
Scorpion King
“BAGAIMANA CARANYA KITA menemukan serpihan Asteroid Emas di gurun antah berantah ini?”
Mereka baru saja mendarat di sebuah tempat yang sangat asing. Lokasi tidak teridentifikasi di Barat Laut. Gurun gersang sejauh mata memandang. Tidak ada kehidupan yang terlihat, kecuali bayang-bayang tumbuhan palem atau kaktus. Levi mengenakan kacamatanya. Kacamata itu dapat di-zoom sehingga ia bisa melihat bagian yang jauh. “Aku hanya melihat gundukan pasir dan … tunggu. Apakah itu danau?”
“Fatamorgana.” Lord Betelgeuse membalas setelah ia mengembalikan kereta kencana ular boa. Ia memandang langit yang terik. Matahari tepat berada di atas kepala mereka. “Tch! Aku memang tidak cocok dengan siang hari. Levi, keluarkan salah satu alatmu yang berguna. Kita tidak akan berlama-lama seperti orang tersesat di sini. Aku mulai merasakan energi yang memancar dari kejauhan.”
Levi membuka hardcase miliknya dan mengambil sebuah jam tangan radar. Lord Betelgeuse menyuruh anak itu mengenakannya sementara ia merapalkan sesuatu kepada jam tangan itu. Levi merasakan adanya energi yang dialirkan ke dalam jam tangan. Energi yang terasa dingin. Setelah selesai, Levi memandangi jam tangannya dengan wajah melongo. Ia merasa tidak ada yang berubah. “Sekarang, radar itu dapat mendeteksi keberadaan serpihan asteroid. Semakin kita dekat, radarnya akan semakin jelas. Saat ini, gelombangnya masih belum mendeteksi, tapi selagi kita bergerak kau akan mengetahuinya.”
“Luar biasa. Anda bahkan tidak menggunakan metode fisika kuantum.”
“Tentu saja karena aku seorang lord.” Lord Betelgeuse membusungkan dada. Tak lama setelahnya, ia menyuruh Levi untuk bersiap-siap karena pria itu akan memanggil kendaraan yang baru. Dua ekor komodo mistis. Di atas punggung hewan-hewan itu sudah terpasang kursi dan tenda kecil yang beralaskan kain seolah itu adalah pakaian mereka. “Yang berwarna zaitun ini namanya Juliet dan yang abu-abu gelap ini namanya Romeo. Mereka sepasang kekasih.”
“Apa-apaan?!”
Lord Betelgeuse segera memainkan telunjuknya ke arah Levi dan membuat anak itu tidak jadi memprotes dengan menerbangkannya ke atas punggung Juliet. Kepalanya terbentur di salah satu bagian kursi, membuat amarahnya naik ke ubun-ubun. Ia hendak melemparkan jarum suntik lagi kepada Lord Betelgeuse secara bertubi-tubi, tetapi niat itu diurungkan saat memandangi Fallen Angel itu sedang mengintruksikan sesuatu kepada komodo perliharannya. Bahasa aneh yang tidak ia mengerti maksudnya. Satu hal yang pasti, komodo itu tiba-tiba bergerak cepat ke arah depan.
“Kita akan mencari sebuah kerajaan yang tersembunyi. Invincible Kingdom. Asteroid Emas tersimpan di sana. Hanya, keberadaan tempat itu benar-benar seperti angin. Namun, kita tidak perlu khawatir. Energi yang sudah kuberikan pada jam tanganmu akan bereaksi saat bertabrakan dengan energi pancaran asteroid. Bahkan, sekarang saja energi itu sudah mulai terasa, meski lemah.” Lord Betelgeuse berbicara lantang.
“Ah, sudah kuduga akan berakhir membosankan. Lagipula, Anda bisa saja pergi sendiri, Lord. Mengapa butuh bantuanku?”
Pria itu tertawa lantang. “Tentu saja karena aku ingin membantumu, Bodoh. Kemampuanmu akan berguna saat kita sudah dekat dengan serpihan asteroid itu,” jelasnya sambil mengedipkan sebelah mata. “Lagipula, sejujurnya aku tidak suka sendirian.”
“Alasan Anda saja, Yang Mulia,” sanggah Levi. “Bilang saja Anda bosan dan butuh teman bicara!”
“Kau ternyata fans yang memahami idolanya, ya,” godanya. Tanpa menunggu ledakan dari dalam jiwa Levi keluar, Lord Betelgeuse melanjutkan pembicaraannya. “Hanya, kau salah akan satu hal, Levi. Meskipun tempat ini sepi, bukan berarti tidak ada musuh. Harusnya kau sadar, padang pasir ini sama halnya dengan lautan. Kengeriannya justru ada di dalam.”
Saat Levi memikirkan kata-kata penguasa Malice Island itu, sesuatu berbunyi dari jam tangan radarnya. Jam tangan itu mendeteksi sebuah kehadiran di dekat mereka. Wajah Levi seketika semringah.“Aku menemukan sesuatu. Kita sudah dekat dengan serpihan itu.”
Alis Lord Betelgeuse bertaut. Itu tidak mungkin terjadi. Apabila mereka dekat dengan serpihan asteroid, energi mereka pasti akan terserap dan merasakan sensasi tidak nyaman. Namun, ia belum merasakan apa-apa sekarang. Ada yang salah. “Katakan di mana posisinya.”
“Menghindar!”
