
...***...
Tak ingin menyaksikan kemesraan pasangan tersebut lebih lama. Aruna langsung pergi meninggalkan restoran. Rencana akan makan siang, harus gagal gara-gara insiden perselingkuhan.
"Bu Aruna, mau ke mana?" Indira berteriak kencang memanggil nama atasannya yang tiba-tiba keluar, lalu menyusulnya, sedangkan Dena memilih diam saja, tetapi mengikuti langkah Aruna.
Di sisi lain, Juno yang mendengar nama yang selalu mengisi hatinya itu sontak menolehkan kepala ke asal suara. Mengedarkan pandangan ke sekitar, tetapi tidak menemukan sosok yang ia pikirkan.
"Cari siapa?" Perempuan yang duduk di samping Juno pun bertanya sebelum menyuapkan satu makanan ke dalam mulutnya.
"**Aunt**y Nom, denger, nggak, tadi ada yang panggil nama 'Aruna'?" Juno bertanya balik.
Perempuan yang dipanggil 'Aunty Nom' oleh Juno itu menganggukkan kepala. Mulutnya masih sibuk menikmati masakan rendang olahan daging sapi yang begitu memanjakan lidahnya. "Ehm ... bukannya itu nama calon istri kamu, ya? Dia ada di sini?" tanyanya setelah berhasil mengirim makanan itu menuju pencernaannya.
Juno masih mencari sosok Aruna yang dia kenal. Mungkin saja pendengarannya tidak salah, dan Aruna benar-benar ada di sana. "Iya, namanya Aruna. Tapi kayaknya itu Aruna yang lain, deh. Calon istriku nggak ada di sini." Juno sedikit kecewa, lalu kembali menatap perempuan yang bernama lengkap Naomi Akiara itu. Seorang artis terkenal dari Negeri Sakura, yang datang ke Indonesia secara diam-diam dan menyamar jadi orang biasa. Agar tidak diburu oleh para netizen dan paparazzi yang mengenali dirinya.
Naomi Akiara adalah bibi kecilnya Juno. Adik perempuan beda ayah sang papi—Jonathan Kingsley. Anak dari pasangan menikah tua Ayura dan Dokter Ichida. Sehingga usia Naomi pun setahun lebih muda dari keponakannya.
"Ah, aku baru ingat kalau tadi ada janji makan siang sama Aruna. Gara-gara tadi buru-buru jemput Aunt." Juno meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Lalu mencari nomor kontak Aruna dan langsung menghubunginya. Juno akan memberikan kabar jika dirinya tidak bisa menemani Aruna makan, karena ada keperluan.
"Kenapa nggak disuruh ke sini aja, Honey. Makan bareng kita," usul Naomi lalu menyeruput cairan berwarna kuning memakai sedotan dari gelas yang baru saja ditariknya. "Aunty-mu ini juga mau kenalan sama dia," imbuhnya lagi setelah meredakan dahaganya.
"Nggak diangkat," ucap Juno lalu mengulang kembali panggilan itu.
Sampai tiga kali melakukan panggilan, hasilnya masih tetap sama. Juno pun dibuat heran saat di panggilan ke empat, ponsel Aruna malah di luar jangkauan. "Lho, kenapa jadi nggak aktif, si?" decak Juno heran dengan kening yang berkerut dalam. Rasa khawatir dan takut akan terjadi sesuatu yang buruk terhadap Aruna, mulai bermunculan di benaknya. Juno merasa 'dejavu'. Hal ini pernah terjadi sebelumya saat Aruna diculik oleh Bana.
"Apa dia marah?" tanya Naomi sambil menopang dagu dengan kedua punggung tangannya yang bertumpu di meja. Menatap wajah keponakannya.
Juno mengedikkan bahu, "nggak tau," jawabnya sambil mengetikkan pesan, lalu dikirimkan pada seseorang. Dena—orang yang Juno percaya untuk mengawasi Aruna saat bekerja.
"Mungkin dia lagi meeting dan nggak bisa diganggu," tebak Naomi.
"Ini jam istrahat, Aunt"
"Atau ponselnya kehabisan baterai, terus dimatiin sambil di charger."
"Nggak mungkin. Aruna punya kebiasaan kalau charger pasti sambil dinyalain."
"Atau mungkin ... dia lagi sama pacarnya yang lain."
"Aunty!"
"Apa mungkin tadi dia memang ada di sini? Lalu salah paham saat melihat kita yang terlihat kayak orang pacaran? Seperti prasangka orang-orang yang nggak tahu hubungan kita kalau kita lagi berduaan."
