Magic Love

Magic Love
Terkejut




...***...


Aruna berada di rumah papanya sampai hari menjelang siang. Karena ini adalah hari libur, Aruna tidak pergi ke kantor. Tidak ada hal penting yang akan dibicarakan oleh papanya setelah Aruna bertanya perihal itu. Surya sengaja memanggil Aruna karena sudah lama gadis itu tidak menginjakkan kakinya di rumah utama.


"Aruna mau pulang dulu, Pa," pamit Aruna. Dia tidak melakukan apa-apa selain berdiam diri di kamarnya. Beruntung Kezia tidak ada di rumah. Dari pagi perempuan itu sudah pergi entah ke mana. Jika ada, mungkin Aruna akan semakin tidak betah saja. Hanya akan ada perdebatan di antara mereka.


Surya dan Erna yang sedang menonton menonton acara Olimpiade Bulutangkis yang ditayangkan di televisi sontak menoleh pada Aruna. Lalu mengikuti gerak langkah perempuan itu sampai duduk di sebelah papanya.


"Kamu mau pulang ke mana, Sayang? Ini rumahmu." Erna menanggapi ucapan Aruna, sedangkan Surya kembali fokus pada tontonannya.


Aruna mendelik, merasa jenuh dengan sikap ibu tirinya yang sok baik. "Ini bukan rumah aku, Tante. Rumah papa," tegas Aruna.


Erna terdiam, kedua matanya melirik ke arah Surya. "Re, udah papa bilang. Panggil 'ma–ma'!" titah Surya dengan nada memaksa. Kedua matanya masih menatap lurus ke layar segi empat di depannya.


"Mas ...." Erna menegur Surya sambil mengusap bahu suaminya tersebut. Tatapannya memohon agar suaminya tidak memaksa Aruna terus.


"Pah, mulai sekarang panggil aku 'Aruna'! Aku nggak mau Papa salah sebut lagi kayak waktu itu." Aruna malah mengalihkan pembicaraan ke arah lain. Panggilan 'Rere' adalah kebiasaannya waktu kecil. Nama itu adalah panggilan sayang dari ibu kandungnya.


"Jangan ngalihin pembicaraan! Sampai kapan kamu bersikap dingin sama mama kamu? Contoh sikap Kezia! Dia selalu hormat sama orang tua." Surya menoleh pada Aruna.


"Dia bukan mama aku!" tukas Aruna dengan nada tinggi. Tubuhnya pun langsung berdiri. "Dan Kezia ... terus aja puji dia! Kalau Papa memang lupa jika Kezia hanya anak tiri, dia bukan kakak kandung aku," tambahnya dengan nada lebih rendah, tetapi penuh penekanan.


Surya sontak mendongak dengan kedua mata terbelalak. "Rere! Kezia itu–"


"Mas!" Suasana jadi sedikit tegang. Erna menahan tubuh Surya yang hampir berdiri. Dia tidak ingin ada perdebatan di antara Aruna dan suaminya lagi.


"Sampai kapan pun aku hanya punya satu mama. Yaitu Mama Maya. Aku nggak akan pernah mau mengakui pelakor ini sebagai mama aku. Nggak akan, Pah!" tegas Aruna menambahkan lagi.


Kesabaran Surya sudah habis, lantas bangkit dari duduknya hendak menampar pipi Aruna, tetapi urung karena dirinya tidak tega. Tangan itu terhenti pada jarak beberapa senti dari pipi. Aruna sontak memejamkan mata, tetapi tubuhnya tidak bergerak barang sedikit saja.


Surya menurunkan tangannya dengan kesal. Jika bukan anak perempuan, mungkin Aruna sudah habis dia hajar. Sedangkan, Erna hanya berdiri kaku sambil membekap mulutnya dengan telapak tangan. Air matanya luruh tak tertahan.


"Pergi kamu dari sini!" usir Surya pada anaknya. Dadanya terasa nyeri disertai tekanan darah tinggi.


Aruna membuka matanya perlahan. Sedikit meringis lalu menghela napas kasar. Bagaimanapun juga, walaupun tubuhnya tidak gentar, pipinya pasti akan terasa sakit jika kena tampar.


"Emang mau pergi, kok." Aruna melengos tanpa permisi. Mengabaikan panggilan Erna yang melarangnya untuk pergi dari sana.


Namun, setelah dia mencapai mobilnya, Aruna berdecak, "Aaargh ... pake ketinggalan segala, lagi!"


