
...***...
Cukup lama Aruna berkunjung ke kafe Homeless Child. Namun, waktu yang lama itu Aruna habiskan dengan berbincang dengan Alfath. Membuat Juno semakin geram karena merasa diabaikan. Ia pun memilih berdiam diri bersama Abizar di ruangan tempat biasa personil homeless child berkumpul dan bersantai.
Merasa posisinya terancam dengan kehadiran Alfath di sisi Aruna. Juno memutar otaknya agar dia bisa lebih dekat dengan Aruna. Namun, walaupun Alfath adalah saingan cintanya. Hal itu tidak akan menjadi alasan hancurnya persahabatan mereka. Juno dan Alfath adalah lelaki yang cukup lugas. Persahabatan mereka sudah terjalin dari sejak mereka belum lama menetas. Pertikaian kecil dan persaingan seperti ini sudah sering terjadi di antara mereka. Jika sudah ada pemenangnya, mereka akan ikut bahagia atas pencapaian salah satu di antara mereka.
"Bi, sini, deh!" Juno memanggil Abizar yang tengah sibuk mengerjakan tugasnya. Lelaki yang tengah mengecap pendidikan Sarjana, semester tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi negeri di ibu kota itu pun menolehkan kepala.
"Apaan?" tanya Abizar sambil mengedikkan dagu.
"Sini dulu, ah!" titah Juno tanpa mau dibantah. Mau tidak mau Abizar pun bangkit dari tempat duduknya.
"Apa, si? Gue lagi ngerjain skripsi, nih. Bantuin juga kagak," protes Abizar yang merasa terganggu dengan panggilan kakak sepupunya tersebut.
Abizar adalah satu-satunya pemilik cafe yang menjadikan kafe itu sebagai tempat tinggal utamanya. Selain laki-laki itu masih kuliah dan belum bekerja seperti sahabatnya yang lain, Abizar adalah pemasok modal kedua terbesar di kafe tersebut setelah Juno. Orang tuanya yang notabene adalah pemilik perusahaan Fintech (Financial Technology) terbesar di negeri Sakura. Hal itu membuat Abizar termasuk dalam deretan orang yang terlanjur kaya sejak lahir. Karena kecintaannya terhadap tempat kelahiran sang ibu–Angelina Sebastian, ia lebih memilih untuk mengabdikan dirinya di negara nenek moyang tercinta. Abizar adalah sosok bersahaja, dia tidak pernah menunjukkan jika dirinya adalah lelaki yang terlampau kaya.
Juno melirik ke arah pantry. Di mana ada seorang asisten koki yang ditugaskan oleh Alfath untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda gara-gara kedatangan Aruna. Sebuah senyuman seringai terbit dari bibirnya. Lalu beralih lagi pada Abizar. Juno menarik tangan Abizar agar lelaki itu membungkuk dan menundukkan kepala, sehingga mulut Juno bisa menggapai telinga lelaki itu. Juno pun mulai membisikkan sesuatu.
"Nggak mau, ah. Nanti kalau ada apa-apa, aku juga yang disalahin." Abizar menolak dengan tegas permintaan yang dibisikin oleh Juno di telinganya barusan. Ia langsung berdiri tegak sambil melipat tangannya di depan dada.
"Nggak bakalan. Gue jamin lo bakal aman," seru Juno menyakinkan.
"Bener, nih? Terus untungnya buat gue apa? Gue mau imbalan, lah."
Juno mendengus, merasa tidak habis pikir dengan keturunan si Crazy Rich ini. Masih saja menginginkan imbalan dari Juno. "Lo mau apa?" tanya Juno.
"Motor sport terbaru yang baru lo beli sebulan yang lalu."
"Gila! Itu mahal banget!" Juno memekik dengan kedua mata terbeliak penuh. Permintaan Abizar yang tidak tanggung-tanggung membuatnya hampir terkena serangan jantung.
"Kalau nggak mau, ya, udah. Gue mau lanjut belajar, nih!" Abizar hendak berbalik pergi, tetapi tangan Juno berhasil menarik kaos pemuda itu dan akhirnya menyetujui.
"Oke, gue setuju. Tapi awas, ya, kalau akting lo jelek!" ancam Juno. Ia tidak rela kehilangan motornya.
"Oke ...." Abizar menyeringai, menurunkan tangannya dan membuat bulatan di kepalan tangan. "Siap, ya!" ujarnya memberikan peringatan, dan ....
Bugh!
Satu pukulan keras berhasil mendarat di pipi Juno. Membuat lelaki itu tersungkur pada ujung sofa yang tengah dia duduki.
"Ah, brengsek! Nih, anak punya dendam kayaknya sama gue? Sakit banget!" umpatan itu terlontar dalam hatinya Juno. Ia tampak menderita sambil memegangi pipinya yang berubah warna karena aksi Abizar barusan. Bahkan sudut bibirnya pun terluka dan mengeluarkan sedikit cairan berwarna merah.
"Udah gue bilang jangan gangguin gue! Rasain, tuh!" teriak Abizar melengkapi drama yang sedang ia mainkan.
Juno bangkit dan langsung menyongsong kerah bajunya Abizar. "Gue cuma bercanda. Kenapa lo pukul gue, Brengsek!" teriak Juno pura-pura marah.
Drama itu pun sukses menarik perhatian asisten koki yang berada di sana. Lelaki yang bernama Adit itu pun menghentikan aktivitasnya dan segera berlari melerai pertikaian kedua bosnya tersebut. Namun, pertikaian mereka seperti sungguhan, hingga membuat Adit kewalahan. Ia pun berlari keluar untuk mencari pertolongan. Tujuannya pun sesuai yang diperkirakan oleh Juno. Tentu saja bos panutannya–Alfath.