Sudah tidak aneh bagi Juno dianggap sebagai pacarnya Naomi, jika sedang jalan berdua dengan perempuan itu. Perbedaan umurnya yang hanya lebih tua satu tahun dari Naomi, membuat orang lain berpikir jika mereka adalah pasangan yang serasi. Cantik dan tampan, pun kerap bersikap mesra dengan panggilan sayang satu sama lain. Semakin memperkuat persepsi orang-orang.
"Tapi, kan, tadi dicari nggak ada. Jangan berpikir yang tidak-tidak! Kalau dia melihat kita, dia pasti langsung cemburu dan melabrak kita berdua."
Namun, Aruna tidaklah sama. Ia bukanlah perempuan yang mau berebut laki-laki dengan perempuan lain. Jika memang sudah berkhianat, maka tidak ada kata maaf.
...***...
Di sisi yang berbeda, tepatnya di dalam mobil Dena yang tengah melesat membelah jalanan ibu kota. Aruna tak mau bersuara semenjak dirinya meninggalkan restoran tadi. Keheningan tercipta cukup lama, hanya suara bising kendaraan yang mereka kendarai dan kendaraan lain yang sesekali terdengar. Pun dengan suara dering ponsel Aruna yang berbunyi tiga kali. Tanpa mau mengangkatnya, Aruna bahkan hanya memandangi ponselnya saja.
"Kamu nggak apa-apa, Na?" Dena yang pertama memecahkan suasana. Perempuan itu melirik sejenak pada Aruna yang duduk di samping kemudinya, sebelum ia fokus lagi ke jalan raya.
Aruna yang dari tadi menatap layar ponselnya yang kini sudah berwarna gelap kemudian mendongak. Menoleh pada Dena, lalu tersenyum pelik. "Nggak apa-apa, Mbak," jawabnya lalu memasukkan ponsel miliknya yang kini sudah tidak mempunyai daya ke dalam tas selempang. Lebih tepatnya, ponsel itu memang sengaja dinonaktifkan oleh Aruna. Dia sama sekali tidak ingin mendengar suara Juno. Hatinya terlalu sakit melihat kemesraan lelaki itu dengan perempuan lain.
"Kamu nggak mau nanya dulu sama Pak Juno tentang masalah tadi? Mungkin aja kamu salah paham, Na." Dena yang semenjak tadi pagi sudah dinobatkan sebagai kakak angkat oleh Aruna pun bertanya.
"Aku lagi males berdebat, Mbak. Nanti aja," pungkas Aruna, dengan pandangan lurus ke depan sana.
"Aku nggak nyangka, loh. Pak Juno ternyata tukang selingkuh juga. Mana cewek tadi cantik banget lagi. Kayak selebritis luar negeri yang pernah aku lihat di mintagram."
Celetukan Indira yang duduk di kursi penumpang, membuat kedua perempuan yang duduk di depannya sontak menoleh hampir bersamaan. Namun, karena Dena sedang mengemudi, dia lalu melengos lagi. Begitu pun Aruna. Dia langsung mengalihkan pandangannya lagi ke depan, dengan tatapan kosong tanpa tujuan.
"Kalau ngomong hati-hati, Ra. Jangan suka nambahin kayu bakar pada api yang sedang berkobar!" hardik Dena masih fokus pada kemudinya.
"Aku nggak bawa kayu bakar, Bu Dena. Memangnya mau bikin api unggun di mana?"
"Astaga ... Indira! Mendingan kamu diem aja, deh. Kalau nggak, aku jadiin kamu kayu bakar buat api unggun beneran, mau?" sungut Dena kesal. Tatapan tajamnya menghunus pada kaca spion dalam.
"Ih, Bu Dena serem amat ancamannya. Aku serius nanya juga." Indira beringsut mundur. Merasa takut dengan ancaman Dena yang hanya gertakan saja.
Tidak ada obrolan lagi setelah itu. Hingga mobil yang dikendarai oleh Indira memasuki kawasan parkir perusahaan Surya. Akhirnya mereka memilih menu kantin perusahaan untuk mengisi perutnya yang kelaparan, tetapi tidak dengan Aruna. Ia memilih untuk kembali bekerja, dan melewatkan makan siangnya.
...***...
...Itu aunty-nya, ya, man teman. Kalau mau tahu lebih jelas kenapa Juno bisa punya bibi kecil yang usianya lebih muda, bisa dibaca di novel yang satunya 'My Lovely Idiot Husband'. Jadi promosi, kan? 🤣🤣...