Magic Love

Magic Love
Pengkhianat Sebenarnya




...***...


"Eh, Pak Bana. Apa Anda sudah lama berdiri di situ?" tanya Surya sedikit takut. Bukan dia tidak mau mengenalkan Aruna sebagai anaknya, tetapi melihat watak keras kepala putrinya itu, pasti dia akan marah jika Surya melanggar janjinya untuk tidak membuka identitasnya di perusahaan tersebut.


"Tidak, Pak Surya. Saya baru datang, kok. Saya mau ke ruangan Bapak, tapi saya dengar tadi Bapak memanggil manajer keuangan kita dengan nama 'Rere'. Aneh aja saya dengarnya, makanya saya bertanya," terang Bana sambil tersenyum dipaksakan. Padahal lelaki itu mendengar semuanha, ketika Aruna dan Surya berbincang di ambang pintu.


Surya menghela napas lega, "Syukurlah, Pak Bana tidak mendengar percakapan kami," gumam Surya dalam hatinya.


"Pak Bana ada perlu dengan saya? Kita bicara di dalam saja." Surya pun mengajak Bana untuk masuk ke dalam ruangannya.


...***...


Atas penjelasan Surya yang mengatakan jika perusahaan Jacksnack adalah perusahaan yang selalu berebut tender dengan perusahaan Suryafood. Aruna merasa curiga dengan Bana. Dengan begitu, ia harus menyelidiki orang tersebut. Namun, perempuan itu masih bingung dari mana dia memulai menyelidikinya. Sepertinya Aruna butuh waktu lebih lama lagi untuk berada di perusahaan papanya.


Siang itu, Aruna tengah makan siang bersama Indira dan Yoga. Kebetulan si pengejar cintanya sedang tidak ada. Juno harus menghadiri rapat penting bersama koleganya. Dengan sangat menyesal Juno memberikan kabar tidak bisa menemani Aruna makan siang. Padahal hal itu malah membuat Aruna senang, setidaknya makan siangnya bisa lebih sedikit tenang tanpa adanya gombalan.


"Bu Aruna, perusahaan kita sekarang sudah mulai maju pesat, ya. Semenjak perusahaan mendapatkan kepercayaan penuh dari pimpinan baru J&J grup itu, produk Suryafood jadi naik daun di pasar global. Banyak investor lain yang turut mengajukan kerja sama dengan perusahaan kita. Kayaknya tahun ini bonus kita bakalan besar," tutur Indira di sela aktivitas makan siangnya. Raut wajah terlihat senang jika memikirkan tentang uang.


"Iya, Alhamdulilah. Berdoa saja, semoga perusahaan ini terus lancar. Jadi bonus karyawan pun bisa dibayar," ucap Aruna, lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Itu semua berkat Bu Aruna yang bisa menarik perhatiannya Pak Juno. Jadi perusahaan kita dapat untungnya."


"Uhuk! Uhuk!" Aruna terbatuk karena tersedak makanannya sendiri. Ia segera menyahut gelas yang berada di dekatnya, lalu meminum isinya hingga tandas.


"Bener kamu, Ga. Bu Aruna ini hebat, loh. Selain pinter di bidang keuangan, juga pinter cari gebetan." Indira menimpali perkataan Yoga.


"Kalian ngomong apa? Jangan sembarangan bikin gosip, ya!" protes Aruna setelah berhasil meredakan rasa gatal di tenggorokannya.


"Ah, Bu Aruna jangan suka pura-pura! Gosip kedekatan kalian sudah tersebar seantero perusahaan Suryafood. Memangnya aku nggak tahu, kalau Bu Aruna suka diantar jemput sama Pak Juno? Aku juga tahu kalau Bu Aruna suka turun di perempatan jalan sana. Asal Ibu tahu, ya. Sepandai-pandainya orang menyimpan rahasia, suatu saat pasti terbongkar juga. Itu ada peribahasanya, tapi aku lupa," tutur Indira sembari terkekeh. Kata-katanya begitu menyudutkan Aruna. Perempuan berkacamata itu tidak bisa menyanggahnya, karena yang dikatakan oleh Indira benar semua.


"Aku bukan—"


"Permisi. Saya tadi mendengar kalian menyebutkan perusahaan Suryafood. Apa kalian bekerja di perusahaan itu?" Seorang pemuda yang mengenakan jaket berlogo layanan pesan antar makanan, memotong perkataan Aruna. Ketiga orang yang sedang makan bersama itu pun menoleh pada pemuda tersebut. Mengakhiri perbincangan mereka dan fokus pada pemuda tersebut.


