Magic Love

Magic Love
Aku Bersedia




...***...


Hari yang tidak dinantikan oleh Kezia akhirnya tiba. Pernikahan tanpa cinta harus disandang oleh Kezia. Kini, perempuan itu sedang merias diri. Dibantu oleh MUA dan ditemani oleh Aruna.


"Udah, ih. Nangis terus dari tadi. Itu kasian MUA-nya, nambalin make-up nggak kelar-kelar!" Aruna menggerutu pada kakaknya, yang entah kenapa tidak bisa menahan air mata yang terus keluar dari pelupuk mata.


Untuk kesekian kali, Kezia menyapu air mata itu menggunakan tisu. Kedua matanya sudah sembab karena menangis dari semalam. "Aku juga nggak pengen nangis lagi, Na. Aku udah nerima takdir aku nikah kayak gini. Tapi ini air mata nggak mau berhenti keluar dari tadi. Mungkin lagi musim hujan, jadi pasokannya lagi banyak di dalam."


Aruna berdecak, lalu memutar kedua bola matanya kesal. Sudah tiga jam dia menemani Kezia berdandan dan tidak boleh keluar. Jangan ditanya bagaimana raut wajah MUA yang mereka sewa. Riasan sederhana yang seharusnya selesai dalam waktu satu jam saja, harus molor hanya karena tangisan Kezia. Jika saja dia tidak dibayar mahal, mungkin perias itu akan kabur sekarang.


"Eh, Kak. Si Abi, kan, orang kaya. Kenapa nggak ngadain pesta pernikahan mewah, si? Biar pernikahan kalian diketahui banyak orang. Ini malah minta acara akad nikah aja, di rumah pula, dan cuma dihadiri sama keluarga," imbuh Aruna, malah mengajak kakaknya berbincang ketika MUA tengah memakaikan baju pengantin pada Kezia.


"Terus ngebongkar aib kakak ini?" tukas Kezia sambil memegangi perutnya.


"Ya, nggak juga. Lagian, tu, perut juga masih rata. Nggak bakalan keliatan sama orang-orang. Rugi, loh, Kak. Dari dulu, tuh, ya, aku selalu berharap pernikahanku nanti hanya sekali dalam seumur hidup. Peristiwa yang paling berkesan dalam hidup pokoknya, lalu setia dengan pasangan kita selamanya." Aruna yang duduk di sisi meja rias mendongakkan kepala, pandangannya menerawang jauh ke depan sana. Berangan tentang masa depan pernikahan yang bahagia hanya dengan satu pasangan saja. Ia tidak ingin meniru sang papa yang pernah bercerai dengan mamanya.


"Itu kalau pernikahannya atas dasar cinta, Aruna. Pernikahan aku ini beda, Na. Beda! Kamu, ih. Bikin kakak tambah sedih."


Perkataan Kezia membuat Aruna kembali dari imajinasinya. Memasang wajah menyesal karena sudah menyakiti hati kakaknya secara tidak sengaja. "Maaf, Kak, maaf! Aku lupa. Eh, tapi mungkin aja, kan, pernikahan kalian bakal langgeng sampai maut yang memisahkan. Yang penting kalian harus sama-sama setia."


"Tau, ah. Kakak nggak kepikiran ke arah sana. Yang penting nama baik keluarga kita nggak hancur gara-gara kebodohan kakak." Kezia menarik napas dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Memperbanyak rasa sabar dan kekuatan untuk hatinya sekarang. Ia sudah pasrah dan menerima keadaan. Tentang masa depan, bagaimana Tuhan yang akan menentukan.


"Mbak, diem dulu, ya. Ini make-upnya harus dibenerin lagi." Setelah selesai dengan baju pengantin. MUA beralih lagi pada riasan Kezia untuk kesekian kali. Ia sedikit kesal karena kedua kakak beradik ini malah asyik mengobrol, sedangkan dirinya merasa dongkol. Sebentar lagi akad nikah akan dimulai, dan jika riasannya belum juga selesai maka dia yang akan dimarahi.


Setengah jam waktu yang cukup singkat untuk memperbaiki riasan wajah Kezia yang selalu tersapu lelehan air mata sebelumnya. Mungkin air mata itu sudah mengering, hingga tidak lagi mengganggu riasan Kezia. Kini, perempuan itu sudah siap untuk menyongsong hidup barunya yang entah akan seperti apa.


...***...


"Sayang, aku kangen sama kamu." Aruna terlonjak kaget saat ada tangan kekar yang tiba-tiba melingkar di perutnya dari arah belakang. Siapa lagi yang berani kurang ajar terhadap Aruna, jika bukan seorang Juno yang sangat mencintainya.


"Juno, kamu apa-apa, si! Kalau ada orang yang lihat gimana? Di bawah masih ada acara." Aruna pastinya langsung kelabakan. Setelah acara akad pernikahan selesai, Aruna izin meninggalkan acara pernikahan kakaknya untuk pergi ke kamar sebentar, dan ternyata diikuti oleh Juno yang berhasil menyelinap secara diam-diam.


