Magic Love

Magic Love
Kezia 2




...****...


Ucapan itu begitu jelas terdengar oleh Kezia. Rasanya seperti petir di luar sana, menyambar relung hatinya hingga hancur berkeping-keping. Ingin sekali Kezia melemparkan cincin itu ke wajah Juno. Berani sekali lelaki itu mempermainkan perasaannya saat ini. Tidak tahu, kah, dia? Jika Kezia sudah memendam rasa untuknya begitu lama?


"Zee?" Juno menatap Kezia heran. Apalagi ketika melihat butiran bening meluncur tanpa ragu dari pelupuk mata perempuan itu.


"Kenapa, Jun?" Kezia bertanya dengan nada tertahan emosi. Lelehan air matanya akhirnya tumpah ruah membanjiri pipi.


"Kamu yang kenapa, Zee? Kenapa nangis?" tanya balik Juno dengan kening yang berkerut bingung.


"Kenapa harus Aruna? Kenapa harus dia yang menerima cincin ini? Kenapa bukan aku?" Kezia meraung, membuka paksa cincin yang ia kenakan lalu menyimpannya di telapak tangan Juno dengan kasar.


Juno melongo menatap Kezia. Ada apa dengan perempuan itu? Belum sempat Juno melontarkan pertanyaannya, suara tinggi Kezia sudah kembali menyambar telinganya.


"Kamu tahu, Jun? Bertahun-tahun aku menunggu kamu. Berulang kali aku sabar melihat kamu selalu dideketin sama perempuan cantik. Aku tetap menunggu hati kamu, berharap kamu bisa melihat cinta yang aku punya, dan memilih aku sebagai pelabuhan terakhir kamu. Aku, Juno ... aku! Yang selalu ada di dekat kamu. Kenapa kamu nggak milih aku? Kenapa harus Aruna? Kamu baru kenal dia beberapa bulan yang lalu, sedangkan aku sudah berada di sisi kamu semenjak kita SMA, Juno! Apa kamu nggak punya sedikit pun perasaan cinta buat aku, hah?" Kezia meraung menumpahkan segala kemelut yang menaungi hatinya selama ini.


Juno tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya terasa berat untuk berbicara. Ia memang merasakan hal yang berbeda dari sikap Kezia selama berteman dengannya, tetapi Juno benar-benar menganggap Kezia hanya sebatas sahabat saja.


Tangisan Kezia semakin jelas terdengar. Beruntung meja yang mereka pesan adalah meja pengunjung VVIP yang berjauhan dengan meja pengunjung biasa restoran tersebut. Sehingga tangisan Kezia tidak terlalu menganggu ketenangan pengunjung restoran lainnya.


Cukup lama keduanya tak saling melontarkan kata. Kezia sibuk dengan tangisnya, dan Juno sibuk menyusun kalimat yang benar, agar Kezia mengerti dengan perasaannya saat ini.


"Zee, aku minta maaf, ya!" Suara Juno menghempas kebisuan di antara mereka. Kezia hanya mendelikkan mata tanpa mau menjawab apa-apa.


"Kata mami aku, perasaan cinta itu nggak bisa dipaksain. Dia akan datang sendiri tanpa harus dicari, dan akan melekat walaupun tidak saling dekat. Aku juga nggak tahu kenapa hatiku harus memilih Aruna. Yang pasti, ketika di dekat dia hatiku merasa bahagia."


Juno berkata sambil menerawang jauh membayangkan wajah Aruna, disertai senyuman tipis yang membuat hati Kezia semakin teriris-iris. Kezia tidak tahan lagi, tubuhnya bangkit lalu mendorong kursi yang ia duduki.


"Kamu mau ke mana?" tanya Juno, mencekal tangan Kezia.


"Aku mau pulang," jawab Kezia dengan sesekali sesegukan sisa tangisannya yang panjang.


"Di luar masih hujan lebat. Bahaya kalau mengendara di hujan lebat seperti itu."


