Maple High School Academy Hidden Year 1

Maple High School Academy Hidden Year 1
The Vow in Ginkgo Forest - First Hurt




First Hurt


KEPULAN TEH HANGAT menemani obrolan dua Elf tangguh. Keduanya berbincang sambil tertawa-tawa. Tidak mempedulikan dua anak mereka yang hanya menjadi pendengar. Elf muda berambut gelap melihat sekelilingnya dengan tatapan tertarik. Cukup menyenangkan baginya bisa membolos latihan berkuda  hari ini. Meski itu harus menemani sang ayah berkunjung ke rumah temannya.


Dia memperhatikan busur-busur panah yang tergantung di dinding. Tiba-tiba telinganya menangkap bisikan. Saat menoleh, matanya melihat sepasang mata hijau yang menatapnya tertarik.


“Kamu suka memanah?”


 Elf muda itu hanya diam tak menjawab.


“Namaku Chalia. Namamu siapa?”


Chalia menatap laki-laki di hadapannya dengan penuh minat. Dia menanti jawaban dengan sabar.


“Thedon, dia bertanya namamu. Kenapa tidak kaujawab?” suara baritone memecah keheningan di antara dua Elf muda itu. Elf muda berambut gelap berdecih.


“Ayah sudah menjawabnya,” katanya penuh penekanan.


Dua Elf dewasa itu tertawa bersama. Chalia ikut tertawa bersama mereka.


 “Lihatlah putramu, dia tidak jauh berbeda denganmu.”


Thedon yang mendengarnya mendengkus tidak suka.


 “Kenapa kamu keluar?”


Thedon terperanjat mendengar suara dari arah belakangnya. Dia melihat Chalia mendekat. Di bahunya tersampir quiver berisi lima anak panah. Tangannya menjinjing busur yang tidak terlalu besar.


“Kau membuatku terkejut,” kata Thedon.


Chalia mengerucutkan bibir dan berujar, “Kamu tidak menjawab pertanyaanku.”


Thedon memutar mata dan berlalu. Dia terus berjalan meninggalkan Chalia.


“Kamu mau ke mana?”


Langkah Thedon berhenti. Dia membalikkan badan dan menatap Chalia. “Bisakah kau menutup mulut?”


Chalia menggeleng sambil menatap laki-laki di hadapannya dengan cengiran jahil.


 “Sebaiknya kau kembali ke rumahmu.”


Chalia menggelengkan kepalanya. Dia malah semakin mendekati Thedon yang reflek mundur. “Aku akan ikut denganmu,” kata Chalia lugas.


Thedon berdecih tak suka. “Untuk apa?”


“Supaya kamu tidak tersesat.”


“Terserahlah.” Thedon kembali melanjutkan niatnya berjalan-jalan. Sesekali matanya menangkap target sasaran panahan yang tergantung di pepohonan.


“Kamu suka memanah?” tanya Chalia tiba-tiba.


Thedon hanya melirik tak menjawab.


“Sepertinya, iya. Kau suka memanah.” Chalia menjawab pertanyaannya sendiri.


“Aku tidak bilang apa pun,” sergah Thedon.


Chalia berjalan mendahului Thedon dan berdiri sejauh satu meter di depan sebuah sasaran target panahan yang tertancap di sebuah batang pohon. Dia mulai memposisikan kakinya agar lurus sejajar dengan sasaran target. Gadis itu memasang ekor anak panah ke tali busur dan menarik tali busur. Mata Chalia mulai membidik. Dia mengatur napas sejenak sebelum kemudian melepaskan anak panah.


Anak panah menancap di sasaran target. Tidak tepat sasaran. Namun, gadis itu tetap melengkungkan senyum sebelum menurunkan busur.


“Sedikit meleset. Mungkin karena papan itu sekarang pendek.”


Thedon yang memperhatikan semuanya tampak terkesima. Dia hampir tidak berkedip. Terutama ketika anak panah memelesat dari busur.


“Kau terlalu tinggi untuk ukuran Elf perempuan,” kata Thedon yang tingginya memang hanya setelinga Chalia.


“Mau mencoba?” tawar Chalia. Dia menyorongkan busurnya.


Thedon tampak ragu-ragu. Matanya menyiratkan atensi yang cukup besar, tapi tangannya tidak juga mengambil busur yang diangsurkan oleh Chalia.


“Ini,” kata Chalia sambil menaruh busur di tangan Thedon. Anak laki-laki itu hanya termangu melihat busur panah di tangannya.


“Ayo, aku ajari.”


Thedon menarik ujung bibirnya. Senyum pertama yang dilihat Chalia dari laki-laki itu.


Siang itu keduanya menghabiskan waktu berlatih panahan. Chalia mengajarkan dasar-dasar memanah pada Thedon. Butuh waktu lebih dari dua jam hingga anka laki-laki itu bisa memelesatkan anak panah pertamanya dan menancap di papan sasaran target.


 “Thedooooon!”


Thedon tampak meringis mendengarnya. Dia kemudian meninggalkan teman-temannya dan menghampiri Chalia. “Buat apa datang kemari?”


“Menjemputmu. Kita kan ada latihan memanah sore ini.”


Sudah beberapa minggu sejak latihan pertama Thedon. Melihat minat anaknya pada panahan, Mr. Ulsador meminta Chalia untuk mau mengajari Thedon yang langsung disetujui oleh gadis itu.


