
...***...
Dena menyusul Aruna ke ruangan divisi mereka. Ia membuka pintu dengan kasar membuat pintu itu terbentur dinding dan menimbulkan suara yang begitu keras. Semua orang yang berada di dalam sana pun kompak mendongakkan kepala di balik kubikel mereka, saking kagetnya.
"Bu Dena, buka pintu pelan-pelan, dong! Inventaris perusahaan, tuh. Nanti kalau rusak harus diganti berikut dinding yang ditabraknya, loh." Indira yang pertama mengeluarkan suaranya. Dena tidak mengindahkan perkataan Indira. Tatapannya tertuju pada wajah Aruna yang tengah tersenyum tipis kepadanya.
"Emangnya kalau inventaris perusahaan harus gitu, Ra? Pintu rusak, dindingnya harus diganti juga?" Yoga bertanya dengan polos. Indira menoleh pada lelaki itu.
"Iyalah, kalau rusak harus diganti," jawabnya sambil mendelikkan mata.
"Kalau bukan inventaris perusahaan?" Yoga semakin penasaran.
"Ya, kalau rusak mesti diganti juga, Yoga. Kamu itu gimana, sih. Anak kecil aja tahu soal kecil kayak gitu. Namanya benda rusak itu harus diganti sama yang baru."
"Yaelah, Indro Safira. Gue udah serius nanya juga." Yoga meremas sebuah kertas lalu melemparnya ke arah Indira. Gadis itu refleks menghindarinya.
"Heh, nama aku itu Inβ"
"Diam kalian!" Indira sontak terdiam ketika mendengar Dena membentak mereka. Pandangannya pun beralih pada Dena.
"Eh, Bu Dena kenapa? Kok, bajunya basah?" Indira yang baru sadar dengan pakaian Dena yang basah kuyup, bertanya sedikit takut. Wajah yang garang dengan baju kebasahan, dan rambut sedikit acak-acakan, membuat tampilan Dena begitu menyeramkan.
Dena berjalan menghampiri Aruna. Ia masih mengabaikan Indira dan Yoga yang saling pandang dan saling bertanya dengan kode tatapan mata. Aruna pun berdiri ketika Dena sudah berada di dekat kursinya.
"Ada apa Bu Dena? Kenapa baju Bu Dena basah gini?" tanya Aruna santai. Ia pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Jangan sok polos, kamu! Mana HP kamu? Aku mau hapus rekaman itu." Dena menadahkan tangannya di depan Aruna. Memaksa perempuan itu untuk memberikan ponsel miliknya.
"Rekaman apa, Bu? Kenapa Ibu minta HP aku? HP ibu ke mana?" Pertanyaan Aruna semakin membuat Dena emosi jiwa.
"Belagak bego kamu, ya. Cepetan mana? Kalau kamu nggak hapus video itu, jangan harap kamu bisa bertahan lama kerja di sini. Aku akan suruh paman aku buat pecat kamu." Dena mengancam lagi. Namun, Aruna hanya terdiam tanpa melakukan pergerakan apa-apa.
Dena merasa tidak sabar. Ia menerobos tubuh Aruna, hingga tubuh perempuan itu bergeser beberapa langkah dari mejanya. Aruna diam saja melihat Dena mengacak-acak meja kerjanya begitu saja. Dena Mencari ponsel yang berisi rekaman pengakuannya.
Indira dan Yoga pun tidak tinggal diam. Walaupun mereka tidak tahu duduk perkaranya, menurut mereka kelakuan Dena sudah keterlaluan dan tidak sopan.
"Bu Dena ini apa-apaan, si? Nggak sopan banget minta HP orang pake ngacak-ngacak kayak gini!" hardik Indira tidak senang. Dia berdiri di samping Aruna.
Dena menegakkan tubuhnya menghadap Indira. "Kamu jangan ikut campur, ya! Ini urusan aku sama Aruna."
"Bu Dena nggak boleh gitu." Kini giliran Yoga yang menasihati. Lelaki yang paling tampan di ruangan itu pun ikut berdiri.
"Kalian berdua bisa diem, nggak? Ini urusan aku sama Aruna," ulang Dena memekik dengan keras. Membuat suasana kian memanas. "Sekarang aku minta kalian keluar dulu!" titah Dena pada kedua asistennya tersebut, karena dia ingin bicara empat mata dengan Aruna.
"Tapi, Buβ"
"Keluar!" sentak Dena lagi. Tangannya sudah menunjuk ke arah pintu. Indira ragu. Ia menoleh ke arah Aruna dan mendapatkan tanggapan anggukan kepala dari perempuan itu. Indira yang paham akhirnya mengajak Yoga keluar dengan terpaksa.
"Mana ponsel kamu?!" Sekali lagi Dena meminta ponselnya Aruna. Setelah mereka cuma tinggal berdua.
