Magic Love

Magic Love
KEZIA 1




...***...


Di pagi hari yang cerah, bening kristal embun yang bercampur air hujan sisa semalam berkilauan disinari cahaya mentari. Rutinitas aktivitas mulai terlihat dari segala penjuru bumi. Termasuk di kediaman rumah besar Juno. Seperti biasanya, lelaki itu selalu terlihat tampan dan berkharisma. Balutan kemeja hitam dan vest berwarna soft grey, dan celana panjang yang berwarna senada dengan vest yang dia kenakan. Pun dengan jas yang disampirkan di pergelangan tangannya, menambah kesan sempurna bagi penampilan Juno hari ini.


"Kayaknya anak mami lagi seneng? Baru dapat cewek baru, ya?" tanya Ara ketika tengah melakukan aktivitas sarapan bersama keluarganya. Senyuman yang selalu tersemat di bibir Juno, membuat Juno terlihat aneh di mata orang tuanya.


"Mungkin juga baru dapat tender baru, Mi. Mami, tuh, pikirannya calon mantu terus, ih. Udah tahu anaknya lagi patah hati." Jo ikut berkomentar setelah menyeruput kopinya.


Ara menoleh pada suaminya sejenak, sedikit menyesal karena sudah mengungkit kisah cinta Juno yang kandas gara-gara ditolak. Ya, sebulan yang lalu, saat Aruna menolak Juno, lelaki itu menceritakannya pada orang tuanya. Hal itu membuat Ara juga ikut sedih. Pasalnya, lagi-lagi ia gagal melihat anaknya mempunyai istri.


"Maaf, Sayang. Mami nggak maksud, loh. Ya, mungkin saja, kan, anak mami ini udah move on dari yang namanya Aruna itu," ujar Ara setelah berpaling pada Juno lagi.


Juno malah semakin melebarkan senyumnya, lalu mengigit setumpuk roti tawar yang telah dilapisi selai kacang di dalamnya. "Kalian salah, aku senang justru karena Aruna."


"Eh, kamu udah diterima sama dia?" Ara terlihat bersemangat sekaligus penasaran.


"Belum, Mi. Tapi bentar lagi Aruna pasti menerima cinta aku. Do'ain, ya!" jawab Juno setelah menelan roti yang baru saja dia kunyah.


"Kalau dia nggak mau jangan dipaksa! Kayak nggak ada cewek lain aja." Celetukan Jo sukses mendapatkan satu pukulan ringan di lengan lelaki paruh baya itu dari istrinya.


"Ih, si Papi. Bukannya Papi dulu juga gitu. Maksa mami terus."


Jo sedikit tercekat lalu menyengir kepada istrinya, "Itu beda, Sayang. Dulu kamu udah sah jadi istri aku. Jadi, mau nggak mau kamu harus nurut sama suamimu. Tapi, kan, sekarang udah nggak maksa. Aku yang akan nurut sama kamu tanpa syarat, Sayang."


Ara sedikit tersipu mendengar penuturan suaminya. Sedangkan Juno hanya senyum-senyum melihat kemesraan mereka berdua. Hal itu sangat kontras dengan sikap Juno sebelumnya. Biasanya lelaki itu akan menentang kelakuan orang tuanya yang seperti baru pacaran saja, atau pura-pura muntah karena tidak suka dengan kelakuan lebay mereka.


"Aku berangkat kerja dulu, Mi, Pi," pamit Juno setelah menyelesaikan sarapan. Ia menyahut jas dan tas kerja yang disimpan di kursi kosong sebelahnya, lalu berjalan menuju kursi orang tuanya untuk menyalami tangan mereka.


"Hati-hati, ya, Sayang. Semoga berhasil mengejar cintanya Aruna." Ara memberikan semangat kepada anak tercintanya.


"Aamin ... love you, Mami." Setelah berkata seperti itu, Juno pun pergi dari rumahnya dengan wajah yang semringah.


...***...


Sesampainya di kantor, Juno masih mempertahankan senyum manisnya. Bahkan hampir semua karyawan yang berpapasan dengannya juga melihat pemandangan ajaib yang tidak pernah dilihat dari pimpinan mereka sejak lama mereka bekerja di sana.


"Pagi, Zee. Cantik banget, sih, hari ini." Kezia yang sudah sibuk dengan pekerjaannya sedikit tersentak mendengar sapaan dari suara yang sangat dia kenal. Kepalanya sontak mendongak, tatapannya pun bertemu dengan wajah tampan yang selama ini selalu bertahta dalam hatinya.


