Magic Love

Magic Love
Pulang




...***...


Ketika rasa rindu tak kunjung mendapatkan penawarnya, rasa resah akan menyeruak dalam dada. Apalagi tak ada kabar sedikit pun dari orang yang dicinta, segala rasa tidak enak akan semakin mencokol dalam jiwa. Juno yang belum mendapatkan kabar dari Aruna merasakan hal yang sama. Di tempatnya kini sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tetapi mata lelaki itu masih enggan terpejam. Tubuhnya sedang bersandar di kepala ranjang, tetapi pikirannya masih melayang-layang memikirkan Aruna yang belum ada kabar.


"Kamu ke mana, si, yang? Kenapa tiba-tiba hilang dan kayak ngehindarin aku gini?" Pikiran Juno jadi bercabang-cabang. Rasa takut kehilangan Aruna membuatnya berpikir yang tidak-tidak. Hingga suara dering ponsel yang tergeletak di sampingnya membuat pikirannya terjaga. Juno melirik pada ponsel tersebut, dan seketika bersemangat ketika foto Aruna terpampang di layar utama sebagai peneleponnya.


"Halo, Sayang. Kamu ke mana aja? Bikin aku khawatir aja, si!" pertanyaan itu langsung terlontar dari mulut Juno ketika ia sudah menekan tombol terima panggilan.


"Kamu siapanya Aruna?" Pertanyaan balik itu membuat Juno mengernyitkan kening. Pasalnya, suara yang dia dengar adalah suara laki-laki. Dia sampai melihat ulang layar ponselnya. Memastikan jika nomor yang menghubunginya adalah benar nomor Aruna. Ternyata iya. Juno pun mendengus kesal, kenapa bisa ada seorang laki-laki yang menghubunginya memakai ponsel Aruna? Apa kekasihnya itu diam-diam sedang jalan bersama laki-laki lain, dan kini laki-laki itu ingin memanasi dia? Begitulah yang ada di pikiran Juno sekarang.


"Heh, lo yang siapa? Beraninya nelepon gue pake nomornya Aruna! Lo jangan macam-macam sama dia, ya! Mana Aruna? Gue mau ngomong sama dia," berang Juno langsung sewot.


"Saya tanya, kamu siapanya Aruna?" Orang tersebut mengulangi pertanyaannya. Kali ini dengan nada lebih tegas. Mungkin dia kesal karena sikap Juno sangat tidak sopan.


Juno bertambah kesal karena perkataan kerasnya tidak digubris. "Memangnya lo nggak bisa baca nama kontak gue di HP Aruna, hah? Di situ pasti tertera kalau status gue ini pacarnya dia."


Hening sejenak. Juno menunggu jawaban dari lawan bicaranya. "Heh, lo budek, ya?" Juno kembali bersuara dengan umpatannya.


"Kamu ini bisa sopan, nggak, kalau berbicara? Di ponsel anak saya nama kamu itu 'jelangkung'. Memangnya itu nama kamu?"


"Hah? Jelangkung?" Juno tersentak mendengar itu. Pun dengan perkataan menohok yang membuat urat malunya putus seketika. Juno baru sadar kalau dia sedang berbicara dengan calon mertuanya. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


"Sayang, kamu keterlaluan banget, si! Masa namaku jelangkung?" Juno berkata pelan agar tidak terdengar oleh Surya. Aruna memang sengaja memberikan julukan itu kepada Juno, sejak pertama kali dia tahu perasaan Juno kepadanya. Karena waktu itu Juno selalu mengejar dirinya, dan sering muncul tiba-tiba tanpa diundang oleh Aruna. Lalu setelah mereka jadian, Aruna enggan untuk mengganti nama itu, karena menurutnya itu sangat lucu.


Juno pun berdehem sekali untuk menetralkan suaranya yang sempat meninggi. "Emmm ... Om, saya minta maaf, ya. Saya kira Om itu laki-laki yang lagi deketin Aruna. Saya benar-benar minta maaf. Jangan diambil hati, ya ...." lirih Juno menyesali perbuatannya.


Terdengar embusan napas kasar di seberang telepon Juno. "Sudahlah, tidak penting membahas itu. Namamu siapa? Kamu beneran pacarnya Aruna?" tanya Surya untuk ketiga kalinya.


"Iya, Om. Saya pacarnya Aruna. Nama saya Juno Abercio."


"Jun–Juno Abercio? Pemilik perusahaan J&J grup?" tanya Surya terdengar gugup.


"Bener, Om. Om kenal saya?" tanya Juno sedikit canggung.


Terdiam lagi. Juno menunggu Surya menjawab pertanyaannya. Ia pun sempat heran dengan sikap papanya Aruna yang tiba-tiba tergagap ketika mendengar namanya disebut. "Halo, Om. Om. Masih baik-baik aja, kan?" Pertanyaan itu pun tanpa sengaja terlontar. Juno berpikir jika calon mertuanya itu terkena serangan jantung, ketika mendengar calon menantunya adalah orang yang terkenal terlampau kaya di negaranya.


"Ehem." Suara deheman itu membuat Juno menepuk keningnya pelan. Ia seperti mendapatkan sindiran, jika dirinya lagi-lagi berkata tidak sopan.


