
...***...
"Kamu yakin nggak mau ikut ke dalam?" tanya Juno memastikan.
"Nggak," jawab Aruna cepat. Perempuan itu malah menyibukkan diri dengan ponsel miliknya.
"Ya, udah. Pulang sana!" Juno menegakkan tubuhnya, lalu menutup pintu mobil Aruna.
Aruna memejamkan kedua matanya sejenak, lalu mendorong kacamata pada pangkal hidungnya. Ia tahu maksud Juno menyuruhnya pulang barusan. Jika Aruna pulang sekarang, berarti rekaman itu tidak akan dia dapatkan. Ia pun melepaskan seltbet yang masih melingkar di tubuhnya, sebelum dirinya turun dari mobil.
Juno tersenyum lebar ketika melihat Aruna sudah berdiri di samping mobil. Sebenarnya ia tidak mau memaksa Aruna, tetapi jika tidak seperti itu, mungkin lelaki itu tidak akan pernah punya kesempatan untuk mendekati Aruna, dan memberikan perhatian lebih kepadanya. Ya, walaupun caranya sedikit menyebalkan. Juno tidak punya cara lain untuk mendekati seorang perempuan dalam kamusnya.
Juno berjalan menghampiri Aruna, lalu memberikan lengannya agar digandeng oleh perempuan berkacamata itu. "Yok, Sayang, kita masuk!" ajaknya kemudian.
Kening Aruna berkerut dalam mendengar kata 'sayang' yang keluar dari mulut Juno untuknya. "Apa, sih, sayang-sayang. Nggak jelas banget, nih, orang!" Kalimat itu hanya terlontar dalam hati Aruna. Kedua matanya mendelik tajam pada lengan Juno yang masih membentuk huruf 'C' di sampingnya.
"Jadi ikut, nggak?" tanya Juno lagi. Lebih tepatnya bukan bertanya, melainkan memaksa dengan mimik wajahnya yang menyebalkan. Bagaimana tidak, sebelah tangannya lagi sedang memainkan kartu memori yang dibutuhkan oleh Aruna. Benda itu seolah dijadikan jaminan untuk memaksa Aruna agar mengikuti keinginannya. Gayanya yang tengil membuat Aruna gemas sendiri ingin menggaruk wajah itu. Namun, selain mengikuti kemauan Juno, Aruna tidak bisa bertindak sembrono.
"Lain kali aku nggak mau minta tolong sama kamu lagi. Bikin repot tahu, nggak?" ujar Aruna sembari menggandeng tangan Juno dengan terpaksa.
"Aku seneng, kok, direpotin sama kamu."
"Aku yang repot, loh, bukan kamu!" sungut Aruna penuh penekanan. Juno pun tertawa.
"Iya, kita sama-sama repot, kok. Apalagi kalau udah nikah terus punya anak. Repotnya bakalan nambah."
"Juno!" pekik Aruna. Langkahnya terhenti membuat tubuh Juno tertahan karenanya. Tawanya pun reda.
"Apa, si? Bikin kaget aja," seru Juno.
"Kamu ngomong apa? Emangnya kita mau nikah?"
"Kamu maunya kapan? Kita bisa atur waktunya dari sekarang, juga mempersiapkan segala sesuatunya. Tapi sebelum itu, aku mau melamar kamu dulu." Juno dengan santainya berkomentar.
"Tau, ah!" Aruna berdecak kesal. Ia tidak bisa mengimbangi tingkat keisengan Juno yang pandai membalikkan kata-kata. Ia pun melepaskan gandengan tangannya pada Juno. Kemudian gantian menarik tangan lelaki itu dengan tidak sabar. "Cepetan beli bajunya! Abis itu aku antar kamu pulang," seru Aruna sembari berjalan. Juno pun terpaksa mengikutinya dari belakang.
"Wah, kamu udah nggak sabar ternyata!" seru Juno sembari terkekeh di belakang Aruna.
Aruna sudah tidak mau mendengarkan ocehan Juno lagi. Ia menulikan telinganya sendiri agar tidak menambah rasa kesal di hati. Membiarkan Juno menggodanya tanpa henti. Nanti juga capek sendiri.
...***...
Setelah sampai di dalam butik. Kesabaran Aruna diuji lagi. Juno dengan seenaknya menyuruh perempuan itu untuk mencoba setiap baju yang terlihat cantik olehnya. Ternyata Juno ke sana bukan ingin membeli baju untuk dirinya, melainkan membeli baju untuk Aruna.
"Udah, dong, Juno. Ini udah baju kelima yang aku coba. Aku udah capek kerja, terus sekarang kamu siksa. Tega banget, si!" Aruna mengomel sambil mempertontonkan penampilannya di depan Juno. Perempuan itu terlihat anggun dan memesona dengan balutan mini dress formal berwarna putih, yang sangat cocok dengan tubuhnya. Bahkan lekuk tubuhnya pun tercetak begitu pas dan sedap dipandang mata.
