
...***...
Sebulan berlalu, kehidupan Aruna berjalan seperti biasanya. Datar dan penuh kesibukan. Selama itu pula Juno tidak pernah mengganggunya. Bahkan untuk rapat direksi di perusahaannya Aruna saja, Juno hanya menyuruh Kezia untuk mewakilkan dirinya.
Ada rasa yang hilang dalam diri Aruna, tetapi itu adalah yang terbaik untuk mereka. Aruna yang belum bisa membuka hatinya untuk cinta, hanya akan membuat Juno tersiksa dengan perasaannya. Dengan Alfath pun sama. Mereka hanya pernah bertemu sesekali tanpa sengaja, dan saling bertukar kabar lewat pesan WhatsApp saja.
Sore itu, Aruna sedang dalam perjalanan menuju pulang ke rumah kontrakannya. Ia melihat sosok Putri sedang duduk di halte bus tempatnya biasa berjualan. Putri terlihat sedang menghitung uang hasil jualannya hari ini.
"Putri," gumam Aruna. Ia tersenyum menatap gadis kecil itu. Lalu menepikan mobilnya di bahu jalan. Sudah sebulan Aruna tidak bertemu dengan Putri. Biasanya dia akan datang ke rumahnya, jika gadis kecil itu tidak terlihat di halte ataupun di terminal. Namun, karena kesibukan Aruna dengan pekerjaannya akhir-akhir ini. Dia tidak sempat untuk menemui gadis itu di rumahnya.
"Halo, cantik," sapa Aruna pada Putri yang sedang menghitung duit.
Putri sontak menoleh. "Kak Aruna," serunya lalu menghambur memeluk tubuh Aruna. Putri juga merindukan perempuan itu.
Aruna membalas pelukan Putri. "Apa kabar, Sayang? Udah lama kita nggak ketemu, ya. Maaf, kakak jarang main ke rumah kamu. Kakak juga jarang lihat kamu jualan di sini. Kerjaan kakak numpuk, jadi–"
Merasakan tubuh Putri yang bergetar dalam pelukannya, Aruna menghentikan perkataannya. Ia dorong tubuh Putri agar bisa melihat wajah gadis kecil itu. "Kamu kenapa? Kamu nangis?" tanya Aruna bingung.
Namun, Putri tidak langsung menjawabnya. Gadis kecil itu malah kembali memeluk Aruna. Tangisannya semakin terdengar memilukan. Aruna yang tidak paham hanya bisa mengusap punggung Putri, mencoba untuk menenangkan. Lantas ia menggiring tubuh Putri agar duduk di kursi tunggu halte bus itu.
"Putri duduk dulu, ya! Jelaskan sama kakak, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu nangis kayak gini?" Aruna bertanya dengan hati-hati.
Putri masih sesegukan. Sesekali ia mengusap ingusnya dengan telapak tangan. Aruna mengambil tisu dari dalam tas kecilnya, lalu menyodorkannya pada Putri. "Pake ini, Sayang!" titahnya yang dipatuhi oleh Putri.
"Kamu kenapa?" Setelah melihat Putri sedikit tenang, Aruna pun bertanya lagi.
"Nenek, Kak. Neneknya Putri meninggal." Putri menangis lagi setelah menjelaskan. Aruna terhenyak sesaat, seolah ada sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak.
Aruna mengerti perasaan Putri. Ia juga pernah ditinggalkan oleh orang yang paling dia cintai di dunia ini. Tubuh Putri pun masuk ke dalam pelukan Aruna lagi. Mencoba memberikan kekuatan, walaupun ia tahu itu tidak akan mengubah keadaan.
"Maafkan kak Aruna, ya, Put. Kakak nggak tahu. Kapan nenekmu meninggal?" tanya Aruna masih mendekap Putri.
Putri pun melepaskan diri. Ia berusaha tegar walaupun rasanya sakit sekali. Sebelum nenek meninggal dia pernah berpesan, jika Putri tidak boleh sedih terlalu dalam, karena semua makhluk yang bernyawa pasti akan meninggal. Hidup di dunia hanya untuk menunggu giliran.
"Nenek meninggal dua minggu yang lalu, Kak," jawab Putri sambil mengusap air mata yang terus merembes di pelupuk matanya. Putri tidak mau terlihat lemah di hadapan Aruna.
"Sekarang kamu tinggal sama siapa?" tanya Aruna khawatir.
"Sendirian," jawab Putri sambil tersenyum getir.
"Kamu tinggal sama kakak, ya! Kamu masih kecil. Nggak baik tinggal sendiri," bujuk Aruna. Putri menggelengkan kepala tanda menolak permintaan Aruna.
"Kenapa?" tanya Aruna heran.
"Putri nggak mau ninggalin rumah peninggalan nenek. Kalau Putri pergi, nanti rumah nenek nggak ada yang ngurusin," jawab Putri dengan tegas. Aruna tersenyum miris. Hatinya seperti diiris-iris. Anak sekecil itu bisa memantapkan hatinya untuk menjaga peninggalan neneknya. Dulu Aruna juga ingin melakukan hal yang sama ketika mamanya baru meninggal dunia. Namun, karena dirinya tidak punya uang untuk melunasi hutang mamanya yang menjadikan rumah itu sebagai jaminan. Hutang yang dipinjam oleh sang mama untuk biaya pengobatan. Aruna yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mengikhlaskan.
