Magic Love

Magic Love
Pacar Siapa?




...***...


Hari ini Juno terlihat kesal. Mood-nya berantakan gara-gara dia diacuhkan oleh Aruna seharian. Puluhan pesannya diabaikan, bahkan panggilan teleponnya pun ditolak oleh perempuan itu. Juno seharian ini seperti orang kesurupan. Semua karyawan yang berkaitan langsung dengannya menjadi bulan-bulanan kemarahannya. Apa pun yang dilakukan mereka selalu saja salah. Termasuk Kezia dan juga Devan.


Devan memang meneruskan perusahaan papanya—Sam, tetapi perusahaan itu adalah cabang dari J&J grup. Mau tidak mau Devan harus berurusan dengan Juno selaku CEO utama perusahaan tersebut.


"Jun, mau ke mana? Ini berkas kerja sama dengan PT. Wijaya belum lo cek." Devan yang berpapasan dengan Juno di pintu masuk ruangannya langsung bertanya demikian. Berkas yang dia bawa untuk diberikan kepada Juno pun ia acungkan.


"Besok aja gue lihat. Sekarang gue mau pulang," seru Juno sembari berjalan.


"Pulang ke mana, woy! Belum waktunya pulang," teriak Devan.


"Pak, kita masih ada jadwal meeting dengan klien dari Bandung satu jam lagi. Bapak mau ke mana?" Kini giliran Kezia yang berteriak. Membuat Juno berhenti mendadak. Lalu berbalik menghadap dua karyawan sekaligus sahabatnya itu.


"Kamu pergi sama Devan aja! Kebetulan cabang perusahaannya yang akan menangani projek itu," pungkas Juno.


Devan mengernyit bingung. Dia tidak pernah diberi tahu sebelumnya oleh bosnya tersebut. "Jun, nggak bisa gitu, dong. Gue belum pelajari berkasnya," protes Devan sedikit berteriak, karena Juno kembali melanjutkan langkahnya.


"Zee, jelasin sama dia!" Hanya itu perintah yang didengar dari mulut Juno sebelum lelaki itu menghilang dibalik dinding pembatas. Kezia dan Devan hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menghela napas kasar.


"Kenapa, sih, dia? Dari pagi uring-uringan terus, sekarang main pulang aja sebelum kerjaannya selesai." Kezia mendengus kesal dengan kelakuan bosnya.


"Lagi 'M' kali," celetuk Devan.


"M? Apaan?" Kezia menatap Devan bingung. Devan menoleh ke arah Kezia.


"Masa lo nggak tahu? Itu ... tamu bulanan kaum cewek." Devan menjawab sambil menyengir. Kezia pun mencebikkan bibir. Berkas yang dia pegang pun berhasil mendarat dengan keras di bahu lelaki itu. Membuat Devan mengaduh dan refleks memegang bahu.


"Eh, Zee. Abis meeting, kita jalan, yuk!" Si cowok Casanova memulai aksinya. Kezia memutar kedua bola matanya, malas. Ia sangat hafal dengan gelagat Devan yang mata keranjang. Lelaki itu tidak pernah bosan untuk merayu perempuan.


"Ogah," jawab Kezia, lalu melengos pergi dari sana.


...***...


Di perjalanan, Juno merasa gamang dengan pikirannya. Dalam otaknya hanya ada Aruna. Ia pun memilih untuk melajukan mobilnya ke arah kafe 'Homeless Child'. Juno ingin meleburkan rasa resahnya dengan minuman yang katanya bisa membuat pikirannya jadi melayang.


Namun, sesampainya di kafe. Bukannya dia merasa having fun, tetapi justru malah sebaliknya. Alfath tiba-tiba mengajaknya perang dingin. Lelaki itu bersikap acuh kepada Juno semenjak dirinya datang ke kafe itu. Mungkin dia kesal perihal Aruna yang diajak ke rumah Juno semalam, dan juga sikap Juno yang merasa sudah memiliki Aruna sepenuhnya. Sikapnya yang terlalu posesif tidak membiarkan Alfath untuk mengetahui nomor telepon Aruna sekali pun.


