Magic Love

Magic Love
Kekuatan Sihir Cinta




...***...


Tiga hari setelah acara pernikahan, Juno baru membawa Aruna pulang. Dalam tiga hari itu, Aruna tidak diizinkan untuk keluar kamar. Segala kebutuhan mereka difasilitasi oleh pihak hotel. Bagaimanapun Juno adalah keturunan Kingsley, sudah tentu akan mendapatkan pelayanan terbaik di hotel tersebut.


Lalu, bagaimana dengan keadaan Aruna? Tentu saja dia baik-baik saja. Hanya saja tubuhnya membutuhkan asupan penambah stamina yang lebih banyak, karena selama tiga hari itu dia tidak berhenti bergerak.


Mobil mewah Juno berhenti di pelataran rumah besar milik keluarga Jonathan Kingsley. Walaupun sudah beberapa kali berkunjung, dan bahkan sudah menjadi menantu dari keluarga itu, Aruna masih saja merasa kagum dengan megahnya rumah tersebut.


"Welcome, menantu mami." Di depan pintu masuk rumah besar tersebut, Ara sudah menyambut. Merentangkan kedua tangannya bersiap untuk memeluk. Ara memang sudah diberi tahu sebelumnya tentang kedatangan mereka.


"Menantu mami, kok, lemes gini? Kamu apain dia, Juno?" Ara mengomel pada anaknya setelah melihat kondisi Aruna. Terlihat sekali jika perempuan itu seperti kurang tidur dan kelelahan.


"Dia cuma kelelahan, Mam. Maklum, namanya juga pengantin baru," jawab Juno tanpa urat malu, dan sukses mendapatkan cubitan keras dari Aruna. "Aww!" pekiknya sambil memegangi pinggang.


Ara tertawa, dia mengerti apa yang dimaksud oleh anaknya. "Mami ngerti dengan jiwa pengantin baru kalian, tapi harus dijaga juga kesehatan. Jangan mentang-mentang baru nemu, terus kalian melakukannya nggak tahu waktu. Padahal pernikahan kalian baru aja dimulai. Masih banyak waktu untuk menghabiskan waktu bersama."


Juno hanya melebarkan senyumnya mendengar petuah sang mami. Menunjukkan deretan giginya yang terpasang rapi dan putih, sambil menggaruk tengkuknya sendiri. Belum sempat ia menyanggah, sang mami sudah mengajak mereka masuk ke dalam.


"Kamu makan dulu, ya, Sayang. Mami udah masak banyak hari ini." Ara mendudukkan tubuh menantunya di kursi kosong tempat makan keluarga mereka.


"Jadi gitu, udah dapat menantu, anak sendiri diabaikan, nih," cibir Juno pura-pura cemburu.


"Kamu iri sama istri sendiri?"


Juno menyengir, "Becanda. Menantu Mami emang pantas dimanja." Juno beralih pada Aruna, "iya, kan, Sayang?" tanyanya sambil mengedikkan sebelah alis.


Aruna tidak berkomentar, ia hanya mencebik menatap wajah Juno dan duduk di kursi. "Papi ke mana, Mi?" tanya Aruna mengalihkan pandangan dari suaminya.


"Papi belum pulang kerja, Sayang. Dia, kan, lagi gantiin kerjaannya Juno yang lagi cuti nikah. Kata papi, kalian suruh nginep di sini malam ini." Ara menyampaikan pesan dari suaminya.


"Siap, Mam. Sekalian mau perdana tempur di kamar sendiri."


"Mas!"


Juno sedikit tertawa mendengar istrinya menukas. "Sensi banget, istri aku," ujarnya sambil mengusap pipi Aruna dengan lembut. Posisinya sudah duduk di kursi kosong di samping sang istri.


Belum sempat Aruna melontarkan kalimatnya, suara bel pintu mengalihkan atensi mereka. "Mami ada tamu yang ditunggu?'' tanya Juno.


"Enggak. Dari tadi mami nunggu kalian aja," jawab Ara. Tak berselang lama, tamu yang berkunjung itu sudah berada di tempat makan. Mengikuti Bi Sarla yang sebelumnya sudah membukakan pintu. Perempuan tua itu pun melanjutkan langkahnya ke dapur setelah mengantarkan tamu.


"Kak Zee." Aruna langsung berdiri, dan berjalan mendekati kakaknya yang baru datang. Kezia datang bersama Devan, "kok, tahu aku di sini?" tanyanya sambil mengusap perut Kezia yang sudah terlihat membuncit.


"Mama yang ngasih tahu. Katanya kamu nggak pulang ke rumah papa, tapi ke sini dulu. Aku bosen di rumah terus, makanya mau main aja. Nggak apa-apa, kan?" tanya Kezia. Kedua matanya melirik kepada Juno, seolah meminta persetujuan lelaki itu.


"Nggak apa-apa, dong. Nginep aja, ya. Nanti tidur sama aku."


"Sayang. Nggak bisa gitu, lah." Juno langsung menyanggah. Hal itu membuat semua orang tersenyum sambil menggelengkan kepala. Kecuali Aruna, perempuan itu hanya mendengus pasrah.


