Magic Love

Magic Love
Orang Pertama




...***...


Hari berlalu tanpa terasa. Semenjak mobilnya Aruna ditarik oleh Surya, sudah dua minggu perempuan itu harus menjadikan Juno sebagai supir pribadinya. Itu karena Juno tidak akan pergi jika Aruna tidak mau diajak olehnya. Aruna juga sempat komplen kepada papanya perihal pencabutan inventaris tersebut. Namun, Surya berkata, jika perkataan Juno ada benarnya. Juno hanya beralasan, pemberian inventaris mobil kepada Aruna sangat berlebihan, padahal Aruna masih beberapa bulan bekerja di perusahaan itu. Walaupun prestasinya bagus, sepertinya belum saatnya untuk diberikan inventaris, agar tidak ada kecemburuan sosial di antara pegawai lainnya. Alasan itu cukup lugas menurut Surya. Ia pun dengan terpaksa mengambil alih mobil tersebut, dan memfungsikannya menjadi fasilitas umum perusahaan. Jabatan Aruna yang hanya seorang manajer, belum saatnya mendapatkan inventaris sebuah mobil. Itulah peraturan yang berlaku di perusahaan Suryafood.


Untungnya, Juno yang tidak mengetahui jika Surya adalah papanya Aruna, tidak mengatakan jika dirinya mencintai anak kedua dari pemimpin perusahaan Suryafood tersebut, sehingga penyamaran Aruna masih belum diketahui lelaki itu.


"Kita makan dulu di restoran itu, ya!" ajak Juno pada Aruna di satu kesempatan. Mereka sedang dalam perjalanan pulang sehabis melewatkan hari yang melelahkan dengan pekerjaan. Kebetulan hari ini adalah akhir pekan. Juno ingin berlama-lama berduaan dengan Aruna, di malam minggu yang katanya sangat cocok buat pasangan berkencan.


Aruna melirik ke arah restoran yang ditunjuk oleh Juno, lalu mengangguk tanda setuju. Menolak pun dia tidak mampu, karena si empunya mobil sudah memutar kemudinya dan berbelok masuk ke area parkiran restoran itu.


Aruna dan Juno berjalan berdampingan sambil berbincang ringan. Lalu memilih meja yang berada di dekat dinding kaca. Mungkin karena sudah terbiasa dengan kehadiran Juno di sampingnya, sikap Aruna sekarang jauh lebih humble dan lebih mau diajak berbicara juga bercanda.


"Mau makan apa?" tanya Juno sambil melihat buku menu yang tersedia. Aruna sejenak berpikir sambil melakukan hal yang sama. Di samping meja mereka sudah berdiri seorang pelayan restoran yang sedang menunggu list pesanan mereka.


"Aku mau chicken katsu sama lobster asam manis," jawab Aruna menentukan pilihannya.


"Minumnya?" tanya Juno lagi.


"Jeruk hangat aja." Aruna menutup buku menu sambil mengulas senyuman. Juno pun mengalihkan pandangan pada pelayan yang sudah bersiap mencatat pesanan mereka. Juno memesan dua porsi makanan yang sama dengan yang Aruna pesan. Hal itu sudah menjadi kebiasaan Juno, apa pun yang dimakan Aruna, dia pasti memakannya.


Di sela waktunya menunggu makanan, Aruna mengedarkan pandangan ke sekitar restoran. Tanpa sengaja kedua matanya menangkap sosok yang sangat dia kenal. Orang tersebut berada di meja lain yang agak jauh dari meja mereka. "Bukannya itu Pak Bana sama Pak Danu?" gumam Aruna pelan.


Suara lirih Aruna ternyata terdengar oleh Juno, tetapi perkataannya tidak jelas ia dengar. "Kamu ngomong apa?" tanya Juno, Aruna pun menoleh kepadanya.


"Nggak apa-apa," jawab Aruna berusaha mengabaikan keberadaan wakil direktur dan manajer HRD di perusahaan tempatnya bekerja. Mereka terlihat sedang mengobrol dengan seseorang yang tidak dia kenal. Aruna lalu mengambil ponselnya di atas meja untuk mengalihkan perhatiannya tersebut.


"Eh, bukannya itu Pak Jackson? Dan dua orang yang bersamanya, sepertinya aku pernah melihatnya di kantor kamu." Juno juga melihat ke arah pandang Aruna sebelumnya.


