
...***...
Aruna tiba di kontrakan pukul 18.00 WIB. Ia dan Aruna mampir sejenak untuk sekadar istirahat. Setelah itu, Aruna membereskan baju-bajunya untuk dia bawa ke rumah Putri.
"Kak Aruna bawa stok baju dulu aja, ya. Nanti barang-barang yang lain bisa dicicil. Waktu tenggang kontrakan ini masih empat bulan lagi. Kak Aruna udah bayar enam bulan dimuka, jadi nggak apa-apa kalau ditinggal juga," tutur Aruna sambil menutup resleting kopernya.
"Sayang, dong, Kak. Itu, kan, masih lama," cetus Putri. "Uangnya nggak bisa diambil lagi, gitu?" katanya lagi.
Aruna tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Nggak bisa, Sayang. Itu udah kesepakatan dari sebelumnya. Mau ditempati atau nggak, tetap bayar enam bulan," terang Aruna.
Putri mengangguk mengerti. Lalu mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan. Kamar yang berukuran sama seperti rumahnya itu bernuansa putih yang mendominasi. Menandakan jika Aruna adalah orang yang suka dengan kebersihan. Putri jadi ragu untuk membiarkan Aruna tinggal di rumahnya. Apakah perempuan itu akan betah di sana?
...***...
Malam pun kiat pekat. Cahaya rembulan yang biasanya menerangi alam, menghilang tertutup awan. Dari embusan angin yang terasa lebih dingin, Aruna berpikir malam ini akan turun hujan. Ia melebarkan langkahnya dan mengajak Putri untuk buru-buru melangkahkan kaki, ketika tengah berjalan di sebuah gang kecil menuju rumah anak itu.
Bukan pertama kali Aruna datang ke sana. Rumah Putri memang berada di dalam gang yang tidak bisa dimasuki oleh mobilnya. Jadi, terpaksa mobil itu ia titipkan di rumah penduduk yang paling dekat dengan jalan raya. Sebenarnya Aruna tidak ingin tinggal di sana, tetapi memaksa Putri untuk tinggal di rumah kontrakannya pun ia tidak tega. Tekad Putri terlalu kuat untuk menjaga rumah peninggalan neneknya.
"Duduk sini dulu, Kak! Putri mau beresin kamarnya dulu. Kakak tidur bareng Putri, ya!" pinta Putri setelah mereka masuk ke rumah itu. Menunjukkan sebuah kursi kayu yang terlihat lusuh. Aruna pun mengangguk tanda setuju. "Sebenernya ada dua kamar di sini, tapi yang satu nggak pernah dipake semenjak orang tua Putri meninggal dalam kecelakaan," terang Putri lagi.
Aruna tersenyum miris. Lagi-lagi ia harus melihat nasib Putri yang tragis. Namun, hebatnya gadis kecil itu tidak terlihat menangis.
Putri pun berlalu masuk ke kamarnya, dan Aruna menyapukan pandangannya ke sekitar ruangan. Rumah yang dihuni Putri dan neneknya memang jauh dari kata mewah. Bahkan lantainya saja masih beralaskan ubin berwarna merah. Itu adalah rumah tua, yang dibangun saat nenek dan kakeknya Putri masih muda. Belum ada perbaikan ataupun perawatan setelah itu, bahkan dinding-dindingnya pun sudah ada yang retak dan berlumut. Aruna meringis sedih. Sebelumnya, ia sudah tahu kondisi rumah ini. Namun, demi Putri dia rela tinggal di sini.
"Kak, kamarnya udah siap. Kakak udah boleh istirahat." Suara Putri membuat Aruna terjaga dengan pikirannya. Ia mengangguk lalu mengikuti Putri masuk ke kamarnya.
Kamar dengan luas 2x3m² itu hanya mempunyai satu dipan berukuran sedang, dan satu lemari pakaian. Tidak ada kipas angin, tetapi ada ventilasi udara dan celah di dinding yang mampu menyusupkan hawa dingin.
Aruna menelan ludahnya, saat ia mendudukkan tubuhnya di atas kasur rata yang tidak ada empuk-empuknya.
"Kakak istirahat duluan aja! Aku mau mandi dulu," kata Putri.
"Iya," sahut Aruna. Perempuan itu sudah mandi di kontrakannya tadi.
Namun, ketika Putri hendak pergi setelah mengambil handuk yang tergantung di dekat lemari. Aruna tiba-tiba menjerit sambil menaikkan kedua kakinya ke atas kasur.
"Aaaaah," teriak Aruna. Putri berjingkat kaget dan langsung berlari mendekati Aruna.
"Ada apa, Kak?" tanyanya penasaran.
"Itu ... ada kecoak," tunjuk Aruna sambil bergidik jijik.
"Oh, kecoak. Itu temen Putri. Biarin aja!"
"Hah? Temen gimana?" Aruna terperangah mendengar ucapan Putri. Keningnya mengernyit heran dengan sikap Putri yang terkesan wajar.