"Yaelah, Jun. Mentang-mentang pengantin baru, nggak mau diganggu." Devan ikut menimpali dengan ledekannya.


"Gue cuma nganterin Kezia ke sini disuruh sama Tante Angel. Lakinya Kezia udah balik ke Jepang. Rumah kita, kan, deketan. Tante Angel mau nemenin Oma Yura terapi."


"Oh, iya. Hari ini oma kalian ada jadwal terapi, ya. Nanti sore mami ke sana, deh. Jengukin oma." Ara menanggapi perkataan Devan. Semenjak Abizar menikah, Angelina memang sengaja membawa ibunya ikut serta ke Indonesia. Dirinya merasa tidak tenang jika meninggalkan sang ibu yang kerap sakit-sakitan tinggal sendirian. Walaupun ada Abizar yang kini mengurusi usaha sang oma. Tetap saja Angelina tidak mudah percaya. Apalagi adik bungsunya juga masih sibuk dengan dunia keartisannya.


"Halah, alasan lo aja kali. Bilang aja lo mau nikung si Abi, mumpung dia masih di Jepang. Ya, kan?"


"Mas, jangan su'udzon, deh!" hardik Aruna.


Devan tidak berkomentar. Dalam hatinya mungkin membenarkan. Bagaimanapun nama Kezia masih menempati ruang hatinya yang paling dalam.


"Sudah, sudah. Mendingan kita makan dulu." Perintah dari Ara menghentikan perdebatan mereka. Hingga akhirnya mereka pun makan bersama.


...***...


Senja kembali menyapa dengan semburat warna jingga. Aruna berdiri di pembatas balkon kamar Juno sambil memejamkan mata. Merasai desiran angin yang menyentuh kulitnya.


"Lagi ngapain, Yang?" Aruna sedikit berjingkat dan membuka mata, manakala tangan suaminya tiba-tiba melingkar di perutnya, dan dagunya menempel di bahu Aruna.


"Lagi nikmatin angin sore," jawab Aruna setelah menoleh sekilas pada wajah suaminya.


"Masuk, yuk! Nanti masuk angin." Juno mengangkat kepalanya dari dagu Aruna. Lalu membalikkan tubuh istrinya tersebut agar menghadap dirinya. Perlahan mencondongkan kepalanya hendak membidik bibir Aruna. Walaupun gagal, karena dihalangi oleh tangan si empunya wajah.


Juno melepaskan tangan Aruna yang menempel di bibirnya lalu bertanya, "kenapa?"


"Aku tadi dengerin cerita mami kamu. Dia ceritain tentang kisah cintanya sama papi kamu."


"O, yah? Tanggapan kamu gimana?" Juno seperti tidak terkejut mendengar itu. Dirinya memang pernah cerita, jika Aruna masih saja trauma dengan kisah cinta orang tuanya yang berakhir perceraian setelah menikah.


Mungkin Ara sengaja menceritakan tentang kisah cintanya dengan Jojo yang penuh dengan lika-liku dan pengorbanan, tetapi bahagia sampai sekarang. Ara hanya ingin menunjukkan, jika cinta laki-laki tidak semuanya sama, dan kisah hidup semua orang berbeda-beda. Tidak baik terus menerus menutup mata akan cinta, hanya karena seseorang pernah menorehkan luka dan membuat kecewa. Seolah-olah semua cinta hanyalah dusta.


Sejenak terdiam, Aruna menatap lekat manik legam milik Juno. "Aku nggak bisa ngasih tanggapan apa-apa. Yang pasti, mulai saat ini, aku memutuskan untuk percaya sama cinta kamu. Tolong, jangan kecewakan aku!"


Juno menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Membentuk lengkungan tipis yang terlihat manis. Direngkuhnya tubuh sang istri agar masuk dalam dekapannya. Juno sangat bersyukur karena cintanya akhirnya mampu menembus dinding keegoisan dalam hati Aruna. Dia percaya, kekuatan sihir cinta itu pasti ada. Embusannya mampu menerbangkan luka di hati yang pernah kecewa. Mendatangkan bahagia dalam setiap cerita hidup manusia.


...***...



...***...


Beneran tamat, ya, Readers. Mereka, kan, udah menikah dan bahagia. Kalau kepanjangan nanti kayak sinetron chanel ikan terbang. Apalagi ditambah pelakor, yakin kalian pada kabur, deh. Ini aja banyak yang kabur gara-gara othornya lama update 😂


Tapi makasih, loh, buat yang udah setia nungguin novel ini sampai tamat. Do'ain semuanya lancar, ya. Biar aku masih bisa berkarya di tengah sok sibuknya aku. Sok keren banget, sih, othornya 🙏😎


Buat giveaway yang pernah aku janjiin, tenang aja, bakal ada yang menang, kok, tiga orang pilihan othor. Nanti othor yang hubungi kalian langsung, ya. Tolong di follow akun amih yang ini, kalau bisa IG juga, biar nambah followers 😂 @amih_amy.


Hadiah seadanya, ya. Jangan dilihat harganya, yang penting kenangannya. 🥰


Sampai jumpa di next novel .... See you 🙏