Tas kecil yang tadi dibawa oleh Aruna tertinggal di dalam. Ia pun segera kembali untuk mengambilnya. Namun, setelah di dalam sana, tanpa sengaja dia mendengar perbincangan Surya dan Erna. Perbincangan mereka menarik perhatian Aruna. Membuatnya penasaran dan memutuskan untuk mencuri dengar di balik dinding pembatas ruangan.


"Sampai kapan kamu akan menyembunyikan semuanya dari dia, Erna. Katakan saja sejujurnya! Biar dia tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia dan Kezia adalah–"


"Aku selalu berusaha menunjukkan rasa cinta dan sayang aku sama Aruna. Sepertinya usahaku belum maksimal, makanya dia belum bisa memaafkan aku sampai sekarang. Namun, aku yakin jika kekuatan sihir cinta itu pasti ada. Jika aku lebih menunjukkan rasa sayangku sama Aruna. Kekuatan magisnya akan mampu membuat hati Aruna bisa menerimaku apa adanya," tambah Erna lagi dengan lirih.


Surya mengusap pundak istrinya dengan lembut. "Tapi Rere juga harus tahu, jika Kezia adalah kakak kandungnya, dan sebenarnya Maya sendiri yang menyerah dengan pernikahan kami. Dia hanya ingin aku bahagia dengan orang yang aku cintai dan anak kita."


Deg!


Aruna yang mendengar itu begitu terkejut. Jantungnya seolah berhenti berdetak dengan kedua matanya yang membulat. Aruna memegang dadanya yang terasa sesak. Butiran cairan bening yang tertahan di pelupuk matanya kian mendesak.


"Tapi jangan sekarang, Mas! Kita tunggu sampai Aruna mau menerima aku dan Kezia karena keinginannya sendiri. Aku yakin rasa sayang aku akan mengubah pendiriannya itu."


"Sampai kapan Erna? Dia sudah tinggal bersama kita sudah lama."


"Hanya tiga tahun, Mas. Dia lebih lama tinggal di luar negeri daripada tinggal dengan kita. Apa, Mas, lupa?" tukas Erna membuat Surya terdiam, lalu menghela napas panjang. Ia alihkan pandangannya ke sembarang arah. Tanpa sengaja netra pekatnya menangkap sosok Aruna yang tengah berdiri di gawang pintu sambil memandang ke arah mereka.


"Rere ...," lirih Surya. Erna pun tercekat mengikuti arah pandang suaminya itu.


"Aruna, Sayang." Erna bangkit, ia hendak menghampiri Aruna.


"Jangan mendekat!" Suara tegas Aruna menghentikan langkah Erna. Perempuan paruh baya itu menelan ludahnya dengan kelat. Air wajahnya terlihat khawatir. Takut jika Aruna mendengar semua yang sedang mereka bicarakan tadi.


"Kamu ... kenapa balik lagi, Nak?" tanya Erna hati-hati.


"Apa Kezia tahu?" Aruna malah balik bertanya.


"Tahu apa, Sayang?" Walaupun terkejut dengan pertanyaan Aruna, Erna berusaha bersikap biasa saja.


"Jangan pura-pura! Aku udah denger semuanya. Apa Kezia tahu kalau kami saudara kandung?" Aruna mengulangi pertanyaannya.


Surya dan Erna membeku di tempat. Mereka bingung mau bilang apa. Semua yang ingin mereka jelaskan sudah Aruna dengar.


"Kezia nggak tahu." Surya yang menjawab pertanyaan Aruna.


Aruna tertawa miris, menjaga kedua matanya agar tidak menangis. "Kenapa, Pah? Kenapa Papa bohongin kami? Papa takut nama baik Papa tercemar? Kalau sebenarnya Papa punya selingkuhan dan punya anak haram?"


"Rere!"


"Sudah kubilang, jangan panggil aku 'Rere'! Rere sudah mati! Aku benci Papa, aku benci kalian!" pekik Aruna. Air matanya akhirnya tumpah juga. Lantas dia mengambil langkah panjang menuju kursi tempat tas kecilnya tertinggal tadi. Setelah itu, ia pun pergi.


Erna hendak mengejar, tetapi tangannya ditahan oleh Surya. "Biarkan saja! Biarkan dia merenungkan semuanya!" pungkas Surya melarang istrinya mengejar Aruna.


...***...