"Aku bisa pulang naik taksi." Kezia tetap keras kepala.


"Oke, aku antar kamu pulang," seru Juno.


"Nggak usah! Aku lagi sebel sama kamu. Aku mau sendiri!" sentak Kezia, Juno sedikit terperanjat dan langsung melepaskan tangan Kezia.


"Kalau gitu, hati-hati, ya!"


"Brengsek! Dasar lelaki nggak punya hati! Lelaki nggak peka! Kenapa dia langsung setuju aja?" Kezia memaki dalam hatinya. Kalau saja perasaan cinta itu bisa hilang dalam waktu hitungan menit, mungkin sekarang wajah Juno sudah habis babak belur terkena sabetan sepatu high heels milik Kezia.


...***...


Kezia yang tengah patah hati bingung mau mencari tempat bersembunyi. Ia pun menghubungi Devan untuk menemaninya saat ini. Devan sedang berada di kafe Homeless Child, dan menyuruh Kezia datang ke sana untuk menemui dirinya.


"Lo kenapa?" tanya Devan setelah Kezia sampai di kafe tempatnya berada.


Kezia tidak bisa menyembunyikan bekas tangisan yang menempel di kelopak matanya yang terlihat sembab. Namun, ia menolak untuk bercerita kepada Devan tentang rasa sakit hatinya sekarang.


"Aku mau minum. Di sini ada minuman yang bisa bikin aku melupakan kejadian yang nyebelin, kan?"


Devan mengernyitkan keningnya. "Ada," jawabnya masih dipenuhi tanda tanya. "Tapi lo baik-baik aja, kan?" tanyanya lagi masih penasaran.


"Jangan banyak tanya, deh! Cepet ambilin minumannya!" sentak Kezia tidak ingin diwawancara. Devan hanya bisa menghela napasnya, sebelum dirinya meminta anak buahnya untuk membawakan minuman memabukkan ke ruangan privat pemilik kafe. Kezia yang memilih tempat itu, karena dirinya tidak mau menjadi pusat perhatian dengan wajahnya yang sembab itu.


Di saat Kezia hendak menuangkan minuman ke dalam gelap kosongnya. Tiba-tiba saja ponsel Devan berbunyi nyaring. Ia pun segera mengangkat panggilan tersebut. "Iya, Ma," seru Devan pada seseorang di seberang telepon yang ternyata ibu kandungnya.


Ia menoleh pada Kezia yang sepertinya mendengar perkataannya barusan, jika dirinya harus pergi sekarang. "Zee," panggilnya dengan tampang menyesal.


"Aku tahu, pulang aja sana! Biarin aku sendiri di sini. Aku nggak bakalan nyuri, kok. Setelah selesai minum ini, aku bisa pulang sendiri."


Devan sedikit khawatir, bagaimana jika Kezia mabuk? Akan sangat berbahaya jika perempuan itu pulang sendirian. "Gue antar lo pulang sekarang aja, ya. Bawa aja minumannya! Lo bisa minum sepuasnya di rumah."


"Nggak mau, gue mau minum di sini," tolak Kezia sambil menenggak minuman pada gelas pertamanya. Perempuan itu sedikit menjulurkan lidahnya merasakan rasa aneh dari minuman yang baru pertama kali masuk ke tenggorokannya.


Devan mengacak rambutnya frustrasi. Perempuan jika tensinya sedang tinggi, sulit sekali diajak kompromi.


Di sela kebingungan Devan, datanglah Abizar yang baru pulang dari kegiatannya di luar. "Hey, Bi," sapa Devan sambil melambaikan tangannya ke arah Abizar.


Abizar berjalan mendekati Devan dan Kezia. Pandangannya tertuju pada perempuan asing yang baru pertama kali dia lihat. "Lo bawa cewek ke sini, Bang? Gue laporin Bang Alfath, loh. Tempat rahasia kita dipakai buat mesum sama Bang Devan."


