
...***...
Juno tersentak. Ia langsung menengok ke arah telunjuk Aruna. Kucing itu mengeong melihat ke arah Juno. Jika dia bisa bicara bahasa manusia, mungkin kucing itu akan mengomel pada lelaki yang sudah menggagalkan aksi penyelamatan Aruna. Rasa ketakutan ketika melihat Aruna yang berdiri di sisi jembatan membuatnya langsung kelabakan. Ia yang kebetulan lewat jalan itu, mengenali mobil Aruna yang menepi di bahu jembatan itu. Lantas melihat Aruna yang tiba-tiba naik besi pembatas, membuatnya langsung was-was.
"Heh, kamu mau apa?" Juno kembali berteriak ketika Aruna hendak naik ke besi pembatas. Hal itu sukses membuat Aruna mengurungkan niatnya. "Biar aku aja yang nolongin kucingnya," lanjut Juno ketika Aruna sudah berpijak di lantai jembatan.
Aruna memperhatikan gerakan Juno yang cekatan menaiki besi pembatas dan mengambil kucing itu dengan hati-hati. Hingga kucing itu berhasil diselamatkan dan langsung lari ketika dilepaskan di atas jembatan. "Dasar kucing! Awas, ya, kalau ketemu main di sisi jembatan lagi!" teriak Juno memarahi kucing itu. Aruna hampir saja tertawa melihatnya, hanya saja ia tahan ketika Juno kembali menghadap kepadanya.
"Kamu nggak papa?" Juno bertanya sambil menangkup kedua bahu Aruna. Raut wajahnya terlihat khawatir.
Tidak lantas menjawab, Aruna malah melirik pada kedua tangan yang menempel di bahunya. Juno yang paham langsung menarik mundur tangan itu. "Maaf," sesal Juno sambil menyengir.
Aruna tersenyum pelik, "Nggak apa-apa. Makasih udah nolongin kucing itu," seru Aruna. Hening sesaat. Hanya suara kendaraan bermotor yang kebetulan lewat menjadi pengisi suara di atmosfer yang melingkupi mereka saat ini. Juno merasa malu karena dirinya telah salah menerka, ia mengira jika Aruna ingin melenyapkan nyawanya dengan cara terjun bebas dari jembatan itu. Suasana jadi mendadak canggung. Juno dan Aruna terlihat sama-sama bingung.
"Kalau begitu aku duluan, ya." Aruna berkata lebih dulu setelah keheningan tercipta beberapa saat.
"Aruna," panggil Juno sebelum Aruna berbalik badan dan pergi.
"Iya," sahut Aruna.
"Kamu ... kamu beneran nggak apa-apa, 'kan? Mata kamu ... kayak abis nangis gitu." Juno bertanya dengan hati-hati. Ia takut jika Aruna tidak suka diselidiki.
Seulas senyuman terbesit di bibir Aruna. Hal itu membuat Juno sedikit lega. Setidaknya Aruna tidak bersikap ketus kepadanya. "Aku nggak apa-apa." Jawaban yang sama masih Aruna lontarkan.
Juno menatap Aruna tidak percaya. Raut wajahnya tidak menunjukkan jika dirinya sedang baik-baik saja. Namun, Juno tidak berani untuk mengungkitnya.
"Ehm ... apa aku boleh tahu tempat tinggal kamu? Kemarin aku ke rumahmu yang dulu, tapi yang nempatin bukan kamu. Katanya rumah itu udah dijual kepadanya."
"Iya, udah kujual buat bayar hutang ganti rugi sama seseorang."
Juno terdiam sesaat, sepertinya dia tahu orang yang Aruna maksudkan. Apalagi melihat perubahan raut wajah Aruna yang sepertinya kesal. "Maaf, ya. Aku udah membuat kamu kehilangan rumah," sesal Juno kemudian.
"Iya, aku udah maafin. Lagian itu memang salah aku, kok. Udah nabrak mobil kamu."
"Jadi, sekarang kamu tinggal di mana?" tanya Juno lagi.
"Aku tinggal di–" Aruna menghentikan ucapannya ketika ingat jika dia tidak boleh berurusan lagi dengan Juno, jadi untuk apa lelaki tahu alamatnya di mana. "Buat apa kamu tahu tempat tinggal aku? Kita udah nggak punya urusan apa-apa lagi." Akhirnya Aruna berkata demikian.
Juno membeku, dia tidak bisa menjelaskan perasaannya sekarang. Waktu itu ia sudah menghina Aruna di depan Alfath, dan dengan jelas mengatakan bahwa ia menyesal sudah mencintai Aruna waktu itu. Namun, sekarang keadaannya sudah berbeda. Juno sudah tahu tentang alasan kenapa Aruna selalu menolaknya. Dan alasan kenapa dia berbohong menjadi pacarnya Alfath. Kali ini, Juno akan berusaha untuk meruntuhkan tembok keegoisan yang menghalangi Aruna untuk merasakan jatuh cinta. Itu janjinya.