"Nggak apa-apa. Palingan kita dinikahin juga," ucap ngawur Juno. Bukannya melepaskan, tangannya malah semakin memeluk kencang. Bahkan dengan lancang menyusupkan kepalanya di ceruk leher Aruna, mencari kenyamanan di sana.


"Ih, aku nggak mau." Aruna merasa tidak nyaman. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Juno.


Penolakan Aruna membuat Juno mengangkat kepala. Ia putar tubuh kekasihnya hingga menghadap ke arahnya. "Kamu nggak mau nikah sama aku?" tanyanya dengan raut kecewa.


"Oke, deal. Aku setuju ide kamu. Mulai besok kita rencanakan semuanya." Juno tersenyum mendengar permintaan Aruna.


"Masa gitu aja?" protes Aruna. Wajahnya memberenggut kesal, dengan sikap Juno yang terkesan asal. "Kamu belum ngelamar aku, Juno!" Dengan nada penuh penekanan Aruna kembali berucap geram. Lelaki itu seolah tidak peka dengan impian seorang perempuan. Dilamar secara romantis oleh pria yang dicintai, sebelum hari pernikahan itu terjadi.


Juno tergelak, ia merengkuh tubuh Aruna dengan gemas. "Kamu lucu banget, sih. Tentu saja aku akan melamar kamu dulu. Ayo, ikut aku!"


"Mau ke mana?" tanya Aruna bingung.


Juno tidak menjawab. Ia hanya mengulas sebuah senyuman sambil menarik tangan Aruna.


Mau tidak mau kaki perempuan itu pun ikut melangkah, mengikuti jejak langkah Juno yang berjalan di depannya.


Juno membawa Aruna ke taman belakang rumahnya. Di sana ternyata sudah berkumpul seluruh keluarga yang menjadi tamu pesta pernikahannya Kezia. Termasuk sepasang pengantin yang baru satu jam yang lalu mengucapkan ijab kabul di depan penghulu.


Dibawanya Aruna di tengah kerumunan keluarga mereka. Juno menatap Aruna penuh cinta, sedangkan Aruna tertunduk malu karena menjadi tontonan semuanya. "Juno, kamu ngapain, sih. Aku malu, tahu!" bisik Aruna sedikit berjinjit mendekati telinga Juno, dengan pandangan masih ke bawah.


"Ngapain malu? Mereka keluarga kita semua." Juno mengangkat dagu Aruna perlahan. Memperlihatkan rona kemerahan yang terpendar di pipi mulus perempuan itu. "Tapi kalau malu gini, wajah kamu lucu, tahu. Jadi gemes aku," imbuh Juno dengan senyuman usilnya. Aruna bertambah malu tentu saja. Apalagi mendengar suara cekikikan di sekitarnya. Rasanya Aruna ingin menenggelamkan diri saja.


Belum sempat Aruna membuka bibirnya untuk kembali menyanggah. Kelakuan Juno selanjutnya membuat Aruna harus menelan kembali kata-katanya. Debaran jantungnya tidak terkendali, aliran darahnya berdesir kencang sekali. Kedua matanya mengerjap gugup. Menatap Juno yang kini sedang berlutut.


Sebelah tangan Juno merogoh saku jas yang dia pakai, mengeluarkan sebuah kotak merah lalu membukanya di hadapan Aruna. Berisi cincin mewah dengan mata berlian asli di atasnya. Kilau pantulan cahaya dari batu berlian itu menyilaukan mata. Namun, Aruna tidak bisa berkedip melihatnya.


"Aruna Rhea. Di depan seluruh keluarga kita, aku ingin kamu mengatakan 'iya'. Bersediakah kamu menjadi istriku? Menjadi ibu dari anak-anakku? Menjadi pelengkap tulang rusukku?"


Seuntai ucapan lamaran yang terkesan memaksa itu terlontar dari bibir Juno. Semua orang tampak diam memperhatikan. Ikut merasakan gugup, karena Aruna malah terdiam lama tanpa suara.


"Aruna, jawab 'iya', Nak! Kasian anak mami kalau kamu tolak lagi." Kalimat pemaksaan itu terlontar dari bibir Ara. Ibu dan anak memang memiliki gen yang sama. Sama-sama suka memaksa. Suasana hening menyertai atmosfer yang ada. Juno harus menelan salivanya ketika Aruna tak kunjung menjawab lamarannya.


Tidak ada pilihan selain mengikuti permintaan mereka. Kendatinya ini adalah keinginan Aruna juga. Mengulas senyuman tipis yang hampir tak terlihat, Aruna menarik napas sesaat. Lalu dengan yakin berkata, "iya, aku bersedia."


...***...



...Yeay.... diterima, dong. Berarti bentar lagi novelnya tamat, Guys. 😔...


...Sebelum tamat, minta komentarnya yang banyak, ya. Buat kenang-kenangan aja 😅...