Magic Love

Magic Love
Putus




...***...


Setelah kembali dari restoran, Aruna benar-benar menutup akses Juno untuk menghubungi bahkan menemuinya. Sebelumnya Aruna diberi tahu oleh Dena, jika Juno mengirimkan pesan singkat kepadanya, yang menanyakan keberadaan Aruna, dan kenapa ponselnya tidak menyala.


Aruna meminta Dena untuk tidak membahas perihal dirinya yang memergoki Juno tengah bermesraan dengan perempuan lain. Itu adalah urusannya dengan Juno. Pasti akan dia selesaikan, tetapi tidak sekarang. Hati Aruna masih sangat sakit kala mengingat betapa mesranya Juno dengan perempuan itu.


Akhirnya Dena membalas pesan Juno sesuai perintah Aruna, yang isinya Aruna sedang sibuk bekerja dan ponselnya mati kehabisan baterai, dan ia lupa membawa charger.


Ada sedikit kelegaan di hati Juno. Itu artinya, Aruna tidak marah kepadanya perihal tidak jadi makan siang bersama. Ia pun melanjutkan pekerjaannya seperti biasa tanpa ada beban apa-apa.


***


"Sayang!"


Gerakan tangan Aruna yang hendak membuka pintu taksi sontak terhenti. Kepalanya menoleh pada asal suara yang tidak jauh dari tempatnya. Dialah Juno, lelaki itu tampak keluar dari mobilnya setelah memarkirkan mobil tersebut di belakang taksi yang hendak Aruna tumpangi.


"Ngapain naik taksi? Ayo, naik sinโ€”" Suara Juno sontak tertahan. Tertelan oleh suara bising kendaraan. Keningnya berkerut dalam penuh kebingungan, karena kekasihnya malah bergegas masuk ke dalam taksi seolah tidak mendengar.


"Sayang ... Aruna ...!" Juno pun mengejar. Dengan langkah panjang ia mencoba menghentikan Aruna, tetapi usahanya gagal. Taksi itu langsung melaju tanpa memedulikan dirinya yang berteriak kencang.


"Mbak, lagi bertengkar, ya?" tanya sopir taksi yang seringkali melihat drama cinta seperti ini terjadi. Dan hebatnya, dia selalu menjadi saksi.


"Dia bukan siapa-siapa saya, Pak. Saya nggak kenal," seru Aruna ketus. Sopir itu pun tertawa.


"Tapi tadi dia panggil Mbak dengan panggilan 'sayang'. Masa iya nggak kenal?" sindir sang sopir.


"Bapak bisa fokus menyetir aja, nggak? Kalau nggak saya turun di sini aja." Merasa tidak nyaman dengan candaan sopir tersebut, Aruna berkata tegas. Namun, sopir itu malah tersenyum puas.


"Tapi pacar Mbak ngejar, tuh. Yakin mau turun di sini?" goda sopir semakin kurang ajar menurut Aruna.


Perempuan itu menolehkan kepala ke belakang, lalu beralih lagi ke depan. Raut wajahnya pun bertambah masam. "Lebih kencang, Pak. Saya nggak mau ketemu dia!" titah Aruna.


"Tuh, kan, beneran bertengkar." Sang sopir kembali meledek dengan senyumnya yang menjengkelkan. Aruna bisa melihat itu dari kaca spion bagian dalam.


"Saya cuma mau ngasih tahu, Mbak. Masalah itu tidak akan selesai, kalau kita terus menghindar. Saya sudah sering menemukan pertengkaran seperti ini, Mbak. Perempuannya kabur naik taksi, lalu dikejar sama kekasihnya. Saya disuruh ngebut di jalan, lalu ditilang polisi. Dan akhirnya mobil saya berhenti, dan sepasang kekasih itu berdamai lagi setelah si laki-laki menjelaskan semuanya. Sedangkan saya, harus membayar denda tilang karena melanggar peraturan. Mbak nggak kasihan sama saya?"


Aruna menghela napas mendengar sopir yang malah curhat panjang lebar. Namun, dari kata-katanya memang tidak ada yang salah. Jika dirinya terus menghindari Juno, tentu saja masalahnya tidak akan pernah selesai.


