Magic Love

Magic Love
Merasakan Cinta




...***...


Semenjak kejadian di jembatan itu, Juno jadi lebih sering mengunjungi kantornya Aruna. Sikapnya yang tengil kembali ditunjukkan hanya di hadapan Aruna saja. Sedangkan sikap Aruna terhadap keluarganya, terutama dengan papanya masih perang dingin. Mereka bertemu hanya di perusahaan sebagai atasan dan bawahan yang profesional. Dan untuk Kezia, Aruna belum berani bertemu dengan perempuan itu. Entahlah, rasanya Aruna belum siap untuk mengakuinya sebagai kakak satu ayah.


Untuk tempat tinggal Aruna, tentu saja dengan mudahnya Juno bisa melacaknya. Ia tinggal mencari sosok Putri dan bertanya pada gadis kecil yang polos itu.


Seperti siang ini, jam makan siang di tempat kerja Aruna sudah tiba. Perempuan itu terlihat membereskan berkas-berkas yang menjadi bagian dari pekerjaannya, dan menutup laptop yang menjadi alat utama untuk pekerjaannya tersebut.


"Bu Aruna, kita mau makan di mana?" tanya Indira yang berdiri berdampingan bersama Yoga di samping kubikel Aruna. Kedua orang itu sebelumnya sudah diajak oleh Aruna untuk makan siang bersama. Sedangkan Dena, sudah dari tadi pergi mendahului mereka. Ia menolak tawaran Aruna dan berkata sudah ada janji dengan temannya.


Baru mau menjawab pertanyaan asistennya tersebut. Dering ponsel milik Aruna mengalihkan perhatiannya. Terdapat nama Juno pada layar utama yang melakukan panggilan telepon.


"Sebentar, ya!" Aruna sedikit menjauh dari rekan kerjanya tersebut, untuk mengangkat telepon dari Juno. Lalu menempelkan benda pipih itu di telinga setelah menekan tombol terima.


"Iya, Juno. Ada apa?" tanya Aruna.


"Halo, Aruna. Aku masih di kantor kamu, nih. Makan siang bareng, yuk!" Juno yang baru selesai melakukan sidak manajemen di kantor Aruna tidak langsung kembali ke kantornya setelah sidak itu selesai. Lelaki itu sengaja menunggu Aruna sampai jam makan siang.


"Aku udah ada janji makan siang," ujar Aruna. Kepalanya menoleh pada Indira dan Yoga yang menunggunya melakukan panggilan. Merasa tidak enak. Aruna pun menjauhkan ponsel itu dari mulutnya dan berkata pelan kepada kedua asistennya tersebut, "Kalian duluan aja, deh. Nanti aku nyusul."


Indira dan Yoga mengangguk mengerti. "Kami tunggu di rumah makan depan sana, ya, Bu," ujar Indira memberitahu tujuan mereka, lalu pergi dari ruangan tersebut. Aruna hanya tersenyum sambil mengangguk, lalu kembali berbicara pada Juno yang sempat menjadi nyamuk.


"Kamu ada janji makan sama siapa? Batalin aja, ya! Kamu nggak kasihan gitu sama aku. Udah capek nungguin kamu dari tadi." Suara Juno langsung terdengar memelas di seberang telepon.


Aruna menghela napas kasar. Lelaki itu memang menepati janjinya untuk tidak memaksakan kehendaknya dengan kasar seperti waktu lalu. Namun, sekarang kesannya malah seperti meminta belas kasihan. Juno memanfaatkan sikap Aruna yang tidak tegaan.


"Aku udah janji sama Indira dan Yoga buat makan bareng. Nggak enak sama mereka kalau aku yang batalin," tolak Aruna dengan halus. Dia sudah tidak bersikap ketus lagi. Itu karena sikap Juno yang terlampau manis ketika menghadapi Aruna yang selalu bersikap bengis.


"Jadi kamu lebih tega nolak ajakan aku?" Lagi, Aruna harus rajin-rajin menghela napasnya. Sikap Juno sekarang memang mendekati sikap kekanakan.


"Bukan gitu. Aku harus ngomong apa sama mereka? Aku yang janji, aku pula yang mengingkari."


"Kayak lagu aja," tukas Juno sembari terkekeh.


"Aku serius, Juno. Besok aja, ya, makan barengnya," pinta Aruna.


"Nggak bisa, besok aku ada peninjauan di perusahaan cabang luar kota. Takut nggak keburu kalau janji makan siang sama kamu. Sekarang aja, ya. Aku udah nunguin kamu dari tadi, loh. Ya, ya?" Terdiam sejenak. Juno seperti menunggu jawaban Aruna, tak lama lelaki itu kembali bersuara ketika hanya keheningan tercipta, "biar aku yang bilang sama temen-temen kamu, kalau kamu mau makan sama pacar baru."


"Heh!" Aruna menghardik Juno. Lelaki itu terkekeh di seberang sana. "Oke, oke, nanti aku bilang sama mereka nggak bisa ikut makan bareng. Tapi kita makannya jangan daerah sini, ya. Aku juga lagi pengin makan bakso aja," ujar Aruna akhirnya mengalah.


"Masa bakso, sih? Kan, kamu belum makan siang?" protes Juno.


