
...***...
Sebuah batu yang dipukul dengan keras dan kasar hanya akan menghasilkan sebuah bongkahan. Namun, jika ia dipahat dengan tekun dan penuh kesabaran, maka ia akan menghasilkan sebuah karya seni yang indah dan menakjubkan.
Begitupun dengan hati. Ia yang dipaksakan untuk menerima kenyataan yang sesungguhnya sangat dia benci, hanya akan membuat kebencian itu semakin menguasai. Namun, jika hati itu selalu dijejali dengan kasih sayang yang bertubi-tubi, lambat laun ia akan tahu makna dari cinta sejati.
Sabar adalah kuncinya. Kata maaf adalah tujuannya. Cara meminta maaf yang baik bukan hanya lewat ucapan, melainkan sebuah tindakan yang menunjukkan bentuk penyesalan.
Selama ini Aruna memang salah paham terhadap hubungan orang tuanya di masa lampau. Aruna sudah mendengar cerita dari versi sang papa tentang kisah cinta segitiga antara Surya, Erna, dan Maya. Di situ dia tahu, Erna yang selama ini ia anggap pelakor dan perusak kebahagiaan keluarganya tidak sepenuhnya salah. Ia jadi menyesal karena terlalu membenci perempuan itu. Apalagi selama ini Erna selalu mencintainya dengan tulus.
Benar kata sang mama, 'jangan membenci keluarga baru papamu! Mereka tidak sepenuhnya salah.' Rasa benci dan egois terlalu menguasai Aruna saat itu. Ia hanya percaya dengan apa yang dia lihat. Yang ia tahu, mamanya begitu menderita saat itu.
Tinggal di rumah Surya bukanlah keputusan yang salah. Selain bisa mendapatkan perawatan terbaik dan perhatian ekstra, Aruna juga sudah tidak merasa kesepian. Putri pun jadi ada yang memperhatikan, selain oleh dirinya yang masih terbatas dalam melakukan pekerjaan.
"Ayo, Put, kita berangkat!" Seusai menyelesaikan aktivitas sarapan, Surya mengajak Putri untuk berangkat sekolah bersama dengannya yang hendak berangkat kerja.
"Baik, Pak." Putri beranjak berdiri, lalu meraih ranselnya yang bersender di kaki kursi. Ia menyalami semua orang yang berada di meja makan tersebut, yang terdiri dari keluarga lengkap Surya, tetapi tanpa seorang Kezia.
"Kak Zee ke mana, Ma?" tanya Aruna kepada Erna selepas Surya dan Putri pergi.
"Masih di kamar, Na. Katanya nggak enak badan," jawab Erna setelah menenggak air minum dalam gelas yang menyisakan setengah isinya.
"Sakit? Tadi malam kita masih ngobrol, dan dia keliatan baik-baik aja." Aruna mengernyitkan keningnya merasa heran.
"Mama nggak tahu. Katanya tadi sakit perut. Sarapan aja dibawain sama bibi ke kamar," ujar Erna.
"Nanti aku lihat, deh," ucap Aruna lalu memasukkan satu sendok terakhir nasi goreng ke dalam mulutnya. Ia begitu penasaran. Akhir-akhir ini Kezia seringkali mengeluh tidak enak badan, tetapi nafsu makannya tidak pernah berkurang.
Erna menganggukkan kepala sembari tersenyum. Ia merasa bahagia karena kini Aruna sudah mau memanggilnya 'mama'. Begitupun dengan hubungan anak-anaknya yang sudah tidak saling cuek lagi.
Setelah aktivitas sarapannya selesai, Aruna melangkahkan kakinya menuju kamar Kezia. Diketuknya pintu kamar itu, hingga ketukan ketiga pintu pun terbuka secelah.
"Ada apa?" tanya Kezia yang hanya melongokkan kepalanya keluar kamar. Ia tidak mengizinkan Aruna untuk masuk ke dalam. Bahkan untuk sekadar mengintip saja tidak dibiarkan.
"Katanya sakit?" tanya balik Aruna.
"Cuma sakit perut. Udah baikan, kok. Kamu istirahat sana! Kalau mau ke mana-mana, bilang, ya. Aku harus laporan sama pacar kamu." Kezia malah mengusir Aruna tanpa menyuruhnya masuk terlebih dahulu. Bahkan Aruna yang hendak mendorong pintu langsung ditahan oleh tangan Kezia dari dalam.
"Kamu ngumpetin apa, si?" Diperlakukan seperti itu, malah membuat Aruna semakin ingin tahu.
"Nggak ada apa-apa. Kamu terlalu kepo. Udah, pergi sana!" usir Kezia lagi.
Bukan Aruna namanya kalau langsung menyerah. Walaupun tangan kirinya tidak bertenaga karena bahunya terluka, tangan kanannya masih punya kekuatan penuh untuk mendorong pintu itu sekuat tenaga. "Aku nggak percaya." Dengan sedikit paksaan, tubuh Aruna berhasil menerobos masuk kamar Kezia.
