
...***...
Aruna dan Juno melanjutkan perjalanannya. Setengah jam berkendara, tidak ada obrolan di antara mereka. Aruna hanya bertanya ke mana arah jalan ketika dirinya menemukan persimpangan, dan Juno berkata hanya sekadar menjawab pertanyaan. Kebetulan jalanan tidak terlalu padat, sehingga perjalanan menuju rumah Juno menjadi lebih cepat.
Mobil yang Aruna kendarai kini berada di pelataran rumah mewah keluarga Kingsley. Aruna sempat terpana dengan kemegahan rumah tersebut. Dari situ Aruna baru sadar, jika orang yang diantarnya kali ini adalah seorang konglomerat sungguhan.
"Makasih, ya!" Ucapan Juno membuat Aruna terjaga. Pandangannya beralih ke arah Juno berada. Terlihat lelaki itu sudah membuka pintu mobil dan hendak turun dari sana. Aruna mengingat sesuatu, dia pun memanggil lelaki itu.
"Juno, tunggu!"
Juno mengurungkan niatnya turun dari mobil. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Aruna lagi. "Kenapa? Kamu masih kangen sama aku? Masih ingin aku berlama-lama di sini?" seloroh Juno membuat Aruna memutar kedua bola matanya, malas.
"Memory card-nya." Aruna menadahkan tangan. Meminta hak yang dari tadi Juno janjikan.
"Oh, iya. Aku lupa." Juno terkekeh. Ia merogoh saku jasnya untuk mengambil kartu itu di sana.
Senyum Aruna mengembang dengan tangan yang mengambang penuh pengharapan. Namun, saat kartu itu sedikit lagi mencapai tangan Aruna, suara dering ponsel milik Juno menggagalkan semuanya. Juno menarik mundur tangannya yang memegang kartu tersebut. Lalu mencari ponselnya yang terdengar ribut. Membuat Aruna seketika merengut. Rasanya sia-sia tangannya mengambang di udara. Kosong dan tidak mendapatkan apa-apa. Kasihan sekali dirinya!
"Iya, Mi." Juno berkata pada seseorang di balik ponselnya. Dari panggilannya, Aruna sudah tahu jika Juno sedang berbincang dengan maminya. Ia pun menurunkan tangannya lalu menghadap ke arah depan. Menunggu Juno selesai melakukan panggilan.
"Nih, mami mau ngomong." Aruna sedikit berjingkat ketika ponsel Juno tiba-tiba berada di depan wajahnya.
"Ngomong sama aku?" tanya Aruna memastikan. Juno mengangguk mengiyakan.
Sedikit ragu Aruna meraih ponsel itu, lalu menempelkannya di telinga. "Halo, Tante," sapanya pada Ara–maminya Juno.
"Aruna, mampir dulu ke rumah mami, ya. Mami masak banyak, nih. Kita makan malam bersama. Mau, kan?" pinta Ara di seberang telepon.
Kepala Aruna berputar ke arah Juno. Kedua matanya melotot tajam kepada lelaki itu. Dia tahu, ajakan Ara itu pasti atas suruhan Juno.
"Apa katanya?" tanya Juno pura-pura tidak tahu.
Aruna mendengkus kesal. Tidak mau menjawab pertanyaan Juno yang menurutnya drama, ia pun kembali fokus pada panggilan teleponnya. "Maaf, Tante. Aku harus pulang. Belum mandi sehabis pulang kerja," tolak Aruna dengan sopan. Dia menekankan panggilan 'tante' pada Ara, pertanda dia menolak mengikuti Ara untuk memanggilnya dengan sebutan 'mami'.
"Mandi di sini aja, Nak! Di sini airnya banyak, kok. Mau, ya!"
Aruna mengernyit mendengar itu. Sepertinya sifat memaksa Juno adalah gen turunan dari maminya.
"Nggak gitu juga, Tante. Masa aku mandi di rumah orang. Nggak enak, lah." Aruna menolak lagi.
"Pokoknya mami nggak mau tahu, ya. Nanti mami suruh security buat kunci gerbangnya. Jadi mobil kamu nggak bisa keluar sebelum kita selesai makan malam."
"Hah? Tapi, Tante–" Penolakan Aruna tidak didengarkan oleh Ara. Perempuan paruh baya itu langsung memutuskan panggilan telepon mereka.
Aruna menarik napasnya dalam-dalam sebelum mengembuskannya perlahan. Lantas memberikan ponsel milik Juno dengan kesal.
"Kenapa, si?" Juno bertanya sambil menahan tawa. Ia merasa lucu melihat Aruna yang menggembungkan pipinya. Terlihat seperti kue bakpao yang ingin sekali Juno gigit dengan gemas.
