Magic Love

Magic Love
Melupakan Semuanya




...***...


"Apa, sih, Mbak? Berisik banget pagi-pagi!" seru Abizar dengan menunjukkan wajah bantal tanpa rasa bersalah sedikit pun. Kezia melemparkan bantal tepat di belahan kaki Abizar, guna menutupi sesuatu yang menjulang.


"Eh?" Abizar yang baru berhasil mengumpulkan nyawanya yang sempat tersebar, jadi berubah tegang. Kejadian panas semalam kembali ia kenang. "M–Mbak ... gue ... beneran nggak sengaja. Semalam ... Mbak mabuk dan maksa gue buat ngelakuin itu ... jadi—"


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Abizar. Lelaki itu meringis sambil memegangi pipinya yang terasa kebas. "Dasar brengsek! Cowok mesum! Kamu, kan, bisa nolak aku?!" sembur Kezia sambil memukul tubuh Abizar dengan menggunakan bantal secara membabi buta.


Abizar berusaha menghalangi pukulan itu dengan menyilangkan kedua tangannya di atas kepala. "Mau gimana lagi, Mbaknya maksa terus," teriak Abizar di sela kesibukannya menghadang serangan Kezia. Sebagai laki-laki normal, Abizar tidak bisa melawan serangan mendadak yang dilakukan oleh Kezia. Pesona perempuan itu mampu meruntuhkan keteguhan adab yang sudah terbangun, dan mampu membangkitkan si buas yang sedang tidur.


Kezia yang sudah lelah memukul Abizar pun akhirnya menghentikan aksinya. Tangisnya pun pecah di sana. Abizar pun merasa bersalah, ia mencoba menyentuh pundak Kezia dengan niat ingin mentransfer kesabaran yang dia punya.


"Sabar, Mbak, ini ujian!" cetusnya dengan sedikit usapan.


"Ujian kepalamu!" Kezia langsung menepis tangan Abizar dengan kasar. Bahkan kembali melayangkan beberapa pukulan pada lengan Abizar.


"Aduh, Mbak! Mukulnya pake bantal aja, deh! Sakit, nih." Abizar memekik kesakitan. Ia berpikir lebih baik dipukul pakai bantal daripada dengan telapak tangan. Lebih terasa perihnya.


"Aaargghh!" Kezia semakin histeris. Ia mengacak rambutnya, lalu memeluk kedua lutut. Menenggelamkan kepalanya di balik lutut itu, dan menangis tersedu-sedu. Pundaknya bergetar hebat, menandakan jika dirinya teramat menyesal.


"Gue bakal tanggungjawab, kok, Mbak. Mbak mau nikahnya kapan?" Kalimat itu pun terlontar dari mulut Abizar. Membuat Kezia sontak mendongakkan pandangan.


"Kamu kira segampang itu, hah?" sentaknya kemudian.


"Lah, terus mau gimana? Semuanya udah terjadi, nggak bisa dibalikin lagi. Kalau mau diulang, bisa aja, sih ... aww!" Satu pukulan mendarat lagi di bahu Abizar. Sebagai hukuman atas mulutnya yang kurang ajar.


Kezia mencoba mengumpulkan kesabaran. Menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Benar kata Abizar, semua yang sudah terjadi tidak akan bisa dikembalikan lagi. Semua kesalahan hanya bisa disesali, dan sebaiknya diperbaiki.


"Lupakan saja!"


"Hah?" Abizar mengernyit heran, "maksudnya?" tanyanya tidak mengerti.


"Aku bilang lupakan saja! Lupakan kejadian semalam, dan lupakan kalau kamu pernah bertemu aku sebelumnya. Lupakan semua itu! Kita sebelumnya tidak saling kenal, dan setelah ini ... akan tetap sama. Anggap saja ini sebuah kecelakaan!" tutur Kezia panjang lebar.


Abizar melongo takjub mendengar itu. Biasanya, seorang perempuan yang sudah direnggut mahkotanya akan langsung minta pertanggungjawaban, tetapi Kezia malah meminta untuk dilupakan.


"Tapi—"


"Nggak ada tapi-tapi! Harusnya kamu senang," tukas Kezia melotot tajam. Abizar pun diam.


Kezia membalut tubuhnya dengan selimut, lalu bergerak perlahan menahan rasa nyeri di bagian intinya yang kian berdenyut. Menjuntaikan kakinya ke lantai, lalu memungut pakaiannya yang tersebar berantakan. Kezia berniat untuk membersihkan badan.