"Tapi kakak khawatir kalau kamu tinggal sendirian di sana. Gimana kalau kakak yang tinggal sama kamu. Rumah kakak udah dijual. Sekarang kakak udah jadi gelandangan, loh. Tapi kamu tenang aja, kakak akan bayar seperti kakak bayar kontrakan yang sekarang." Aruna tersenyum miris mengingat rumahnya yang dijual gratis. Ya, gratis. Karena hasil penjualan rumah itu tidak pernah dinikmati oleh Aruna. Semuanya diberikan kepada Juno untuk membayar perbaikan mobil mewah lelaki itu. Walaupun kejadian itu sudah lama terjadi, Aruna baru menceritakannya kepada Putri.
"Ceritanya panjang, Put. Nanti ajalah kakak ceritakan. Sekarang kamu ikut kakak ke kontrakan, buat bawa barang-barang. Kakak mau pindah sekarang." Putri mengangguk tanda setuju.
"Rumah Putri jelek, loh, Kak. Emangnya nggak apa-apa kalau Kak Aruna tinggal di sana?" Putri sedikit ragu dengan kondisi rumah neneknya. Aruna adalah orang kaya, tidak mungkin ia betah tinggal di rumah kumuh itu.
"Itu, sih, gampang. Kamu bisa nyicil buat memperbaiki rumah nenek kamu. Nanti kakak bantu, anggap aja itu uang muka bayar kontrakan." Putri tersenyum mendengar itu. Sebagai anak kecil, tentunya ia senang ketika rumahnya akan dibuat bagus.
"Oke, Kak. Kita deal, ya." Aruna menatap tangan kecil yang menjulur di hadapannya. Sedikit mengulas senyum sebelum dirinya menjabat tangan itu untuk bersalaman, seperti membuat kesepakatan.
"Oke," ucap Aruna setuju. Sejenak kesedihan gadis kecil itu menghilang. Kehadiran Aruna membuat dirinya tidak merasa sendirian.
...***...
"Oh, iya, Kak. Waktu itu aku pernah ketemu sama om-om yang pernah pura-pura pinjem dongkrak malam-malam itu."
"Siapa?" Aruna yang sedang mengemudikan mobilnya sejenak menoleh, lalu kembali fokus ke jalanan di depan sana.
"Itu, Om Jun–Juno. Iya, Om Juno." Putri berhasil mengingat nama Juno dalam memorinya.
"Juno? Di mana?" Aruna sedikit terkesiap. Hatinya langsung berdenyut ketika mendengar nama itu disebut.
"Di deket minimarket. Aku kenal mobilnya, lalu aku ketuk aja. Waktu itu dia terlihat kacau banget, Kak. Katanya dia lagi patah hati," tutur Putri mengingat keadaan Juno saat bertemu dengannya tempo itu.
"Memangnya kapan kamu ketemu dia?" Aruna semakin penasaran. Entah kenapa hatinya merasa tidak tenang.
"Ehm ... kalau nggak salah, sebulan yang lalu, deh. Aku inget, sih. Soalnya sehari setelahnya nenek sakit keras. Aku nggak bisa jualan karena harus jagain nenek, lalu nenek meninggal dan baru sekarang aku bisa jualan lagi." Wajah Putri kembali murung. Ia pasti sedih jika mengingat neneknya yang sudah pergi.
"Selama sebulan kalian makan dari mana kalau kamu nggak jualan?" Aruna mencoba mengalihkan kesedihan Putri dengan bertanya demikian.
"Kan, aku punya tabungan. Ditambah uang pemberian dari kakak yang masih aku simpan." Aruna mengingat uang yang pernah ia berikan kepada Putri.
"Lalu Juno ngomong apa waktu itu?" tanya Aruna kembali pada topik utama.
"Om Juno bilang, dia kesal sama Kak Aruna. Karena Kak Aruna udah mainin perasaan dia. Ngasih harapan, tapi taunya udah punya pacar."
Aruna tersentak mendengar penuturan Putri. Ia tidak menyangka jika seorang CEO yang dihormati, mau curhat pada seorang gadis kecil yang baru dia temui.
"Lalu kamu jawab apa?" cecar Aruna lagi. Rasa khawatir membuatnya menggigit bibir.
"Aku ceritain semuanya. Kalau Kak Aruna nggak mungkin punya pacar, karena Kak Aruna takut dikhianati sama pasangannya," terang Putri. Aruna meringis sambil menepuk keningnya. Ia memang pernah bercerita tentang keluarganya kepada Putri, tetapi ia tidak pernah berpikir, jika Juno akan tahu rahasianya lewat jalur Putri.
...***...
Dukung terus kisahnya Aruna, ya. Like, favorite, dan kasih komentar. Gift sama votenya juga kalau ada. Aku mau bikin giveaway, ya. Buat yang berada di podium tiga besar, sama komentar terfavorit pilihan othor.
Hadiahnya berupa souvenir lucu dan pulsa, InsyaAllah kepake. Jangan lupa follow aku, ya. Nanti aku sendiri yang hubungi buat nanya alamat. 🥰