Magic Love

Magic Love
Aruna Sadar




...***...


Dua hari berselang, tetapi Aruna belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Juno dengan setia menunggu perempuan itu. Mendampinginya di rumah sakit bersama dengan Erna atau Surya yang bergantian menemani Juno menjaga Aruna. Sedangkan Kezia, setelah melakukan donor darah, perempuan itu tidak lagi terlihat mendatangi Aruna. Kata Erna, kakak kandung Aruna tersebut merasa tubuhnya selalu terasa lemah dan kurang bertenaga.


"Sayang, bangun, dong!" Sore itu Juno sedang menjaga Aruna sendirian. Erna pamit sebentar untuk pulang ke rumahnya hendak mengambil sesuatu. Lelaki itu duduk di kursi yang berada di samping ranjang Aruna. Tangannya yang dingin mengapit telapak tangan Aruna. Sesekali memberikan kecupan rindu pada telapak tangan itu. Berharap ada kekuatan magis yang mampu membangunkan kekasihnya yang sedang tidur. Juno sangat merindukan kekasihnya, mendengar suaranya, dan melihat senyuman di bibirnya.


Suara pintu yang berderit mengalihkan atensi Juno. Kepala lelaki itu sontak berputar mengarah ke pintu yang terbuka. "Hei, Bro!" Devan datang bersama Alfath untuk menjenguk Aruna.


"Gimana, Van? Anak buah lo udah dapat petunjuk tentang apa yang gue minta?" Juno langsung melontarkan pertanyaan tersebut. Membuat Devan yang baru masuk langsung cemberut.


"Gue baru dateng, ya, Bapak Juno. Tawarin gue duduk dulu, kek. Tawarin minum atau makan dulu, gitu!" protes Devan yang sukses mendapatkan pukulan ringan di lengan dari Alfath.


"Ini rumah sakit, Kamprett! Lo pikir rumah nenek lo!" decak Alfath sembari berjalan mendekati ranjang Aruna.


"Tahu, tuh. Nggak tahu sikon."


"Lo juga nggak tahu sikon. Kepala gue baru aja nongol di pintu, udah langsung lo tanyain masalah kerjaan. Kan, gue jadi bete duluan," tukas Devan sewot.


"Dih, baru gitu aja udah sewot. Lo lagi dateng bulan, ya?" ejek Juno sambil mencebikkan bibirnya.


Devan melemparkan sebuah flashdisk kepada Juno, "Di situ ada semuanya. Lo tinggal cek aja nanti," seru lelaki itu. Juno berhasil menangkapnya, lalu tersenyum puas. Devan berdiri sejajar dengan Alfath menatap tubuh Aruna, "masih belum sadar juga dia?" tanya Devan lagi merasa kasihan.


"Belum. Menurut dokter kondisi tubuhnya sudah stabil. Hanya tinggal menunggu, kapan Aruna mau bangun dari tidurnya." Juno pun ikut menatap kekasihnya dengan sendu.


"Sabar, Jun. Mungkin tubuh Rere masih lelah. Dia ingin istirahat lebih lama." Alfath menambahkan dan diangguki oleh Devan.


"Oh, iya. Kezia udah dua hari nggak masuk kerja. Katanya sakit, lo tahu?" tanya Devan mengalihkan perbincangan. Agar rasa sedih Juno bisa sedikit teralihkan.


"Tahu. Dia juga ngirim chat ke aku. Kata mamanya, Kezia sakit setelah melakukan donor darah buat Aruna. Gue jadi berhutang budi sama dia. Bulan depan gue bakal naikin gajinya," ujar Juno.


"Bagus, tuh. Eh, bener nggak, sih, Kezia sama Aruna itu kakak adik? Masa mereka bisa nggak dikasih tahu selama ini? Jahat banget orang tuanya." Hobi Devan jadi tukang ghibah mulai dikembangkan.


"Urusan mereka, Van. Mereka pasti punya alasan sendiri kenapa melakukan itu. Lo kepo amat, sih, jadi orang," tegur Alfath. Orang yang paling lurus di antara ketiganya.


"Gue juga sebenarnya kepo, tapi bener kata Alfath. Rasanya nggak sopan kalau gue maksa mereka buat cerita. Jadi, biarin waktu aja yang menjawab. Suatu saat gue bakal tahu, saat Aruna udah jadi istri gue."


"Cih, PeDe amat lo bakalan jodoh sama Aruna!" Alfath langsung menyahut. Dalam relung hatinya yang terdalam, ia masih tidak terima kalau Juno dan Aruna sudah jadian.


