
...Hallo, Readers... ...
...Maaf, baru update lagi. Malam ini aku tamatin kisah ini, ya. Mudah-mudahan nanti aku dikasih ilham buat bikin novel baru. Nanti pantengin igeh aku aja @amih_amy. ...
...Kabar tayangnya aku sebar di sana. Makasih 🥰...
...***...
Warna langit kini terlihat gelap. Hanya terlihat kerlip cahaya bintang yang menyebar mengisi hamparan luas atap dunia tersebut. Walau tanpa cahaya bulan yang menemani, nyatanya cahaya ribuan bintang itu mampu membuat suasana malam jadi lebih menenangkan.
Juno yang tidak sabar ingin segera melepas keperjakaannya untuk sang istri, lagi-lagi harus menahan diri. Saat detik-detik akhir acara, ternyata ada tamu penting yang tidak bisa Juno abaikan kedatangannya. Mau tidak mau lelaki itu harus menemani tamu yang adalah rekan bisnisnya dari negeri tetangga. Jauh-jauh datang kondangan, masa iya tidak dilayani dengan baik oleh yang punya hajatan.
"Tamunya udah pulang?" Aruna bertanya ketika Juno sudah memasuki kamar pengantin mereka. Perempuan itu menoleh ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka, dan memunculkan sosok suaminya di sana. Dia tidak merasa jenuh menunggu suaminya datang, karena baru beberapa menit yang lalu Naomi baru keluar dari kamar itu. Menemani Aruna sekalian mencari informasi tentang seseorang yang Aruna kenal. Lelaki yang tadi sore dia ceritakan, ternyata adalah chef Al.
"Udah." Juno tersenyum menatap istrinya yang sedang duduk di depan cermin. Kakinya melangkah mendekati perempuan yang belum sehari jadi istrinya tersebut. "Aunty Nom tadi dari sini?" tanyanya lagi. Mereka sempat berpapasan di luar kamar. Ketika ditanya oleh Juno bibinya dari mana, bibi kecilnya itu malah menjawab rahasia. Juno hanya bisa menduga-duga.
"Iya, kami ngobrol panjang lebar," jawab Aruna, melanjutkan kembali aktivitasnya mengusapkan kapas basah di wajahnya, menghapus sisa make up di sana.
"Kalian ngobrol apa aja?" Juno menyimpan kedua tangannya di pundak Aruna. Jemarinya bergerak memberikan usapan lembut di sana.
"Dia tanya banyak tentang Chef Al. Kayaknya aunty-mu udah beneran jatuh cinta pada pandangan pertama, deh, sama dia." Aruna terkekeh pelan.
"O, yah?" Juno tidak terlalu memperhatikan. Dirinya sibuk memindai tubuh Aruna. Leher jenjang nan putih di hadapannya begitu menggoda. Ingin rasanya dia melukis jejak kepemilikannya di sana.
"Iya, tapi dia juga cerita banyak tentang kamu." Juno yang hendak membungkukkan sedikit tubuhnya terpaksa tegak kembali, manakala sang istri tiba-tiba berbalik menghadapnya.
"Kenapa?" Juno bertanya heran melihat raut wajah Aruna yang tiba-tiba muram. Tadi ia tidak terlalu mendengar apa yang Aruna ucapkan.
"Aunty kamu tadi cerita, kamu pernah punya pacar waktu kuliah di Jepang. Dan hampir serius kalau saja pacar kamu itu tidak pergi demi karirnya."
"Terus?"
"Kamu, kok, nggak pernah cerita sama aku?" Aruna pura-pura merajuk.
"Itu masa lalu, Sayang. Semua orang juga pernah punya mantan," ucap Juno sambil mencondongkan wajahnya hendak membidik bibir Aruna dengan bibirnya.
"Aku nggak pernah punya mantan." Aruna menghentikan bibir Juno dengan telapak tangan. Tentu saja Juno sedikit kesal.
"Kamu gimana mau punya mantan. Kan, cuma aku yang bisa meluluhkan hati kamu." Dengan bangganya Juno berkata seperti itu.
Aruna mencebikkan bibir. Lalu mendorong dada suaminya yang lagi-lagi berusaha untuk menciumnya. "Kamu masih mencintai mantan kamu itu?"
"Ya, enggak, lah. Aku hanya mencintai kamu, Sayang."
Aruna terdiam. Juno pun mengulangi usahanya untuk mendapatkan jatahnya malam ini. Kali ini tangan Juno meraih pinggang Aruna, hingga tubuh mereka menempel tanpa celah. Tangannya pun mulai bergerilya dan menyusup ke dalam baju piyama Aruna. Memberikan sentuhan lembut di kulit punggung perempuan itu.
