
...***...
Suara alunan musik mengalun syahdu, menggema mengiringi acara makan bersama yang diadakan PT. Suryafood di kafe Homeless Child. Sejak kepergian Juno dari kafe, senyum merekah tidak pernah lepas dari bibir Aruna. Bayangan akan pengungkapan cintanya sungguh membuatnya malu. Aruna tersipu, bahkan rona merah di pipinya masih menyerbak tak mau pudar. Hal itu takluput dari perhatian Indira.
"Bu Aruna, pake blush-on-nya ketebelan. Merah banget pipinya!" celetuk Indira sambil mengamati wajah Aruna.
"Aku nggak pake kayak gitu. Kamu jangan ngadi-ngadi!"
Indira semakin menilik wajah Aruna, lalu menoleh pada Dena yang duduk di sebelahnya. "Bu Dena, coba lihat, deh! Wajahnya Bu Aruna merah banget, kan?" tanyanya pada perempuan yang tengah sibuk melahap kue itu.
"Hmm ... kayak udang rebus," ujar Dena dengan makanan yang masih berkumpul di dalam mulutnya.
"Masa, sih?" Aruna langsung memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Menangkup kedua pipinya yang bertambah panas berkat kejujuran kedua rekan kerjanya tersebut. "Aku boleh pulang duluan, nggak, sih?" tanya Aruna ingin segera kabur dari sana. Jatuh cinta sungguh membuatnya seperti orang kebingungan yang serba salah ketika melakukan sesuatu.
"Tapi acaranya belum selesai, Bu. Nggak enak sama Pak Surya," sergah Indira.
"Iya, ih. Ngapain pulang? Mending di sini makan enak, gratis pula." Dena pun ikut menimpali perkataan Indira.
"Apa jangan-jangan Bu Aruna demam?" Indira menyentuh kening Aruna dengan posesif, "nggak panas pun," ucapnya heran. Aruna menepis tangan Indira pelan, lalu menghindar.
"Aku nggak apa-apa, Indira," sanggah Aruna. Ia pun terpaksa berdiam diri di acara tersebut sampai acaranya selesai. Membiarkan rona merah selalu membayangi wajahnya, karena pikirannya selalu terbayang wajah kekasihnya.
...***...
Setelah menempuh waktu sekitar kurang lebih 7 jam 29 menit, Juno sampai di Bandar Udara Tokyo–Jepang. Juno dijemput oleh papanya Abizar–Jiro Hideyoshi. Lelaki konglomerat itu sengaja menjemput anak lelakinya yang sudah ia rindukan selama ini, karena untuk pulang ke Jepang, Abizar sangat jarang sekali. Jonathan, Juno, dan Abizar bergantian memeluk Jiro mengobati rasa rindu di antara mereka.
"Papa tumben bisa jemput? Bukannya tiap hari sibuk?" tanya Abizar yang berhasil mendapatkan satu pukulan ringan di kepalanya dari sang papa.
"Dasar bocah tengil! Ini semua gara-gara kamu yang jarang pulang. Jadi papa dipaksa sama mama kamu buat jemput kamu. Biar kamu nggak mampir dulu ke tempat lain, kayak yang sudah-sudah. Sekarang kamu nggak bisa balik lagi ke Indonesia, sebelum kamu belajar bisnis dengan baik. Setelah itu menggantikan papa meneruskan bisnis keluarga kita juga," tutur Jiro mengomel pada anaknya.
"Dih, nggak mau, Pa. Abi ke sini cuma mau belajar aja, sekalian bantuin Bang Juno ngembangin bisnis Oma Yura. Setelah semuanya terkendali, Abi pulang ke Indonesia lagi. Kalau bisnis Papa itu serahin aja sama Aludra. Dia juga bisa." Abizar menolak dengan tegas permintaan sang papa. Aludra adalah adik lelaki Abizar yang hanya berbeda usia setahun lebih di bawahnya.
Jiro mendengus kesal. Belum sempat ia menukas perkataan anaknya. Ajakan Jonathan untuk segera pergi dari bandara membuatnya urung dan menelan kembali kata-katanya. Sedangkan Juno, ia hanya bisa tersenyum menjadi penonton. Namun, interupsi dari papanya membuatnya sedikit lega, karena dirinya ingin segera sampai di rumah Ayura–neneknya.
Juno ingin segera menghubungi perempuan yang belum sehari pun menjadi kekasihnya. Hatinya terasa hampa dan separuh hatinya seperti tertinggal di seberang lautan sana. Jika saja Aruna bisa dibawa seperti benda, mungkin sekarang perempuan itu akan selalu menempel di sisi Juno dia mana pun dia berada. Atau kalau dirinya tidak malu, bisa saja dia bermesraan dengan Aruna lewat sambungan telepon di depan keluarganya di dalam mobil yang kini sedang membawanya ke rumah Ayura.