"Iya, dia temen Putri, karena dia sering main ke sini." Putri berucap dengan santai, lalu bergerak hendak pergi.
"Kamu mau ke mana?" Aruna menahan tangan Putri.
"Mandi," jawab enteng anak itu.
"Buang dulu kecoaknya!" titah Aruna merasa takut.
Aruna menarik napas panjang sebelum mengembuskannya dengan perlahan. Ia mencoba berkata lembut kepada Putri. "Putri, kamu tahu, nggak? Kecoak itu musuh bebuyutannya kakak. Dari mulai nenek buyutnya sampai cicitnya dengan bentuk yang sama mereka nggak suka sama kakak. Tuh, lihat! Dia, tuh, lagi nungguin kamu pergi buat nyerang kakak. Ayolah, Putri! Bawa keluar kecoanya, ya! Kakak takut." Aruna memohon pada Putri. Keringat dinginnya sudah merembes di pori-pori.
Putri sejenak berpikir. Jika ia bisa menganggap kecoak itu adalah temannya. Mungkin saja kecoak itu memang benar adalah musuhnya Aruna. Dan dia pun percaya.
"Iya, deh."
Aruna menghela napas lega, setelah melihat Putri menjinjing makhluk menjijikkan itu keluar dari rumahnya. Lalu bersikap waspada jika kemungkinan keturunan musuh bebuyutannya itu masih ada.
...***...
Esok paginya, sinar mentari menyusup lewat berbagai celah yang tersedia di kamar Putri. Aruna yang dari semalam masih terjaga masih dalam posisi yang sama. Duduk sambil melipat lutut penuh waspada. Ia benar-benar takut jika kecoak itu datang balas dendam. Apalagi semalam turun hujan. Tetesan air yang berasal dari genteng yang bocor menjadi tontonan Aruna semalaman.
Aruna perlahan turun dari tempat tidur. Ia tidak tega untuk membangunkan Putri yang masih mendengkur, karena kebetulan hari ini adalah hari libur.
"Kak Aruna, kok, nggak bangunin Putri." Aruna yang sedang membuat sarapan di dapur menoleh ke arah Putri yang berkata di belakangnya.
"Hari ini kamu libur, kan? Nggak apa-apa sekali-kali bangun siang," ujar Aruna sambil melanjutkan aktivitasnya membuat sarapan. "Mandi, gih! Sebentar lagi sarapannya siap."
"Kakak bikin sarapan apa?" Putri mendekat dan melongok pada masakan Aruna.
"Kakak lihat ada nasi, jadi kakak bikin nasi goreng aja," jawab Aruna. Walaupun Putri sudah tahu jawabannya dengan apa yang dilihatnya.
"Asyik ... Putri mandi dulu, deh." Putri berjingkrak kegirangan. Aruna tersenyum senang melihat anak itu sudah tidak larut dalam kesedihan.
Seusai sarapan, Aruna pamit kepada Putri untuk pergi sebentar. Papanya menelepon, menyuruhnya untuk datang ke rumahnya. Aruna sebenarnya malas pergi ke sana. Apalagi jika harus bertemu dengan ibu tiri dan kakak tirinya. Namun, karena papanya memaksa, Aruna tidak bisa menolaknya.
...***...
"Selamat datang, Sayang. Kamu apa kabar? Udah lama nggak ke sini. Mama kangen sama kamu." Erna–ibu tiri Aruna, sudah menyambut kedatangan Aruna di pintu rumahnya.
"Baik," jawab Aruna dingin. Ia melewati tubuh ibunya yang hendak memeluk tubuhnya. Namun, Erna tidak marah. Perempuan paruh baya itu hanya menghela napas lalu berbalik, dan menyusul Aruna yang mendahuluinya masuk ke dalam rumah.
"Mana papa?" tanya Aruna setelah sampai di ruang keluarga. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok papanya.
"Papa ada di kamar. Katanya lagi kurang enak badan."
"Rere." Suara bariton dari seseorang yang sedang dibicarakan menyita perhatian. Surya terlihat sedang berjalan menuruni tangga rumahnya.
Aruna dan Erna menoleh bersamaan. "Loh, Mas. Katanya sakit? Kenapa turun?" tanya Erna menghampiri suaminya, lalu memapahnya untuk melangkah.
Aruna menatap tubuh ringkih sang papa. Sudah seminggu ini dia tidak melihat papanya masuk kerja. Kesehatan Surya mulai memburuk akhir-akhir ini. Melihat itu Aruna pun jadi sedih.
"Papa sakit?" tanya Aruna. Surya diboyong oleh istrinya agar duduk di sofa.
"Cuma kecapean aja," jawab Surya sambil menyandarkan tubuhnya. "Duduk sini, Nak!" titahnya menepuk ruang kosong di sofa yang didudukinya.
Aruna menurut, dia pun duduk di tempat tersebut. Perasaannya jadi campur aduk. Ia bingung dengan sikap papanya yang tiba-tiba menyuruhnya pulang. Ada hal penting apa yang akan mereka bicarakan.
...***...
...Othor minta dukungannya 🙏...