Magic Love

Magic Love
Kesal




...***...


"Terus aku harus gimana? Aku nggak mungkin melahirkan bayi dari laki-laki yang baru sekali aku temui. Dia juga sudah pergi ke luar negeri dan nggak akan kembali."


Aruna melipat lututnya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Kezia. Memeluk tubuh perempuan itu seolah memberikan kekuatan kepadanya. "Aku tahu ini berat, tapi semuanya udah terjadi. Kakak nggak bisa mengelak ataupun lari dari takdir yang udah ditentukan sama Tuhan. Kakak nggak sendiri, kok. Ada aku yang akan selalu dukung Kakak," ucap Aruna sambil mengusap punggung Kezia dengan lembut.


"Makasih, Na." Kezia membalas pelukan Aruna. Dua saudara itu saling menguatkan satu sama lain.


"Mau aku bantu bilang sama papa dan mama?" Aruna menawarkan diri untuk membantu kakaknya menjelaskan tentang kehamilan Kezia.


"Nggak perlu, biar nanti aku yang bilang sendiri. Kamu temenin aku aja, ya," tolak Kezia sambil melerai pelukannya. Ia sapu kasar cairan bening yang sesekali masih meluncur dari sudut matanya. Kepala Aruna mengangguk setuju. Lalu beranjak berdiri dan membantu Kezia berdiri juga.


"Nanti saja bilangnya kalau papa udah pulang kerja, dan sebelum itu Kakak bilang dulu, siapa ayah dari bayi itu?" Aruna masih penasaran.


Kezia menelan ludahnya kelat, rasanya malu sekali untuk menyebutkan nama Abizar sebagai ayah dari bayinya. Banyak alasan yang membuat dirinya menolak kehadiran bayi itu. Selain karena hasil dari kecelakaan, ia juga tidak mencintai Abizar. Jangankan cinta, mengenalnya saja tidak. Baru pertama kali berjumpa, tetapi sudah menitipkan anak di rahimnya.


"Dia ... sepupunya Juno."


"Hah? Dasar playboy brengsek! Aku harus bilang ke Juno buat ngasih pelajaran ke Devan. Dia harus nikahin Kakak dan berhenti mainin perempuan!" Aruna langsung meradang. Ia mengira jika lelaki itu adalah Devan. Karena selama ini yang dia tahu, Kezia memang bekerja dengan lelaki itu. Devan seringkali menggantikan pekerjaan Juno, ketika Juno sedang ada pekerjaan lain atau ada keperluan.


"Bukan Devan. Aku udah bilang, kalau dia baru sekali aku temui," sanggah Kezia.


"Ah, iya. Kalau bukan Devan, lalu siapa, dong?" Aruna terdiam sesaat, lalu tercekat ketika ada satu nama lagi sepupu Juno yang dia ingat, "Kak, apa laki-laki itu ... Abizar?" tanyanya dengan hati-hati.


Kezia mengangguk perlahan, hal itu membuat Aruna melongo tidak percaya. Karena Abizar hanyalah bocah ingusan yang usianya jauh di bawah Kezia. "Kok, bisa sama dia, Kak?" tanya Aruna heran.


"Pokoknya ceritanya panjang. Aku juga bingung mau jelasinnya gimana. Sekarang aku pusing, udah nggak bisa mikir." Kezia berjalan menuju ranjang lalu duduk di tepinya. Kedua telapak tangannya menutup dahi dengan dua siku yang bertumpu di paha.


"Apa pun alasannya, Abi harus menikahimu!" tegas Aruna.


"Waktu itu dia sempat mau bertanggung jawab, tapi aku menolak. Aku nggak mikir bakalan hamil. Apa nggak ada cara lain selain menikah, Na? Aku gugurin aja, ya, janin ini? Aku nggak mau nikah sama si Abi."


"Mama nggak pernah ngajarin jadi pengecut kayak gitu, Kezia!" Suara lantang terdengar dari arah pintu. Membuat Aruna dan Kezia tersentak seketika. Keduanya sama-sama menoleh ke asal suara yang menampilkan sosok sang mama berdiri kaku di sana.


"Ma–Mama!" Kezia sontak berdiri. Menatap mamanya dengan wajah takut.


"Kamu yang melakukan kesalahan, kamu juga yang harus menerima konsekuensinya! Apa pun yang terjadi, kamu harus melahirkan bayi itu!" Sembari berjalan ke depan, Erna berkata lagi.


Kezia yang merasa bersalah, langsung menghambur memeluk sang mama. "Maafin, Zee, Ma! Zee memang salah," ucapnya dengan air mata yang kembali tergenang. Erna hanya diam saja. Mau marah juga percuma. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu. Kini, saat semuanya sudah terjadi. Ia harus memaksa Kezia untuk menerima segala konsekuensi.


Aruna hanya diam saja. Ia juga ikut menitikkan air mata. Ia jadi teringat dengan mendiang mamanya. Merindukan pelukan hangat dari sosok penyemangat dalam hidupnya.


...***...


Pagi yang dingin menyelimuti daratan Negeri Sakura. Salju tipis beterbangan menandakan musim dingin baru saja dimulai. Juno masih bergelung di bawah selimutnya ketika rentetan suara dering ponsel terdengar memekakkan telinga. Juno mengerjapkan mata, tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Kedua matanya menyipit dengan pandangan masih kabur saat menekan tombol hijau, lalu menempelkannya di telinga. "Halo," ucapnya parau.


