
...***...
Rinai hujan membersamai perjalanan Juno dan Aruna. Mereka tidak melakukan perbincangan apa-apa setelah beberapa saat mobil Aruna melesat di jalan raya. Aruna terlalu fokus mengendara, dan Juno sibuk merasakan rasa perih yang mendera pipinya. Sesekali ia mendesis kesakitan, tetapi Aruna sama sekali tidak menunjukkan rasa simpati. Perempuan itu seolah mendadak tuli, ia tidak mau terlalu perhatian kepada seorang laki-laki.
"Aruna." Panggilan dari Juno membuat Aruna menoleh sebentar, lalu kembali menatap ke depan.
"Iya, ada apa?" tanya Aruna, tanpa melihat ke arah Juno.
"Ehm ... itu, kamu nggak ada niatan buat ngobatin lukaku, gitu?" tanya Juno sedikit ragu. Ia takut Aruna akan menolak permintaannya.
"Aku nggak bawa obat-obatan. Kamu mau aku antar ke dokter aja?" tanya balik Aruna.
Juno menggelengkan kepala. "Nggak usah, aku maunya kamu obatin dengan sihir."
"Apa? Sihir? Kamu masih berpikir kalau aku tukang sihir?" Aruna mulai menampakkan tanduknya. Perkataan ambiguitas Juno sedikit menusuk hatinya.
"Nggak gitu. Maksud aku ... dulu bukannya kamu pernah nolongin Putri pake sihir itu juga waktu dia terluka?"
Aruna mengernyit, sejenak berpikir tentang sihir yang dikatakan oleh Juno.
"Itu, loh. Yang waktu di minimarket itu. Kamu pernah bantuin ngobatin lukanya dia, kan?"
Aruna berhasil mengingat kejadian itu berkat penjelasan Juno berikutnya. Ia ingat, waktu itu ia juga bertemu Juno di sana. "Kamu lihat semuanya?" tanya Aruna.
"Aku nggak sengaja lihat," kilah Juno.
"Itu cuma candaan buat anak kecil. Gitu aja percaya!" Raut wajah Aruna tiba-tiba muram. Jika mengingat tentang sihir cinta yang dimilikinya, ia pasti akan teringat dengan sang mama.
"Tapi waktu itu, Putri sangat yakin jika sakitnya benar-benar hilang." Juno berkata serius. Sampai-sampai dia memiringkan duduknya untuk menghadap Aruna.
Ekor mata Aruna melirik ke arah Juno, helaan napasnya terlontar kasar ke udara. "Pantas selama ini kamu selalu nyangka aku ini tukang sihir. Ternyata gara-gara itu," dengus Aruna.
"Jadi ... beneran nggak bisa?" tanya Juno sedikit kecewa. Padahal ia juga ingin disentuh oleh Aruna dan dibacakan sihir cinta setelahnya.
"Nggak, lah. Heran aku sama kamu. Seorang CEO muda terkenal, tampan, dan berintelektual, masih saja percaya sama hal gituan."
"Eh, jadi pandangan kamu selama ini kayak gitu sama aku?" Binar ketidakpercayaan terpancar dari mata Juno. Baru kali ini, ia mendengar Aruna memujinya secara langsung. Membuat Aruna kelabakan, karena baru tersadar jika dirinya keceplosan. Ia menggenggam erat setir kemudinya guna menghilangkan rasa canggung yang menyerangnya.
"Semua orang juga bilang kayak gitu," sanggah Aruna kemudian.
Juno tersenyum tipis. "Aku nggak peduli sama tanggapan orang, yang penting tanggapan kamu membuat aku merasa pria paling beruntung di dunia."
Ungkapan Juno hanya didengarkan oleh Aruna, tanpa dibalas apa-apa. Ia sedang fokus memutar setir kemudinya lebih kencang ketika hendak berbelok dan berhenti di depan gerbang rumah besar orang tuanya Juno. "Udah nyampe, tuh. Cepat turun!"
"Eh?" Juno tercekat. Terlalu fokus melihat ke arah Aruna, sehingga dirinya tidak sadar sudah sampai di depan rumahnya. "Kenapa mobilnya nggak masuk ke halaman aja, Aruna?" tanya Juno merasa heran.
Aruna sedikit memiringkan tubuhnya menghadap Juno. "Tuan Juno, aku nggak mau mobil aku tertahan lagi di dalam seperti waktu itu. Jadi, silakan turun di sini aja, oke!" katanya waspada. Terlalu banyak dijahili oleh lelaki itu, membuat Aruna sedikit waspada dengan kelakuan Juno.
Juno mencebik. "Inget aja, sih. Lagian ditahan juga disuruh dimakan," gerundel Juno dengan memasang wajah masam.
"Aku hanya waspada," tukas Aruna sambil melipat tangannya di depan dada, "ya, udah. Tunggu apa lagi? Cepetan turun!" usir Aruna lagi.
Juno memutar kembali otaknya. Ia masih mau berlama-lama dengan Aruna. Hingga satu ide cemerlang kembali tebersit di benaknya. "Aku akan turun, kalau kamu mau ngobatin luka aku dengan sihir kamu itu," ucapnya memberikan syarat.
"Aku udah bilang, itu hanya candaan. Nggak percaya banget, deh!" seru Aruna meyakinkan, tetapi Juno malah menyandarkan tubuhnya dengan santai di sandaran jok mobil yang dia duduki. Membuat Aruna greget sendiri. Kedua tangannya mengepal dan giginya bergemelatuk menahan kesal.
"Juno! Katanya kamu nggak bakal maksa aku lagi, tapi ini apa? Sikap kamu mulai kekanakan lagi," geram Aruna sedikit membentak.