Aruna menghela napas sebelum dirinya berjalan mendekati mejanya. Setelah tadi sempat terhempas, posisinya kini agak jauh dari meja itu. "Bu Denanya awas! Aku mau ngambil HP di tas." Aruna menunjuk tasnya yang bertengger di sisi pojok mejanya.
Kepala Dena berputar mengikuti arah telunjuk Aruna, kemudian menggeser tubuhnya untuk memberikan ruang kepada pemilik tas itu. Aruna pun mengambil ponsel dari dalam tasnya.
"Nih." Aruna menyodorkan ponselnya kepada Dena.
Dena langsung menyahutnya dan menyalakan layar utama. Terkunci. Ponsel Aruna menggunakan sandi. "Kamu aja, deh, yang hapus videonya! Sambil aku lihatin." Dena memberikan kembali ponsel itu kepada pemiliknya.
Aruna menurut saja. Setelah mengetik sandi, ia membuka gallery dan mencari rekaman tadi. Sesuai permintaan Dena, Aruna menghapus rekamannya. "Tuh, udah," katanya. Lalu menyimpan ponselnya di atas meja.
"Bagus. Awas, ya, kalau kamu macem-macem sama aku!" ancam Dena. Senyuman miring ia sematkan di bibirnya. Dalam hatinya ia berkata, "Dasar cemen! Baru digertak kayak gitu aja udah lemah."
Setelah puas mengancam Aruna, Dena berbalik badan hendak pergi untuk mengganti bajunya yang basah. Namun, baru beberapa langkah perempuan itu berjalan, suara Aruna menghentikan langkahnya. "Punya IQ tinggi kenapa nggak dipake, Bu Dena? Kamu pikir cuma dengan menghapus video itu dari HP aku, semuanya selesai begitu aja?" Dena berbalik arah menghadap Aruna. Keningnya berkerut memperhatikan gerakan Aruna yang berjalan mendekatinya.
Aruna berdiri tepat di hadapan Dena. "Tentu aja aku masih punya salinannya. Udah aku simpan di drive yang paling aman dan akan aku gunakan jika dibutuhkan," katanya sambil mengulas sebuah senyuman.
Wajah Dena pun menjadi tegang. Tetesan keringat mulai bermunculan di keningnya yang masih basah. Sampai-sampai menelan ludahnya juga susah. "Jadi ... kamu benar-benar mau melaporkan aku ke polisi, Aruna?" tanya Dena sedikit takut.
"Harusnya, sih, begitu," pungkas Aruna.
Hal yang paling tidak pernah Aruna duga. Dena bersimpuh dan memeluk kaki Aruna.
"Aruna, Aruna, aku mohon sama kamu, Aruna. Jangan laporkan aku ke polisi, ya! Aku mohon, Aruna! Karir aku akan hancur kalau sampai aku masuk penjara." Dena memohon dan memelas kepada Aruna. Aliran air mata sudah menganak sungai membasahi pipinya. Aruna hampir terjengkang karena pelukan di kakinya yang begitu kencang.
"Eh, Bu Dena ngapain? Ayo, bangun!" pekik Aruna sambil berusaha membangunkan Dena. Namun, Dena semakin mengeratkan pelukannya.
"Nggak, aku nggak akan bangun sebelum kamu mau maafin aku. Dan berjanji nggak akan laporin aku ke polisi. Waktu itu aku cuma bercanda sama kamu, Aruna. Lagipula, kamu juga udah balas nyiram aku tadi," seru Dena memohon dan memaksa. Tangisnya semakin pecah saja.
Embusan napas kasar terlontar ke udara. Bercanda katanya? Sebuah candaan yang hampir membuat diri Aruna hampir mati kedinginan karena terkurung di ruangan sempit itu. Ditambah rasa pusing akibat obat yang diberikan oleh Dena. Jika Aruna sedikit lebih lama terkurung di dalam sana, mungkin sekarang perempuan berkacamata tebal itu hanyalah tinggal nama.
Aruna menepuk keningnya sambil menatap perempuan yang sedang bersimpuh di hadapannya itu. Perempuan yang tadi mengancamnya seperti macan betina yang kelaparan, sekarang terlihat seperti anak kecil yang merengek minta jajan.
"Oke, aku nggak akan melaporkan Bu Dena ke polisi, tapi ada syaratnya."
"Apa? Aku akan melakukan apa pun yang kamu katakan." Dena mendongak menatap Aruna dengan tatapan sendu. Aruna sempat terkejut melihat wajah Dena. Karena eye liner yang perempuan itu pakai, ikut meleleh digenangi oleh air mata. Cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya seolah berubah warna. Hitam pekat. Kini, wajah Dena tak ubahnya seperti badut yang sedang pentas. Bahkan rambut pirangnya yang acak-acakan, membuat penampilannya semakin meyakinkan.
...***...
...Wah, nyalinya menciut ternyata si Dena. π ...
...Jangan lupa dukungannya π...