
...***...
Semua perhatian tertuju pada Alfath, sedangkan pandangan Alfath tertuju pada Aruna. "Rere," gumam Alfath sembari melangkah mendekati perempuan itu.
Namun, tubuh Juno sudah bersiap untuk menghadang lelaki itu. Ia berdiri sebagai tembok pemisah antara Alfath dan Aruna. "Mau ngapain lo?" tantang Juno.
"Awas, ah! Aku mau ketemu sama Mas Al." Aruna hendak menerobos tubuh Juno, tetapi tubuh itu terlalu kokoh untuk dia terjang.
"Diem dulu, bisa, nggak, si!" sentak Juno. Aruna terpaku sambil mengerjap kaku.
"Bang, udah, Bang. Ikhlasin aja, Bang! Cewek ini bukan jodohnya Abang. Dia udah punya pacar. Pacarnya Bang Al." Kini giliran Abizar yang berkomentar.
Juno tersenyum sinis. "Lo percaya? Gue, sih, nggak. Kalau mereka pacaran, terus kenapa kemarin si Al nggak tahu rumahnya Aruna pas mau nganterin dia pulang? Pacar macam apa kayak gitu?!" sindir Juno dengan sarkas.
Alfath sepertinya baru mengerti dengan situasi saat ini. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman tipis. Tebersit sebuah ide cemerlang untuk memberikan pelajaran kepada si posesif itu. "Aruna memang pacar aku waktu di Singapura. Kami sempat bertengkar karena salah paham, lalu Aruna pulang ke Indonesia tanpa bilang. Dia mengganti nomor ponselnya. Kami hilang kontak setelah itu. Sekarang dia nemuin aku mungkin mau minta maaf. Iya, kan, Sayang?"
Astaga!
Aruna begitu terkesiap dengan pengakuan Alfath. Ia tidak pernah memberikan kode apa-apa terhadap lelaki itu agar berbohong tentang hubungan mereka. Apa yang dikatakan Alfath tidak benar sama sekali. Aruna jadi curiga jika Alfath salah paham tentang kebohongannya
"Masโ"
"Jadi, kalian benar pacaran?" Juno memotong perkataan Aruna yang hendak protes kepada Alfath. Lelaki itu memutar tubuhnya menghadap Aruna. Sorot matanya tersirat rasa kecewa. "Pantas saja kamu berpenampilan aneh kayak gini dan nolak aku waktu itu. Ternyata kamu sudah punya seseorang yang kamu cintai," tambah Juno lagi.
Aruna terhenyak, ia termangu menatap wajah Juno yang terlihat muram. Sepertinya lelaki itu percaya dengan ucapan Alfath barusan. Ada rasa kasihan, tetapi langsung ia hempaskan. Biarkan begini saja. Lebih baik jika Juno percaya.
"Maaf, aku sudah mengecewakan kamu." Kalimat itu yang terlontar dari mulut Aruna. Menambah rasa kecewa yang menyerang hatinya Juno.
"Lalu kenapa kamu kasih aku harapan dengan dua syarat itu?" Juno meradang. Nada bicaranya pun terdengar kencang. "Aku benar-benar kecewa sama kamu, Aruna. Aku kira kamu perempuan baik. Walaupun penampilan kamu terlihat kuno, aku mencintaimu dengan tulus." Setelah berkata seperti itu, Juno tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.
Ia menyugar rambut model side part-nya dengan kasar. Helaan napasnya terdengar berat seiring tawanya yang berhenti mendadak. "Aku memang bodoh. Bisa-bisanya aku jatuh cinta sama cewek macam kamu. Mungkin Devan benar, kalau aku udah dipelet sama kamu, Aruna."
Kening Aruna mengernyit mendengar itu. Ingin ia tertawa dengan kesimpulan yang dicetuskan oleh Juno. Di zaman modern seperti sekarang ini, apakah masih ada ilmu pelet semacam itu? Namun, sekali lagi Aruna hanya diam. Seolah membenarkan semua yang dikatakan oleh Juno.
Juno pergi dari sana dengan hati yang kecewa. Diikuti oleh pegawainya yang bernama Tika yang merasa tidak enak jika terus selalu berada di sana.
Juno sangat membenci dirinya sendiri. Kenapa dia harus jatuh cinta pada perempuan yang salah? Kenapa dia harus bertemu dengan Aruna? Untuk pertama kalinya dia jatuh cinta, dan pertama kalinya dia terluka karena cinta.
...***...
"Rere." Suara panggilan dari Alfath mengembalikan kesadaran Aruna. Dia yang tengah menatap punggung Juno yang menjauh dari pandangannya kemudian menoleh pada lelaki itu.
"Ayo, masuk!" ajak Alfath.
