Magic Love

Magic Love
Posesif




...***...


Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, Aruna akhirnya diperbolehkan pulang. Kini, sikap Juno jadi over protektif terhadap Aruna. Dia menyuruh perempuan itu pulang ke rumah orang tuanya saja, tentunya bersama Putri yang sudah lebih dulu tinggal di sana semenjak Aruna terluka.


"Kamu harus banyak istirahat, jangan terlalu banyak gerak, sama banyak makan. Biar kamu cepet sehat lagi." Untuk kesekian kalinya Juno memberikan wejangan tersebut. Telinga Aruna sampai bosan dijejali kata-kata yang sama semenjak dirinya keluar dari rumah sakit, sampai kini sudah berada di kamarnya di rumah Surya.


"Kamu nggak apa-apa, kan, tinggal di sini? Aku nggak tenang kalau kamu tinggal di rumah kontrakan. Kalau ada apa sama kamu lagi gimana? Kalau kamu ngizinin aku tinggal bareng kamu, si, nggak apa-apa. Ini, kan, nggak. Padahal aku pengen banget kita satu atap berdua." Juno masih melanjutkan ocehannya.


Kedua mata Aruna melotot mendengar perkataan Juno tersebut. Pasalnya, di sana masih ada papanya. Lengkap bersama istri dan anak sulungnya–Kezia. Juno berkata seperti itu, seolah mereka sedang berduaan saja.


"Kita bukan patung, loh." Sindiran Kezia berhasil membuat Juno tersadar. Lelaki itu seringkali lupa keadaan sekitar jika sedang bersama Aruna. Ia pun menyengir memperlihatkannya deretan giginya yang tersusun rapi dan putih.


Kezia mendengus sebal, sedangkan Surya dan Erna hanya bisa tertawa ringan. "Ya, udah. Mama dan papa keluar dulu, ya. Kalau kalian masih mau mengobrol, silakan. Tapi jangan lama-lama! Aruna harus banyak istirahat." Perkataan Erna mendapatkan respon anggukan kepala dari Juno dan Kezia.


"Aku juga akan tetap di sini. Biar bisa ngawasin cowok bucin ini. Takutnya dia khilaf," ujar Kezia membuat Aruna meninggalkan senyum di sudut bibirnya. Jujur, ia masih merasa canggung dengan kedekatannya bersama Kezia. Perempuan yang selalu dia anggap musuh, kini menjadi orang yang sudah menyelamatkan hidupnya. Dan yang lebih mengharukan, Kezia terlihat lebih santai dan welcome dengan hubungan darah di antara mereka. Tentang perasaan Kezia, walaupun perempuan itu masih memendam rasa untuk Juno, pada akhirnya dia tidak bisa memaksakan cintanya. Apalagi sekarang keadaannya sudah berbeda. Sudah tidak mungkin baginya untuk berharap menjadi kekasih Juno lagi.


"Memangnya aku ini tipe laki-laki yang suka nyari kesempatan dalam kesempitan." Juno tidak terima dengan sindiran Kezia. Kata-kata itu hanya dibalas cebikan bibir dari Kezia. Ia yang duduk di sisi ranjang Aruna, kemudian mengarahkan tubuhnya menghadap adik kandungnya tersebut. Menatap wajah adiknya yang begitu kusut. Melipat tangannya di depan dada dengan memasang wajah cemberut.


"Zi, aku titip Aruna, ya. Lusa aku akan kembali ke Jepang. Papa hanya ngasih waktu aku pulang dua minggu saja. Aku janji, setelah urusanku di sana selesai, aku akan langsung pulang. Biar saja Abizar yang melanjutkan sisanya."


"Siapa kamu bilang?" Mendengar nama Abizar disebut pandangan Kezia langsung beralih pada Juno yang berdiri di sisi ranjang Aruna.


"Abizar, sepupuku. Dia bareng aku berangkat ke Jepang. Mau melanjutkan bisnis oma," terang Juno.


Kezia mengerutkan kening sembari menatap Juno seperti orang linglung. Sebelah tangannya meremas baju di bagian perutnya dengan kencang. Aruna yang melihat kakaknya kebingungan merasa heran, tetapi ia tidak berani berkomentar.


"Memangnya kenapa? Kamu kenal sama dia?" tanya Juno yang juga sadar dengan perubahan raut wajah Kezia.


"Nggak apa-apa. Aku baru denger namanya, makanya aku tanya," kelit Kezia. Juno hanya mangguk-mangguk, sedangkan Aruna sedikit menyimpan rasa curiga, tetapi masih diam saja.


"Sayang, selama aku pergi, kamu nggak boleh ke mana-mana sendirian, ya! Aku akan perintahkan Kezia agar selalu nemenin kamu," pesan Juno sambil mengusap puncak kepala Aruna dengan lembut, lalu beralih lagi pada Kezia. "Mau, kan, Zi? Nanti gaji kamu aku naikin tiga kali lipat," ucapnya menawarkan imbalan yang membuat kedua mata Kezia sontak terbeliak.


"Deal! Aku mau," seru Kezia tampak semangat. Namanya perempuan, tidak afdol jika tidak mata duitan.


"Bagus." Juno tersenyum senang.


"Tapi, Jun. Bukannya kamu akan lama di sana. Setelah sembuh nanti, aku akan kembali bekerja. Kezia juga harus kerja. Mana mungkin nemenin aku terus." Aruna tidak setuju dengan sikap Juno yang menurutnya keterlaluan.


"Siapa yang ngizinin kamu kerja lagi? Aku akan bilang sama Pak Surya agar dia juga melarang kamu bekerja. Dan Kezia akan aku bebas tugaskan dari kerjaan kantor. Jadi kerjaannya cuma ngawasin kamu doang."


