
...Happy Reading ...
...***...
"Juno, jangan gini, ah, malu tahu! Kita jadi bahan tontonan orang," protes Aruna dengan suara pelan, tetapi penuh penekanan. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Senyuman canggung ia sematkan untuk memberikan kesan baik kepada setiap orang yang sedang melihat ke arah mereka.
Namun, Juno masih bergeming. Tangannya malah semakin kuat mengekang tangan Aruna. "Aku nggak peduli. Biarkan mereka semua tahu, kalau aku peduli sama kamu."
"Terima aja, sih, Mbak! Orang ganteng gitu, kok, ditolak," celetuk seorang pembeli yang duduk tidak jauh dari tempat mereka berada. Mereka mengira jika Juno sedang menyatakan cinta.
"Kalau si Mbaknya nggak mau, sama saya aja, Mas! Saya mau, kok." Celetukan lainnya terdengar dari orang yang berbeda. Suasana jadi sedikit riuh, karena cekikikan mereka terdengar memenuhi warung kecil pedagang bakso tersebut. Aruna semakin salah tingkah. Ia jadi gemas dengan sikapnya Juno yang kekanak-kanakan menurutnya.
Mencondongkan sedikit kepalanya mendekati Juno, Aruna berkata lagi dengan nada lebih pelan, "Kalau kamu nggak lepasin tangan aku sekarang, jangan harap lain kali ketemu aku lagi, Juno Abercio!"
Berhasil. Tangan Aruna sontak terlepas dari genggaman Juno. Perempuan berkacamata itu tersenyum pelik menatap lawan bicaranya itu. "Cepet makan baksonya! Kalau aku abis duluan, nanti kutinggal," ancam Aruna yang membuat Juno semakin membungkam.
Helaan napas kasar pun Juno lontarkan dengan pasrah. Bibirnya berdecak kesal, dan kedua matanya mendelik tajam. Aruna memang perempuan yang tidak bisa dipaksa. Beruntung dia masih bersikap biasa saja, tidak seperti dulu yang langsung marah-marah. Sejurus kemudian, mereka pun melanjutkan aktivitas makan siang yang sempat tertunda tanpa perbincangan apa-apa.
...***...
Seiring detik waktu yang berputar sesuai porosnya. Rutinitas yang mengalir setiap hari tanpa terasa terlewati. Sesuai perkataan Aruna tadi siang, sepulang bekerja perempuan itu mampir terlebih dahulu ke Cafe Homeless Child. Di sana dia disambut oleh Alfath yang sudah mengetahui akan kedatangan Aruna lewat pesan WhatsApp yang dikirimkan oleh perempuan itu.
"Kamu mau makan apa?" tanya Alfath yang hendak melayani tamunya dengan baik.
"Menu terbaik cafe ini, dong," jawab Aruna sambil mengulas senyuman.
"Oke." Setelah berkata seperti itu, Alfath pergi meninggalkan Aruna dengan senyuman yang merekah. Perempuan itu duduk di meja pengunjung kafe, berbaur dengan pelanggan yang lainnya. Aruna tidak ingin diperlakukan spesial, tetapi nyatanya Alfath yang melayaninya secara khusus. Bahkan sampai menarik perhatian para pengunjung lain yang baru melihat chef tampan yang selama ini tertutup dan tidak pernah berbaur dengan pelanggan.
"Aruna." Suara seseorang yang memanggil namanya membuat gadis itu menoleh ke asal suara. Bibirnya mengulas senyuman pada seseorang yang memang dia kenal.
"Juno, kamu udah pulang? Katanya mau ada meeting sama klien?" tanya Aruna pada lelaki yang mendudukkan tubuhnya di kursi kosong di hadapannya.
"Aku cancel."
Juno tersenyum. Padahal dirinya baru saja bersitegang dengan Kezia perihal rapat penting yang tiba-tiba Juno batalkan, lantaran mendapatkan kabar bahwa Aruna sudah berada di kafe miliknya tersebut.
"Jadi CEO itu enak, ya. Mau batalin meeting mendadak juga nggak masalah," sindir Aruna sambil menopang dagunya dengan telapak tangan. Ia hafal betul sikap Juno yang kadang suka bersikap seenaknya.
Juno menggaruk pelipisnya sambil menyengir. "Itu gara-gara kamu yang nggak mau nungguin aku," ujarnya menyalahkan Aruna.
"Kok, jadi aku? Memangnya aku berbuat apa sama perusahaan kamu?" Aruna menurunkan tangannya dan duduk tegak.
Gombal! Kata itu yang ingin Aruna lontarkan. Namun, ia hanya bisa bergumam dalam hatinya sambil mendengus sebal. Walaupun tidak bisa dipungkiri, hatinya sedikit dibuat melayang.
