Magic Love

Magic Love
Rasa Cemburu




...***...


Warna jingga di ufuk barat menandakan senja mulai merangkak. Menggeser kekuasaan cahaya terang dengan warna gelap. Aruna sudah berada di lobi ketika suara ponselnya berbunyi. Senyumnya mengembang sempurna kala mengetahui orang yang tengah dinanti sudah menghubungi.


"Halo, Juno. Kamu di mana?" tanya Aruna setelah panggilan mereka terhubung.


"Aruna, aku mau minta maaf. Aku nggak bisa jemput kamu. Aku udah suruh Abizar buat jemput kamu di perusahaan. Untuk sementara, selama aku di luar kota, kamu diantar jemput sama dia, ya," sahut Juno di seberang sana.


"Kamu di luar kota?" tukas Aruna.


"Iya, ada sedikit masalah dengan cabang di Surabaya. Maaf, aku buru-buru pergi dan nggak sempat ketemu kamu dulu."


Hening. Aruna bergeming. Entah kenapa perasaannya merasa tidak enak. Hatinya seperti melesak sampai ke dasar.


"Aruna, kamu masih di sana?" tanya Juno ketika tidak mendengar suara Aruna beberapa saat. Aruna pun tercekat.


"Berapa lama kamu di sana?" tanya Aruna dengan nada dingin.


"Nggak tahu, kalau masalah di sini selesai. Aku langsung pulang. Pokoknya sekarang kamu harus pulang sama Abizar," jawab Juno berikut perintah yang tidak mau dibantah.


"Tap—"


"Aruna, aku tutup dulu teleponnya, ya. Kezia sudah mengintruksi. Kami akan melakukan meeting bersama dewan direksi." Belum sempat Aruna meneruskan kata-katanya, Juno sudah memotong perkataannya dan langsung mengakhiri panggilan mereka.


"Hish, main tutup aja!" dengus Aruna sebal. Pikirannya kembali mengingat perkataan Juno barusan. Ia mendengar nama Kezia disebut oleh Juno. Itu berarti perempuan itu ikut Juno keluar kota.


"Jadi mereka pergi bersama?" Aruna geram, tanpa sadar kedua tangannya mengepal kencang. "Awas aja kalau dia pulang! Dia pikir dia siapa? Udah ngambil mobil aku, sekarang seenaknya pergi ke luar kota dengan cewek lain. Memangnya dia nggak tahu kalau Kezia suka sama dia? Perempuan itu pasti akan mencari kesempatan untuk mendekati Juno. Sialan!" Aruna menumpahkan rasa kesalnya, hingga pada akhirnya dia sadar jika apa yang diucapkannya itu adalah hal yang tidak masuk akal. Kenapa dia harus marah ketika mendengar Juno pergi bersama Kezia? Bukannya Kezia adalah sekretarisnya, jadi wajar jika mereka pergi bersama.


Lalu apa sikap Aruna sekarang bisa diartikan kalau dia cemburu? Tidak, Aruna menggelengkan kepalanya cepat. Hatinya menolak mengakui itu. Lagipula, Kezia adalah kakak kandungnya. Apa pantas jika mereka berebut seorang pria?


"Ck, ada apa denganku ini? Kenapa aku mesti marah melihat kedekatan mereka berdua? Seharusnya aku mendukung mereka. Kezia mungkin yang terbaik buat Juno, karena dia sangat mencintai Juno. Sedangkan aku, mungkin selamanya tidak bisa mengenal cinta."


Butiran kristal membendung di pelupuk mata, mengiringi ungkapan keresahan hati Aruna. Ia mengangkat sedikit kacamata besarnya untuk sekadar menghapus jejak air mata yang hampir meluncur di pipinya. Tak lama suara notifikasi pesan singkat masuk dan langsung dia baca. Dari nomor baru, dan ternyata nomornya Abizar. Lelaki keturunan Jawa—Jepang itu mengirim pesan, jika ia sudah berada di depan. Aruna pun langsung beranjak jalan.


...***...


"Mbak, besok aku harus jemput jam berapa?" Abizar bertanya ketika ia sudah berhasil mengantarkan Aruna ke rumahnya. Ia berteriak sambil menyembulkan kepalanya dari kaca jendela mobilnya yang terbuka.


...***...


