
...***...
Sejak kejadian itu, Aruna tidak pernah mengabaikan panggilan telepon dari Juno tatkala mereka tidak sedang bersama. Apalagi menonaktifkan ponselnya lagi, perempuan itu sudah tidak berani.
Setelah pulang dari Surabaya, Juno membuktikan ucapannya. Ia menyuruh Kezia untuk mengirimkan pesan e-mail terkait dengan presentasi proposal yang harus dipersiakn oleh perusahaan Suryafood dan Jacksnack. Kedua perusahaan itu diberikan waktu selama dua minggu. Itu artinya, dalam dua minggu ke depan mereka harus menyiapkan detail konsep mengenai data bahan baku operasional serta anggaran pelaksanaan produksi, yang kira-kira paling menguntungkan dalam tender ini. Siapa yang tercepat dan memiliki konsep yang terbaik, akan dipilih oleh J&J group.
Perusahaan Suryafood sebenarnya sudah mempunyai perencanaan dari awal, tetapi untuk menyiapkan presentasi tentu juga diperlukan persiapan yang matang. Rapat internal perusahaan pun diadakan. Divisi keuangan diberi tugas untuk menyiapkan presentasi untuk rincian anggaran produksi, dari mulai bahan baku, biaya pekerja, sampai biaya teknis non-operatinal lainnya. Serta perkiraan nilai jual atas produk yang mereka hasilkan. Sedangkan untuk rincian teknis operasionalnya diberikan kepada divisi produksi.
"Hari ini kita lembur lagi," kata Aruna kepada ketiga rekan kerjanya; Dena, Indira, dan Yoga. Akhir-akhir ini mereka selalu bekerja keras untuk memenangkan tender itu.
"Aku boleh nggak ikut lembur hari ini? Om Danu mengajak makan malam di luar bersama satu keluarga. Aku nggak mungkin berhalangan hadir, karena aku tinggal bersama mereka," ucap Dena meminta izin kepada Aruna. Semenjak ancaman Aruna mulai berlaku atas kartu AS yang dia punya tentang kelakuan Dena tempo lalu, Dena sudah tidak berani berkata kasar kepada gadis itu.
"Apa ada acara penting yang akan dirayakan di sana?" tanya Aruna sedikit penasaran. Ia tahu jika Dena memang tinggal bersama pamannya tersebut.
"Nggak ada, cuma test drive mobil baru. Seminggu yang lalu, katanya Om Danu mendapatkan mobil baru dari rekan bisnisnya. Malam ini dia sengaja membawa kami sekeluarga makan malam dengan mobil itu," terang Dena.
Aruna bergeming, bukannya ia iri dengan pencapaian lelaki itu. Ia hanya teringat dengan pertemuan antara Danu, Bana, dan Jackson di restoran tempo lalu.
"Iya, Bu, silakan. Biar kami bertiga yang lembur dan menyelesaikan sisanya." Aruna tersenyum mengiringi kepergian Dena dari ruangan kerja mereka. Lalu beralih kepada Indira dan juga Yoga.
"Yok, kerja, kerja! Kalau hari ini selesai, besok aku traktir kalian makan enak," seru Aruna memberi semangat.
Yoga dan Indira sontak bersorak bersamaan, "Yeay ... siap Bu Aruna."
...***...
Malam pun kian larut ketika Aruna meninggalkan perusahaan. Seperti biasa, Juno dengan setia menjemput Aruna. Kini, mereka sudah tidak bermain petak umpet dengan teman-temannya. Juno sengaja memarkirkan mobilnya di depan perusahaan Aruna.
"Ciyeee, udah berani unjuk gigi," celetuk Indira menggoda Aruna. Aruna hanya mendelik tajam, tidak mau berkomentar.
Juno yang sedang bertengger di samping mobilnya pun lantas menghampiri Aruna yang berjalan keluar perusahaan bersama rekan kerjanya.
"Kami duluan, ya, Bu, Pak." Indira yang tahu diri lantas menarik tangan Yoga sambil tersenyum cengengesan. Memberikan ruang untuk dua sejoli yang menurut mereka sudah jadian. Walaupun Aruna memberikan pelototan mata kepada mereka, senyuman meledek tetap tersemat di bibir anak buahnya tersebut.
"Pasti capek?" tanya Juno menunjukkan rasa perhatiannya dengan merapikan anak rambut Aruna yang keluar dari ikatannya.
Aruna tersenyum kikuk, "Iya," jawabnya tersipu.
"Mau langsung pulang apa makan dulu?" tanya Juno.
"Oke." Juno berjalan lebih dulu ke mobilnya, lalu membukakan pintu mobil untuk Aruna. Mendapatkan perlakuan manis seperti itu rasanya seperti mengurangi rasa letih yang Aruna rasakan. Sikap Juno membuatnya merasa nyaman. Aruna mulai merasakan hal aneh dalam hatinya. Desiran darahnya terasa sejuk dan mengalir tenang ketika berada di samping Juno.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Juno yang sejenak menoleh pada Aruna ketika tengah mengemudikan mobilnya.