Juno menoleh ke arah Aruna. Sorot matanya tersirat sebuah kekhawatiran. Juno sedikit menyesal telah bersikap seperti itu. Hal itu malah mengundang rasa benci Aruna pada kaum adam bangkit kembali. Akhirnya, Juno memulai aktingnya lagi.
"Aduh! Sakit banget, Na! Rasanya panas, sampe kepalaku juga pusing banget." Juno meringis sambil memegang kepalanya. Membuat Aruna sedikit khawatir melihatnya.
"Kamu nggak lagi pura-pura, kan?" tanya Aruna memastikan.
"Aduuuh ... beneran sakit, Na." Juno semakin mendramatisir keadaannya. Aruna pun kalang kabut dan refleks melepaskan seatbelt yang melingkar di tubuhnya.
"Aku bantu kamu turun, ya! Atau aku turun duluan minta bantuan sama satpam kamu buat gendong kamu masuk ke dalam biar cepet diobati." Aruna membuka pintu mobilnya, tetapi saat pintu terbuka secelah, ia dikejutkan oleh Juno yang kembali berbuat ulah.
"Aaahh, nggak tahan lagi, deh. Ini sakit banget!" Juno mengerang semakin kencang. Membuat Aruna kebingungan.
Tanpa pikir panjang, perempuan itu menempelkan tangannya di kepala Juno, lalu memejamkan matanya seperti mentransfer kekuatan sihir dalam tubuhnya. Juno yang sempat memejamkan matanya ketika berpura-pura kesakitan, membuka sebelah matanya untuk mengintip apa yang dilakukan Aruna kepadanya. Juno memang merasakan rasa sakit yang berdenyut pada luka di pipinya, tetapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan sikap Juno yang terlalu lebay mendramatisir keadaan.
Merasakan ada yang berbeda setelah Aruna menyentuh kepalanya, Juno membuka kedua matanya bersamaan. Menatap heran kepada Aruna yang juga melakukan hal yang sama.
"Gimana? Masih sakit?" tanya Aruna masih menampilkan wajah khawatir.
Juno masih membisu. Kepalanya masih mencerna keanehan yang dialaminya saat ini.
"Juno! Kamu nggak geger otak, kan?" Seruan Aruna tersebut berhasil menarik kesadaran Juno.
"Ah, iya. Aku udah nggak merasakan sakit lagi," ucap Juno di sela kebingungannya. Sebenarnya selama ini dia juga tidak percaya dengan kemampuan sihir seperti itu, tetapi sempat ragu setelah Aruna mengobati Putri tempo lalu. Dan sekarang, setelah dia merasakan rasa sakitnya berkurang, Juno yakin jika Aruna memang punya kekuatan.
"Syukurlah," ucap Aruna lega.
"Kamu benar-benar punya sihir buat nyembuhin orang, kan?"
Aruna tercekat, ia baru menyadari perbuatannya yang sudah terlewat. Selama ini dia tidak pernah menggunakan sihir itu untuk menghilangkan rasa sakit pada orang dewasa setelah mamanya meninggal dunia. Anak kecil bisa dibohongi dengan berkata itu hanya sebuah sugesti. Lalu Juno, apakah dia mau mengerti?
"Itu cuma sugesti," sanggah Aruna singkat. Lalu duduk tegak menghadap ke arah depan mobil bersiap untuk menyetir. "Cepet keluar! Aku mau pulang," seru Aruna mengusir Juno untuk kesekian kalinya.
Juno tidak punya alasan lagi untuk berlama-lama di dekat Aruna. Ia pun terpaksa turun dari mobil. "Makasih, ya." Juno sedikit membungkuk untuk mengucapkan kata terima kasih kepada Aruna setelah berada di luar mobil.
Aruna hanya mengangguk mengiyakan, lalu melajukan kembali mobilnya meninggalkan Juno sendirian. Seulas senyuman tidak pernah lepas menghiasi bibir Juno. Tangannya menyugar rambut perlahan sambil menyesap aroma Aruna yang tertinggal di sana. Juno seperti orang gila yang kehilangan akal sehatnya karena cinta.
Setelah bayangan mobil Aruna tak terlihat lagi, Juno pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya. Tanpa dia sadari, seseorang memperhatikan kelakuannya dari kejauhan sedari tadi. Kejadian saat Aruna menyentuh kepala Juno di dalam mobil juga terekam oleh penglihatan orang tersebut. Lampu kabin yang otomatis menyala ketika pintu mobil sedikit terbuka, membuat seisi kabin dapat dilihat jelas dari sisi luar kaca mobil.
Orang tersebut terlihat geram dengan mengepalkan kedua tangannya. Napasnya kian tersengal menahan rasa kesal. Ia yang hendak bersilaturahmi dengan orang tuanya Juno malah menyaksikan adegan yang membuatnya kepanasan.
...***...
...Siapa, tuh? Kalau bisa tebak, kukasih double up, besok. InsyaAllah, ya ðŸ¤...
...Maafkan, ya, belum bisa update rutin. Kerjaanku lagi banyak, karena selain tukang nulis aku juga merangkap jadi tukang kuli. Alhamdulilah bisa beli makan, selagi nunggu tulisan dapat cuan. Tapi entah kapan, sampai lebaran tahun depan juga kayaknya kagak bakalan ðŸ˜...
...Jadi curhat, kan? 🤣...
...Pokoknya, intinya makasih buat yang tetap setia. Semoga ke depannya kerjaaku nggak terlalu nguras tenaga. Jadi aku punya banyak waktu buat ngehibur kalian semua. Love you 🥰...