Pemuda itu mengulas senyum masam, lalu menjulurkan tangannya mengajak bersalaman. "Perkenalkan, saya Wandi–anak dari Pak Gunawan. Mantan manajer keuangan yang sudah difitnah korupsi di perusahaan kalian."


Aruna, Indira, dan Yoga sontak tercengang. Bukankah Pak Gunawan memang sudah terbukti bersalah? Kenapa pemuda ini mengatakan jika Pak Gunawan hanya difitnah? Begitulah kira-kira isi pikiran mereka.


"Maksud kamu apa? Pak Gunawan memang terbukti menggelapkan dana perusahaan. Bu Aruna sudah membuktikannya dengan semua data konkret yang berhasil kami kumpulkan. Semua uang korupsi itu mengalir ke rekening Wiranti. Ibu kamu," tukas Indira.


"Wiranti bukan ibu saya!" Wandi berkata penuh penekanan sembari menarik tangannya yang mengambang dan diabaikan. "Dia memang pernah menikah dengan papa saya, tapi setahun yang lalu perempuan itu pergi entah ke mana. Sebelum papa saya mengundurkan diri dari perusahaan itu. Dan Anda ...." Wandi menunjuk pada Aruna. "Jadi Anda yang sudah mengumpulkan bukti bersalahnya papa saya? Hebat! Anda memang pintar. Siapa tadi namanya? Bu Aruna? Ya, saya juga dengar nama itu disebut oleh orang yang datang ke rumah kami waktu itu. Kalau nggak salah namanya Bana dan seorang lagi saya lupa siapa namanya. Kedua orang itu meminta papa saya mengakui kesalahan itu, dan mengembalikan uang yang dibawa lari ibu tiri saya. Kalau tidak, papa saya akan masuk penjara." Penuturan Wandi seolah menghakimi Aruna.


"Sebentar. Kamu tenang dulu! Duduklah di sini!" Aruna menarik satu kursi kosong agar bisa diduduki oleh pemuda itu. Wandi pun duduk di sana. "Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu berkata seperti ini? Jujur, aku bekerja hanya berdasarkan bukti. Kami tidak tahu perihal masalah rumah tangga kalian. Yang pasti sudah ada bukti jika dana ambigu yang keluar dari kas perusahaan itu masuk ke rekening istri papa kamu," terang Aruna.


"Tapi bukan papa saya yang mentransfer uang tersebut."


"Lalu siapa? Papa kamu manajer keuangan. Dia yang bertugas untuk itu," tukas Aruna masih kukuh dengan pendiriannya.


"Saya pikir Anda tidak terlalu pintar, Bu Aruna. Dalam divisi keuangan, apa tidak ada manager lain yang bisa mengotak-atik data keuangan?" Perkataan itu seolah menampar Aruna. Perempuan itu terdiam sejenak, bersamaan dengan nama Wandi yang disebut oleh kasir restoran, karena pesanan makanannya sudah selesai.


"Maaf, harus pergi! Saya berkata seperti ini hanya berharap keadilan bisa ditegakkan. Papa saya hanya ingin hidup tenang setelah mengundurkan diri dari perusahaan itu dengan membuka usahanya sendiri. Papa saya nggak salah, tapi dia juga nggak mau masuk penjara seperti ancaman Pak Bana. Makanya dia rela menjual semua aset yang dia punya untuk mengganti uang yang sudah dibawa lari istrinya itu. Kehidupan kami sekarang berantakan gara-gara ambisi kalian. Saya juga harus putus kuliah dan bekerja seperti ini."


Setelah berkata panjang lebar seperti itu, Wandi pun pergi dari sana. Meninggalkan tiga orang yang termangu setelah mendengarkan cerita tersebut. Terutama Aruna, banyak pertanyaan yang menjejal dalam pikirannya. Sebenarnya siapa pengkhianat yang sebenarnya? Apakah itu Pak Bana? Pak Danu? Atau ... Bu Dena?


"Bu Aruna, baik-baik aja?" Indira bertanya setelah Wandi pergi dari restoran itu. Aruna pun tersadar dari lamunannya.


"Ah, iya. Aku nggak pa-pa," jawab Aruna linglung. "Oh, iya. Tolong kalian jaga rahasia ini! Jangan sampai ada karyawan lain tahu tentang ini, sebelum aku mencari tahu kebenarannya seperti apa. Ini demi nama baik perusahaan kita. Kalian mengerti?"


Indira dan Yoga menganggukan kepala tanda menyetujui. Aruna pun berpikir kembali, bagaimana caranya membuktikan perkataan Wandi?


...***...



...Mudah-mudahan cepet reviewnya. Makasih udah tetap setia ❤...