
...***...
Waktu bergulir begitu cepat setelah acara lamaran yang terkesan dadakan. Padahal semuanya sudah direncanakan, tetapi berlangsung lebih awal karena Juno tidak mau kalah dengan Abizar yang menikah duluan.
Hari pernikahan ditentukan dua bulan setelah Aruna dan Juno resmi bertunangan. Pihak keluarga Aruna menginginkan anaknya harus sembuh benar ketika hari pernikahan dilangsungkan. Kini, hari pernikahan tinggal dua minggu lagi. Kesehatan Aruna pun sudah lebih baik dari sebelumnya. Luka di bahunya sudah mengering di luar dan hanya menyisakan sedikit ngilu jika bergerak terlalu keras. Hal itu membuat Aruna bisa kembali melakukan aktivitas.
"Sayang, kamu yakin mau kerja? Dua minggu lagi kita menikah, loh." Mungkin ini pertanyaan yang ketiga kali, dari semenjak tadi pagi, calon istrinya itu memutuskan untuk bekerja kembali. Juno meyakinkan tunangannya saat ia berhasil mengantarkan Aruna ke depan kantor perusahaan Surya. Posisi mereka masih berada dalam mobil milik Juno.
"Iya, cuma seminggu aja, kok. Aku udah bilang sama papa, dan kata papa nggak apa-apa. Aku bosan di rumah semenjak Kak Kezia tinggal di rumah mertuanya, sedangkan Putri juga sibuk sekolah."
Ya, semenjak menikah, Kezia dibawa oleh keluarga Abizar, dan tinggal bersama mereka di rumah orang tua Abizar yang berada di Indonesia. Kezia tidak bisa menolak, karena Angelina—mertuanya, merasa tidak enak kalau menantunya masih tinggal bersama orang tuanya, sedangkan Abizar masih harus melanjutkan tugasnya di Jepang. Kehamilan membuat Kezia tidak diizinkan untuk terbang ke Negeri Sakura dan menemani suaminya di sana. Tentu hal itu merupakan sebuah keuntungan bagi Kezia. Setidaknya, dia tidak perlu melakukan tugasnya seperti istri pada umumnya.
"Tapi aku khawatir sama kamu. Gimana kalau ada seseorang berani jahatin kamu lagi?" lirih Juno dengan raut khawatir.
"Siapa lagi yang mau jahatin aku, Sayang. Semua yang terlibat sudah mendekam di penjara," bujuk Aruna. Tumben sekali berkata mesra.
Tidak bisa membantah, Juno pun akhirnya pasrah.
"Aku boleh pergi?" Melihat kekasihnya diam saja, Aruna berpikir jika Juno sudah tidak mempermasalahkan perihal keinginannya bekerja. Ia pun pamit, sembari menyampirkan tas selempang pada bahu kanannya.
"Sebentar!" Juno menahan tangan Aruna yang hendak membuka pintu.
"Apalagi?" Aruna menoleh lagi pada Juno. Keningnya berkerut ketika melihat Juno yang mengetuk sebelah pipinya dengan menggunakan jari telunjuk. Pertanda lelaki itu minta dikecup.
"Biar semangat kerja," ucap Juno sembari tersenyum penuh arti.
Aruna mendadak kaku. Tentu saja ia merasa malu, karena sesungguhnya ia belum pernah melakukan itu. Hanya sang papa, satu-satunya laki-laki yang pernah ia berikan kecupan sayang di pipinya. "Harus, ya?" tanya Aruna sambil mengerjapkan mata.
"Nggak harus juga, tapi sebentar lagi kita akan menikah. Masa cium pipi aja nggak bisa?" Juno memasang wajah penuh damba. Berpacaran dengan Aruna sungguh menderita. Jangankan mendapatkan perlakuan romantis sampai erotis. Ketika ia baru meminta ciuman manis saja, kekasihnya itu sudah meringis.
"Aku takut kita khilaf, nanti kayak Kak Kezia."
Juno sontak tertawa. Lalu mencondongkan kepalanya mendekati wajah Aruna. Mengikis jarak yang menyisakan beberapa senti di antara wajah keduanya. Kemudian ia berkata, "aku tidak segila itu sampai harus melakukan hal tersebut di tempat ramai seperti ini. Kalau kamu mau, aku bisa membawamu ke hotel sekarang juga."
Dorongan keras di dada membuat Juno terbentur pada jok mobil yang didudukinya. Lalu kembali tertawa ketika melihat rona merah yang semakin merebak di wajah cantik Aruna. "Aku cuma bercanda," ucapnya segera meredakan tawanya. Ia melihat gelagat tidak baik pada raut wajah Aruna dan menghunuskan tatapan sinis kepadanya.
"Jangan marah, aku sayang sama kamu. Aku janji akan menjaga kehormatan kamu, sampai kamu sah menjadi istri aku." Juno menyisir anak rambut Aruna yang menutupi pipi. Menyelipkannya pada daun telinga, tetapi Aruna masih diam saja. Tatapannya kini sudah terlihat berbeda.
Aruna sudah berani menggerai rambutnya saat bekerja. Tentu saja atas izin Juno yang tidak keberatan jika Aruna mengubah penampilan kolotnya.