"Kalian berdua sekongkol, ya, ngejebak aku hari ini? Jahat banget, si!" cetus Aruna.
"Eh? Aku nggak ngerti. Memangnya mami ngomong apa?"
Aruna melemaskan kedua bahunya. Ia merasa lelah dengan segala aktivitasnya. Ditambah dengan drama yang dimainkan oleh Juno hari ini. Lelahnya semakin bertambah saja. "Mami kamu nyuruh aku masuk ke dalam dan makan malam bersama kalian. Puas kamu?" seru Aruna.
Juno pun tertawa kecil sembari melipat tangannya di depan dada. Pandangan tertuju pada Aruna. "Kalau aku jadi kamu, aku nggak akan berpikir kalau ini adalah sebuah jebakan. Coba, deh, kamu pikir! Awalnya kamu minta tolong sama aku, terus aku minta bayaran dengan hanya nganterin aku pulang. Lalu aku juga beliin kamu baju baru, dan sekarang orang tua aku ngajak kamu makan malam. Apa itu merugikan?"
Aruna tercekat mendengar penuturan Juno. Kedua matanya berkedip menatap Juno dengan bingung. Benar juga. Aruna tidak dirugikan sedikit pun. Malah sebaliknya, dia sangat diuntungkan hari ini. Ada sedikit penyesalan yang menggelitik hati nuraninya, tetapi Aruna terlalu gengsi untuk mengakuinya.
"Udah, deh. Cepetan masuk! Aku mau semuanya cepat selesai, biar aku bisa pulang." Setelah berkata seperti itu, Aruna keluar dari mobilnya, lalu berjalan mendahului Juno seolah dialah pemilik rumahnya.
"Eh?" Juno ternganga melihat kelakuan Aruna. Lalu seketika tersadar dan langsung menyusul Aruna dengan senyuman yang mengembang.
...***...
Sekitar pukul 20.00 WIB, Aruna tiba di rumah kontrakannya. Gadis itu menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Rasa lelah telah menguasai tubuhnya. Sejenak Aruna memejamkan mata, mengingat kembali apa yang dilakukannya hari ini. Terutama saat pergi dengan Juno. Lelaki itu benar-benar menguji kesabarannya hari ini.
Namun, ada secercah senyuman yang Aruna sematkan pada bibir mungilnya. Kala dia mengingat tingkah konyol Juno yang sebenarnya sangat lucu menurutnya.
Aruna tidak pernah membayangkan sebelumnya, jika seorang CEO tampan idaman semua perempuan berbuat konyol hanya untuk mendapatkan perhatian darinya. Aruna sempat tersanjung akan itu. Namun, saat dirinya mengingat Kezia yang mencintai Juno dan pengkhianatan papanya pada sang mama, senyum itu hilang dari peredaran wajah Aruna. Keyakinannya terhadap kemunafikan cinta masih tetap sama. Baginya, cinta itu hanya dusta.
Tunggu!
Aruna baru sadar akan sesuatu. Kezia mencintai Juno. Itu artinya dia bisa balas dendam kepada ibunya Kezia yang sudah merebut papanya. Bukankah itu bagus? Aruna baru berpikir demikian. Sisi jahat Aruna mulai mendominasi hatinya.
"Kenapa aku baru kepikiran sekarang? Tapi ...." Aruna merenung. Wajahnya pun terlihat murung. Wejangan panjang yang selalu mamanya lontarkan kala dia masih kecil masih selalu terngiang.
'Jangan pernah membenci papamu dan keluarga barunya, Nak! Apalagi melakukan kejahatan untuk membalas mereka. Mereka nggak salah, Aruna. Mama berpisah dengan papa karena memang dari sebelumnya kami tidak seharusnya bersama. Sekarang kamu masih kecil, Nak. Suatu saat kamu pasti mengerti semuanya.'
Aruna menghela napasnya setiap kali mengingat pesan mamanya. "Nggak salah gimana? Jelas-jelas mereka mengkhianati kita, Ma," ujar Aruna berbicara sendiri. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu beranjak duduk dan bersandar di sandaran sofa. Kedua matanya menatap baju yang dia pakai. Seketika bayangan wajah Juno kembali menyerang. Namun, dengan cepat Aruna mengusir bayangan itu dari kepalanya. Ia ingat dengan rekaman CCTV yang sudah didapatkan dengan susah payah dari lelaki itu.
Segera ia mengambil laptop dan menekan tombol start. Aruna sudah tidak sabar ingin melihat siapa yang sudah menjahilinya malam itu.
...***...
...Othor minta semangatnya dengan like, comment, vote/giftnya, ya. Makasih buat yang masih setia menunggu novel ini 🙏...