"Tada ... nuttela chocolate dan klapertart rasa nangka, andalan kafe ini siap disantap." Kedatangan Alfath yang membawa pesanan Aruna pun menghentikan perbincangan mereka. Alfath belum sadar, jika lelaki yang duduk berhadapan dengan Aruna adalah Juno. Fokusnya hanya pada Aruna.
"Cih, sok manis banget ngomongnya!" Perkataan Juno sukses membuat atensi Alfath beralih kepada lelaki itu.
"Ngapain lo di sini?" tanya Alfath ketus sambil melipat tangan di depan dada. Aruna mendongak menatap Alfath lalu beralih pada Juno setelahnya. Kedua matanya bergantian menatap kedua lelaki yang tengah mengibarkan bendera perang di hadapannya.
"Ini kafe gue juga, ya. Bahkan modal gue yang paling besar, kalau lo lupa." Juno berkata angkuh dengan pandangan tertuju pada Aruna.
Alfath mencebikkan bibirnya. Merasa tidak akan menang melawan sumber kekayaan di kafe itu, ia pun memilih untuk mengabaikannya dan kembali menghadap Aruna. Bahkan lelaki itu dengan sengaja menarik salah satu kursi kosong untuk didekatkan dengan Aruna. Menopang kepalanya dengan telapak tangan yang sikunya bertumpu di atas meja. Hal itu membuat kepulan asap cemburu pada diri Juno semakin mengepul saja.
"Enak, nggak?" tanya Alfath pada Aruna dengan nada lembut.
Aruna menelan makanan yang baru dia kunyah. "Enak banget! Masakan chef Al emang nggak ada duanya," puji Aruna sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Juno yang merasa tidak senang dengan keakraban mereka berdua lantas menarik tubuh Alfath agar berdiri dari kursi tersebut. "Lo bukannya sibuk di dapur, ya? Kalau lo di sini, yang masak pesanan pelanggan siapa?" tanya Juno secara tidak langsung mengusir lelaki itu.
"Dih, bukannya lo udah tahu. Asisten gue ada tiga. Lagian selama ini kerjaan gue cuma ngawasin mereka aja, sama bikin menu baru buat kafe kita ini. Lo kenapa, si? Sana masuk ke tempat biasa! Biasanya juga di sana," cetus Alfath.
Juno meremas telapak tangannya karena merasa gemas dengan sikap Alfath yang tidak peka. Bukankah dia tahu kalau Juno sedang dalam misi mengambil hati Aruna kembali. Seharusnya lelaki itu yang pergi, bukannya Juno yang sedang melakukan misi pengejaran.
"Aruna, tunggu bentar, ya!" Setelah berkata seperti itu, Juno menarik tangan Alfath untuk menjauh dari perempuan itu. Aruna hanya mengangguk bingung dengan kelakuan kedua lelaki tersebut. Lalu mengedikkan bahu tanda tidak peduli, ia memilih untuk melanjutkan kembali aktivitasnya menikmati cake yang sayang sekali jika tidak dihabiskan.
...***...
"Lo itu gimana, sih? Kita, kan, udah sepakat. Kalau gue duluan yang ngambil hatinya Aruna. Kalau gue nggak berhasil baru lo yang maju sebagai cadangan," seru Juno memprotes kelakuan Alfath setelah memastikan Aruna tidak dapat mendengar perbincangan mereka.
"Lo pikir gue pemain bola pake cadangan segala!" celetuk Alfath tidak terima, "Kita maju sama-sama aja. Siapa yang bisa membuat Aruna lebih nyaman berada di dekatnya, berarti dia yang menjadi pilihan Aruna." Juno mengernyitkan kening mendengar perkataan Alfath yang berbeda dengan kesepakatan mereka sebelumnya.
"Nggak bisa gitu, dong. Lo, sih, enak udah kenal Aruna duluan. Lah, gue?" Juno menunjuk wajahnya sendiri. Dia sadar, selain tampan dan kaya. Lelaki itu memang tidak punya pengalaman yang baik dalam hal mengambil hati perempuan.
"Bodo amat. Itu, sih, urusan lo." Alfath bersikap masa bodoh. Lalu berbalik hendak pergi ke tempat Aruna. Namun, saat baru selangkah kakinya bergerak, tubuhnya berbalik lagi. "Gue akan mundur saat Aruna sudah jatuh cinta sama seseorang. Siapa pun yang dia pilih. Gue akan do'ain mereka hidup bahagia." Setelah itu, ia pun pergi meninggalkan Juno yang merasa tertampar dengan ucapan Alfath barusan.
...***...
...To be continued...