Magic Love

Magic Love
Bekerja Sama




...***...


"Maaf, Aruna. Bagaimanapun Om Danu itu keluargaku. Jadi aku harus membantu dia," ucap Dena. Lalu menahan tangan Aruna dan mengikatnya ke belakang, dibantu oleh Danu yang juga mengikat kaki perempuan berkacamata itu. Walaupun Aruna memberontak sekuat tenaga, kekuatannya tidak bisa mengimbangi dua orang yang bekerja sama mengikatnya tersebut.


Langit sudah mulai gelap ketika kedua tangan Aruna terikat. Sinar rembulan di malam purnama menjadi satu-satunya penerang dalam bangunan tanpa atap tersebut. Walaupun dalam cahaya temaram, siluet tubuh mereka masih bisa terekam, dengan wajah yang samar.


"Lepasin! Kalian semua pasti akan dapat ganjaran yang setimpal. Kalau aku mati, arwahku bakalan gentayangan gangguin hidup kalian," berang Aruna, sambil berusaha untuk melepaskan ikatannya sendiri, tetapi tidak bisa.


Bukannya takut, Bana dan Danu malah tertawa. Sedangkan Dena hanya mengulum senyum saja. "Kalau begitu saya tunggu hantu kamu berkunjung ke rumah saya," tantang Bana yang menganggap hal itu adalah lelucon semata. Di zaman modern seperti sekarang, mana ada yang namanya arwah penasaran.


"Kalian benar-benar gila!" umpat Aruna lagi.


"Kami memang gila. Siapa suruh kamu berurusan dengan kami. Kedatangan kamu di perusahaan Suryafood sudah menghambat rencana kami untuk membuat perusahaan itu bangkrut. Kalau sejak awal saya tahu kamu anaknya si Surya, saya bakalan menghalangi kamu untuk masuk ke sana," ungkap Bana.


"Iya, seharusnya saya juga curiga, karena dia direkomendasikan oleh Pak Surya sendiri. Tapi karena yang saya tahu anaknya Pak Surya cuma si Kezia yang jadi sekretarisnya bos besar kita–Pak Juno itu. Makanya saya nggak terlalu memperhatikan. Saya nggak nyangka aja, ternyata Pak Surya punya anak haram macam dia."


"Tutup mulut Anda! Aku bukan anak haram!" sentak Aruna. Membuat Danu yang berkata demikian sedikit berjingkat saking kagetnya.


"Lalu kamu ini anak dari mana? Anak dari wanita simpanan bisa disebut anak haram, bukan?" Mereka pun kembali tertawa terbahak-bahak.


Sakit! Aruna merasakan nyeri di relung hatinya yang terdalam. Mereka bukan saja menghina dirinya, tetapi juga ibunya. Tentu saja hal itu membuat Aruna murka.


"Diam! Kalian nggak tahu apa-apa. Mamaku bukan wanita simpanan," pekik Aruna lagi. Tensi darahnya kian meninggi, kedua matanya mendelik tajam seperti elang yang hendak memburu mangsanya. Di balik tatapan yang menghunus itu, terlihat kilatan bening yang tak mampu Aruna tahan. Lelehannya meluncur manakala kedua orang di hadapannya itu tak hentinya tertawa bebas tanpa ada perasaan bersalah sedikit pun.


Pernikahan Surya dengan Maya terjadi sebelum perusahaan Suryafood berdiri. Makanya tidak ada karyawan Surya yang tahu siapa Maya dan Aruna. Walaupun Aruna sempat tinggal bersama keluarga baru papanya semenjak mamanya meninggal dunia, perempuan itu tidak pernah mau muncul ke permukaan. Dia terlalu menutup diri dan membentengi dirinya dari lingkungan sang papa. Lagi pun Aruna hanya sebentar tinggal bersama mereka.


"Halah, sudahlah. Saya nggak peduli dengan mama kamu. Yang penting sekarang sudah waktunya kamu menemui ajal, Aruna." Bana menghentikan tawanya, lalu berkata demikian. Membuat suasana kian mencekam.


Rasa sesak di dada Aruna bercampur rasa takut. Air matanya semakin deras saja mengaliri bagian pipinya. Aruna tidak berdaya, ikatan di tangan dan kakinya terlalu kuat dan membuatnya tidak bisa bergerak. Dia hanya bisa memekik histeris saat Bana menarik tubuhnya dengan kasar ke sisi gedung yang tidak berdinding itu. Setelah itu, tubuh Aruna dipaksa berdiri dengan kedua kaki masih terikat tali.


Namun, saat tubuh Aruna hendak didorong dari ketinggian kira-kira 15 meter di atas tanah. Suara lantang seseorang menghentikan aksi Bana.