"Ada apa lagi?" Aruna bertanya sambil menelengkan kepala dan melipat tangannya di depan dada. Bersikap acuh kembali pada Juno.
Juno bersandar di pintu mobil, sikapnya yang tengil membuatnya ingin kembali berbuat usil. Apalagi kala berhadapan dengan Aruna yang tengah dirundung duka. Juno seolah mendapatkan semangat agar membuat perempuan itu kembali ceria.
"Aku nggak akan maksa kamu lagi, kok," ujar Juno. "Tapi secepatnya aku akan tahu sendiri." Kalimat keduanya hanya terucap dalam hati. Sambil menyengir Juno menatap Aruna.
"Kalau nggak mau maksa, awas! Aku mau pulang," seru Aruna.
"Aku cuma mau minta maaf dengan perkataanku waktu di kafe itu. Aku nggak sengaja ngatain kamu itu tukang sihir. Dan ... aku udah tahu kamu bukan pacarnya Alfath."
Aruna memutar kedua bola matanya merasa malas. Pembahasan itu tidak ingin Aruna dengar. Keterangan Putri waktu itu sudah membuatnya yakin jika Juno pasti tahu tentang kebohongannya, tetapi agar Juno segera menyingkir dari mobilnya Aruna harus menjawab lelaki itu. "Iya, aku udah maafin. Sekarang, udah bisa minggir?" usir Aruna lagi.
Juno menggelengkan kepalanya. "Satu lagi, aku mau jadi teman kamu. Boleh, ya?" pinta Juno.
Kening Aruna mengernyit dalam. Selama ini bukannya mereka sudah berteman. "Bukannya selama ini kita udah berteman? Aku sudah memanggilmu tanpa embel-embel panggilan 'Pak'. Itu berarti kamu itu temen aku," pungkas Aruna.
"Nggak, aku mau posisiku kayak Alfath. Temen deket kamu. Yang bisa kamu jadikan tempat bersandar dengan keluh kesah yang kamu rasakan."
"Semua posisi temanku itu sama. Tidak ada yang spesial di hati aku. Lagian, apa yang Chef Al katakan sama kamu? Sehingga bisa bikin kamu berubah kayak gini? Apa dia menceritakan tentang masa lalu aku sama kamu?" Aruna menilik Juno dengan tatapan curiga. Alfath satu-satunya orang yang dia percaya. Bukan satu, melainkan dua dengan dua orang dengan Putri. Namun, Putri tidak masuk hitungan karena kepolosan dia sebagai anak kecil. Aruna juga bercerita pada Putri hanya garis besarnya saja, bahkan Putri tidak tahu dengan yang namanya Alfath. Lalu Alfath, apa sekarang dia sudah berkhianat?
Juno menggaruk keningnya tanda kebingungan. Sepertinya dia kelepasan bicara tentang kejujuran Alfath kepadanya. Lebih tepatnya, memaksa Alfath untuk berkata jujur tentang Aruna.
"Dia nggak bilang sesuatu yang buruk tentang kamu, kok. Dia cuma bilang kalau kalian pernah dekat waktu di Singapura. Itu aja." Juno tidak sepenuhnya berbohong. Hal itu juga diceritakan oleh Alfath.
Walaupun sedikit ragu, Aruna memilih untuk percaya. "Baiklah, aku percaya. Jadi sekarang, tolong menyingkir dari mobil aku. Aku mau pulang, Juno." Aruna memelas, ia sampai mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Memohon agar Juno pergi dari hadapannya.
"Jadi, kita berteman?" Juno mengulurkan tangannya mengajak bersalaman pada Aruna. Aruna masih diam saja, menurunkan tangannya dan menatap tangan Juno heran. Sejurus kemudian ia pun menyambut tangan Juno sambil tersenyum pelik. Namun, Juno malah menarik tangan Aruna hendak dihadiahi kecupan manis. Aruna sontak menarik tangannya yang nyaris menempel di bibir Juno.
"Apaan, si?" ketus Aruna, walaupun tidak bisa dipungkiri perlakuan itu membuatnya sedikit malu.
"Seorang teman itu nggak pernah bersikap ketus sama temannya," pungkas Juno dengan senyuman termanis yang dia punya. Lalu menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari pintu mobil Aruna. "Silakan, naik! Aku nggak akan ngalangin kamu lagi. Hati-hati, ya!" tambah Juno sambil melambaikan tangannya. Aruna tidak mau berlama-lama dengan Juno. Bisa berbahaya dengan kesehatan jantung dan hatinya. Lekas ia masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobil itu agar pergi sana.
...***...
...Mohon maaf, bab kemarin nyangkut dan baru lulus hari ini. Dukung terus Aruna, ya. Dan ikutan giveaway novel ini. 😊...