Magic Love

Magic Love
Minta Bantuan




...***...


"Untuk apa aku marah sama kamu? Semalam HP-ku memang sengaja aku matikan, karena aku nggak ingin diganggu. Untuk Abizar, aku memang nggak mau dijemput dia, karena tidak mau merepotkan orang lain saja. Ada apa sama kamu? Bukannya kamu sedang di Surabaya? Kenapa pagi-pagi buta sudah ada di sini?" Aruna menyangkal kata hatinya, sekaligus mencecar Juno dengan pertanyaan yang membuatnya penasaran. Melihat kondisi Juno yang terlihat kelelahan, Aruna juga merasa kasihan.


Juno menghela napas lega. Ia menurunkan kedua tangannya dari bahu Aruna. Walaupun dalam sudut hatinya ada sedikit rasa kecewa. Juno pikir Aruna marah karena tidak mau ditinggalkan olehnya, marah karena dirinya pergi tanpa bertemu lebih dulu, dan marah karena Aruna cemburu.


Nyatanya itu tidak terjadi. Kepulangannya yang mendadak seolah tidak berarti. Bahkan Aruna tidak senang sama sekali. "Aku ... aku hanya khawatir kamu marah sama aku. Aku takut kamu berpikiran buruk tentang aku, lalu membenci aku." Juno tersenyum getir. Ia tidak ingin membuat Aruna berpikir buruk tentangnya. "Kalau begitu, aku mau pergi lagi. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di Surabaya," pamit Juno kemudian.


Aruna tercengang. Lelaki itu baru saja datang dengan wajah kelelahan, dan sekarang dia berkata akan langsung pulang. Jujur, dia sedikit terkesan dengan kelakuan Juno yang tiba-tiba datang kepadanya, hanya karena merasa khawatir dirinya akan marah. "Apa kamu nggak capek? Kamu baru datang, terus langsung pergi lagi ke sana? Lihat mata kamu! Sepertinya kamu juga kurang tidur. Istirahatlah dulu!" ujar Aruna khawatir.


Juno menarik bibirnya segaris, ia senang melihat Aruna bersikap manis. "Baiklah, kalau kamu maksa. Aku mau istirahat sebentar di sini," ujar Juno dengan percaya diri.


Aruna mencebik, "Siapa yang maksa dia? Aku hanya kasihan," cicitnya membatin. Namun, sebelum perempuan itu melayangkan protes. Tubuh Juno sudah ditarik masuk oleh Putri.


"Ayo, masuk, Om! Om mau istirahat di mana? Di kamar aku, di ruang tamu, atau di kamar Kak Aruna?" celoteh Putri sambil menarik tangan Juno dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Jelas itu didengar oleh Aruna. Perempuan itu pun menghadang langkah mereka. "Jangan nggak tahu diri! Istirahat saja di sofa. Ini bukan hotel yang seenaknya bisa pilih tempat," tegas Aruna sambil melipat tangannya di depan dada. Pura-pura marah.


"Kak Aruna jangan pelit-pelit sama Om Juno! Dia, kan, udah baik selama ini sama kita." Juno mengangguk membenarkan perkataan Putri. Sedangkan Aruna menurunkan tangannya sambil mengernyit dahi. Lantas mengulas senyum tipis sebelum berkata pada Putri.


"Putri, ini masih pagi, loh. Kamu nggak mau tidur lagi?" tanya Aruna lembut.


Putri menggelengkan kepalanya. "Putri nggak ngantuk lagi, Kak. Memangnya Kak Aruna mau tidur lagi?" tanya balik Putri.


Aruna menggeleng. "Nggak, Sayang. Kakak mau lanjutin kerjaan Kakak yang semalam," jawabnya.


"Kamu bawa kerjaan ke rumah? Memangnya lagi ada masalah?" tukas Juno menebak.


Aruna berpikir sejenak, sepertinya Juno memang bisa diandalkan dalam hal ini. Terlebih kerja sama dengan perusahaan lelaki ini sangat diinginkan oleh pengusaha yang lainnya. Terutama ... Jackson—saingan papanya. Aruna yakin, Juno pasti bisa membantunya.


"Putri bisa ke kamar dulu, nggak? Ada yang mau Kakak bicarakan sama Om Juno," pinta Aruna pada adik angkatnya sambil mengusap kepala anak itu dengan lembut. Putri mengangguk menurut, lalu pergi ke kamarnya sesuai perintah Aruna. Aruna pun beralih lagi pada Juno.