Suara peringatan itu membuat Levi tersentak dan refleks meloncat. Ia menyaksikan bagaimana capit raksasa membelah tubuh kedua komodo mistis yang bahkan tidak sempat mengeluarkan reaksi apa-apa. Seperti kertas. Ada geraman marah yang menggelegar disertai pasir yang berhamburan menyerupai badai di siang hari. Levi memakai kacamatanya agar tidak kemasukan debu dan mencoba bertahan akibat dorongan yang kuat itu. Setelah badai pasir sesaat itu reda, ia menengadahkan wajah dengan perasaan yang tidak terdefenisikan. Bahkan, seluruh tubuhnya terasa bergetar. Makhluk yang besar. Bagian atasnya berwujud manusia bertubuh kekar, tetapi lengan dan tubuh bagian bawahnya adalah kalajengking hitam. Ekornya sangat runcing yang menyimpan racun mematikan.
“Monster ini .…”
“Raja kalajengking,” Lord Betelgeuse bersuara. “Aku tidak menyangka dia yang akan kamu hadapi.”
“Aku?” tanya Levi bingung. Ia berbalik ke belakang, tidak menemukan pria itu di sisinya. “Lord Betelgeuse, di mana Anda?”
“Di atasmu, Nak.”
Kedua mata Levi melotot saat melihat pria itu sedang duduk santai di kursi singgasana yang melayang. Dia melambaikan tangan ke arah Levi disertai senyum psikopat. Saat itu, Levi menyadari Lord Betelgeuse sengaja meninggalkannya sendirian bersama siluman kalajengking itu. “Dasar licik! Anda sengaja menjadi penonton.”
Lord Betelgeuse tertawa, puas sekali. Ia kemudian bertepuk tangan. “Anggap saja ini hukuman karena telah berani mencelakaiku, Levi Strauss,” jelasnya. “Lagipula, monster itu tidak akan menunggu kau berhenti marah-marah, lho.”
Levi menggertakan gigi gerahamnya. Ia ingin meluapkan amarah sejadinya, tetapi perkataan malaikat jatuh itu benar. Siluman kalajengking lagi-lagi melolong keras. Dalam sekejap mata, monster itu berlari kencang ke arah Levi dengan kedua capit yang dibuka. “Sial, aku tidak punya pilihan,” ungkap Levi, ia menyibak jasnya. Dengan adrenalin yang terpacu, Levi mengaktifkan tombol pada sarung tangan alkimia dan segera meletakkan kedua tangannya ke lantai berpasir. “Transmutation Activated!”
Kilauan energi yang terpancar membuat pasir di sekitarnya berkumpul, memadat, dan berubah menjadi objek yang keras. Seperti batu. “Stone Wall.” Tembok batu yang cukup besar menghalangi serangan capit mematikan siluman kalejengking. Tubrukan yang terjadi menyebabkan getaran yang hebat. Levi sekuat tenaga menahan agar capit itu tidak menembus pertahannya, sementara di atas langit Lord Betelgeuse menghadirkan burung beo hitam yang saat ini berteriak menyemangati layaknya cheerleader. “Bacot! Bahkan hewan peliharaanmu juga sama menyebalkannya!”
Pertahanan tembok batu yang diharapkan bisa menangkis sabitan sang kalajengking, ternyata tidak bertahan lama. Keretakan tercipta yang secara langsung memberikan impuls menyakitkan pada Levi. Anak itu terdorong ke belakang dengan cepat. Sambil menahan rasa sakit, Levi tidak kehabisan akal. Ia mengarahkan kedua tangannya ke arah pasir, mengubah benda itu menjadi pijakan sehingga ia dapat melompat lebih tinggi. Kemudian, ia menciptakan sebuah tinju pasir raksasa. Dengan teriakan yang menggelora, Levi memukul capit kalajengking itu. Tabrakan tak terelakkan. Namun, kekuatan yang dimiliki siluman itu lebih besar dari apa yang ia kira. Tinju pasir Levi pecah, membuatnya terpental ke belakang. Bagai meteor yang jatuh, Levi menghantam tanah. Ia meringis kesakitan sembari bangkit dan berdiri. Levi membuang ludah. “Tidak ada cara lain, aku akan menggunakan itu,” ujarnya.
Levi menyibakkan jasnya dan membuka sebuah pocket di pinggangnya. Anak itu mengambil tabung yang berisi senyawa berwarna hijau. Sarung tangan alkimia mengalirkan energi pada tabung tersebut, lalu Levi melemparnya dengan cepat ke arah siluman kalajengking. “Wind Creation: Isomer 35 Type I.”
Ketika tabung tersebut pecah, senyawa hijau berubah menjadi angin ribut. Angin tersebut mengerubungi kalajengking yang meraung marah. Levi menyeringai di sela rasa sakitnya. Ia menciptakan angin puyuh. Meskipun tidak terlalu besar, setidaknya angin tersebut berhasil melahap tubuh sang monster. Setidaknya begitu yang dipikirkan Levi. Akan tetapi, ketika ia menyadari bahwa tidak ada lolongan dan reaksi yang terlihat, anak itu segera menyadari ada yang tidak beres. Siluman itu tidak ada di dalam angin puyuh. Levi berputar memerhatikan sekelilingnya dengan rasa waswas. Dalam kepanikannya tersebut, ia teringat perkataan Lord Betelgeuse sebelumnya.
… kengeriannya justru ada dari dalam.
“Sial—“
Terlambat. Levi tidak sempat menghindar saat ekor besar dengan ujung yang runcing keluar dari dalam pasir yang hening. Begitu saja, tanpa aba-aba. Dalam satu sabitan kuat, Levi terpental dengan punggung yang meninggalkan bekas sayatan.