berapa lama aku tertidur, Lord?”


Lord Betelgeuse mengeluarkan bunyi ‘hmmm’ yang panjang dan berkara, “Jika kau belum bangun sampai esok pagi, itu sudah terhitung tiga hari.”


“T-tidak mungkin. Bagaimana bisa aku tertidur selama itu?”


“Pikirlah sendiri, Levi Strauss. Setidaknya kau jangan merepotkanku lagi dengan pertanyaan tidak penting itu. Hampir tiga hari mengurusmu yang koma sudah membuatku kewalahan,” ujar pria itu sambil mengeluh. “Ngomong-ngomong, apa kau sudah merasa baikan?”


“Baikan?” tanya Levi bingung. Kemudian ia teringat bahwa sebelumnya terkena racun kalajengking siluman. Ia memeriksa punggungnya, dan tidak menemukan bekas sayatan itu. Saat ini pun, Levi merasa tidak mengalami gejala yang buruk. “Yah, sepertinya begitu.”


“Aku tidak ahli dalam sihir penyembuhan, makanya membutuhkan waktu cukup lama menghancurkan racun kalajengking itu,” balas Lord Betelgeuse sambil membuka halaman berikutnya pada buku yang ia baca. Ia menengok ke belakang dan tersenyum. “Setidaknya itu membuahkan hasil.”


Levi salting seketika. Ia tidak menyangka malaikat jatuh itu mau berjuang menyembuhkannya meskipun ia bukanlah tipe penyembuh. Anak itu hendak mengucapkan terima kasih saat matanya tak sengaja melihat judul buku yang sedang dibaca Lord Betelgeuse. Buku itu berjudul 100 Tips Ampuh Membuat Orang Terpesona Denganmu. Relfeks, Levi berteriak. Dalam pikirannya sekarang terbesit bahwa perlakuan Lord Betelgeuse sejak awal pertemuan mereka adalah praktek dari yang tertulis di buku itu?


“Oh, jangan cemas. Aku hanya tertarik pada buku ini saat iseng main ke perpustakaan Maple Academy. Aku menemukannya di rak hiburan. Tidak menyangka Navarro mempunyai buku semacam ini. Cukup menghibur.”


Terjadi keheningan selama beberapa saat.


“Ceritakan saja, Levi. Aku tahu kau baru saja mengalami sesuatu di mimpimu.” Lord Betelgeuse menyahut.


Di samping api unggun, Levi mendesah pelan. Tidak ada gunanya lagi ia merahasiakannya. “Di dalam mimpi aku bertemu orang tuaku, Lord. Sangat nyata, sangat hidup,” ujar Levi. Matanya tidak beralih pada kobaran api unggun. Ia berusaha mengingat setiap detail peristiwa di mimpinya. “Kami sempat melepas rindu. Hanya sebentar sampai orang tuaku mengatakan bahwa mereka sedang menunggu tamu spesial.”


“Tamu spesial?” potong Lord Betelgeuse seketika penasaran. Ia mengubah kursinya menghadap Levi.


“Iya, begitulah yang mereka katakan. Aku juga bertanya-tanya, tapi anehnya orang tuaku tidak menjawab sampai tamu yang dibicarakan itu bener-benar datang.”


Levi menelan ludah dan merasa keberatan saat ingin melanjutkannya. “Orang itu dikelilingi asap hitam. Misterius, tapi yang jelas perasaan tidak nyaman hadir ketika berada di dekatnya. Dia bahkan menunjukkanku banyak peristiwa. Kemunculan asteroid, akademi sihir, dan dua orang saling bertarung. Entah kenapa, dua orang itu mengarah kepadamu dan kepsek. Lalu ia membawaku melihat gurun dengan kastel bercahaya emas yang menyimpan rahasia. Rahasia itu terkubur dalam kotak peti besar. Aku tidak sempat membukanya karena ia mengembalikanku kepada kondisi semula. Sebelum benar-benar terjaga, aku sempat mendengar ia berbicara dengan bahasa yang aneh.”


“Katakan padaku Levi Strauss, siapa tamu spesial dalam mimpi itu?”


Levi mengerang dan mengacak rambut saat ia mencoba mengingatnya. Lalu sesuatu terbesit bagai gelembung yang pecah seakan otaknya kini mampu menerjemahkan bahasa aneh itu. “Dua kata… empat darah.”


Praang! Mendadak cangkir yang dipegang Lord Betelgeuse retak berkeping-keping. Levi kaget menyaksikan perubahan emosi tak biasa dari lord itu. Meski tidak menunjukkan ekspresi marah, tapi Levi yakin pria ini murka. Ada aura gelap yang meluap bersamaan sensasi beku yang tidak biasa.


“Lord Betelgeuse, Anda tidak apa-apa, kan?”


Lord Betelgeuse tersentak dan memandangi Levi dengan air muka datar. Sedetik kemudian ia terkekeh. “Ah, tidak apa-apa. Aku baru saja mengalami gejolak dalam perutku. Mungkin kebanyakan minum teh hitam.”


Anak itu mengusap badannya dan sedikit bergetar. Sakit perut saja sampai marah begitu, gimana saat aku hendak mengoleksinya waktu itu, ya? Hiii ….


“Aku yakin mimpi itu bukan sekadar bunga tidur, Lord. Apa maksudnya, ya?”


Baru saja Levi mengutarakannya, sesuatu berbunyi dari dalam tenda. Levi pontang-panting memeriksa bunyi yang berasal dari jam radar tersebut. Begitu melihat, ia tak kuasa menahan kaget saat radar mendeteksi sebuah tanda besar yang brada di tengah gurun ini. “Ti-tidak mungkin ….”


Lord Betelgeuse menyeringai. “Kau benar, Nak. Mimpi itu berarti … kita tidak boleh bersantai lebih lama lagi. Kerajaan tak terlihat itu sudah muncul.