"Ehm ... itu ... ehm ... aku cuma lagi pengen aja. Tadi bibi yang ngasih." Kezia berkelit dengan gugup. Kedua matanya berpendar ke sembarang arah. Mengisyaratkan ada sesuatu yang ia sembunyikan sekarang.
Aruna tidak percaya. Ia mengedarkan pandangannya memindai seisi kamar. Ada benda kecil di atas nakas yang menjadi fokusnya. Lalu membawa kakinya melangkah menghampiri benda itu. Kezia yang baru menyadari arah pandang Aruna langsung menyusul hendak mencegah Aruna mengambil barang itu. Namun sayang, tangan Aruna lebih cekatan. Merebut benda itu dan menggenggamnya dengan kencang.
"Aruna, jangan dilihat! Balikin sama aku!" Kezia yang panik berusaha merebutnya dari tangan Aruna. Hingga terjadi aksi rebut-rebutan dengan gesekan fisik di sana.
"Ah!" Aruna pura-pura bahunya kesakitan. Membuat fokus Kezia teralihkan.
"Maaf, maaf, aku nggak lupa." Kezia melepaskan tubuh Aruna dan mundur satu langkah. Kedua tangannya mengambang di udara.
Senyuman smirk terukir licik di bibir Aruna. Ia mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang, lalu membuka genggaman tangannya perlahan. Kedua matanya terbeliak sempurna manakala melihat benda pipih yang menunjukkan dua garis merah di atasnya. Aruna tahu benda itu. Alat tes kehamilan. Kezia menunduk lesu. Ia sudah pasrah jika akhirnya Aruna harus tahu.
"Ini ... punya kamu?" tanya Aruna dengan nada sedikit bergetar. Kepalanya mendongak dan dengan tatapan butuh penjelasan, "jawab, Kak!" seru Aruna dengan tidak sabar karena bibir Kezia masih saja bungkam.
"Iya." Kezia menjawab singkat dengan kepala yang tertunduk dalam.
Aruna beranjak berdiri. Disentuhnya pundak sang kakak yang kini bergetar karena tangis yang tidak bisa ia tahan. "Siapa ayahnya?" tanya Aruna .
Kezia masih membisu. Bibirnya terasa kelu untuk menyebutkan siapa ayah dari bayi itu. Pasalnya, Kezia juga tidak menginginkan bayi itu hadir ke dunia. Makanya dia berniat untuk menggugurkannya saja.
"Kamu nggak perlu tahu. Aku akan urus janin ini, dan berusaha untuk menghilangkan jejaknya. Aku jamin nama baik keluarga kita akan tetap terjaga."
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Kezia. "Gila, kamu!" Aruna melotot tajam penuh emosi. "Kamu mau nambah dosa dengan menggugurkan bayi itu, hah? Tega kamu, Kak! Bayi itu nggak salah."
"Lalu membiarkan bayi ini merusak segalanya. Merusak masa depan aku? Merusak nama baik keluarga kita, gitu? Lagipula bayi ini hanya hasil ketidaksengajaan. Malam itu aku mabuk, dan kejadian itu terjadi begitu saja. Aku bahkan baru pertama kali bertemu dengan lelaki itu." Kepala Kezia mendongak, menatap Aruna dengan sorot mata kemerahan dan penuh amarah. Ia benci dengan keadaan ini. Ia benci dengan takdir yang harus ia hadapi.
"Astaga ... otakmu disimpan di mana, si, Kak?" Aruna terkesiap lagi. Keningnya sudah berkerut begitu dalam. Tidak habis pikir dengan kelakuan kakaknya yang ia kenal pendiam. "Kamu pikir dengan menghilangkan bayi itu, semuanya akan baik-baik saja? Suatu saat keluarga kita pasti tahu. Mereka bukan hanya kecewa, tapi akan sakit hati juga. Hati kamu akan terjerat dalam lubang penyesalan dan nggak akan bisa keluar, Kak. Bagaimanapun juga bayi itu darah daging kamu."
Tubuh Kezia merosot ke lantai. Ia bersimpuh sembari menutup wajahnya dengan telapak tangan. Tubuhnya gemetar dengan isak tangis yang sesegukan. Bingung, takut, kesal, bersatu menyerang hatinya yang gamang.
"Terus aku harus gimana? Aku nggak mungkin melahirkan bayi dari laki-laki yang baru sekali aku temui. Dia juga sudah pergi ke luar negeri dan katanya nggak akan kembali."
...***...
...Eh, bibit unggul Abizar tokcer juga ternyata. Kira-kira Abizar bakalan pulang nggak, ya 😅...
...Othor butuh kopi, Readers. Mau begadang ntar malem. Ada yang mau ngasih? 🥰...