Selama di perjalanan tadi, Aruna tidak berkata apa-apa. Kini, sudah sampai di rumah pun dia juga diam saja. Sejenak, ia menyapa Putri yang sedang belajar di kamarnya, lalu pamit beristirahat. Ia mengaku tidak enak badan pada bocah kecil yang tinggal bersamanya itu. Aruna merasa ada tekanan yang merongrong dalam dadanya. Hatinya bergejolak seperti mau meledak. Dia pun tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Apakah karena sudah terbiasa diantar jemput oleh Juno sehingga dia merasa aneh ketika dijemput orang lain? Atau mungkin dia cemburu, karena Juno pergi ke luar kota bersama Kezia? Entahlah, Aruna masih meraba-raba keadaan hatinya. Ditambah masalah baru yang harus dia pecahkan, membuat kepalanya semakin mumet saja.


Aruna menonaktifkan ponsel miliknya setelah tubuhnya mencapai kamar tidur. Ia tidak mau diganggu oleh siapa pun malam ini. Kembali memfokuskan pikirannya pada masalah mantan manajer keuangan yang katanya difitnah. Segera setelah selesai membersihkan badan, Aruna duduk bersila di atas ranjang. Membuka laptopnya dan mempelajari beberapa file yang berkaitan dengan masalah tersebut.


...****...


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu terdengar samar di telinga Aruna, sekaligus menarik Aruna dari dunia mimpinya . Kedua matanya mengerjap, lalu terbuka perlahan, sedikit perih kala cahaya lampu menusuknya begitu tajam. Tubuhnya menggeliat dibarengi mulutnya yang menguap. Aruna tertidur setelah kelelahan bekerja. Bahkan laptopnya masih setia tidur bersamanya di atas ranjang.


"Kak Aruna. Bangun, Kak!" Suara Putri terdengar jelas setelah ketukan pintu itu selesai. Aruna langsung melangkahkan kakinya menuju pintu. Sambil berjalan, ia menengok ke arah jam dinding. Masih pukul 04:00 pagi. Tumben sekali Putri sudah membangunkannya jam segini.


"Ada apa, Put?" tanya Putri setelah membuka pintu kamar.


"Itu, Kak. Di luar ada Om Juno," jawab Putri.


"Hah? Juno?" Aruna tersentak dengan kedua mata terbelalak. Putri menganggukkan kepalanya.


"Ayo, Kak. Kasian Om Juno, kayaknya lagi kebingungan gitu." Putri langsung menarik tangan Aruna, membuat kaki jenjangnya terpaksa mengikuti langkah gadis kecil itu. Ia tidak memedulikan penampilannya yang masih berantakan dengan wajah bantalnya.


Di depan rumah Aruna, Juno tengah berdiri sambil membelakangi pintu. Wajahnya terlihat gusar seperti memikirkan sesuatu. Dan ketika terdengar suara pintu rumah terbuka, Juno membalikkan tubuhnya. Ia lantas menyerbu tubuh Aruna, memberikan pelukan posesif seperti takut kehilangan. Tidak memedulikan keberadaan Putri yang seharusnya tidak boleh melihat adegan seperti itu.


"Kamu ke mana saja?" Juno langsung bertanya seperti itu di balik punggung Aruna yang mematung terkejut dengan perlakuan Juno.


"Aku semalam di rumah. Nggak ke mana-mana," jawab Aruna. Kali ini, ia tidak berusaha melepaskan diri dari Juno. Tumben sekali!


Juno melepaskan pelukannya, lantas mendorong tubuh Aruna untuk sekadar memberikan sedikit jarak di antara mereka. Aruna menatap manik mata Juno yang terlihat lesu, dengan kantung mata panda menggelayuti kelopak matanya. Sebuah kecemasan tersirat dalam sorot matanya yang legam ketika menatap balik Aruna. Tak pelak keduanya pun saling berpandangan. "Lalu kenapa HP kamu nggak aktif? Kata Abizar, kamu juga menolak untuk dia jemput besok. Apa kamu marah karena aku pergi tanpa menemui kamu dulu?" Juno mencecar Aruna dengan banyak pertanyaan.


Aruna ingin berkata 'iya', tetapi hatinya menolak untuk mengakuinya. Mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa, ia berpikir jika dirinya tidak berhak untuk marah kepada Juno.



...Mudah-mudahan cepet reviewnya. Makasih udah tetap setia ❤...