Kezia sejenak terpana, Juno yang berdiri di depan meja kerjanya terlihat lebih tampan dengan senyum indah yang terpatri membingkai wajahnya.


"Ju–Jun, kamu ngomong apa barusan?" Kezia berkata gugup, ia sampai lupa panggilannya pada Juno saat berada di kantor.


"Kamu cantik banget hari ini." Juno mengulangi kata-katanya. "Aku mau lihat jadwal pekerjaanku hari ini. Aku tunggu di ruangan, ya!" pintanya dengan nada lembut. Setelah berhasil membuat hati Kezia melambung tinggi, Juno pun pergi.


Kezia masih bermain dalam angan-angannya. Ia tadinya ingin merajuk pada Juno soal kejadian yang dilihatnya semalam di depan gerbang rumah Juno. Kezia seolah mendapatkan angin segar yang menerbangkan kemarahannya itu. Sungguh, ini pertama kali Kezia mendengar Juno berucap manis, dan sukses membuatnya ingin menjerit histeris.


...***...


Senja di sore hari tampak lebih gelap dari biasanya. Sepertinya langit akan menurunkan air hujannya sebentar lagi. Juno baru selesai menyelesaikan pertemuannya dengan klien di salah satu restoran bersama Kezia. Setelah kliennya itu pulang, Juno tidak menunjukkan tanda-tanda dirinya akan pergi juga. Hal itu membuat Kezia merasa heran. Biasanya, Juno akan segera pulang jika pekerjaannya sudah selesai.


"Kita ngopi dulu, Zee. Kamu mau, kan, temenin aku minum kopi di sini?" Pertanyaan Juno lagi-lagi membuat hati Kezia seolah mengudara. Napasnya terasa memburu dengan detak jantung yang bertalu-talu. Ada apa ini? Tumben sekali Juno bersikap manis seperti ini? Pertanyaan itu mengisi pikiran Kezia yang begitu hanyut dalam pesonanya Juno.


"I–iya. Aku mau."


Juno tersenyum mendengar jawaban Kezia. Ia pun memanggil pelayan untuk memesan dua cangkir kopi baru dan juga cemilan.


"Zee, boleh pinjem tangan kiri kamu?"


"Hah? Buat apa?" Kezia tersentak, debaran jantungnya semakin tak menentu. Nalurinya berkata akan terjadi sesuatu.


"Pinjem dulu!"


Dengan sedikit gemetar, Kezia memberikan tangan kirinya pada Juno. Ia sengaja melebarkan jemarinya. Mungkin saja Juno akan menyematkan sesuatu di sana. Pikir Kezia.


Ternyata tebakan Kezia benar, Juno memang menyematkan sebuah cincin bermata berlian di jari manisnya. Hati Kezia jadi semakin berbunga-bunga.


"Cantik. Pas banget, ya?" ujar Juno yang diiyakan oleh Kezia dengan anggukan kepalanya. Arah pandang Kezia tertuju pada cincin yang melingkar manis di jarinya. Senyum bahagia melekat sempurna di bibirnya yang berwarna merah muda. Ia merasa seperti seorang putri yang sedang dilamar oleh pangeran berkuda.


"Kalau gitu cincin itu juga bakalan pas di tangannya Aruna."


Jeder!


Suara petir yang menyambar mengiringi perkataan Juno selanjutnya. Keduanya terlonjak bersamaan. Juno menoleh ke arah luar restoran yang hanya terhalang kaca transparan. Sedangkan Kezia, kepalanya mendongak menatap Juno dengan tatapan tajam. Ia ingin memastikan, jika indera pendengarnya tidak salah menampung perkataan Juno barusan.


"Wah, hujannya langsung lebat aja! Ada angin sama petirnya pula. Untung tadi kita nggak lanjut pulang, ya, Zee," celoteh Juno mengomentari cuaca yang ekstrem di luar sana.


Juno mengalihkan pandangannya dari arah luar ke arah Kezia. "Aku boleh minta lagi cincinnya, Zee!" Juno menadahkan tangannya, tetapi Kezia malah mengepalkan tangan dan menyembunyikannya di bawah meja.


"Zee, kalau kamu mau cincin. Nanti aku beliin yang baru, jangan yang itu! Cincin itu udah aku pesan khusus buat Aruna." Melihat Kezia diam saja, Juno pun melontarkan kalimat tersebut.


"Kamu ... mau ... melamar Aruna jadi istri kamu?" tanya Kezia dengan bibir yang bergetar, menahan rasa sesak yang menghujam jantungnya.


"Iya," jawab Juno sambil mengangguk pasti.



...***...


Next....