"Ya, udah. Kerja, sana! Nanti siang aku jemput lagi. Kita makan bareng," titah Juno. Senyumnya tidak pernah pudar menghiasi bibirnya. Senyum itu berhasil menular pada bibir Aruna. Perempuan itu akhirnya memaafkan perlakuan jahil kekasihnya.
"Aku pergi, ya," pamit Aruna.
Juno mengangguk, sebelah tangannya menopang di kemudi mobil dengan duduk miring menatap Aruna yang bergerak hendak keluar. Hingga kedua matanya sontak terbeliak, tatkala gerak cepat Aruna yang tiba-tiba berbalik, lalu menarik dasinya. Mendaratkan satu kecupan manis di pipi tanpa permisi.
Tubuh Juno berubah kaku. Ia bahkan tidak sadar jika Aruna langsung kabur setelah melakukan itu. Ia usap pipinya perlahan, senyumnya pun bertambah mengembang. "Gadis nakal!" ucap Juno senang.
...***...
"Bu Aruna!" Teriakan Indira membuat Aruna menghentikan langkah. Sedikit terhuyung ke belakang saat tiba-tiba mendapatkan serangan pelukan. "Aku kangen sama Ibu. Aku pikir Ibu nggak akan kerja lagi," seru heboh seorang Indira di balik punggung Aruna.
"Ssshh ...." Aruna berdesis sakit saat lukanya tertekan. Pelukan Indira memang terlalu kencang. Indira yang menyadarinya pun langsung melepaskan.
"Masih sakit, ya, Bu? Maaf, maaf, aku nggak tahu." Indira mengatupkan telapak tangannya di depan dada. Tampangnya terlihat menyesal karena sudah menyakiti atasannya.
"Kamu ini bagaimana? Luka Bu Aruna masih belum sembuh bagian dalamnya. Jangan sembarangan meluk kencang!" Dena yang sempat ditinggalkan oleh Indira ketika sedang berjalan bersama pun mendekati mereka.
"Nggak apa-apa, kok. Cuma sakit dikit." Aruna menangkup kedua tangan Indira lalu menurunkannya ke bawah. Sedikit tertawa, menandakan jika dirinya baik-baik saja.
Ketika Aruna melayangkan pandangan ke arah Dena, manajer akuntansi itu mengangguk sedikit tanda memberi hormat pada Aruna. Setelah ia tahu jika Aruna adalah anaknya Surya, sikap Dena jadi berbeda.
"Nggak perlu bersikap seperti itu, Bu Dena. Kita masih rekan kerja. Sikapnya biasa aja, ya. Kayak biasanya." Aruna merasa terganggu dengan sikap Dena yang begitu canggung kepadanya.
Dena hanya mengangguk sambil tersenyum menanggapi permintaan Aruna.
"Yuk, kita ke atas. Aku udah kangen sama ruangan kerja kita." Aruna mengajak kedua rekan kerjanya itu untuk menuju ke ruangan mereka. Dengan semangat Indira menggandeng tangan Aruna. Ketiganya pun berjalan bersama, sambil berbincang dan sesekali bercanda.
...***...
"Bu, mau ikut kita makan di luar?" Aruna sedikit berjingkat atas pertanyaan Indira, yang tiba-tiba menongolkan kepalanya di atas kubikel yang menghalangi meja kerja mereka. Ada Dena yang juga berdiri di samping Indira. Pikiran Aruna sempat kabur, sambil menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja. Aruna sedang menunggu Juno menghubunginya untuk mengajaknya makan bersama.
"Mau makan sama Pak Juno?" Indira bertanya lagi, saat tak mendapatkan jawaban yang pasti.
Menghela napasnya kasar. Aruna menyahut ponselnya lalu berdiri. "Kalian mau makan di mana? Aku ikut aja," ucapnya sambil mengulas senyuman. Ia berpikir positif jika Juno sedang sibuk dengan pekerjaan, sehingga tidak sempat mengajaknya makan.
...***...
"Honey, Kamu tahu? I miss you so much. Saat aku tahu jadwalku kosong dua minggu ke depan, aku langsung terbang ke sini. Aku juga kangen sama makanan tradisional negara ini. Sudah lama tidak menemukannya di luar negeri." Suara manja seorang perempuan cantik bermata sedikit sipit, terdengar di salah satu meja restoran masakan tradisional.
Aruna mendengar perkataan itu ketika dirinya baru sampai di sana bersama Dena dan Indira. Ketiganya berencana makan siang di sana.
"I miss you too, Honey. Aku juga sampai meninggalkan meeting penting saat kau bilang sudah berada di bandara dan minta dijemput."
Jawaban dari pasangan perempuan tadi memaksa Aruna mengalihkan pandangan ke arah meja tersebut. Dipandangnya dengan seksama penghuni meja yang bertingkah begitu mesra. Aruna mengenal suaranya.
"Bu, bukannya itu Pak Juno." Indira yang mengikuti arah panjang Aruna kemudian berkata. Membuat Aruna mengepalkan kedua tangannya dengan kencang. Hatinya seperti ditikam benda tajam.
...****...
...Hayo, siapa yang tahu Juno sama siapa? Jawab langsung, ya 😁...