Tentu saja penampilan Aruna yang begitu menawan jadi pusat perhatian Juno. Kedua matanya tidak mau berkedip barang sedetik pun. Ia begitu terpana dengan penampilan Aruna yang terlihat anggun.
"Juno!" Aruna memanggil Juno sedikit berteriak. Membuat lelaki itu sontak tersentak.
"Eh, iya, kenapa?" tanya Juno yang sedari tadi tidak memperhatikan perkataan Aruna.
"Sebenarnya kamu mau dianterin pulang atau nggak? Aku udah capek, nih. Pengin cepet pulang. Aku juga butuh istirahat."
Juno yang tengah memegang ponsel, langsung mengarahkan ponselnya pada Aruna, dengan fitur kamera yang sudah siap mencetak lukisan sempurna tubuh Aruna dalam ponsel pintar itu. Beberapa foto Aruna sudah Juno dapatkan. Ia lantas berdiri dari duduknya, menghampiri Aruna yang masih berdiri di hadapannya. "Kalau gitu kita pulang sekarang." Juno menggandeng tangan Aruna, lalu menggiringnya menuju ke luar gedung butik tersebut. Namun, sebelum itu dia mampir ke kasir untuk membayar barang belanjaannya hari ini. Baju yang dia beli semuanya untuk Aruna.
"Eh, tunggu dulu, Jun! Ini bajunya belum diganti." Aruna menghentikan langkah mereka sesaat setelah meninggalkan kasir.
"Ngapain diganti? Itu buat kamu, termasuk semua baju yang udah kamu cobain tadi."
"Hah, yang bener?" Aruna melongo tidak percaya. Ia tahu jika pakaian bermerk yang terdapat di butik langganan Juno itu sangatlah mahal.
"Bener, lah. Apa si yang nggak buat kamu." Aruna tidak terkesan, dirinya malah mendengkus sebal.
"Terus kamu ke sini bukan buat beli baju kamu sendiri?" Juno menggelengkan kepalanya sebagai tanggapan.
"Kamu sengaja mau nyogok aku, ya? Mau iming-imingin aku harta kamu biar aku terjerat gitu? Maaf, ya, Bapak Juno. Aku bukan perempuan matre yang akan luluh ketika kamu berikan barang-barang mahal seperti ini," ujar Aruna lagi. Dia menepis tangan Juno yang melingkar di lengannya, lalu merebut paper bag yang ada di tangan kiri Juno untuk dibawa ke kasir. Ia akan mengembalikan baju yang dibelikan oleh Juno tersebut.
"Mbak, bajunya nggak jadi dibeli, ya. Saya juga mau ambil baju lama saya."
"Loh, tapi barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan lagi, Bu. Dan baju Ibu ... udah kami buang sesuai perintah Pak Juno." Kasir itu cengengesan dengan suara sedikit tertahan ketika mengucapkan kalimat terakhir. Kedua matanya melirik ke arah Juno yang berjalan menghampiri mereka.
"Kalau kamu nggak mau baju itu, buang aja ke tempat sampah. Baju yang sudah dicoba dan dibeli di sini nggak bisa dikembalikan lagi," ucap Juno dari arah belakang Aruna. Membenarkan perkataan kasir tersebut. Aruna sontak berbalik badan, lalu melirik paper bag yang berisi baju itu. Sorot matanya terlihat menyayangkan jika baju mahal itu harus dibuang.
"Berikan pada teman perempuanmu yang lain saja! Mubazir kalau dibuang," usul Aruna.
Juno menggelengkan kepalanya lagi. Dengan cepat ia meraih paper bag dari atas meja kasir, lalu ia berjalan menuju keranjang sampah yang berada di pojok ruangan butik. Ketika dirinya hendak membuang paper bag itu di sana, tangan Aruna berhasil menahannya.
"Apa kamu sudah gila? Aku bilang, jangan dibuang!" sembur Aruna yang sengaja mengikuti Juno. Tatapannya tertuju pada pada paper bag menggantung di tangan Juno. Isinya yang mahal membuatnya merasa kasihan jika harus teronggok dalam tempat sampah.
"Pilihanku cuma dua. Kamu ambil bajunya atau dia berakhir di tempat itu." Juno melirik tempat sampah yang ada di bawahnya. Sekali ia membuka genggaman tangannya, maka paper bag itu akan jatuh ke dalam sana.
"Aku ambil bajunya," seru Aruna. Juno pun tersenyum bahagia.
"Gitu, kek, dari tadi," ucapnya, lalu mengajak Aruna pergi.
...***...
Next ke sebelah, ya. Tapi tinggalkan dulu jejak like, ya. 👉