
...***...
"Iya, Sayang. Apa kamu lupa? Dulu aku pernah cerita, kalau aku punya bibi kecil yang jadi artis dan model terkenal di Jepang sana."
Aruna tertegun, lalu menyapu air mata yang masih enggan berhenti dengan kasar. Jika itu benar salah paham, ia pasti akan malu sekali.
"Kamu bohong, kan? Kalau dia bibi kamu, kenapa kalian terlihat begitu mesra, dan kenapa dia nggak hadir di acara pernikahan Abizar. Dia sepupunya juga, kan?" tuding Aruna menolak untuk percaya.
Juno mengulum senyum. Walau ia merasa kasihan dengan Aruna, nyatanya hatinya malah berbahagia. Aruna cemburu, dan itu tandanya ada cinta di hati Aruna untuknya.
"Aku bisa jelaskan. Kami memang biasa seperti itu, jika sedang berada di luar. Dan pas acara pernikahan Abizar, bibiku memang nggak pulang. Kamu tahu sendiri, kan, acara mereka terlalu mendadak? Sedangkan dia sudah terlanjur mengambil job fashion show di luar kota. Tapi sekarang dia sengaja datang lebih awal di pernikahan kita. Bahkan dia juga nggak ngambil job sampai pernikahan kita tiba. Kalau kamu nggak percaya, ayo ikut aku pulang! Kita ketemu bibiku sekarang," terang Juno panjang lebar.
Aruna meringis malu. "Ehm ... jadi ...." Tak berani melanjutkan kata-katanya, Aruna malah mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Jadi apa? Kalau bicara sama aku, lihatnya aku!" Juno menangkup kedua pipi Aruna yang merahnya sudah melebihi merahnya tomat. Aruna benar-benar malu. Sangat malu!
"Aku mau pulang."
Tidak ada kata yang bisa diucapkan Aruna selain menghindar. Aruna kelabakan, dan itu membuat Juno semakin gemas melihat tingkah calon istrinya sekarang. Bibirnya yang sedikit mengerucut karena tekanan dari tangan Juno, serta raut bersalah yang terpancar dari netra coklatnya. Semakin membuat wajah Aruna terlihat imut saja.
"Kamu nggak mau bilang sesuatu dulu, gitu? Kan, udah nuduh aku selingkuh?" Sekuat tenaga Juno menahan tawa. Apalagi saat Aruna menggigit bibir bawahnya, merasa tersudutkan.
"Aku ... maaf," ucap Aruna menyesal.
"Maaf aja, nih? Aku nggak terima kalau nggak ada kompensasi!" seru Juno sambil melipat tangannya di depan dada. Pura-pura merajuk dan memalingkan wajahnya.
"Kamu maunya apa?"
Pertanyaan itu yang ditunggu Juno. Wajahnya kembali menghadap ke arah Aruna. Senyuman penuh arti ia sematkan di bibirnya yang sexy. "Gimana kalau ini?" Juno menempelkan telunjuknya di bibir. Aruna pasti paham dengan maksudnya apa, karena terlihat dari kedua matanya yang membulat sempurna.
"Apa kamu gila? Ini di jalan raya!" sembur Aruna. Juno pun tertawa. Penolakan dan kemarahan Aruna sudah diprediksi olehnya.
"Aku bercanda," ucap Juno di sela tawanya, "ayo, pulang!" ajaknya kemudian.
Aruna mengulas senyum setelah menghela napas lega. Dia berpikir jika Juno serius dengan permintaannya. Yang benar saja! Berciuman di tempat umum bukan hal yang baik. Selain tidak mendidik, takutnya aksi tersebut akan menjadi santapan publik. Siap-siap saja, foto mereka akan menyebar di media sosial. Dalam sekejap sudah pasti akan viral. Para netizen sangat pandai mengambil gambar.
...***...
Selama perjalanan, Aruna tidak berani berbicara. Juno pun sama, sesekali ia melirik Aruna dengan senyum yang masih setia bertengger di bibirnya. Sebenarnya bibirnya sangat gatal ingin menggoda kekasihnya itu, tetapi ia tidak mau membuat Aruna semakin malu.
"Kamu yakin nggak mau ketemu sama bibi aku dulu?" tanya Juno setelah mobilnya mendarat sempurna di pelataran rumah Aruna.
"Dengan wajahku yang seperti ini. Nggak mungkin!" Aruna menunjuk wajahnya sendiri. Kelopak mata bagian bawahnya terlihat sembab. Itu membuat Aruna tidak berani bertemu dengan orang lain, apalagi keluarga Juno. Sangat tidak mungkin.
"Kamu masih tetap cantik, kok." Sembari mengusap pipi Aruna, Juno berkata mesra.
Rona merah kembali terpancar di pipinya. Entah kenapa setiap perkataan manis yang terlontar dari mulut Juno setelah mereka bertengkar, hati Aruna seperti bunga yang mekar.