"Bang, nggak ada niat buat ngejar Bang Juno, gitu?" celetuk Abizar yang masih berada di sana. Ia takut jika persahabatan mereka hancur gara-gara kisah cinta segitiga.
"Buat apa dikejar? Dia bisa pulang sendiri. Dia hanya minum sedikit, nggak mungkin mabuk," ujar Alfath yang mengira jika Abizar mengkhawatirkan masalah Juno yang menyetir sendiri padahal dia sedang mabuk.
"Bukan gitu. Abang nggak mungkin memutuskan persahabatan kita cuma gara-gara cewek ini, kan?" Ucapan Abizar membuat Aruna tersentak dan menatap Abizar dengan perasaan bersalah. Memang karena dia kedua sahabat itu jadi terpecah belah.
"Kamu tenang aja. Aku bukan pacar Chef Alfath. Dia akan kembali pada kalian ketika dia sudah berhasil melupakan aku. Aku sengaja membenarkan perkataan Chef Al agar membuat Juno menyerah. Lebih baik Juno membenci aku sekarang, daripada dia harus terluka karena terlalu mencintaiku lebih lama. Karena aku nggak mungkin nerima dia."
Alfath tersenyum mendengar penuturan Aruna. Gadis itu masih tetap dengan pendiriannya. Aruna yang dia kenal dulu juga bersikap yang sama. Dulu, Alfath juga pernah menyaksikan kejadian serupa. Ketika ada seorang temannya yang mencintai Aruna dan menginginkan gadis itu untuk menjadi kekasihnya, Aruna dengan tegas menolaknya. Dia tidak mau memberikan harapan kosong kepada laki-laki yang mencintainya itu.
Alfath tahu alasannya, karena Aruna pernah bercerita tentang masalah keluarganya. Oleh karena itu, Alfath bersedia menunggu Aruna untuk membuka hatinya. Dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya selama ini kepada Aruna. Ya, Alfath memang mencintai Aruna semenjak mereka di Singapura. Namun, Alfath mencintai Aruna dalam diam. Dia takut jika Aruna akan menjauhinya ketika gadis itu tahu tentang perasaannya tersebut.
"Bener gitu, Bang? Jadi tadi ituโ"
"Udah, ah. Kita masuk dulu! Lo nggak usah khawatir. Walaupun cuma gue yang nggak punya hubungan darah sama kalian, gue udah nganggap kalian sodara gue juga. Seberapa hebat pun kita bertengkar itu nggak akan memperngaruhi persaudaraan kita. Setelah Juno sedikit tenang, gue akan jelasin sama dia. Dia pasti ngerti."
Abizar menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan. Persahabatan mereka memang sangat kental. Dimulai dari persahabatan orang tua mereka yang menjadi panutan. Persahabatan keempat pemuda tampan itu juga tidak dapat dipisahkan.
Kemudian Alfath membawa Aruna untuk masuk ke dalam. Mereka saling melepas kerinduan dengan bercerita panjang lebar tentang kenangan masa lalu. Hati Aruna sedikit tidak tenang walaupun dirinya tengah tertawa riang. Dibenci oleh Juno seperti tadi, membuat hatinya terasa nyeri.
...***...
Ketika rasa kecewa menguasai hati, hanya akan mendatangkan rasa benci. Hal itulah yang tengah dirasakan oleh Juno saat ini.
Juno menghentikan mobilnya di tepi jalan. Kepalanya terasa berdenyut dan memutuskan untuk beristirahat sebentar. Juno terlihat kacau. Wajahnya kusut dengan model rambut yang semrawut.
"Sadar, Juno, sadar! Lo harus menghilangkan mantra cintanya Aruna yang udah membuat lo tergila-gila sama dia. Masih banyak cewek lain yang bisa lo dapatin dengan mudah. Aruna cuma cewek kampungan yang tidak tahu diri, yang nggak pantes lo cintai." Sisi jahat Juno sedang mempengaruhi.
"Aruna nggak salah, Juno. Selama ini dia nggak pernah memberikan harapan palsu sama lo. Dia udah nolak lo dari awal. Lo aja yang maksa dia buat ngasih persyaratan." Sisi baik Juno ikut menambahkan rasa galau.
Juno mengerang frustrasi sambil mengacak rambutnya sendiri. Lalu membenamkan kepalanya di setir kemudi. Seolah terjadi pergulatan batin dalam hatinya. Juno merasa dilema.
...***...
...Nah, gimana nih, Readers. Aku buat Juno menyerah aja gitu, ya? ๐ ...
^^^Jangan lupa dukungannya. Maafkan semalam ketiduran. Niatnya mau double up, eh, malah tepar. ๐โบ^^^