"Jangan bergerak! Kalian sudah dikepung?"


Suara tegas seorang lelaki berseragam warna abu kecoklatan dan coklat kehitaman sebagai paduannya, membuat semua orang tersentak. Betapa tidak, tempat itu sudah dikepung oleh beberapa orang aparat. Danu secara spontan mengangkat kedua tangannya, sedangkan Bana masih melongo tidak percaya. Dari mana datangnya polisi itu? Dan siapa yang memberitahu keberadaan mereka di tempat terpencil itu?


Belum sempat Bana tersadar dari rasa terkejutnya. Dorongan yang kuat dari arah belakang membuatnya tersungkur jatuh ke depan. Dengan begitu, polisi dengan mudahnya mengamankan lelaki itu.


Ya, kedua perempuan itu telah bekerja sama untuk menjebak pengkhianat di perusahaan Suryafood tersebut. Dena berpura-pura mau diajak bersekongkol dengan Danu. Padahal, dia ada di pihak Aruna. Bukan hanya karena janjinya tempo lalu, yang mau mengerjakan apa pun yang Aruna perintahkan, melainkan Dena juga merasa kecewa dengan pamannya sendiri. Dia juga tidak mau pamannya terjerumus terlalu dalam di kubangan dosa. Apalagi sampai harus melenyapkan nyawa.


"Dena, jadi kamu bekerja sama dengan dia?" Danu tidak menyangka jika keponakannya itu telah berkhianat kepadanya.


"Maaf, Om. Perbuatan Om ini salah," ucap Dena sendu.


"Tega kamu, Dena! Kamu lebih memilih Aruna yang bukan siapa-siapa ketimbang om kamu sendiri?" Danu meraung kesal. Ia ingin menyerang keponakannya itu, tetapi tubuhnya tidak bisa bergerak karena ditahan oleh polisi.


"Aku melakukan ini karena aku nggak mau Om melakukan hal bodoh, yang akan membuat Om lebih lama mendekam di penjara."


Perkataan Dena membuat Danu bungkam. Itu benar, jika saja Aruna sampai mati, mungkin dirinya akan diberi hukuman yang serupa, atau mendekam di penjara seumur hidupnya. Serapi-rapinya mereka menyembunyikan masalah ini, suatu saat pasti akan diketahui. Penegak hukum sekarang sudah canggih. Mereka bahkan bisa memecahkan kasus kematian, yang korbannya hanya tinggal tulang belulang. Seperti kata pepatah, 'Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat baunya akan tercium juga'. Begitu juga dengan kejahatan mereka.


"Dasar bocah tengik! Sudah berapa kali kamu menipu saya?!" Bana yang naik pitam memberontak dengan sekuat tenaga. Mendorong aparat yang menawannya hingga tersungkur ke lantai. Tangannya segera merebut senjata yang sedang dipegang oleh aparat yang berada di sampingnya.


Dor!


Satu tembakan melesat ke arah Aruna. Seketika cairan berwarna merah segar membasahi kemejanya yang berwarna biru muda, tepat di bagian bahu kirinya.


"Aruna!" Dena berteriak histeris. Dengan segera menahan tubuh Aruna yang langsung ambruk tak sadarkan diri. "Aruna, bangun!" pekik Dena lagi. Raut wajahnya penuh ketakutan, air matanya pun keluar tanpa bisa ditahan.


Pihak berwajib langsung mengamankan Bana yang tertawa terbahak-bahak setelah menembak Aruna. Mungkin lelaki itu sudah gila.


...****...


Sedangkan di belahan bumi lainnya, di waktu yang berbeda dua jam dengan tempatnya Aruna. Seorang lelaki terlihat gelisah sambil memegangi ponselnya di dekat telinga. Decakan di mulutnya kembali terdengar, manakala seseorang yang ia hubungi tak kunjung merespon panggilan teleponnya.


"Sayang ... kamu lagi ngapain, si? Kenapa teleponnya nggak diangkat-angkat?" seru lelaki yang tidak lain adalah kekasihnya Aruna–Juno.


Sudah puluhan kali Juno menghubungi ponsel perempuan itu, tetapi hanya suara dering ponsel yang terdengar. Beberapa kali Juno mengirimkan pesan, itu pun tak kunjung mendapat balasan. Nyatanya, ponsel Aruna tertinggal di dalam mobil Dena bersama tas selempangnya.


Juno semakin khawatir. Ada rasa takut yang menyelimuti hatinya. Ia bahkan menghubungi Devan agar segera menemui Aruna di tempat kerja perempuan itu. Dan ketika Devan memberikan kabar jika Aruna sudah pulang satu jam yang lalu, rasa cemasnya semakin tak menentu.


...***...



...Aduuh, Aruna tertembak, Gengs 🤧...