Juno tersenyum, memegang dagu runcing Aruna, lalu mengarahkan wajah perempuan itu agar menghadapnya. "Makanya jangan suka su'udzon dulu! Aku tahu cerita kelam keluargamu itu mempunyai kesan buruk terhadap kesetiaan laki-laki di mata kamu, tapi kamu juga harus tahu, nggak semua laki-laki seperti itu. Aku mencintai kamu, jadi aku harap kamu selalu percaya sama aku."
Aruna mengerling kaku. Perkataan Juno mampu menyihirnya dan meresap ke dasar kalbu.
"Iya, maafkan aku. Ketidaksetiaan papa memang terlalu meninggalkan kesan buruk buat aku," ucap Aruna lirih. Buliran bening meluncur lagi dari pelupuk matanya tanpa diminta. Tanpa disuruh Juno langsung menyekanya.
"Walaupun aku nggak tahu tentang masa lalu papa kamu, aku yakin waktu itu dia menghadapi suatu masalah yang tidak bisa dia kendalikan. Hingga berdampak seperti sekarang. Aku sering mendengar dari cerita papi, kalau Om Surya itu tipe lelaki yang setia terhadap istrinya yang sekarang. Semenjak Om Surya menjadi karyawannya. Papi nggak pernah tahu, kalau Om Surya pernah menikah dengan mamamu. Dan kamu juga pernah bilang sebelumnya, selama ini kamu salah paham terhadap mereka. Iya, kan? Adakalanya mencintai seseorang itu akan menghadapi sebuah ujian, Sayang. Mungkin saja papa kamu terjerat dalam dilema kehidupan."
Kalimat panjang itu dibenarkan Aruna. Ia mengingat cerita yang disuguhkan oleh Erna dan Surya. Lalu dikaitkan dengan perkataan sang mama, yang membuat dirinya sedikit percaya. Kisah itu sungguh pelik. Ia tidak bisa membayangkan jika harus menjalani hidup seperti mamanya.
"Udah, ah. Jangan nangis lagi! Nanti matanya tambah bengkak." Juno menghapus jejak air mata di pipi Aruna yang tak kunjung berhenti.
Senyuman hangat pun tersemat di bibir Aruna. Lalu dengan berani tangannya menangkup kedua pipi Juno, mencondongkan sedikit kepalanya untuk mendekati wajah tampan itu. Dan ....
Kejadian selanjutnya membuat Juno seperti melayang ke angkasa. Hatinya melambung dengan degup jantung yang bergemuruh. Aruna menciumnya. Bukan di pipi, melainkan di bibir lelaki itu. Sejenak, tetapi terasa enak.
"Kamu?" Juno ternganga sambil menyentuh bibirnya.
"Maaf, kalau aku terlalu bar-bar dan nggak tahu malu. Tapi aku cuma mau—"
Perkataan Aruna terpotong oleh aksi Juno yang seperti ketagihan dengan bibir Aruna. Baru sekali, rasanya ingin lagi.
"Juno, kamu mau buat aku sesak napas, ya!" Aruna berkata setelah Juno melepaskan pertautan mereka. Sedikit lebih lama dan menguras pasokan oksigen di paru-parunya. Napasnya tersengal memasok banyak oksigen yang habis diserap oleh Juno.
"Salah siapa mancing-mancing?" ucap Juno sambil menyengir. "Mau lagi ...." Juno mendekatkan lagi kepalanya pada wajah Aruna. Membuat perempuan itu pun sontak menghindar dan menutup bibir Juno dengan telapak tangan.
"Udah, ih." Aruna mendengus kesal.
Juno pun melebarkan senyuman di balik tangan Aruna. Memegang tangan itu, lalu mengecupnya sekali sebelum Aruna menariknya kembali.
"Jadi nggak sabar pengen cepet nikahin kamu."
"Apaan, sih!" Tentu saja Aruna malu. Ia pun bergegas membuka pintu mobil. Aruna harus pergi sebelum terjadi sesuatu lagi.
"Aku langsung pulang, ya. Jangan lupa mimpiin aku, Sayang!" seru Juno di dalam mobilnya. Senyuman seringai menyertai perkataannya tersebut.
Aruna mendengus. Rasa malu sudah menguasai wajahnya yang terlihat kemerahan seperi udang rebus. Kini, ia sudah berdiri di sisi luar mobil Juno. Melambaikan tangan ketika mobil itu melaju perlahan, hingga menghilang dari pandangan.
Senyum mengembang pun terpancar dari bibirnya. Ia sapu lembut bibirnya yang masih sedikit basah. Merasai hangatnya sentuhan bibir Juno yang masih terasa hingga sekarang. Ini adalah yang pertama baginya. Tentu saja tidak akan dia lupakan begitu saja.
...***...
...Mon maaf, teman. Tadinya mau nulis langsung tamat. Tenyata akunya ngga kuat. 😁...