"Sirik aja, lo. Jangan bilang kalau tiap hari lo do'ain gue biar nggak ada jodoh sama Aruna! Jodoh itu udah ditentuin sama Tuhan saat manusia masih ada dalam kandungan. Jadi, lo jangan terlalu berharap bisa berjodoh sama Aruna," ujar Juno, menurut cerita sang mami yang rajin mengikuti pengajian ibu-ibu di kompleks rumahnya.


"Ribut aja terus, kalian! Siapa tahu jodohnya Aruna itu gue."


"Heh!" Celetukan Devan membuat kedua lelaki yang selalu berebut cinta Aruna itu langsung meradang, dan mengalihkan pandangannya ke Devan. Devan hanya menyengir sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke udara, mengajak berdamai. "Becanda, tapi kalau iya juga, kalian bisa apa?" ucapnya lagi yang membuat kedua lelaki itu tidak bisa berkata-kata.


...***...


Malam harinya, Juno duduk berdua bersama dengan Surya di sofa yang berada di ruangan rawat Aruna. Mereka tengah membicarakan tentang Jackson. Juno tengah bertanya kepada Surya perihal hubungan mereka. Kenapa Jackson selalu berusaha menjatuhkan Surya dan perusahaannya, sampai berani melukai Aruna.


Ya, dalang di balik penculikan Aruna adalah Jackson. Dia sangat kesal pada perempuan itu yang sudah berani menjebaknya, dan membuat dia kehilangan tander dari perusahaan Juno. Bana hanyalah alat, yang terpaksa mengikuti kemauan Jackson karena mempunyai banyak hutang kepada lelaki itu. Sedangkan Danu, ia hanya ikut-ikutan karena dikasih imbalan.


"Dia sepertinya iri dengan saya, Nak. Sebenarnya dulu kami berteman baik. Kita bekerja sama mendirikan satu perusahaan yang sekarang dia pegang. Waktu itu saya masih bekerja di perusahaan papi kamu. Ya, merangkaplah." Surya mulai menceritakan tentang kisah pertemanannya dengan Jackson.


"Lalu?" tanya Juno menyela.


"Lalu papi kamu menawarkan untuk membuka perusahaan Suryafood. Sejak dari itu, Jackson membenci saya. Dia bilang saya pengkhianat."


Juno mangguk-mangguk mendengar cerita Surya. Lelaki itu hanya ingin tahu ceritanya saja. Padahal sebelum mengobrol dengan papanya Aruna, Juno sudah memerintahkan Devan untuk mengurus perusahaan Jackson. Bisa dipastikan dalam waktu dekat ini, perusahaan tersebut sudah bukan milik Jackson lagi.


"Papa ...." suara lirih Aruna mengalihkan atensi dua lelaki beda usia yang duduk di sofa. Keduanya langsung beranjak dan menghampiri Aruna yang mengeluarkan suara.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar, Sayang." Juno meraih telapak tangan Aruna, mengaitkan jemari mereka lalu menghadiahkan banyak ciuman di punggung tangan Aruna. Senyuman bahagia terpancar indah di bibir lelaki itu.


"Juno ...," lirih Aruna sambil mengerjapkan mata.


"Iya, Sayang. Kamu mau apa?" Juno begitu bersemangat sampai melupakan keberadaan Surya di sana. Tanpa rasa malu, ia memperlakukan Aruna seperti istrinya.


"Lepasin tangan aku! Malu ...." Aruna melirik ke arah papanya yang tersenyum melihat kelakuan mereka berdua. Tubuhnya masih terasa lemas untuk berkata. Apalagi untuk bergerak dan melepaskan tangannya dari genggaman Juno. Sungguh, ia tidak punya tenaga.


Juno pun mengalihkan pandangannya pada Surya. Lelaki itu langsung melemparkan senyuman kikuk yang menunjukkan dirinya canggung di hadapan calon mertua. "Maaf, Om. Aku terlalu senang Aruna udah sadar," cicitnya membuat alasan.


Surya membalas dengan senyum lebar. Dia juga pernah muda, dan mengerti dengan perasaan yang dirasakan kekasih anaknya. "Saya keluar dulu. Mau bilang sama dokter kalau Aruna udah sadar, biar dokter bisa periksa kondisinya sekarang," pamit Surya lalu meninggalkan mereka berdua di ruangan rawat tersebut. Juno hanya menanggapinya dengan mengangguk. Hatinya tengah berbunga-bunga, karena kekasihnya sudah mau membuka mata.


...***...



...Mohon maaf, tiga hari nggak up. Ada urusan yang nggak bisa aku tinggalkan 🙏...


...Makasih yang masih menunggu. Semoga setia selalu. I love you 🥰...