
...***...
Aruna segera dilarikan ke rumah sakit. Ketegangan menyelimuti lorong rumah sakit ketika Aruna di dorong di atas brankar sampai masuk ke ruangan ICU.
"Silakan tunggu di luar!" Dena yang menyertai Aruna sampai ambang pintu ruangan itu langsung ditahan oleh tim medis yang akan menangani luka Aruna.
Pintu ruangan itu pun tertutup. Dena terlihat resah mondar-mandir di depan pintu tersebut, setelah dua orang polisi yang ikut mendampinginya pamit undur diri. Selanjutnya dia bingung mau menghubungi siapa. Selama ini Aruna tidak pernah terbuka masalah keluarganya. Namun, sejurus kemudian dia ingat dengan perkataan Bana. Jika Aruna adalah anaknya Surya. Ia pun berinisiatif untuk menghubungi atasannya tersebut untuk memberitahukan keadaan Aruna.
Setelah Dena selesai menghubungi Surya. Ia terduduk lemas di kursi tunggu ruangan ICU. Setelah dua puluh menit berlalu, keluarlah seorang tim medis dari ruangan tersebut. Dena segera menghambur menemui seorang lelaki dengan pakaian khas medis yang membuka masker yang dia pakai.
"Anda keluarga pasien yang tertembak?" tanya dokter tersebut.
"Bukan, Dok. Saya teman kerjanya," jawab Dena panik. "Saya sudah menghubungi mereka, sebentar lagi mungkin akan datang. Bagaimana keadaan Aruna, Dokter?" tanya Dena kemudian.
"Kami berhasil menghentikan pendarahannya, dan juga sudah melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang bagi pasien. Dan kami akan melakukan operasi untuk mengangkat proyektil yang bersarang di bahu kirinya. Cukup dalam dan hampir mengenai tulang belikatnya ...." Dokter itu sejenak terdiam untuk sekadar menarik napas dalam,
"Salah satu pembuluh arterinya tergores karena trauma yang disebabkan oleh energi kinetik peluru tersebut, sehingga pasien mengeluarkan darah begitu banyak. Sedangkan pasokan darah O negatif di rumah sakit kami sangat jarang, karena darah itu tergolong sedikit langka, juga jenis darah ini tidak bisa menerima jenis darah yang lain. Jadi sebaiknya pihak keluarga menyiapkan pendonor langsung untuk menunjang proses operasinya agar berjalan lancar," ungkap dokter panjang lebar.
Dena bergeming, golongan darahnya berbeda dengan Aruna. Namun, kecemasan Dena berkurang ketika keluarga Aruna telah tiba di rumah sakit tersebut.
"Syukurlah, Pak Surya dan keluarga sudah datang," ucap Dena lega.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dena?" tanya Surya panik. Surya datang bersama Erna dan Kezia.
"Dia masih ditangani dokter. Kata dokter, Aruna membutuhkan donor darah golongan O negatif, Pak."
"Golongan darah saya O negatif, Dokter. Ambil punya saya saja!" tukas Surya langsung mengajukan diri.
"Mas, tensi darahmu selalu tinggi. Mana boleh kamu melakukan donor darah." Erna yang tahu betul kondisi suaminya menghalau niat lelaki paruh baya tersebut.
Surya menoleh pada istrinya sejenak, lalu menoleh lagi pada dokter. "Apa tidak bisa, Dok?" tanyanya mencari pembenaran. Dokter itu menganggukkan kepala.
"Benar, penderita hipertensi tidak bisa menjadi pendonor darah," jawab dokter tersebut.
Hening. Suasana menjadi kembali tegang. Untuk mencari ke rumah sakit lain mungkin terlalu lama. Aruna membutuhkan darahnya sekarang juga.
"Aku ... aku punya darah yang sama. Aku saja yang mendonorkan darahku untuk Aruna." Perkataan Kezia mengalihkan atensi semua orang kepadanya.
"Kezia, kamu yakin mau mendonorkan darah kamu buat Aruna?" Surya bertanya seakan tidak percaya. Pasalnya, selama ini kedua anaknya itu selalu berseteru dan tidak pernah ada akurnya.
"Iya, Pa. Aku yakin," tegas Kezia sambil menganggukkan kepala.
Ya, beberapa hari yang lalu. Perempuan berambut sedikit ikal itu diberitahu tentang kenyataan bahwa Aruna adalah adik kandungnya. Kezia sama terkejutnya seperti Aruna, tetapi perempuan ini lebih lapang dan tidak terlalu mempermasalahkan. Walaupun dalam hatinya masih ada sedikit rasa kesal, terutama untuk Aruna. Adik kandungnya itu sudah mengetahui lebih dulu jika mereka bersaudara, tetapi sampai detik ini Aruna tidak pernah menemui Kezia untuk mengakuinya sebagai kakak. Sungguh adik durhaka.