Aruna yang merasa kepergok langsung mengalihkan pandangannya. "Siapa yang lihatin kamu?" ujarnya menyembunyikan semburat merah yang tercetak di wajahnya.
Juno mengulas senyuman. Pandangan matanya melirik Aruna dan jalan di depannya bergantian. "Apa mungkin kamu sudah jatuh cinta sama aku?" Pertanyaan Juno membuat Aruna menolehkan kepala menatap Juno. Keningnya berkerut memikirkan kata-kata Juno barusan. Meresapi hatinya yang tengah bergemuruh tak menentu.
"Nggak, jangan kePeDean, deh!" sanggah Aruna lalu mengalihkan pandangannya ke arah depan menatap jalanan.
Juno menarik bibirnya segaris. Dia yakin jika Aruna sedang menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Terlihat dari gerakan tangan Aruna yang memegang dan sedikit meremas lengan kanannya. Satu kebiasaan Aruna jika kegugupan tengah menyerang tubuhnya.
"Apa rancangan presentasinya udah selesai?" tanya Juno guna mengusir rasa gugup Aruna. Perempuan itu belum juga memahami tentang perasaannya.
"Sudah, sesuai rencana sebelumnya. Aku akan memberikan rancangan itu kepada Bu Dena dan menyuruh dia yang menyetorkannya ke Pak Surya," jawab Aruna.
"Ya, aku yakin jika umpan itu akan dimangsa oleh pemburu yang bersembunyi di perusahaan kamu."
"Semoga saja." Aruna tersenyum menatap Juno sekilas. Sejurus kemudian beralih lagi ke depan. Hatinya sedang gamang. Ia sudah terbiasa dengan hadirnya Juno di sisinya, tetapi enggan mengakui jika dirinya sedang jatuh cinta.
...***...
Waktu berjalan dengan kadar yang telah ditentukan. Detik-detik batas waktu pembuatan rancangan presentasi hampir selesai. Seperti biasa, Jacksnak mengirimkan kerangka hasil rancangannya terlebih dahulu. Dan ketika Suryafood memberikan rancangan presentasi proposalnya, mereka mendapatkan kejutan sebuah teguran dari pihak J&J grup. Rancangan presentasi proposal yang mereka kirimkan sama dengan kerangka presentasi proposal perusahaan Jacksnack. Sehingga perusahaan mereka disangka melakukan plagiat dan presentasi mereka ditolak seketika. Hal itu tentu saja membuat Surya merasa terpuruk dan kecewa.
"Aku sanggup mengubah rancangan itu dalam waktu sehari, Pak," ujar Aruna meyakinkan Surya yang merasa kecewa dengan hasil yang dia terima.
Surya sebenarnya tidak yakin dengan ucapan Aruna, tetapi selain percaya kepada anaknya, dia tidak punya pilihan apa-apa. Mereka pun mengajukan permohonan agar diberikan kesempatan untuk mengubah rancangan presentasi proposal mereka dalam waktu yang singkat itu. Juno yang sudah tahu hal ini akan terjadi pun memberikan waktu. Semuanya berjalan seperti apa yang mereka rencanakan
Hari yang menegangkan dan dinanti oleh Aruna telah tiba. Persaingan dua kubu perusahaan yang menginginkan tender J&J grup berjalan sebagaimana mestinya. Acara presentasi proposal itu dihadiri oleh perwakilan dua perusahaan. Pimpinan perusahaan Suryafood dan Jacksnack turut hadir dan menunjukkan rincian rencana kerja mereka. Awal presentasi dilakukan oleh perusahaan Jacksnack, karena mereka yang terlebih dulu mengirimkan kerangka presentasinya. Mereka seolah di atas angin ketika mempresentasikan hasil kerja tim Aruna yang telah berhasil mereka dapatkan sebelumnya.
Namun, saat tim perusahaan Suryafood selesai dengan presentasinya, betapa terkejutnya mereka. Apa yang Surya presentasikan sangat jauh berbeda dari rancangan kerja yang mereka plagiat sebelumnya. Bahkan lebih memukau dan menarik perhatian perusahaan J&J grup. Dalam presentasi itu, Jonathan–papinya Juno juga turut serta. Dan memberikan komentar positif kepada penampilan pimpinan Suryafood.
"Kenapa bisa seperti ini? Tidak mungkin mereka bisa mengubah rancangan dengan begitu sempurna dalam waktu sehari saja. Sialan kamu, Bana! Kamu sudah memberikan data palsu kepadaku," batin Jackson bergemuruh kesal dengan rahang yang mengetat kencang. Akhirnya, perusahaan Suryafood kembali menjadi pemenang.
...***...
...Mohon maaf, othor lagi ada kerjaan real yang nggak bisa ditinggalkan. Sehingga novel ini jadi terabaikan. Semoga ke depannya bisa up maksimal🙏...