Hal yang belakangan sedikit disesali oleh Thedon. Bukan karena Chalia guru yang buruk. Namun, dia kerap kali mendatangi arena latihan berkuda untuk menjemputnya.  Teman-temannya di arena berkuda sering mengejeknya karena hal ini. Belakangan mereka selalu mengatakan bahwa Chalia dan Thedon akan segera menikah karena sudah saling dekat.


“Kau tidak perlu menjemputku. Aku bisa datang sendiri nanti ke rumahmu.”


“Kenapa kau malah marah?” tanya Chalia yang tidak mengerti.


“Karena kau selalu datang kemari, semua orang bilang kau itu tunanganku.”


“Memang kenapa kalau itu benar?”


“Kau pikir aku mau jadi tunanganmu?”


“Tapi aku mau,” kata Chalia singkat yang membuat Thedon tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia diam lalu melihat Chalia tersenyum dan melambaikan tangan ke belakang punggungnya.


Laki-laki itu berbalik dan mendapati teman-temannya mendekat ke mereka. “Sebaiknya kau segera pergi. Aku akan menyusul nanti, “ usir Thedon.


“Tidak mau. Aku mau berkenalan dengan teman-temanmu.” Chalia beranjak meninggalkan Thedon. Dia menghampiri teman-teman Thedon yang semuanya masih duduk di atas kuda latihan mereka. Thedon mendengkus kesal dengan sikap Chalia yang suka seenaknya.


“Hey, anak perempuan Aetoris!” panggil salah seorang dari mereka.


Chalia melambaikan tangan merespons panggilan itu.


“Sudah beberapa kali kami selalu melihatmu mampir kemari,” kata anak laki-laki berambut pirang. “Kau juga bahkan memanggil seseorang di antara kami dengan sengaja,” tambah anak laki-laki lainnya yang berambut sama gelapnya dengan Thedon.


Chalia terkekeh mendengarnya. “Sebab aku tidak bisa melihat di mana orang yang aku cari. Jadi, aku pasti memanggil namanya. Kalian semua tampak sama dari kejauhan. Kalian tahu itu, kan.”


Derai tawa terdengar ketika Chalia menyelesaikan kalimatnya. Thedon hanya menghela napas melihat teman-temannya kini mulai menggoda Chalia, tapi sayangnya gadis itu tidak menyadari hal tersebut.


“Sebenarnya apa sih yang kalian lakukan ketika bersama-sama?”


“Buat apa kau bertanya?” belum sempat Chalia menjawab, Thedon malah balik bertanya.


“Kami hanya penasaran,” jawab si anak berambur pirang. Seringai jahil tampak mencurigakan di mata Thedon.


“Mumpung kau sedang kemari, apakah kau bisa berkuda?”


 Chalia diam tak menjawab. Itu adalah satu hal yang tidak dikuasainya dengan baik.


“Cobalah kau naiki salah satu kuda ini. Kau bisa berkuda bersama Thedon, tahu.”


Melihat Chalia yang tidak menjawab, Thedon pun maju. “Kalian tidak per—“


“Baiklah.” Chalia tiba-tiba memotong kalimat Thedon. Gadis itu hanya tersenyum.


“Waaah, teman perempuanmu ini ternyata sangat pemberani,” puji salah satu teman Thedon.


“Kau tidak perlu naik,” kata Thedon mencoba mencegah Chalia yang mulai memilih salah satu kuda.


Chalia hanya tersenyum melihat Thedon yang melarangnya. Gadis itu memilih seekor kuda berwarna cokelat. “Aku pilih kuda ini.”


Dua di antara teman Thedon tampak menyeringai. Thedon yang sibuk memperhatikan Chalia tidak menyadari hal tersebut.


“Baiklah kubantu kau naik,” kata salah seorang di antara dua Elf muda mencurigakan itu.


Tepat saat Chalia duduk di atas kuda, Elf muda yang berdiri di belakang kuda menepuk pantat kuda tersebut. Seketika kuda cokelat yang dinaiki Chalia meringkik keras dan mulai berlari.


Thedon yang melihat hal tersebut kaget. Dia langsung menaiki kudanya dan mengejar Chalia. Kuda berlari ke arah sungai. Thedon segera memacu kudanya agar bisa menghentikan si kuda cokelat. Sementara Chalia memeluk leher kuda dan merundukkan kepala. Dia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya.


Saat kuda yang ditunggangi Thedon berhasil menyamai langkah kuda cokelat, dengan cepat laki-laki itu meloncat sambil menarik Chalia. Kedua Elf muda itu terjatuh di sungai. Kuda cokelat terus berlari sementara kuda yang ditunggangi Thedon langsung berhenti saat penunggangnya tercebur ke sungai.


“Terima kasih,” kata Chalia sambil menggigil. Dia masih belum berani untuk mengangkat kepalanya. Gadis itu berjalan gontai menuju tepian sungai tanpa menyadari bahwa Thedonlah yang menolongnya.


“Berhentilah datang ke arena latihan berkuda,” kata Thedon. Saat mendengar suara Thedon dan menyadari orang yang menolongnya, Chalia mengangkat kepala. Dia melihat wajah Thedon masam dan tanpa senyum. “Tidak perlu datang lagi ke arena berkuda. Kita tidak perlu bertemu lagi.”


“Tapi latihan memanahmu ….”


“Masih banyak pelatih lainnya.”


“Tapi, ayahmu ….”


“ Tidak perlu bawa-bawa ayahku.”


“Thedon,” panggil Chalia lemah.


“Kita jangan pernah bertemu lagi.” Thedon langsung berbalik dan menaiki kudanya. Meninggalkan Chalia di tepi sungai.