"Aku juga belum yakin, ini tentang kasus penggelapan dana yang waktu itu aku ungkap. Ada kemungkinan jika pelakunya hanya difitnah. Jadi, aku mau menyelidikinya lagi," ungkap Aruna.


"Kenapa bisa begitu? Apa aku boleh membantu?" Juno menawarkan bantuannya. Sebagai orang penting dalam dunia bisnis marketing, tentu saja Juno mempunyai banyak koneksi agar masalah apa pun bisa cepat terselesaikan.


"Kalau boleh, aku mau minta tolong satu hal."


"Apa? Katakan saja!" seru Juno antusias. Ia sangat senang jika Aruna mau mengandalkan dirinya.


Juno sejenak berpikir untuk mengingat akan hal tersebut. "Sepertinya iya. Mereka mengajukan proposal teknis itu seminggu sebelum Suryafood mengajukan proposal teknis yang sama. Aku bahkan sempat bingung, kenapa dua perusahaan bisa mempunyai ide yang sama dalam waktu yang bersamaan. Makanya kami butuh waktu sedikit lebih lama untuk mengkaji dua proposal tersebut. Bagaimanapun juga, kami harus profesional. Mana yang terbaik, itulah yang akan kami ajak kerja sama."


"Sudah kuduga," tukas Aruna sembari menghela napas kasar.


"Kenapa? Apa yang kamu duga?" Juno semakin penasaran.


"Aku pikir masih ada pengkhianat dalam perusahaan Suryafood. Mereka mencoba membocorkan proposal kerja kami, dan menikung kami dari belakang."


"Apa kamu yakin?" tanya Juno memicing. Dia memang mencintai Aruna, tetapi dalam hal pekerjaan dan menyangkut kesejahteraan banyak orang, Juno harus bersikap profesional.


"Aku juga nggak tahu, makanya aku mau selidiki dulu," ujar Aruna sembari menekuk wajahnya.


"Gini aja. Aku coba bantu kamu cari celahnya. Aku akan memberikan undangan presentasi proposal pada perusahaan Suryafood dan perusahaan Jacksnack. Kita lihat, apakah presentasi Jacksnack akan sama dengan apa yang akan dipresentasikan oleh Suryafood. Kamu ngerti, kan, maksud aku?" Juno menaikturunkan kedua alisnya, seolah memberikan ide cemerlang kepada Aruna untuk menjebak siapa dalang di balik bakwan.


"Ya, aku mengerti. Makasih, Juno." Aruna berjingkrak senang, lalu memeluk Juno tanpa dia sadari.


Juno mematung, merasakan desiran hangat yang mengalir memompa jantung. Juno mengangkat kedua tangannya hendak membalas pelukan itu. Namun sayangnya, Aruna keburu tersadar dan melepasnya lebih dulu. Ia langsung mendorong tubuh Juno sedikit menjauh, lalu mundur beberapa langkah sambil mengigil bibir bawahnya.


"Ma–maaf. Aku terlalu bersemangat," ucap Aruna sambil tersenyum kikuk.


Juno mengalihkan tangannya yang hampir memeluk pinggang Aruna pada tengkuk lehernya yang tidak gatal. Rasanya kesal, karena kesempatan yang sangat jarang itu harus gagal. "Dilanjutin juga nggak apa-apa," cicit Juno pelan, tetapi masih bisa didengar oleh Aruna. Suasana canggung pun melingkupi atmosfer yang ada.


"Kalau gitu kamu istirahat dulu, deh. Bentar lagi subuh. Bukannya kamu mau balik ke Surabaya lagi?" Aruna mengalihkan pembicaraan. Agar suasana canggung itu segera menghilang.


"Iya, aku istirahat di sini, ya." Juno bergerak menuju sofa, dan mendaratkan bokongnya di sana.


"Aku ambilkan bantal dan selimutnya dulu." Setelah berkata seperti itu, Aruna segera pergi menuju kamarnya dengan perasaan malu. Juno pun begitu, ia menatap punggung Aruna dengan wajah sendu. Berharap yang membuatnya hangat bukanlah selimut yang Aruna tawarkan, melainkan hangatnya pelukan dari perempuan yang sangat dia rindukan.


...***



...


...Wah, kalau Juno udah maju, bakalan cepat kelar kayaknya 😁...


...Othor minta dukungannya. Like, komentar, dan kasih gift seikhlasnya. Favorit juga jangan lupa 😍...