"Mau, nggak? Kalau nggak mau, ya, udah. Aku tinggal nyamperin temen-temen aku, nih."


"Iya, deh, iya. Mau ketemu di mana? Aku udah ada di parkiran perusahaan kamu," sahut Juno.


"Kamu keluar dulu! Tunggu aku di halte depan yang deket perusahaan. Nanti aku jalan ke sana," titah Aruna.


"Banyak omong, ah. Tunggu aja di sana!" Setelah berkata seperti itu, Aruna menekan tombol akhiri panggilan. Seulas senyuman ia sematkan di bibirnya. Tak ayal perempuan itu merasa lucu juga.


...***...


Sesampainya di halte yang ditentukan oleh Aruna. Ia langsung menemukan mobil Juno yang terparkir tidak jauh dari sana. Lantas mengetuk kaca pintu mobil, dan langsung dibukakan pintunya oleh Juno. "Lama, ya?" tanya Aruna setelah dirinya duduk di samping kemudi.


Juno tersenyum. "Nggak, kok. Buat kamu nunggu seribu tahun pun aku mau," ujarnya.


Aruna hampir saja memuntahkan isi perutnya mendengar gombalan Juno. Ia hanya tersenyum dipaksakan menanggapi rayuan lelaki itu. "Yok, jalan!" titahnya sambil menghadap ke depan.


...***...


Lima belas menit mobil Juno membelah jalanan ibu kota yang ramai lancar. Aruna membawa Juno ke tempat penjual bakso langganannya. Mereka memesan bakso dan minuman sesuai selera mereka masing-masing.


Sambil menunggu bakso mereka selesai disajikan, keduanya nampak berbincang ringan. Sesekali Juno melemparkan candaan dan gombalan kepada Aruna, yang membuat gadis itu kadang tertawa.


Sepuluh menit bakso yang mereka pesan pun sudah jadi. Aruna menakar bumbu yang belum sesuai dengan lidahnya sambil mencicipi. "Oh, iya, Jun. Nanti sore aku mau ke kafe kamu, ya," tutur Aruna sambil mencicipi baksonya.


"Ngapain? Mau ketemu aku, ya?" tanya Juno percaya diri.


Aruna menggeleng. "Aku mau ketemu chef Al. Udah lama nggak ketemu dia, kangen juga pengin curhat."


Mendengar itu Juno merengut kesal. Tidak tahu, kah, perempuan itu, jika apa yang dikatakannya barusan menyakiti hati Juno? Rasanya seperti ditusuk-tusuk sembilu, lalu ditaburi garam di atasnya. Perih, Aruna!


"Kenapa, sih, kamu lebih memilih si Al itu kalau mau curhat. Kamu, kan, bisa cerita ke aku? Emangnya aku kurang apa?"


"Kurang garam sama cuka," celetuk Aruna sambil mengecap lidahnya.


"Hah? Kurang garam sama cuka?" Juno mengulangi perkataan Aruna.


Aruna mendongakkan pandangan dari bakso di hadapannya. Lalu menganggukkan kepala. "Iya, coba rasain!" Sesendok kuah bakso langsung masuk tanpa permisi ke mulut Juno. "Gimana? Bener, kan, kurang garam sama cuka?" tanya Aruna dengan wajah polosnya.


Juno hampir saja tersedak kuah bakso yang baru melesak di tenggorokannya. Ia lantas menyahut segelas air untuk meredakan rasa pedas yang menyengat di tenggorokannya tersebut. "Maksud kamu baksonya?" tanya Juno memastikan.


"Iyalah, apalagi? Kita, kan, lagi makan bakso," cetus Aruna yang sepertinya tidak fokus dengan ucapan Juno terakhirnya kali.


Juno menepuk keningnya pelan. Lalu menggeser dua mangkok bakso yang berada di atas meja yang menghalangi tubuh mereka ketika berhadapan.


Aruna sempat tertegun ketika kedua tangannya diraih dan digenggam oleh Juno. Ia mencoba berontak, tetapi pegangan tangan Juno terlalu kuat untuk dia lawan. "Aku tahu aku bukan orang yang lebih dulu bertemu sama kamu ketika kamu sedang mengalami masalah waktu itu. Tapi aku mohon sama kamu, mulai sekarang izinkan aku yang menjadi orang yang kamu percaya untuk mendengarkan segala keluh kesahmu, Aruna! Aku pendengar yang baik, aku juga bisa memberikan saran yang bisa membuat kamu bangkit. Aku ... ingin menjadi bagian dari hidup kamu. Percaya sama aku, ya!"


Kedua mata Aruna mengerjap bingung. Menatap kedua netra yang berkilauan di hadapannya. Tidak ada keraguan dalam netra itu. Perkataan Juno berhasil menyentil relung hatinya, membuat Aruna menjadi sedikit gamang. Jantungnya pun berdetak lebih kencang. Aliran darahnya berdesir membuat tubuhnya sontak meremang. Aruna merasakan keanehan dalam tubuhnya, terutama hatinya yang melesak tanpa tahu penyebabnya apa. Apakah itu artinya, Aruna sudah merasakan cinta?


...***...



...Other minta dukungannya, biar tambah semangat nulisnya 🤭...