"Siapa, Bi?" tanya Juno setelah dirinya kembali dari kamar. Ia sudah siap untuk keluar. Namun, manakala dia melihat dua orang perempuan yang berdiri di depan gawang pintu. Binar cerah langsung terpancar dari kedua matanya. Salah satu dari mereka adalah perempuan yang dia dirindukan dan membuatnya jadi galau. Kini, perempuan itu sudah ada di depan mata. "Aruna," seru Juno sambil mengulas senyum bahagia.


"Mbak Aruna ini mau ketemu sama Mas Alfath, Mas Jun. Katanya mau ngasih kejutan sama pacarnya itu."


"Apa? Pacar? Alfath?" Keterangan yang diberikan oleh pegawainya—Tika, membuat senyum Juno sontak memudar. Tatapannya terlihat tajam. Mengarah kepada Aruna seolah menuntut jawaban.


"Bang, mu–mungkin si Tika salah nyebut nama. Maksudnya bukan Bang Al, melainkan Bang Jun. Iya, kan, Tik?" Melihat sorot kemarahan terpancar dari mata Juno. Abizar langsung berinisiatif untuk meluruskan kesalahpahaman itu. Namun, nyatanya hal itu benar adanya. Tidak ada yang salah dalam perkataan Tika.


"Nggak, kok. Aku nggak salah nyebut nama, Mas Abi. Mbak Aruna ke sini emang mau cari Mas Alfath, pacarnya Mbak Aruna. Tanya aja sama orangnya!" sanggah Tika dengan yakin. Dia menoleh pada Aruna yang tengah bersitatap dengan Juno. Namun, tatapan mereka terlihat begitu kontras. Juno menatap Aruna dengan tatapan seperti ingin menerkam, sedangkan Aruna menatap Juno dengan tatapan santai.


Awalnya Aruna juga sempat terkejut melihat Juno ada di sana. Dia pikir jika Juno masih berada di kantornya. Namun, setelah berpikir beberapa saat, sepertinya bagus juga kalau Juno memercayai bualannya itu. Mungkin dengan begitu, Juno akan berhenti mengejar cinta Aruna.


"Antar aku pulang!" Perkiraan Aruna salah. Juno malah menarik tangan Aruna, mengajaknya pergi dari sana.


"Eh, eh, eh, apa-apaan, si? Aku nggak mau. Aku ke sini bukan mau ketemu sama kamu, tapi sama Mas Al. Kamu datang ke sini sendiri, pulang juga sendiri, dong," tolak Aruna sambil menepis tangan Juno.


"Aku tadi minum wine. Kayaknya aku sedikit pusing dan nggak bisa nyetir. Jadi, sebagai pacar aku. Kamu harus nganter aku pulang!" Aruna melebarkan kedua matanya. Bisa-bisanya Juno berkata seperti itu di hadapan pegawai dan temannya.


"Hey, pacar siapa? Kapan kita jadian?" pekik Aruna menyangkalnya.


"Semenjak aku sudah menuruti semua syarat yang kamu mau. Ingat, nggak?"


Aruna berpikir sejenak. Rasa menyesal karena sudah memberikan syarat yang begitu mudah kepada Juno hinggap di hatinya. Seharusnya Aruna mengikuti Dayang Sumbi yang meminta syarat dibuatkan bendungan dan perahu besar kepada Sangkuriang dalam waktu semalam untuk membuktikan cintanya. Dengan begitu, Juno pasti tidak akan bisa.


"Loh, loh. Bukannya Mbak Aruna ini pacarnya Mas Al? Kenapa Mas Juno ngaku-ngaku jadi pacarnya juga? Piye toh iki?" tukas Tika dengan logat Jawa-nya. Ia merasa bingung atas perkataan Juno barusan.


"Diem, kamu!" Tika sontak membungkam, dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tatapan mata Juno seperti hendak menelannya hidup-hidup. Tika pun menundukkan pandangan.


"Ada apa, si, ribut-ribut?" Alfath yang mendengar sedikit keributan, akhirnya menghentikan aktivitasnya membuat resep baru. Di dalam ruangan itu memang tersedia sebuah dapur kecil. Tempat khusus Alfath untuk membuat kreasi masakannya. Dia merasa terganggu ketika mendengar suara yang begitu gaduh.


...***...



Next 👉


Up dulu satu, lanjutannya masih diketik 😁