"Panggil aku 'mas', Sayang! Aku suami kamu sekarang." Juno memprotes panggilan Aruna kepadanya. Perempuan itu belum terbiasa.
"Oh, iya. A—aku mau nanya, Mas."
Mendapatkan panggilan seperti itu, rasa ingin Juno semakin besar saja. Panggilan Aruna kepadanya terdengar sangat mesra. Seperti menariknya agar segera menapaki bukit berbunga yang menantang di hadapannya.
"Tanya apa?" Juno mengeluarkan tangannya dari balik baju Aruna. Pindah ke depan untuk membuka kancing baju Aruna satu persatu.
Terlalu serius menatap wajah Juno, Aruna tidak menyadari kegiatan suaminya tersebut.
"Jika suatu saat mantan kamu kembali, lalu dia minta balikan lagi. Apa kamu akan menerimanya?"
"Kenapa kamu nanya kayak gitu?" Tangan Juno berhenti di kancing baju ketiga milik istrinya. Kedua netranya menatap lekat wajah istrinya yang terlihat resah.
"Karena dia cinta pertama kamu. Dan asal kamu tahu, dulu Mama Erna adalah cinta pertama papa. Mereka pernah terpaksa bercerai karena sesuatu hal. Lalu setelah beberapa tahun berlalu, mereka bertemu kembali. Nyatanya papa nggak bisa lupain Mama Erna. Dan akhirnya, kamu tahu sendiri takdir mereka seperti apa." Aruna menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah suaminya. Ia takut Juno melihat kedua matanya yang sudah membendung air mata.
Hasrat Juno yang tadi sudah memburu seolah melebur menjadi abu. Dilepasnya tubuh Aruna, lalu mundur satu langkah sebelum dirinya membalikkan badan. "Maaf, mungkin aku terlalu buru-buru. Jadi kamunya belum siap. Aku mandi dulu aja."
Juno mengira perkataan Aruna hanya untuk menolak dirinya. Jujur, Juno paling tidak suka jika Aruna sudah membahas perihal masa lalu mertuanya. Aruna selalu menganggap semua lelaki itu sama. Berkali-kali, Aruna salah paham seorang diri dengan prediksinya sendiri.
Aruna yang ditinggalkan oleh suaminya tentu saja sedih. Juno yang tidak mau menjawab pertanyaannya terkesan masih gamang dengan perasaannya. Mungkin Juno masih mencintai mantannya, dan tidak mau menyakiti hati istrinya. Begitulah pikiran Aruna.
"Juno ... aku nggak bisa hidup dengan laki-laki yang masih terbayang-bayang dengan masa lalunya. Jika memang kamu tidak bisa melupakan mantan kamu itu. Lebih baik kita berpisah sekarang saja. Aku tidak mau lebih terluka, jika terus bertahan seperti mama."
Kalimat panjang itu membuat langkah Juno terhenti. Tubuhnya yang hampir mendekati pintu kamar mandi sontak berbalik, lantas berlari. Tujuannya adalah tubuh istrinya, dipeluknya tubuh ringkih perempuan yang sangat dia cintai itu dengan posesif.
"Kamu ngomong apa, sih? Kita baru saja menikah. Masa iya kamu udah ngajakin pisah." Juno mengeratkan pelukannya, ketika merasakan tubuh Aruna bergetar. Perempuan itu menangis dalam pelukan Juno.
"Aku takut, Mas. Aku takut ...." Suara Aruna terdengar parau. Ia balas memeluk Juno tak kalah erat.
"Sayang, aku ngerti dengan perasaan kamu, tapi kamu juga harus tahu, tidak semua laki-laki bisa melakukan hal yang sama seperti yang papa kamu lakukan dulu. Setiap orang mempunyai caranya sendiri untuk menyelesaikan masalah mereka, tapi tolong percayalah! Aku tidak akan pernah mengkhianati kamu ataupun melepaskan kamu hanya karena masa lalu. Aku sangat mencintai kamu, Aruna."
Aruna masih tergugu. Lelehan air matanya membuat kemeja bagian depan Juno menjadi basah. Juno sedikit mendorong tubuh Aruna sekadar untuk melihat wajah istrinya. "Sayang, sekarang aku tanya sama kamu. Apa kamu juga mencintai aku?"
Aruna menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Seperti aku percaya dengan cinta kamu, apa kamu juga bisa percaya dengan cinta aku?"
Aruna tertegun menatap wajah Juno dengan kedua matanya yang sembab dan masih mengeluarkan air mata. Sesekali limpahkan air itu diusap lembut oleh tangan Juno. "Aku tidak tahu dengan masa depan kita seperti apa. Yang aku tahu, saat ini aku hanya mencintai kamu. Aku hanya ingin kamu yang menjadi istri aku," lanjut Juno lagi.
...***...
Next 👉
Jempolnya tinggalin dulu 👍