Kepala Abizar sontak menunduk, mengangkat bantal yang dia pangku lalu memperlihatkan sesuatu yang berdiri kaku. "Jijik katanya? Bukannya dia suka?" gumam Abizar yang tidak bisa mengerti dengan pola pikir Kezia.


Setelah selesai mandi dan bersiap diri, Kezia pun pergi. Beruntung waktu masih terlalu pagi, sehingga suasana kafe masih sepi. Belum ada karyawan yang datang, karena kafe buka mulai pukul sembilan.


...***...


Sedangkan di tempat yang berbeda, Juno sudah bertengger di depan mobilnya yang terparkir di halaman kontrakan Aruna. Padahal di penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya masih menunjukkan pukul enam kurang lima belas menit.


Ya, Aruna kembali tinggal di rumah kontrakannya, dan tentu saja dengan Putri pun ikut serta. Putri yang tidak tega melihat Aruna kehilangan masa tidurnya, akhirnya mengalah dan setuju pindah. Aruna pun merasa senang, dan berjanji akan memperbaiki rumah Putri setelah mengumpulkan uang.


"Kamu tahu aku tinggal di sini dari siapa?" Aruna yang diberi tahu oleh Putri tentang keberadaan Juno di depan rumahnya pun keluar selepas mandi. Dengan hanya mengenakan kaos oblong dan celana kolor ia menemui lelaki itu.


Juno sempat ternganga dengan penampilan Aruna. Jakunnya naik turun menahan sesuatu yang bergejolak dalam darahnya.


"Juno! Kamu lihat apa?" Aruna memindai penampilannya dari bawah sampai bagian dada. Tidak ada yang salah, celana kolor panjang dan kaos oblong yang sama sekali tidak menonjolkan bentuk badan. Hanya saja rambutnya yang masih lembab sehabis di keramas dibiarkan terurai dengan bebas, membuat wajah perempuan itu terlihat lebih fresh dan lebih menggoda di mata Juno. Terlebih tidak ada kacamata besar yang menutupi keindahan mata coklatnya. Itulah yang membuat Juno semakin tersihir oleh pesonanya Aruna.


"Cantik!" Kata itu yang terlontar dari mulut Juno tanpa sadar.


"Apa, sih? Ditanya apa, jawabnya apa!" decak Aruna, walaupun tidak bisa dipungkiri hatinya pun berbunga.


"Om Juno, mau jemput Kak Aruna, kan? Nunggunya di dalam aja!" Suara Putri yang baru datang menyita perhatian. Juno tersenyum kepada anak kecil yang kini sudah menjadi rekan bisnisnya untuk mengejar Aruna.


"Kamu ... yang ngasih tahu rumah ini sama dia?" tanya Aruna kepada Putri. Gadis kecil itu menyengir menunjukkan deretan giginya yang berbaris rapi.


"Maaf, Kak. Om Juno maksa," jawabnya polos.


Juno mencebikkan bibir, karena Putri sudah membongkar kelicikannya. Namun, hal itu tidak membuat Juno khawatir, karena Aruna tidak mungkin marah kepada adik angkatnya.


"Iya, aku yang maksa dia. Lagian kenapa, si? Apa salahnya aku tahu alamat rumah kamu? Kita, kan, sudah berteman?" tukas Juno membuat alasan.


Aruna menoleh ke arah Juno, lalu menurunkan kedua bahunya, pasrah. "Terserah, lah. Kamu ke sini juga percuma, aku mau bawa mobil," seru Aruna sambil melengos pergi.


"Mobil yang mana? Aku sudah menyuruh Pak Surya untuk menarik mobil inventaris kamu itu. Dan barusan, aku bawa orang untuk mengangkut mobil tersebut."


Langkah Aruna terhenti saat itu juga, pandangannya langsung tertuju pada garasi tempat biasa mobilnya berada. Kosong. Hanya ada sepeda Putri yang bertengger di tempat itu.


"Kamu apakan mobil itu? Kuncinya, kan, ada diaku?" Aruna beralih lagi pada Juno, wajahnya gusar dengan tatapan kebingungan.


"Ehm ... itu, Kak Aruna ... aku yang kasih kuncinya sama Om Juno. Waktu Kak Aruna lagi mandi tadi." Pengakuan Putri membuat Aruna mengernyitkan kening, merasa tidak habis pikir. Lantas menepuk keningnya yang terasa pening. Anak kecil ini, kenapa menurut sekali pada Juno yang hanya orang asing?


...***...