
...***...
"Juno, I love you."
Juno berbalik badan, menatap Aruna dengan sorot mata berbinar. "Apa kamu bilang?" tanyanya memastikan.
"Aku ...." Aruna menelan ludahnya susah payah. Kata-katanya tadi seolah hilang tertelan rasa gugup yang tiba-tiba menyerang tenggorokannya. Apalagi ketika melihat Juno yang mendekat, semakin membuat napasnya terasa sesak.
"Katakan sekali lagi! Aku nggak denger kamu ngomong apa tadi?" Juno sudah berada di hadapan Aruna. Sebenarnya ia pun mendengar ucapan Aruna sebelumnya, tetapi rasanya ia ingin mendengarnya lagi untuk lebih meyakinkan, jika tadi bukan hanya mimpi.
"Aku ... cinta ... kamu." Aruna berkata malu-malu sambil menundukkan kepalanya. Membuat Juno tertegun sejenak dengan tatapan tak percaya.
"Aaargh ... kenapa Tuhan jahat banget sama aku?"
Perkataan Juno membuat Aruna sontak mendongak. Menatap Juno yang terlihat frustrasi sambil meremas rambutnya sendiri. Apakah lelaki itu tidak senang saat Aruna membalas cintanya saat ini?
"Ke–kenapa kamu ngomong kayak gitu? Apa kamu nggak suka sama pengakuan yang aku katakan tadi?" Aruna bertanya keheranan.
Juno yang sadar jika kata-katanya terdengar ambigu, lantas merengkuh tubuh Aruna agar masuk ke dalam pelukannya. "Aku suka, aku sangat suka. Akhirnya kamu membalas rasa cinta aku sama kamu," ucap Juno tulus di balik punggung Aruna.
"Lalu, kenapa ngomongnya kayak tadi? Tuhan jahat apa sama kamu?" Aruna tidak berusaha untuk memberontak melepaskan diri. Ia malah merasa nyaman berada dalam pelukan Juno.
"Tuhan jahat sama aku, karena Dia baru menggerakkan hati kamu saat aku mau pergi. Kenapa nggak dari kemarin-kemarin aja? Aku nggak bisa tenang ninggalin kamu jadinya," desah Juno semakin mengeratkan pelukannya.
Seulas senyuman langsung tersemat di bibir Aruna. Mendengar perkataan lelaki yang ia cintai itu begitu memelas dan manja. "Nggak baik bilang kayak gitu. Tuhan nggak pernah jahat sama umat-Nya. Dia punya rencana yang lebih baik buat hubungan kita. Mungkin dengan pengakuanku sekarang, kamu bisa tenang ninggalin aku yang sekarang sudah menjadi milik kamu."
Juno sedikit mendorong tubuh Aruna, sekadar untuk memberikan sedikit jarak di antara tubuh mereka. "Kamu ... beneran mau jadi milik aku? Mau jadi istri aku?" tanya Juno. Aruna yang tidak sadar dengan kata-katanya barusan jadi kelabakan. Sungguh, dia malu dicecar seperti itu!
"Ma-maksud aku, setidaknya hati aku sudah diisi nama kamu. Jadi, kamu bisa tenang dan percaya sama aku," sanggah Aruna memaparkan dengan segala kegugupannya.
"Ah, iya. Kamu bener banget." Juno kembali memberikan pelukan hangatnya untuk Aruna.
"Juno, aku nggak bisa napas."
Juno langsung melepaskan pelukannya ketika mendengar Aruna berkata demikian. "Maaf, aku terlalu senang," ucapnya sambil menyengir kuda.
Aruna menghirup napas banyak-banyak untuk menambah pasokan udara dalam paru-parunya yang sempat tersendat. "Kamu nggak jadi pergi sekarang? Nanti ketinggalan pesawat, loh." Aruna mengingatkan Juno dengan keberangkatannya ke Jepang setelah suasana canggung sedikit menghilang.
******* napas kesal terlontar dari mulut Juno. Andai saja sang papi tidak mengancamnya, apabila Juno tidak mau berangkat ke Jepang untuk mengurusi bisnis neneknya, nama Juno akan dicoret dari daftar kartu keluarga. Juno pun terpaksa mengikuti kemauan sang papa. Simalakama.
"Andai aku bisa menghentikan waktu sejenak saja. Aku mau bersama kamu lebih lama," lirih Juno memasang wajah sendu.
"Kata 'andai' tidak akan mengubah keadaan, hanya akan mendekatkan kita pada ketidakpuasan dan kufur akan nikmat Tuhan."
Juno terenyuh, lalu tersenyum bangga dengan perkataan Aruna. Perempuan yang dia cintai adalah perempuan luar biasa. Tidak sia-sia Juno memperjuangkan cintanya.