"Wah, enak banget jadi aku! Dapat gaji tiga kali lipat, nggak kerja capek pula," celetuk Kezia dengan mata yang berbinar cerah. Ia merasa yang paling diuntungkan.


"Jangan berlebihan! Aku bukan anak kecil." Aruna sedikit geram. Perempuan keras kepala itu paling tidak suka diatur dan dikekang.


"Sayang, jangan marah, dong! Ini semua demi kebaikan kamu. Aku janji, setelah pulang nanti, aku akan melamar kamu." Juno takut melihat kekasihnya merajuk. "Oke, kamu boleh kerja. Tapi Kezia juga akan kerja bersama kamu di perusahaan Pak Surya," tambah Juno lagi saat Aruna masih diam saja. Padahal perempuan itu sedang menenangkan debar jantungnya yang tiba-tiba bergenderang. Mendengar Juno yang nanti akan datang melamar.


"Hah? Yang benar saja! Aku mau ngapain di sana." Kezia menyanggah. Lalu beralih pada Aruna, "Ayolah, Na. Dengerin Juno sekali aja. Kamu juga bakalan nikah sama orang kaya macam dia. Nggak usah capek-capek kerja," katanya yang membuat Aruna bertambah malu saja.


"Iya, Sayang. Kamu setuju, kan?" tanya Juno meyakinkan Aruna.


"Ehem ... gini amat nasib obat nyamuk." Kezia yang merasa tak dianggap jadi berdecak.


"Suruh siapa nemenin di sini?" Juno mencibir, dan Kezia hanya mencebikkan bibir. Sedangkan Aruna hanya tersenyum, lalu menatap wajah Kezia sedikit ragu. Dari tadi lidahnya sudah gatal ingin mengatakan sesuatu.


"Ehm ... Zi, aku ... aku mau bilang makasih sama kamu, karena udah mau donorin darah kamu waktu itu. Dan ... aku juga minta maaf atas semua kesalahan aku selama ini sama kamu. Maaf, aku memang keterlaluan." Perkataan Aruna membuat Kezia beralih kepadanya.


Aruna hanya menatap Kezia sejenak, setelah itu menundukkan pandangan ketika Kezia menatap balik dirinya. Ia terlalu malu untuk mengakui kesalahannya perihal salah paham tentang masa lalu mereka. "Aku tahu kamu pasti berat buat maafin aku. Sebenarnya, aku mau langsung menemui kamu waktu aku tahu semuanya. Tapi aku nggak berani, aku takut dan ... malu." Aruna melanjutkan kata-katanya lagi tanpa melihat wajah Kezia.


"Jadi, sekarang udah berani? Lalu kenapa nggak panggil aku 'kakak'? Walaupun cuma beda dua tahun, kedudukan kamu tetap berada di bawah aku."


Aruna sontak mendongak. Kata-kata Kezia berupa sindiran tajam, tetapi artinya dia sudah memaafkan Aruna. Sepertinya ia sudah mengunci rapat-rapat pintu kisah kelam di antara mereka.


"Kakak." Air mata Aruna luruh seketika. Ia menghambur memeluk tubuh Kezia. "Maaf ...," ucap Aruna lirih di balik punggung kakaknya.


Kezia tersenyum merekah. Ia membalas pelukan Aruna. "Aku juga minta maaf sama kamu," ucapnya sedikit memberikan usapan lembut di punggung Aruna.


"Awww!"


"Kamu kenapa?" Bukan Kezia yang panik mendengar Aruna memekik, melainkan Juno yang langsung mendekati dua saudara yang sudah melerai pelukan mereka. "Kamu meluknya kekencengan!" protes Juno pada Kezia dengan nada marah.


"Maaf Aruna, aku nggak sengaja," sesal Kezia merasa bersalah.


"Jun, dia nggak salah. Lukaku hanya sedikit tertekan," sanggah Aruna sedikit meringis sambil memegangi bahunya. Juno pun menggantikan posisi Kezia yang dipaksa berdiri oleh Juno. Raut wajahnya terlihat khawatir.


"Sakit banget, ya? Coba aku lihat!" Tangan Juno terulur hendak melihat luka Aruna.


"Heh, kamu mau apa?" Kezia yang tidak terima Juno hendak membuka baju Aruna langsung menepis tangan lelaki itu. Pasalnya luka Aruna berada di balik baju.


"Mau periksa, lah," seru Juno mendongak menatap Kezia.


"Sembarangan! Biar aku aja." Kini, giliran Kezia yang menarik paksa tubuh Juno sampai berdiri. Juno mengernyit tidak suka, tetapi sebelum ia membuka mulutnya untuk melontarkan protesnya, Kezia melanjutkan ucapannya, "kamu, keluar dulu!"


"Kamu ngusir aku? Aku ini pacarnya. Aku juga mau lihat lukanya," sergah Juno tak mau mengalah. Kezia mendengus, ia baru tahu jika atasannya ini begitu posesif terhadap Aruna.


"Kamu belum jadi suaminya, Juno. Jadi, belum berhak melihat bagian tertentu tubuh Aruna."


Hening. Juno tidak bisa menyangkal perkataan Kezia. Kedua matanya beralih pada Aruna yang sudah menahan tawa sedari tadi. Tawa itu akhirnya pecah ketika melihat wajah Juno yang sangat masam. Tawa itu pun menular pada Kezia. Kedua perempuan itu sama-sama menertawakan Juno.


"Jahat banget, malah diketawain!" decak Juno memasang wajah sendu.


"Habisnya kamu lucu," ucap Aruna di sela tawanya.


"Udah sana, keluar!" Kezia mengusir Juno lagi. Dengan terpaksa Juno pun pergi.


...***...



...Dukung terus karya othor receh ini, ya ❤...