Aruna mendongakkan pandangan dari ponsel yang dia pegang. Menatap Juno, lalu menoleh sekilas pada meja Bana. "Iya, mereka Pak Bana dan Pak Danu. Pak Bana wakil direktur, dan Pak Danu manajer HRD di perusahaan Suryafood." Juno menganggukkan kepalanya sambil mengingat nama mereka. "Kamu kenal sama orang yang bersama mereka?" Aruna kembali melontarkan pertanyaannya.


"Kenal," jawab Juno singkat.


"Siapa?" Aruna terlihat penasaran.


"Namanya Pak Jackson, dia itu pimpinan perusahaan food and beverage 'Jacksnack', saingannya Suryafood. Perusahaan itu sering mengajukan kerja sama dengan J&J grup, tetapi kami tidak pernah menerimanya. Karena dari awal berdirinya Suryafood, papi aku sudah memercayakan investasinya di sana. Asal kamu tahu, Suryafood bisa berdiri karena bantuan papi juga."


Aruna sejenak terdiam mendengarkan penuturan Juno. Jika seperti itu, berarti keluarga Juno yang telah berjasa atas kesuksesan yang diraih papanya.


"Permisi, Mas, Mbak, ini makanannya." Kedatangan seorang pelayan yang membawakan pesanan membuyarkan lamunan Aruna. Perhatian keduanya pun teralihkan pada makanan yang tersaji di atas meja.


...***...


Setelah menyelesaikan makan malam, Juno mengantarkan Aruna pulang. Di perjalanan, Aruna hanya diam saja. Hal itu membuat Juno merasa heran. Ia pun bertanya kepada Aruna, dan tidak mendapatkan jawaban yang sebenarnya. Aruna hanya mengatakan, "Aku baik-baik saja."


Juno sedikit bingung, dia merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa, tetapi sikap Aruna kembali dingin kepadanya.


"Aruna, sebelumnya aku minta maaf kalau ada salah, ya!" Akhirnya Juno berinisiatif untuk berkata seperti itu.


Aruna menoleh dengan kening yang berkerut. "Kamu mau pergi ke mana?" tanyanya.


"Pergi? Memangnya kalau minta maaf itu tandanya mau pergi?" tanya Juno sekilas melihat Aruna.


"Biasanya gitu. Orang yang mau meninggal juga suka minta maaf secara tiba-tiba."


Astaga!


Juno sontak menepikan mobilnya di bahu jalan, lalu menatap tajam pada Aruna. "Kamu do'ain aku cepat meninggal? Terus kamu bisa bebas dan menerima cintanya Alfath, gitu?" seru Juno sembari memegang lengan Aruna.


Aruna sejenak terhenyak dengan pertanyaan Juno yang seolah mengintimidasi dirinya. Kedua matanya mengerjap gugup, apalagi saat tatapan mereka terkunci dan saling bertaut.


"Kenapa kamu mikirnya kayak gitu?" tanya Aruna setelah keheningan tercipta beberapa saat.


"Dengarkan aku, Aruna! Aku sebenarnya nggak mau maksa kamu. Tapi aku mohon sama kamu, selama aku masih ada, jangan pernah berpikir untuk menerima cinta orang lain!"


Pernyataan itu begitu tulus dan penuh permohonan. Tatapan Juno terlihat berkabut dengan raut wajah yang kalut. Mengingatkan Aruna pada tragedi salah sangka di jembatan tempo lalu. Sorot mata yang sama, dan goresan ketakutan yang sama pula. Juno benar-benar khawatir, jika Aruna akan pergi meninggalkannya.


"Ju–Juno ... aku mau pulang. Kasian Putri sendirian aja di rumah." Cekalan tangan Juno perlahan mengendur. Ia sadar jika kelakuannya membuat Aruna ketakutan.


"Maaf," ucap Juno menyesal. Lalu menghadapkan tubuhnya ke depan bersiap untuk melajukan mobilnya kembali.


Hening. Kali ini Aruna yang merasa bersalah kepada Juno. Ucapannya tadi memang sedikit keterlaluan, tetapi ia tidak menyangka jika Juno akan berpikir demikian.


Beberapa saat mengendara, Juno berhasil membawa mobilnya di depan pekarangan rumah Aruna. Kebisuan masih melingkupi mereka berdua. Aruna tidak lantas keluar dari mobil itu. Mulutnya terasa gatal ingin mengatakan sesuatu. "Maaf, tadi aku keterlaluan. Ehm ... aku cuma mau bilang, kalaupun nanti aku akan mencoba untuk membuka hati pada seorang laki-laki. Kamu ... adalah orang pertama yang akan aku beri kesempatan untuk menempatinya lebih dulu."


...***...



...Jangan lupa dukungannya, ya ❤...