Juno sejenak berpikir sembari menengok jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul 20:15 WIB. Ada waktu sekitar 45 menit sebelum pesawat take-off. Namun, perjalanan menuju bandara membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Itu artinya waktunya begitu sempit buat Juno. Hal itu membuat Juno semakin frustrasi saja. "Kamu mau antar aku ke parkiran?" tanya Juno memohon.
Aruna mengangguk, lalu menggandeng tangan Juno. "Ayo, aku antar ke depan!" ajaknya dengan senang hati.
Jangan ditanya bagaimana perasaan Juno sekarang! Perasaan Juno kini seperti melambung ke udara. Terbang ke angkasa bersama rasa cinta yang selama ini dipertahankan dalam hatinya. Apa yang ia perjuangkan membuahkan hasil yang menyenangkan. Cintanya tidak lagi bertepuk sebelah tangan.
...***...
Juno sudah duduk manis di dalam mobil yang dikendarai oleh supir pribadi yang sengaja dikirim oleh sang papa untuk menjemputnya. Senyuman mengembang tidak pernah luntur dari bibir tipis nan sexy itu. Tangannya sibuk memegang ponsel yang menunjukkan foto Aruna di layar datarnya. Ia pun berpikir untuk membuat story di status WhatsApp miliknya.
Hingga beberapa detik kemudian.
...Room chat Homeless Child...
.....
Alfath: Malesin banget lihatnya!
Devan: Apa, nih?
Abizar: Story WA Bang Juno itu.
^^^Juno: Wah, stalker gue gercep juga ternyata. Gimana? Lo udah ngaku kalah, kan? Aruna udah nerima gue barusan. @Alfath.^^^
Devan: Eh, maksudnya lo udah berhasil dapetin hati Aruna, Jun? Kalian dah jadian?
^^^Juno: @Devan, Yo'i^^^
Abizar: Widih, ada pajaknya, dong. Heh, betewe lo di mana, Bang @Juno? Ini Om Jo udah ngamuk-ngamuk dari tadi nunguin lama. Bentar lagi take-off kita.
^^^Juno: Gue lagi di jalan mau ke sana.^^^
Alfath: Gue baru percaya kalau Rere yang bilang sendiri kalau dia udah jatuh cinta sama lo.
^^^Juno: Seterah lo @Alfath. Tanyain aja langsung, tapi awas lo, ya, kalau coba nikung gue pas gue di Jepang. Gue pastiin semua restoran lo bangkrut dalam semalam.^^^
Devan: Wow, ancamannya masa depan suram, Njir! Udah, relain aja @Alfath! Cari cewek lain aja. Gue punya banyak stok cewek kalau lo mau.
Alfath: @Juno-Gue bukan kang tikung, ya. Kalau emang Rere cintanya sama lo, gue cuma bisa do'ain semoga kalian langgeng dan bahagia. @Devan: lo mau ngasih gue bekas jamahan lo? Ogah!
Devan: @Alfath, Ada satu yang belum terjamah sama gue, dan gue juga yakin dia belum terkontaminasi sama bahan kimia cowok mana pun.
Alfath: Namanya? Gue kenal, nggak?
Devan: @Alfath, Kezia. Kasian dia lagi patah hati sama CEO sableng yang dipelet sama Aruna. Lo tahu dia, kan? Sekretarisnya Juno.
^^^Juno: @Alfath, Aamiin. Thanks, do'anya. @Devan, gue setuju. Kezia lebih cocok sama Alfath.^^^
Abizar: Hoi, gue keberatan 😤
Devan: Napa lo @Abizar? Keberatan apaan?
Abizar: Kezia, dia jatah gue.
Devan: Mimpi aja lo. Kezia nggak suka berondong pelit macam lo.
Abizar: Tapi gue yakin Kezia bakalan milih gue.
Devan: Mabok, nih, anak 😏
.....
Juno menyimpan ponselnya di saku jas setelah puas membaca pesan di room chat sahabat seperjuangannya. Membiarkan mereka melanjutkan debat tidak jelas dengan perang chat yang hanya akan memenuhi memori teleponnya. Lantas menatap ke arah jendela mobil yang memperlihatkan ramainya jalanan yang dipadati kendaraan bermotor lainnya. Sedikit ramai, tetapi beruntung tidak menimbulkan kemacetan. Hal ini membuat Juno sedikit lega. Setidaknya dia bisa lebih cepat sampai ke bandara. Pikirannya selalu tertuju pada Aruna, ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya di Jepang, lalu kembali ke Indonesia, agar bisa secepatnya melamar perempuan itu untuk menjadi istrinya.