Setelah pemeriksaan selesai, ternyata Kezia cocok untuk menjadi pendonor. Operasi Aruna pun berjalan selama kurang lebih dua jam. Proyektil yang berada dalam Aruna akhirnya bisa terambil dengan aman. Namun, Aruna masih belum sadar. Perempuan itu masih koma setelah operasinya selesai.
...***...
"Pak, ini tasnya Aruna. Tadi tertinggal di mobil saya." Dena menyerahkan tas milik Aruna. Setelah beberapa menit yang lalu berpamitan pulang, ia kembali lagi setelah melihat tas milik Aruna tergeletak di jok mobil miliknya.
"Oh, terima kasih, Dena. Maaf sudah merepotkan kamu," ucap Surya sambil meraih tasnya Aruna.
"Sama-sama, Pak. Saya juga minta maaf karena sudah menyetujui ide yang berbahaya ini tanpa sepengetahuan Bapak. Saya nggak tahu kalau Aruna itu sebenarnya anaknya Bapak," sesal Dena yang merasa bersalah atas aksi berbahaya mereka. Dena tidak pernah memprediksi hal ini bakalan terjadi. Mereka berpikir semua akan berjalan lancar dengan adanya bantuan polisi. Nyatanya, segala ketetapan Ilahi memang tidak bisa dihindari.
"Ya, saya sangat menyayangkan hal ini, tapi nasi sudah menjadi bubur. Sekarang do'akan saja, semoga Aruna cepat melewati masa kritisnya."
"Aamiin," sahut Dena dengan tulus. Setelah itu dia pun berpamitan lagi kepada Surya. "Kalau begitu saya pamit lagi, Pak," ucap Dena. Surya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.
"Hati-hati, ya, Nak. Sekali lagi makasih." Erna yang dari tadi menemani suaminya ikut menimpali. Ibu tiri Aruna tersebut sangat mengkhawatirkan keadaan Aruna. Walaupun sejak tadi suaminya menyuruh pulang, perempuan itu menolak dengan tegas. Ia ingin menunggu sampai Aruna sadar.
Beberapa menit setelah Dena pergi, terdengar suara dering ponsel dari dalam tasnya Aruna. Surya segera membuka tas tersebut dan merogoh isinya. Mengambil benda pipih yang masih bergetar dan mengeluarkan suara.
"Adik Putri?" Surya mengernyitkan keningnya. Melihat nama kontak yang tertera di layar utama. Ia pun langsung menekan tombol hijau dan menerima panggilan tersebut.
"Halo, Kak Aruna? Kak Aruna masih di mana? Kenapa belum pulang juga?" Kening Surya semakin berkerut ketika mendengar suara anak kecil di balik telepon Aruna.
"Maaf, Nak. Saya papanya Aruna. Kamu siapa?"
"Oh, Kak Aruna lagi nginep di rumahnya Bapak? Saya Putri, Pak. Saya yang tinggal bersama Kak Aruna."
Surya sejenak berpikir. Dia pun ingat jika Aruna pernah bercerita tentang anak kecil yang tinggal bersamanya di rumah kontrakan. "Nak, dengerin Bapak. Kak Aruna sekarang dirawat di rumah sakit. Kamu sekarang sendirian di rumah?" tanya Surya dan diiyakan oleh Putri. Gadis kecil itu begitu terkejut mendengar kabar tersebut.
Hingga akhirnya, Surya mengutus seseorang untuk menjemput Putri dari rumah kontrakan Aruna. Surya tahu di mana pun Aruna tinggal, karena selama ini Surya selalu mengawasi Aruna secara diam-diam, dan memastikan jika anak perempuannya itu tinggal di tempat yang aman.
Setelah panggilan dengan Putri berakhir. Surya melihat 126 laporan notifikasi panggilan yang tidak terjawab di layar ponsel Aruna. "Jelangkung?" Lagi, Surya dibuat bingung dengan nama yang Aruna pakai untuk menamai nomor kontak di ponselnya.
"Masa Aruna bergaul dengan mahluk goib?" lirih Surya, tetapi bisa terdengar oleh Erna.
"Siapa, Mas?" tanyanya penasaran. Surya mendongakkan pandangan dari ponsel ke wajah istrinya. Lalu menunjukkan layar ponsel yang dia pegang kepada Erna. "Lihat, deh. Masa nama kontaknya kayak gini?" seru Surya.
Erna pun tersenyum kecil. "Anakmu memang luar biasa. Coba telepon balik! Aku mau tahu suara jelangkung itu kayak gimana?" ujarnya berkelakar. Berusaha mengalihkan rasa tegang karena Aruna belum sadar.
...***...
...Coba tebak, nama kontak jelangkung itu siapa? 😅...