Uhuk! Uhuk!


Kezia terbatuk mendengar penuturan Abizar. Hatinya yang sudah panas kembali terbakar. "Hey, anak kecil! Kalau ngomong dijaga, ya! Aku di sini cuma numpang minum. Devan juga mau pulang," gerutu Kezia memarahi Abizar.


"Eh, siapa yang anak kecil? Gue?" Abizar menunjuk wajahnya sendiri.


"Iyalah, siapa lagi?" Ucapan Kezia semakin menyulut api.


"Woy! Napa jadi berantem, si?" Devan menjadi penengah dan melerai pertikaian yang hampir saja terjadi.


Setelah semuanya terdiam, Devan menepuk pundak Abizar lalu berkata, "Gue nitip Kezia, ya! Kalau dia mabuk tolong anterin dia pulang."


"Aku nggak bakalan mabuk," tukas Kezia.


"Iya ... gue, kan, bilangnya kalau," tegas Devan.


"Gue juga ogah nganterin dia!" Abizar juga tidak mau mengantarkan Kezia. Devan menghela napas kasar.


"Lo anterin dia pulang, nanti gue kasih lo imbalan," titah Devan memberikan penawaran kepada Abizar. Jika saja Alfath tidak sedang ada urusan keluarga. Devan tidak mungkin meminta bantuan pada lelaki tajir, tetapi perhitungan ini.


"Imbalannya apa dulu?" tanya Abizar sedikit tertarik.


"Pokoknya ada. Lo pasti suka," ujar Devan, lalu mengambil kunci mobilnya di atas meja dekat minuman Kezia. "Gue pulang dulu. Emak gue udah nunggu," pamit Devan.


"Zee, pulang sama Abi, ya. Jangan nyetir sendiri!" Devan beralih pada Kezia, tetapi tidak mendapatkan respon apa-apa. Dia pun pergi setelah menitipkan Kezia kepada Abizar.


...***...


Malam panjang berlalu dengan segala impian. Hadir dalam balutan mata yang terpejam penuh kedamaian. Dering suara ponsel yang menggema di satu ruangan mengganggu mimpi penghuninya. Kedua matanya terbuka secelah, menyesuaikan cahaya lampu yang menguar dan menusuk bola matanya.


Setelah berhasil membuka matanya yang terlihat sipit karena bekas menangis. Dering ponsel itu sudah tidak tersenyum lagi, mungkin si penelpon sudah kesal karena tak kunjung diangkat oleh si empunya ponsel. Kezia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut dan pusing. Sesekali mendesis merasakan sesuatu yang janggal di area bawah sana. Sakit sekali! Kezia berpikir, mungkin itu efek dari dirinya yang sering menunda buang air kecil.


Namun, saat hendak menyibak selimut yang dia pakai, sebuah tangan kekar tiba-tiba memeluknya dari arah belakang. Kedua matanya yang menyipit pun seketika melebar. Lalu, menolehkan kepalanya perlahan ke arah belakang. Kezia begitu terkejut ketika melihat sosok laki-laki yang baru dia kenal semalam sedang tertidur manis sambil memeluk dirinya. Dan yang lebih mengejutkan adalah, mereka tidur dalam selimut yang sama dan tanpa busana.


"Aaaaaaah ...." Kezia sontak terperanjat duduk sambil menjerit histeris. Menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh hanya menyisakan kepalanya yang terbuka. Membuat sosok lelaki yang bernama Abizar terperanjat dan duduk tegak juga. Kezia malah menambah nada oktaf teriakannya, karena Abizar duduk tidak memakai celana.


...***...



...Mon maaf, ini harusnya up bareng bab sebelumnya. Ternyata othornya nggak kuat dan ketiduran pas mau up yang ini. Jadi telat, deh....


...Udah double up, ya, sesuai janji. Karena jawaban kalian bener semua 😍...


...Jangan travelling, ya, baca bab ini. 😂...