Selama di perjalanan Juno tidak banyak bicara. Lelaki itu malah terlihat lebih sering tersenyum sendiri tanpa sepengetahuan keluarganya. Ia sudah tidak sabar sampai ke rumah Ayura, lalu menghubungi Aruna secara sembunyi-sembunyi di dalam kamar pribadinya di sana.
Kamar yang sudah lama ia tinggalkan semenjak tinggal bersama neneknya ketika menimba ilmu di Negeri Sakura itu. Kini, semenjak sang nenek sudah sakit-sakitan karena usianya yang renta, Juno berkewajiban untuk menjalankan bisnis yang dibangun bersama mendiang kakeknya– Dokter Ichida untuk sementara, dengan membawa Abizar yang baru lulus universitas untuk mengamalkan ilmu yang dia dapat, sekalian berkenalan dengan dunia bisnis sesusai perintah papanya.
Sebenarnya masih ada bibi kecil Juno yang seharusnya menjalankan bisnis itu, tetapi karena pekerjaan adik perempuan Jonathan tersebut adalah seorang artis terkenal, dan sering bepergian keliling dunia. Dia belum bisa meninggalkan kepopulerannya lalu menjalankan bisnis keluarga.
...***...
Aruna mengerjapkan mata, suara itu sangat mengganggu indera pendengarannya. Tangannya menggapai ponsel yang terletak di atas nakas di samping tempat tidur, sedangkan kedua matanya masih enggan terbuka sempurna.
"Halo, siapa, nih?" sapa Aruna dengan suara khas bangun tidurnya.
"Halo, Sayang." Suara bariton dari balik telepon membuat Aruna terjaga. Ia sangat hafal dengan suara lelaki yang seringkali meneleponnya itu.
"Juno?" Kedua matanya terbuka sempurna, lantas mendudukkan tubuhnya dan bersandar di kepala tempat tidur. "Kamu udah sampai?" tanya Aruna lembut.
"Udah, Sayang. Aku baru sampai di rumah oma," jawab Juno di seberang sana.
"Bagaimana kabar keluarga kamu di sana? Apa mereka sehat?" tanya Aruna basa-basi. Wajahnya pun langsung berseri.
"Mereka baik, cuma oma yang kurang sehat. Tapi selama ini beliau dijaga oleh Tante Angelina dengan baik, karena keluarga mereka sekarang juga tinggal di rumah oma." Juno menjelaskan tentang keluarganya di sana.
"Oh, begitu," ucap Aruna. Sejenak terdiam, Aruna bingung mau bertanya apalagi. Kecanggungan di antara mulai menguasai. Biasanya Aruna tidak pernah banyak bertanya pada lelaki ini.
"Sayang, aku kangen." Suara Juno menepis kebisuan di antara mereka.
Aruna tercekat, tak ayal wajahnya memerah seperti buah tomat. "Pinter banget bohongnya. Kita semalam baru ketemu, kan? Masa udah kangen aja," sanggah Aruna sambil menggigit bibir bawahnya. Menahan rasa malu yang membuat bibirnya bergetar saat berucap. Rasanya ingin bersembunyi di dalam lubang yang gelap.
"Masa bohong? Aku beneran kangen sama kamu. Memangnya kamu nggak kangen sama aku?" ungkap Juno, lalu bertanya pada Aruna.
"Ehm ... aku mau bangunin Putri dulu, ya. Udah jam lima," ujar Aruna mengalihkan pembicaraan mereka.
"Aih, susah banget bilang kangen doang. Padahal tadi malam masih berani bilang 'I love you'," Juno menggoda Aruna, membuat perempuan itu semakin merona saja.
"Udah, deh. Kalau kamu godain aku terus, aku tutup teleponnya, nih."
"Eh, jangan! sebentar lagi, deh. Aku masih mau denger suara kamu," sergah Juno memohon.
"Memangnya kamu nggak capek? Baru nyampe langsung telepon aku. Kalau di sini jam 05:00 berarti di sana udah jam 07:00, kan?" tanya Aruna mengaitkan perbedaan waktu di tempat mereka.
"Iya, tapi capekku langsung hilang saat aku denger suara kamu. Apalagi kalau kamu ada di sini. Aku nggak akan merasa lelah sama sekali. Aruna ... ehm ...." Juno menjeda kalimatnya, dan terdengar suara helaan napas setelahnya.
"Apa?" Aruna merasa penasaran dengan kelanjutan ucapan Juno yang terdengar menggantung itu.
"Kalau setelah pulang dari Jepang aku langsung melamar kamu, apa kamu akan bersedia untuk menjadi istri aku?"
...***...
...Ayo, bantuin Aruna jawab, Gengs! 😅...