"Chef, gawat, Chef. Itu ... di dalam—"
"Ada apa? Kalau ngomong napas dulu!" Alfath terkejut dengan kedatangan anak buahnya yang bernapas tersengal-sengal seperti dikejar setan. Pun dengan Aruna yang sedari tadi berbincang dengan lelaki kalem itu.
"Hah?" Aruna dan Alfath tersentak hampir bersamaan.
"Gontok-gontokan gimana? Kalau ngomong yang jelas!" cecar Alfath lagi. Ia tidak berpikir jika kedua sahabatnya sedang baku hantam, karena selama ini hal itu tidak pernah terjadi.
"Berantem, Chef. Mas Juno ditonjok sama Mas Abi."
"Apa? Antar aku ke sana!" Tanpa persetujuan dari Alfath, Aruna langsung menyeret asisten koki itu untuk menunjukkan tempat perkelahian antara Juno dan Abizar. Alfath yang masih bingung terpaksa mengikuti dari belakang.
...***...
"Sialan, lo, ya! Gue nggak terima lo gangguin!" Abizar tengah berkata seperti itu dengan keras kepada Juno ketika Alfath, Aruna, dan Adit sampai di ruangan mereka. Posisi Juno yang berada di bawah kungkungan Abizar membuatnya terlihat seperti korban perundungan.
"Juno, Abi, kalian pada ngapain, sih!" Alfath dengan segera menarik tubuh Abizar agar melepaskan Juno. "Lo kesambet setan, Bi?" seru Alfath menatap tajam kepada Abizar yang masih dikuasai emosi. Sedangkan Aruna, bergegas mendekati Juno dan membantunya untuk berdiri.
"Dia, tuh, Bang. Ngeselin banget!"
"Heh, gue cuma becanda, ya. Lo aja yang sensi!" Juno tak mau disalahkan. Seperti pertikaian sungguhan Abizar kembali melawan, tetapi berhasil ditahan oleh Alfath. Dan Juno dengan manjanya bersembunyi di balik punggungnya Aruna. Sungguh, bukan seperti Juno yang semestinya!
"Kalian kayak bocah, tahu, nggak?!" Omel Alfath lagi. Abizar mendengkus. Ia pun menepis tangan Alfath dengan kasar, lalu pergi membereskan laptop dan buku pelajarannya di meja dekat sofa untuk dia bawa ke kamar pribadinya. Kedua matanya mendelik tajam ke arah Juno.
"Dasar bocah!" umpat Juno pada Abizar yang sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu juga bocah!" Kini giliran Aruna yang mengomel pada Juno.
Juno menoleh pada Aruna, dalam hatinya ia merasa senang karena rencananya sudah berhasil. Kini, giliran dirinya yang berpura-pura menjadi korban dengan luka yang dia terima. "Sssh ... sakit banget, sih!" desis Juno sambil memegang pipinya yang bengkak. Ia pura-pura terhuyung ke sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana.
Melihat itu Aruna jadi tidak tega, ia mendudukkan tubuhnya di samping Juno. Pun dengan Alfath yang sedari tadi menyadari ada yang tidak beres dengan kelakuan kedua sahabatnya tersebut. Setelah menyuruh Adit kembali bekerja, dia juga duduk di sebelah Aruna.
"Ini harus diobati cepat-cepat, nanti infeksi," ujar Aruna sambil menyentuh dagu Juno. Hal itu dijadikan kesempatan oleh Juno untuk menarik simpati perempuan itu. Ia malah menarik tangan Aruna lalu ditempelkan di pipinya.
"Ini juga perlu diobati, Na," ucap Juno manja.
Kelakuan Juno tersebut ternyata terbaca oleh Alfath. Lelaki itu memutar kedua bola matanya lalu menggeser tubuh Aruna lalu duduk di tengah-tengah mereka. "Coba mana gue lihat! Manja banget. Yang mana sakit? Ini? Ini? Apa ini?" Alfath memegang wajah Juno dengan sembarang dan sedikit kasar. Ia mengira jika luka yang ada di wajah Juno hanyalah rekayasa.
"Gila, lo, ya! Pelan-pelan bisa, nggak? Sakit beneran ini." Juno meraung sambil menepis tangan Alfath.
"Chef, kamu jangan keterlaluan! Kasian, kan, Juno?" Aruna membela Juno, hal itu membuat Juno menang.
"Aruna, aku pusing. Boleh antar aku pulang?" pinta Juno sambil memelas.
"Biar gue aja yang antar," tukas Alfath.
"Nggak apa-apa, Chef. Biar aku aja. Aku juga mau pulang, jadi sekalian aja." Aruna beranjak berdiri, dan membantu Juno berdiri juga.
Alfath tidak bisa melarang Aruna. Kepalanya mengangguk setuju, tetapi tatapannya memicing tajam pada Juno. Juno pura-pura lemas dan merangkul bahu Aruna agar membantunya berjalan. Hal itu membuat Alfath jadi gemas. Apalagi saat mereka hampir mencapai pintu, Juno menengok ke arah Alfath dan menyunggingkan senyuman licik di bibirnya. Alfath ingin sekali melempar bantal, tetapi mereka sudah keluar.
"Abizar, sini lo!" Teriakan Alfath dibalas dengan suara pintu yang tertutup dengan keras. "Abizar, sini lo!" Teriakan Alfath dibalas dengan suara pintu yang tertutup dengan keras. Ternyata Abizar dari tadi mengintip di balik pintu kamarnya. Dia yang ketakutan, akhirnya mengunci pintunya dari dalam. Rencana mereka berjalan dengan lancar.