"Sial! Ngapain lo video call pagi-pagi gini?! Nggak tahu di sini masih jam lima?" Juno langsung mengomel yang dibalas cekikikan lucu dari dua sahabatnya dalam layar kaca.


"Mana si Abi? Gue mau ngucapin selamat sekaligus mau ngomelin dia karena udah berani ngelangkahin gue nikah duluan," ucap Devan memasang wajah cemberut.


"Lo ada perlu sama Abi, kenapa teleponnya di grup? Telepon orangnya doang bisa, kan?" Juno masih mengomel, karena tidak rela tidur nyenyaknya terganggu oleh panggilan itu.


"Suka-suka gue, lah." Devan berkata sambil mengangkat sebelah alisnya. Membuat Juno berdecak sebal, lalu memejamkan mata. Ia berniat melanjutkan mimpi indahnya dengan wajahnya terekam di kamera.


"Eh, yang bener si Abi mau nikah? Sama siapa?" Alfath yang lebih dulu menyahut.


"Gue nggak tahu, lupa nanya pas tadi nyokap telepon gue. Katanya hari ini mau ke Jakarta buat ngehadirin pernikahannya Abi."


Baru saja Devan selesai bicara, wajah Abizar muncul mengisi layar ponsel Juno.


"Ada paan, sih? Pagi buta dah video call? Di Jepang masih jam lima, woy!" Seperti Juno, Abizar juga mengomel ketika pertama kali mengangkat panggilan video yang tidak tahu waktu itu.


"Lah, pengantennya masih di Jepang. Gimana, si? Emang nikahnya kapan?" Alfath kembali bertanya. Dia tidak mengindahkan omelan lelaki yang katanya mau jadi pengantin itu.


"Belum ditentukan. Hari ini kita pulang, dan besok baru melamar." Bukan Abizar yang menjawab, melainkan Juno yang sudah duduk bersandar. Walaupun kelopak matanya sesekali terpejam, menahan rasa kantuk yang masih menyerang.


Semalam, Aruna memberitahu masalah kehamilan Kezia berikut ayah dari bayinya. Juno sangat geram, tetapi selain menerima dia bisa apa? Akhirnya lelaki itu pun melabrak Abizar dan memberitahu tantenya tentang hal ini. Setelah dikonfirmasi, Abizar pun mengakui. Akhirnya pihak keluarga Juno yang diwakilkan oleh Jonathan dan istrinya menemui keluarga Kezia untuk menentukan hari pernikahan, karena orang tua Abizar masih berada di Jepang.


"Lo nikah sama siapa, Bi? Katanya ceweknya dah lo bobol duluan, ya? Gila, lo belajar di mana hal gituan? Harusnya lo belajar dari gue, biar lo nggak dipaksa nikah kayak sekarang." Devan kembali bersuara dengan menampilkan senyum meledek di bibirnya. Ia belum tahu saja, siapa perempuan yang sudah dibobol Abizar. Makanya sikapnya masih terlihat santai.


"Lo yakin mau ngajarin dia, Van? Walaupun perempuan itu incaran lo selama ini?" Kini giliran Juno yang mengusung senyuman sinis untuk Devan. Ia adalah satu-satunya orang yang tahu, jika Devan selama ini diam-diam mengagumi Kezia. Jika saja predikat Pria Casanova tidak bertengger di balik kelakuannya, mungkin Devan sudah berani melamar pujaan hatinya tersebut. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan Kezia.


"Maksud lo? Jangan bilang kalau perempuan itu adalah ...." Devan menghentikan ucapannya. Ia tidak berani menyebut nama Kezia di akhir kalimatnya.


"Lo aja yang jawab, Bi. Gue masih nggak rela lo bakalan jadi kakak ipar gue."


Perkataan Juno sudah menjadi jawaban yang dimengerti oleh Devan. Lelaki itu lantas memaki Abizar dengan mengabsen penghuni kebun binatang, serta penghuni alam ghoib untuk meluapkan emosinya sekarang.


"Sory, Bang. Waktu itu gue khilaf. Gue nggak tahan sama godaan Mbak Zee waktu dia mabuk."


"Brengsek lo!" Umpatan terakhir terlontar dari mulut Devan sebelum dirinya memutuskan panggilan. Menyisakan tiga wajah tampan di layar ponsel masing-masing.


"Lo, sih. Cari perkara aja!" sewot Juno pada sepupunya yang merasa bersalah.


"Dih, mana gue tahu kalau Bang Devan suka sama Mbak Zee. Namanya gue khilaf mana sempat mikir ke sana. Lagian waktu itu dia juga yang ninggalin kita berduaan di kafe. Jadi, sepenuhnya bukan salah gue." Panjang lebar Abizar membela diri.


"Udah, woy! Nasi udah jadi bubur. Ngapain diributin, si!" Alfath yang tidak terpengaruh sama sekali hanya bisa menasihati. Beda perkara jika yang akan menikah adalah Aruna. Sikapnya pasti tidak akan jauh dari berbeda.


...***...