
...***...
Aruna tidak bisa berkata-kata lagi. Kesungguhan Juno mampu membuat hatinya sedikit lebih tenang. "Aku percaya sama kamu, Mas," seru Aruna kembali memeluk Juno dengan erat. Juno pun melakukan hal yang sama. Sebuah senyuman terukir di bibirnya, mengiringi rasa bahagia yang tercipta di antara mereka.
"Kalau begitu, apa aku boleh minta jatahku sekarang?"
Aruna tersentak mendengar pertanyaan Juno tersebut. Pelukannya langsung terlepas, dan tubuhnya sontak mundur satu langkah. Aruna salah tingkah. Ia tidak terlalu bodoh untuk bisa mengartikan maksud dari 'jatah' yang Juno minta. Aruna merasa belum siap untuk melakukannya.
"Ehm ... bukannya tadi kamu mau mandi?" seru Aruna gugup.
"Nggak jadi. Nanti aja."
"Tapi—"
"Ayolah, Sayang! Aku udah lama nunggu momen ini. Boleh, kan?" Juno memotong, sebelah matanya mengerling genit. Kedua tangannya mengatup penuh permohonan.
Aruna masih diam saja. Ia yang gugup mencoba mengendalikan detak jantungnya yang berdebar tak beraturan. Namun, saat Juno kembali menyentuh kedua bahunya, Aruna merasakan desiran aneh yang menjalar sampai ke tulang. Membuat wajahnya bersemu merah, disertai daya magnet yang mengalir dalam darah.
"Tapi ... aku ... nggak tahu caranya." Aruna berucap sambil menundukkan kepala. Juno dengan sigap mengangkat dagu Aruna hingga mendongak menghadapnya.
"Pelan-pelan. Kita sama-sama belajar. Aku juga belum pernah melakukannya. Kata papi, ikuti saja alurnya. Naluri kita pasti akan menunjukkan jalannya."
Sejenak hening. Sorot mata penuh damba tersirat dalam tatapan keduanya. Hanya saja mereka masih belum terbiasa.
Kedua sudut bibir Juno terangkat ke atas, saat dirinya kembali bertanya tentang kesediaan Aruna, lalu perempuan itu menjawabnya dengan anggukan kepala tanda 'iya'.
Aksi Juno yang menggendong tubuh Aruna ala bride style tak pelak membuat Aruna memekik seketika. "Sssttt ... pelankan suaramu! Kalau orang lain dengar, mereka akan berpikir aku menyiksamu di malam pertama."
Seketika saja Aruna membekap mulutnya dengan telapak tangan. Membiarkan suaminya membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sekejap saja tubuh Juno sudah berhasil menguasai dirinya.
"Kamu imut banget, sih! Jangan ditutupin terus bibirnya!" Juno memindahkan tangan Aruna yang masih bertengger di mulutnya sendiri. Ia usap bibir itu dengan lembut sebelum memberikan kecupan singkat di sana.
Aruna terkesiap tentu saja. Serangan itu begitu mendadak dan tanpa aba-aba. Debaran jantungnya bertambah cepat, rasanya seperti ingin meledak. Apalagi ketika Juno sudah membuka kemejanya dan memperlihatkan dadanya yang sixpack. Aruna sampai menelan ludahnya dengan kelat ketika tubuh Juno kian merapat.
"I love you." Kalimat itu mengawali perjalanan panjang di malam pertama pernikahan itu. Aruna seolah terhipnotis oleh mantra lembut yang Juno ucapkan tersebut. Keduanya pun hanyut oleh gelombang hasrat yang menggebu. Tenggelam ke dalam palung rindu yang akan menjadi candu.
...***...
Pagi yang cerah membawa pesan cinta. Seperti cinta sang mentari kepada embun pagi yang membuatnya berkerlipan bak mutiara. Mimpi Aruna terusik oleh beban berat yang menimpa bagian perutnya. Kedua matanya mengerjap sebelum perlahan terbuka. Tangannya meraba bagian perut yang ternyata ada tangan lain di sana. Kepingan peristiwa panasnya semalam mulai bersatu di kepalanya. Membuat Aruna malu dan meringis menahan sakit yang menjalar di bagian bawahnya. Ia ingat itu tangan siapa. Tangan suaminya.
Sedikit bergerak, ternyata tangan itu semakin mendekap. Pertemuan langsung kulit mereka di balik selimut itu terasa begitu hangat. Aruna yang berniat untuk mandi mengangkat tangan Juno perlahan. Rasa nyeri yang menjalar di bagian bawahnya sedikit ia tahan. Bergeser sedikit, lalu duduk di tepi ranjang dan mengambil bajunya yang berserakan di lantai.
