Magic Love

Magic Love
Ketahuan




...***...


Binar cerah langsung terpancar dari wajah Juno. Ia yang semula hanya menatap ke depan jalan, kini memiringkan tubuhnya menghadap Aruna. "Benarkah? Kapan itu?"


Ditanya seperti itu Aruna mendadak gagu. Lidahnya pun terasa kelu. Jangankan untuk menyakinkan Juno, untuk menyakinkan hatinya saja, ia masih ragu.


"Maaf, aku nggak tahu. Dan aku nggak bisa menjawab pertanyaan itu." Aruna sontak menghindari bertatap muka dengan Juno, kepalanya memutar ke arah jendela kaca.


Juno menghela napasnya. Sekali lagi, dia harus sabar menghadapi Aruna. "Aku akan tetap nunggu kamu," ucap Juno terdengar tulus.


Ada rasa lega dalam hati Aruna. Entah kenapa dirinya begitu senang ketika Juno berkata akan tetap setia. Perlahan mulai ada harapan yang bersemayam dalam dada, jika dirinya perlu mengenal cinta.


"Aku masuk dulu, ya!" pamit Aruna mengalihkan rasa gugupnya.


Juno mengulas senyuman lalu menganggukkan kepalanya. "Selamat istirahat, ya. Jangan lupa undang aku dalam mimpi kamu!"


Saling berbalas senyum mereka lakukan. Aruna menatap sorot mata yang menyiratkan sebuah ketulusan seorang Juno. Hati Aruna seperti bergemuruh, dengan begitu tetesan kesabaran yang Juno berikan di hati perempuan itu akan segera penuh.


...***...


Esok harinya, Aruna masih diliputi rasa penasaran terhadap pertemuannya dengan Bana dan Danu di restoran. Perempuan berkacamata itu pun ingin bertanya langsung kepada sang papa perihal perusahaan kompetitor yang dimaksud oleh Juno.


Dengan alasan memberikan berkas laporan keuangan bulanan yang harus ditandatangani oleh Surya, Aruna pun menemui direktur utama sekaligus papanya tersebut di ruangannya.


"Masuk!" Surya berkata setelah mendengar suara ketukan pintu di luar ruangannya. Masuklah seorang Aruna ke dalam sana. "Rere? Sini, Sayang!" Surya merasa senang ketika melihat anaknya datang. Karena ini adalah kali pertamanya Aruna datang sendiri ke ruangan itu tanpa diminta oleh sang papa. Biasanya Dena selaku penanggung jawab berkas akuntansi divisi keuangan, yang selalu memberikan laporan tersebut.


"Aku sudah bilang, jangan panggil 'Rere'!" protes Aruna dengan wajah masam.


Surya mengulas senyuman. "Kita cuma berdua di sini, nggak akan ada yang denger," kilah Surya.


"Ini." Aruna menyodorkan berkas yang dia bawa. Surya pun menerimanya dan membaca isinya.


"Tumben kamu yang nganterin laporan ini? Dena ke mana?" tanya Surya heran.


"Ada, aku ke sini sekalian ada yang mau tanyain sama Bapak."


"Papa!" Surya melarat panggilan Aruna kepadanya. "Papa sudah bilang, kita cuma berdua. Lagipula, kenapa kamu takut sekali ketahuan orang lain kalau kamu itu anak papa?" tambah Surya. Ada rasa kecewa yang tergambar dalam tiap kerutan di wajahnya yang mulai memasuki usia senja.


"Aku belum siap aja. Lagian bentar lagi juga aku akan pergi dari sini," ungkap Aruna.


"Kenapa? Ini perusahaan kamu juga, Nak. Sebentar lagi papa pensiun. Papa harap kamu mau meneruskan perusahaan ini." Surya memelas kepada Aruna. Tubuhnya yang sering sakit-sakitan sudah tidak boleh terlalu kelelahan.


"Suruh saja anak sulung Papa yang menggantikan! Dia juga berhak atas perusahaan ini." Surya terhenyak sesaat. Selama ini Aruna tidak pernah merelakan apa pun milik papanya diberikan kepada Kezia. Lalu sekarang, apakah Aruna sudah menerima keberadaan Kezia sebagai kakak kandungnya?


"Kalian berdua sama-sama berhak atas usaha papa, Nak," tegas Surya.


Tidak ada yang bisa membantah keinginan perempuan muda yang keras kepala itu. Perkataannya yang panjang lebar, membuat Surya tidak bisa menyangkal dan hanya bisa menghela napas kasar. "Apa yang mau kamu tanyakan sama papa?" tanya Surya kemudian.


"Perusahaan JackSnack, dengan pemilik yang bernama Jackson Ray. Juga bergerak dalam bidang yang sama dengan perusahaan ini. Apakah benar, perusahaan itu selalu berusaha untuk menjadi kompetitor kita?" tanya Aruna langsung pada intinya.