"Maaf, Om," sesal Juno lagi. "Apa saya boleh berbicara dengan Aruna? Saya benar-benar khawatir karena dari tadi HP-nya susah banget dihubungi," pinta Juno memberanikan diri.


"Aruna nggak bisa ngobrol sama kamu. Dia masih belum sadarkan diri pasca operasi?"


"Operasi? Memangnya Aruna kenapa, Om?" Juno kembali panik.


"Dia ditembak orang."


"Apa? Kok, bisa?" Juno terkesiap mendengarnya.


Juno bungkam. Selama ini Aruna tidak pernah bercerita tentang masalah pribadinya sama sekali. Apalagi hubungan mereka baru terjalin dalam hitungan hari.


"Sa–saya lagi di Jepang, Om ... dan kami memang belum lama jadian. Jadi, Aruna belum sepenuhnya terbuka tentang dirinya sama saya," ungkap Juno setelah beberapa saat terdiam.


Surya terdengar berdecak, "Ya, sudah. Nanti saya ceritakan kalau kita bertemu. Saya menghubungi kamu karena penasaran dengan nama kontak kamu di ponsel anak saya, dan juga karena ada seratus lebih panggilan yang tidak terjawab dari nomor kamu di ponselnya Aruna," terang Surya.


Juno sedikit kesal perihal nama kontaknya tersebut. Namun, rasa kesalnya itu tertutupi oleh rasa khawatir akan keadaan Aruna saat ini. "Om, Saya akan memesan tiket paling awal untuk pulang. Tolong jaga Aruna, jika ada sesuatu atau dia sadar hubungi saya segera, ya!" pinta Juno dengan perasaan campur aduk. Ia mungkin tidak akan bisa tidur malam ini.


"Terserah kamu. Dia anak saya, sudah pasti saya akan menjaganya dengan baik," tegas Surya.


Tak lama panggilan itu pun berakhir. Menyisakan rasa resah dan khawatir. Hati Juno begitu ketar-ketir. Ia ingin malam ini segera berakhir.


...***...


Suara derap langkah yang berbenturan dengan lantai keramik lorong rumah sakit begitu. berisik. Juno setengah berlari setelah turun dari mobilnya yang berhenti di depan pintu masuk rumah sakit. Cahaya mentari pagi seolah memberikannya energi pada tubuhnya yang tidak tidur semalaman. Juno yang tidak sabar menunggu malam berakhir, akhirnya memilih untuk memakai jet pribadi untuk membawanya kembali ke tanah air.


Di perjalanan, Juno sudah menelpon Surya dan bertanya di mana Aruna dirawat, dan di ruangan mana dia menginap. Langkah kakinya langsung tertuju pada ruangan itu. "Aruna!" Juno membuka pintu dengan tidak sabar. Pandangannya langsung tertuju pada perempuan yang berbaring di atas ranjang dengan banyak alat medis yang menempel pada tubuhnya. Erna yang sedang duduk menunggu di samping ranjang Aruna sontak mengalihkan pandangan.


"Nak Juno?" Suara Erna membuat Juno mengalihkan pandangannya pada perempuan itu.


"Tante Erna? Kenapa bisa di sini?" tanyanya heran. Ia mengenal Erna sebagai ibunya Kezia.


Erna beranjak berdiri, menatap Juno yang melangkah menghampiri. "Saya ibu tirinya Aruna," terang Erna yang membuat Juno tercengang.


"Loh, kalau gitu, Aruna anak kandungnya Pak Surya?" Juno dibuat terkejut mendengar hal tersebut.


"Benar, Nak. Aruna memang anak kandung Mas Surya dari istri keduanya."


Juno seketika ingat dengan ceritanya Alfath tentang masa lalu Aruna yang dikhianati oleh papanya, lalu ibu kandungnya meninggal sewaktu dia masih kecil. Alfath tidak bilang siapa nama orang tua Aruna, karena memang Aruna membatasi ceritanya. Tatapannya pun langsung beralih pada wajah cantik yang masih belum sadar di hadapannya. "Kenapa kamu nggak pernah cerita, Sayang?" tanyanya lirih, dan tentunya tidak mendapatkan jawaban apa-apa.


"Nak Juno ini pacarnya Aruna?" Erna mengetahui hal tersebut dari cerita suaminya semalam. Juno mengangguk mengiyakan.


"Kenapa dia bisa tertembak, Tante? Dan siapa pelakunya?" Juno bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Aruna.


"Dia adalah Pak Bana. Dia bersama Pak Danu menculik Aruna. Tante juga nggak tahu kenapa mereka bisa setega ini kepada keluarga kami. Padahal selama ini kami tidak pernah mempunyai masalah apa-apa dengan mereka." Erna berkata sambil menitikkan air mata. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Aruna.


Seketika saja rahang Juno mengeras kencang. Kedua tangannya pun mengepal kuat, menahan emosi yang hampir saja meledak. "Berani menyentuh wanitaku, lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kalian!" geram Juno dalam hatinya.


...***...



...Udah tahu, kan, kenapa dikasih nama jelangkung. Juno suka datang tanpa diundang dan pulang tanpa diantar. 😁...


...Jangan lupa kasih dukungannya ...