"Mau ke mana, sih?"
Aruna terkejut saat tangan Juno kembali mendekap perutnya dari belakang. Lelaki itu bahkan sengaja menyusupkan kepalanya di pinggang Aruna.
"Aku mau mandi, ini udah pagi," jawab Aruna sambil berusaha melepaskan tangan Juno dari perutnya, walau tidak berhasil.
"Jangan dulu mandi! Kan, kita belum olahraga pagi."
Aruna mengernyitkan kening, menyerongkan duduknya dan menatap wajah Juno yang belum mau membuka mata. "Kamu mau olahraga? Kalau gitu, bangun, dong!"
Kedua mata Aruna membulat sempurna ketika dia mengerti olahraga macam apa yang dimaksud suaminya. Terlebih melihat senyuman mesum yang tercetak di bibir lelaki itu, membuatnya semakin yakin saja.
"Tapi, Mas. Kita udah melakukan itu sepanjang malam. Memangnya kamu nggak lelah?"
"Enggak." Dengan cepat Juno menjawab.
"Kalau aku yang lelah bagaimana?" Aruna memasang wajah memelas. Tatapannya terlihat memohon agar suaminya urung menjamah tubuhnya untuk kesekian kali.
Juno mengangkat sedikit kepalanya untuk mengecup kening Aruna. Lalu menggulir tubuh istrinya ke samping tempatnya berbaring. "Kalau gitu kita istirahat dulu. Kumpulin energi buat 'olahraga' lagi."
"Hah?"
Aruna tercengang mendengar perkataan Juno. Ia memiringkan kepalanya menatap wajah tampan yang kembali memejamkan matanya. Pelukan di tubuhnya membuat dirinya tidak berdaya.
"Mas, aku lapar." Setelah sekian detik terdiam, akhirnya Aruna kembali mencari alasan. Ia sudah tidak bisa beristirahat dengan tenang. Membayangkan harus 'berolahraga' yang menyebabkan sendi-sendi tulangnya terancam mengalami peradangan.
"Bentar lagi pihak hotel akan mengantarkan sarapan. Kamu sabar sebentar, ya!" Masih sambil menutup matanya Juno menjawab itu. Tangannya masih betah memeluk tubuh istrinya.
"Eh, gitu, ya?" Aruna menyengir palsu. Ia kembali memutar otaknya agar bisa lepas dari pelukan suaminya itu.
"Shhh ... sakit!"
"Kamu kenapa?" Juno langsung panik ketika mendengar istrinya meringis sakit. Gerak tangan perempuan yang memegangi perutnya itu terasa di permukaan kulit. Keduanya matanya sontak terbuka, lantas beranjak duduk dan memegangi bahu istrinya.
"Aku sakit perut. Mau ke kamar mandi," jawab Aruna masih memegangi perutnya. Raut wajahnya dibuat tersiksa.
Juno menghela napas lega. Ternyata sang istri hanya ingin menuntaskan hajat besarnya. "Ya udah, sana! Tapi ingat, jangan mandi!" ujarnya memperingati.
"Kenapa, sih, kalau mau mandi? Kan, biar wangi." Aruna memberenggut kesal. Padahal ia berbuat seperti itu supaya serangan suaminya batal.
"Ya, kalau kamu mandi dua kali si nggak pa -pa."
"Mas, ih. Aku beneran capek. Besok lagi aja, ya, olahraganya," rengek Aruna. Tubuhnya benar-benar lelah, seperti habis jatuh dari atap rumah.
"Oh, jadi kamu cuma pura-pura sakit buat menolak suami kamu, ya?" Juno melipat kedua tangannya di depan dada.
Aruna tertegun. Ia seperti melihat sisi lain dari suaminya. Juno terlihat seperti seorang maniak yang tidak ingin dibantah keinginannya. Tiba-tiba rasa takut mulai menyelimuti hati Aruna. Apa mungkin dia salah memilih suami?
"Mas, aku, kok, jadi takut sama kamu. Kamu ... bukan seorang—"
Perkataan Aruna terhenti saat melihat Juno tertawa. "Kamu kira aku ini apa? Jangan berpikir yang enggak-enggak. Aku ini suami kamu, jadi wajar kalau harus minta itu."
"Tapi mintamu berlebihan. Itu nggak wajar."
Juno semakin keras mengeluarkan tawanya. "Namanya juga pengantin baru, Sayang. Jadi wajar aku ketagihan," ucapnya di sela tawa. Mencubit kedua pipi Aruna dengan gemas. "Ya, udah. Hari ini nggak minta lagi. Tapi besok aku nggak janji," imbuhnya lagi.
...***...
Next 👉
Jangan betah di sini, mentang-mentang ada anunya 😅