Magic Love

Magic Love
Salah Paham




...***...


"Ada apa? Kenapa menjerit?" tanya Juno lagi. Menatap Aruna sambil mengerutkan keningnya.


"Pa–Pak ... Juno ... ngapain di kamar aku?" Aruna bertanya dengan gagap. Apalagi melihat lelaki yang berada di atas ranjangnya tanpa memakai baju. Juno tercekat, dirinya baru sadar jika semalam ia sudah membawa Aruna ke rumahnya. Dan tadi malam ....


Juno menyeringai. Menegakkan tubuhnya dan duduk bersila di hadapan Aruna. "Apa kamu yakin ini kamar kamu? Coba, deh, lihat sekeliling! Apa benar ini kamar kamu?" Juno balik bertanya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Seketika kepala Aruna menoleh ke arah kiri dan kanannya. Menyapu seluruh isi kamar yang terlihat berbeda dengan kamar miliknya. Aruna terperangah sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Tiba-tiba saja kepingan puzzle memori tentang kejadian semalam satu persatu mulai menempel kembali di otaknya.


Dimulai dari dirinya yang datang ke sebuah kafe bersama dengan teman-temannya, lalu kepalanya pusing dan berakhir pingsan di kamar mandi setelah disiram air oleh orang iseng yang tidak bertanggung jawab. Setelah itu Aruna tidak ingat apa-apa lagi. Lalu, kenapa sekarang dirinya bisa berada di atas ranjang Juno? Padahal semalam dia sama tidak bertemu dengan laki-laki itu.


Perihal disiram seseorang. Aruna jadi ingat jika semalam bajunya basah. Lantas kepalanya menunduk menatap piyama berwarna merah yang dia pakai agak kebesaran. Kedua irisnya terbuka lebar, lalu mendongak menatap Juno tajam. "Ini ... baju siapa?" tanyanya panik. Ia takut jika semalam terjadi sesuatu di antara mereka berdua.


"Baju aku, lah," jawab Juno santai.


Aruna tertegun sambil memegangi kerah bajunya dengan kencang. Tangannya sedikit gemetar. "Jadi ... semalam, kamu yang–"


"Iya, semuanya terjadi tanpa diduga dan begitu cepat. Aku nggak nyangka bisa bertemu denganmu di kafe itu. Kebetulan aku juga pemiliknya. Lalu, karena kasihan melihatmu pingsan aku berbaik hati mau mengantarkanmu pulang, tapi dijalan kamu mulai mengoceh dan bergerak sembarangan. Tanpa sadar kamu sudah membuatku ...." Juno terjeda sejenak. Kepalanya sedikit condong mendekati wajah Aruna. Perempuan itu pun sontak menghindar. "Kamu mau tahu selanjutnya apa? Kita berdua ...." Juno mengedipkan sebelah matanya genit, dengan senyuman miring tersemat di sudut bibirnya. Ia kaitkan kedua jari telunjuknya membentuk simpul. Seolah memberikan sebuah kode rahasia yang sepertinya Aruna mengerti artinya apa.


Aruna menggelengkan kepalanya, "Enggak, itu nggak mungkin. Aku semalam nggak minum. Aku pasti sadar kalau aku melakukan sesuatu," sanggah Aruna menolak pernyataan Juno.


"Kamu nggak percaya? Lihat ini!" Juno menunjukkan tanda merah yang berserakan di bagian tubuhnya. Terutama di bagian leher dan dadanya. Aruna menggeleng cepat tidak percaya.


"Juno ... kamu emang brengsek!" Aruna memekik sembari memukul dada bidang Juno. Butiran kristal yang sudah menumpuk di sudut matanya tumpah seketika. Aruna menyesali keputusannya untuk ikut dengan teman-temannya untuk merayakan keberhasilan mereka.


Tunggu!


Aruna tercekat ketika ingat pada teman-temannya. Bukannya dia datang ke kafe itu bersama teman-temannya. Lalu ke mana mereka? Kenapa Aruna bisa pulang bersama dengan Juno?