Surya berpikir sejenak. Ia merasa heran kenapa tiba-tiba Aruna bertanya tentang orang tersebut. Namun, Aruna juga salah satu penerus perusahaan Suryafood, dia berhak tahu tentang semua yang berkaitan dengan perusahaan tersebut.


"Iya, Jackson adalah teman lama papa. Dia membenci papa karena waktu itu Pak Jonathan lebih percaya kepada papa untuk membangun perusahaan ini. Makanya dia selalu bersaing dengan papa dalam beberapa tender yang sama."


"Pak Jonathan, papanya Juno?" tanya Aruna menyela penuturan Surya. Lelaki itu menganggukkan kepala, tanda iya.


Seulas senyum samar tebersit di bibir Aruna. Ada getaran aneh yang menjalar dalam tubuhnya, seolah suara Juno sedang berbisik di telinganya.


"Jackson selalu berusaha merebut tender perusahaan ini, dan juga kepercayaan Pak Juno. Setelah tidak berhasil mendapatkan kepercayaan orang tuanya, Jackson berusaha mendapatkan kepercayaan anaknya. Sebelumnya Pak Juno sudah mulai terpengaruh sama dia. Tapi beruntungnya ada kamu, Re. Pak Juno sangat suka sama kinerja kamu, jadi dia tidak jadi beralih sama si Jackson itu," terang Surya. Lelaki tua itu tidak pernah tahu, jika saja Aruna mau, anak pemilik saham terbesarnya itu bakal jadi calon menantu.


Aruna bergeming, pikirannya berputar perihal pertemuan antara Bana dan juga Danu. Apa mereka adalah pengkhianat yang disimpan oleh Jackson di perusahaan papanya? Dia juga ingat dengan seseorang yang mencurigakan dengan obrolan teleponnya di lorong dekat ruangan Aruna tempo lalu. Apakah orang itu salah satu di antara mereka? Aruna harus menyelidikinya.


"Kamu kenapa tiba-tiba nanyain ini? Dan dari mana kamu tahu tentang nama Jackson? Papa nggak pernah ngebahas tentang dia, kan?" Pertanyaan Surya mengembalikan pikiran Aruna yang sempat melamun.


"Dari Ju— ...." Aruna terhenyak sejenak. Dia hampir saja keceplosan dan menyebut nama Juno dengan begitu akrab. Hal itu akan membuat Surya curiga dengan hubungan keduanya. Aruna pun langsung meralat perkataannya, "maksud aku, ju ... jujur aku nggak sengaja denger dari beberapa karyawan yang lagi ngomongin hal itu. Makanya aku penasaran terus nanyain ke Papa." Sembari menghela napas, Aruna mengarang cerita.


"Oh, gitu." Surya mengangguk sambil memegang dagu.


"Kalau gitu aku pamit, Pa. Mau balik kerja lagi," pamit Aruna. Tubuhnya pun berbalik arah dan berjalan menuju pintu. Namun, saat Aruna berhasil membuka pintu itu, Surya memanggil namanya kembali. Membuat gerak Aruna terhenti dan menghadap papanya lagi.


"Ada apa lagi?" tanya Aruna yang berdiri di ambang pintu yang terbuka setengah.


Surya beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri Aruna. "Papa mau minta maaf sama kamu. Karena selama ini sudah menutupi hubungan kamu sama Zia. Papa juga tahu, kesalahan papa sama mama kamu dulu tidak bisa dilupakan begitu saja. Tapi, papa mohon sama kamu. Setelah kamu tahu semuanya, bersikap baiklah pada Zia. Bagaimanapun juga dia kakak kandung kamu."


Aruna terdiam, tangannya masih menggenggam gagang pintu yang baru saja dia putar. Hati nuraninya tengah berperang antara kebencian dan penyesalan. Aruna gamang, haruskah dia berdamai dengan Kezia? Yang artinya dia juga harus menerima Erna sebagai pengganti sang mama?


Menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan. Aruna mencoba menimbun kekuatan. "Aku lagi nggak mau bahas itu, Pa. Permisi!"


"Rere!" Surya mencoba mengejar Aruna yang langsung mengambil langkah panjang. Perempuan itu berjalan gontai sambil menundukkan pandangan. Sesekali terlihat mengusap pipinya yang basah karena kristal bening sudah meleleh di sana.


"Rere itu siapa Pak Surya? Bukannya tadi itu Aruna?" Pertanyaan seseorang dari dari arah belakang membuat Surya langsung membalikkan badan. Orang itu sedari tadi mendengarkan perbincangan antara anak dan ayah itu dari kejauhan.


"Pak Bana?" ucap Surya pada tersebut.


...***...



^^^Aduh, ketahuan ... Dukung Aruna terus, ya Readers ❤^^^