Tanpa berdalih apa-apa, sopir itu langsung menyalakan lampu sen kiri pertanda mobilnya akan menepi. Mobil Juno yang mengikuti di belakangnya pun ikut berhenti.


"Makasih, Pak." Aruna turun dari taksi setelah membayar jasa sopir taksi tersebut.


Juno yang juga turun dari mobilnya langsung menyambar lengan Aruna, dan merengkuh tubuh perempuan masuk ke dalam pelukannya. "Kamu kenapa, si, Yang? Masih marah sama aku? Maaf, tadi aku benar-benar sibuk. Jadi nggak bisa makan siang sama kamu." Juno mengira Aruna marah kepadanya gara-gara ingkar janji makan siang bersama.


"Iya, sibuk sama perempuan lain." Ucapan itu hanya terlontar dalam hati Aruna. Nyatanya perempuan itu masih enggan untuk bersuara. Ia pun mendorong tubuh Juno, dan pelukan itu terlepas seketika.


Juno tertegun karena dorongan Aruna sedikit kasar menurutnya. "Yang?"


"Aku mau putus!"


Kalimat tegas itu membuat kebingungan Juno kian kentara. Kedua netranya pun membulat seketika. "Putus? Kamu jangan sembarangan ngomong! Kita mau nikah, loh, Yang," seru Juno sambil memegangi kedua pundak Aruna, dan mengguncangnya pelan.


Aruna menepis tangan Juno, tetapi kali ini tidak sekasar tadi. "Aku serius. Aku nggak mau menikah dengan laki-laki tukang selingkuh seperti kamu."


Menohok, tentu saja. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Tiba-tiba saja Aruna memutuskan dirinya dan menuduhnya si tukang selingkuh. "Maksud kamu apa?" tanya Juno tidak mengerti.


"Tadi siang kamu nggak makan sama aku karena makan dengan perempuan lain di restoran, kan? Kalian terlihat sangat mesra dan serasi. Perempuan itu sangat cantik, dia sangat pantas berdampingan sama kamu daripada aku."


"Apa tadi itu Aruna benar-benar ada di sana?" batin Juno.


"Kenapa diam? Benar, kan, apa yang aku ucapkan?" Aruna tersenyum miris. Embusan napasnya terdengar pasrah terlontar ke udara. Kepalanya tertunduk resah, tangannya mengepal kuat menahan amarah. "Ternyata semua laki-laki itu memang payah. Aku menyesal karena sudah membiarkan hatiku jatuh cinta. Ternyata sesakit ini, ketika dikhianati." Aruna berkata diiringi lelehan air mata. Meski sekuat tenaga ia tahan, tetap saja cairan bening itu memaksa keluar.


Juno merasa bersalah ketika melihat wanitanya menangis. Bukan merasa bersalah karena dirinya kepergok selingkuh, melainkan ia begitu bodoh tidak menjelaskan sebenar-benarnya perihal menjemput sang bibi di bandara, lalu pergi makan berdua.


"Sayang, aku minta maaf." Juno kembali memeluk Aruna. Tentu saja Aruna langsung memberontak minta dilepas. Gadis itu berpikir, jika Juno meminta maaf, berarti ia mengakui perselingkuhannya tersebut. Juno yang tidak tega akhirnya melerai pelukannya, tetapi kedua tangannya masih menempel di bahu kekasihnya. Sejenak pandangan mereka terkunci, sampai Aruna sadar, lalu mengamuk lagi.


"Kamu itu jahat banget, sih! Kalau kamu masih mau bermain dengan perempuan lain, ngapain kamu ngelamar aku?" raung Aruna dengan isak tangis yang makin histeris. Tangannya memukul dada bidang Juno membabi buta.


"Hey, kamu salah paham, Sayang. Dengerin aku dulu!" Juno menahan kedua tangan Aruna. Ditatapnya wajah sayu dengan pipi kemerahan. Kaca mata besarnya pun berembun dan basah karena air mata yang bertambah deras. "Dia itu bibi kecil aku. Adiknya papi yang dari Jepang," terang Juno setelah terdiam beberapa saat.


"Bibi kecil?" Aruna mengerjap bingung. Tangisnya sontak berhenti walau masih menyisakan air mata yang terlanjur mengalir di pipi.


...***...


Next ๐Ÿ‘‰