Juno memegang kedua tangan Aruna dengan jarak yang begitu dekat. Ada perasaan menyesal ketika melihat perempuan yang sudah menguasai hatinya itu berderai air mata. "Maaf ... maafkan aku! Aku cuma bercanda. Kita nggak ngelakuin apa-apa semalam. Aku tidur di sofa. Lalu, sebelum kamu bangun aku pindah ke sini. Sengaja hanya untuk mengerjai kamu." Juno tersenyum miris, "Semalam aku mau mengantarkanmu pulang ke rumahmu, tapi di sana tidak ada orang yang bisa menggantikan pakaian basahmu, sehingga aku sengaja membawamu ke rumahku. Bukan aku yang menggantikan bajumu." Juno menjelaskan sambil menatap wajah Aruna.


Aruna sedikit tenang, menatap Juno dengan lelehan air mata yang masih bersisa di pipinya. Tangan Juno pun terulur untuk menghapus cairan itu dengan lembut. "Jangan nangis!" ucapnya menenangkan.


Namun, tiba-tiba saja Aruna memberontak dan menepis tangan Juno. Lalu, mendorong tubuh Juno dengan kuat memasang jarak di antara mereka. "Aku mau pulang!" seru Aruna memaksa.


"Aruna–"


"Aku mau pulang!" Aruna berteriak emosi memotong perkataan Juno.


Aruna bergeming menatap Juno. Sedikit merasa bersalah karena tadi sudah memukuli lelaki itu dan salah paham kepadanya. Dia jadi ingat, jika Juno pernah mengatakan kalau dirinya tidak tertarik kepada Aruna. Perempuan cupu yang berpenampilan kampungan. Jadi, mana mungkin mau berbuat macam-macam kepadanya. "Maaf," sesalnya.


Juno sampai berbalik dan menghadap ke Aruna lagi. Keningnya berkerut dalam, ketika mendengar Aruna meminta maaf kepadanya. "Kenapa meminta maaf?" tanyanya heran.


"Karena udah mukulin Bapak tadi." Aruna menundukkan kepalanya.


Juno tersenyum samar. Tingkah Aruna terlihat menggemaskan. Ia pun kembali mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. "Kenapa panggilnya 'bapak' lagi? Padahal tadi kamu udah berani panggil namaku dengan suara lantang. Tapi aku lebih suka kamu seperti itu, daripada kamu bersikap kaku sama aku," papar Juno yang membuat Aruna mendongakkan kepalanya menatap wajah Juno. Sejenak keduanya terlibat saling tatap. Sama-sama meresapi teduhnya tatapan masing-masing yang penuh arti. Hingga Aruna yang pertama beralih karena malu sendiri.


"Lagi pula aku bukan orang yang seperti itu. Yang suka tidur dengan sembarang perempuan, apalagi dengan kamu." Juno menatap Aruna penuh arti. Dalam hatinya ia berkata, "Karena aku mencintai kamu. Aku nggak mungkin melakukan itu sebelum aku menikahimu."


Bibir Aruna mengerucut cemberut. "Suruh siapa kamu tidur di samping aku tanpa pakai baju. Bikin orang salah paham aja!" ketus Aruna masih memalingkan wajahnya.


Juno ingin sekali tertawa melihat pipi kembung Aruna, tapi dia menahannya lantas berdiri kembali. "Sudahlah, cepat mandi! Aku tunggu kamu di bawah untuk sarapan setelah itu aku antar kamu pulang," titah Juno.


"Pak Juno, aku mau bertanya sesuatu."


"Juno, panggil aku Juno!" sergah Juno dengan penuh penekanan.


Aruna menghela napas kasar. "Oke, Juno. Aku mau tanya sesuatu," ralatnya.


"Apa?"


"Apa semalam kamu melihat temanku juga?"


"Teman? Teman yang mana?" Tanya balik Juno sembari mengerutkan kening. Seketika dia ingat dengan Alfath. Raut wajahnya berubah kesal. Dia berpikir jika Aruna datang ke kafe itu karena adanya Alfath, dan dengan kondisi setengah sadarnya, Aruna pasti tahu jika yang menolongnya pertama kali adalah lelaki itu.


"Ngapain kamu tanyain temen kamu itu. Yang nolongin kamu itu aku. Dia nggak penting!" Setelah berkata seperti itu Juno langsung pergi meninggalkan Aruna yang masih bergeming dalam kebingungan.


"Lah, dia kenapa?" tanya Aruna yang hanya bisa terdengar olehnya sendiri, karena Juno sudah pergi.


...***...



Juno cemburunya kebangetan, ya. 😅


Othor minta dukungannya. Klik like, favorite, sama bintang tujuhnya. Komentarnya juga, ya 🤗