
...***...
Hari berikutnya, perusahaan Suryafood melakukan rapat internal. Surya mengumumkan jika perusahaan mereka telah memenangkan tender besar dari perusahaan J&J grup. Di dalam rapat itu Surya berencana untuk mengadakan makan bersama dengan seluruh karyawan perusahaan Suryafood dengan menyewa sebuah kafe.
Namun, di balik kebahagiaan mereka, Surya harus merasakan kecewa yang teramat dalam pada seseorang yang sudah berkhianat kepada perusahaan. Surya mengumumkan hal itu juga di hadapan anak buahnya. Tentu saja hal itu dilakukan atas saran dari Aruna. Perempuan itu ingin memancing rayap perusahaan itu muncul ke permukaan. Surya masih belum yakin dengan prasangka Aruna, jika Bana dan Danu adalah pelakunya. Bukti yang Aruna dapatkan belum cukup kuat untuk melaporkan keduanya ke pihak yang berwenang. Surya pun memberikan kesempatan kepada Aruna untuk membuktikan tuduhannya agar tidak disangka memfitnah orang.
Surya memilih kafe Homeless Child untuk merayakan keberhasilan mereka. Semua karyawan berkumpul dan menikmati acara syukuran perusahaan dengan suka cita. Gedung kafe Homeless Child cukup luas untuk menampung seluruh karyawan Suryafood yang jumlahnya tidak lebih dari dua ratus orang saja.
Acara tersebut dimulai pukul tujuh malam. Juno sebagai pemilik kafe tentu saja antusias dengan acara tersebut. Terlebih pujaan hatinya juga turut ikut. Bisa terlihat dari senyuman bahagia yang selalu mengembang di bibirnya yang tidak terjamah oleh asap tembakau itu. Juno sangat bangga dengan pencapaian Aruna. Pun sebelumnya lelaki itu sudah menyiapkan dekorasi khusus untuk Aruna di bagian atas bangunan kafe. Dekorasi yang terbilang cukup romantis untuk menikmati pemandangan langit malam bersama orang terkasih.
"Kamu suka?" tanya Juno ketika melihat Aruna yang begitu terpana dengan dekorasi yang dia siapkan. Aruna mengangguk sambil mengedarkan pandangan. Menatap meja makan yang diatur secara romantis dengan dihiasi balon, bunga, serta cahaya lilin. Juga dihiasi oleh lampu-lampu kecil kerlap-kerlip, menambah indahnya pesona malam yang ditaburi ribuan bintang di langit. Alunan musik romantis pun terdengar syahdu, membuat hati Aruna seolah terbang ke langit ke tujuh.
"Syukurlah, kalau kamu suka. Aku sengaja mengatur tempat ini untuk kita berdua. Aku mau membuat kenangan, sebelum aku pergi ninggalin kamu."
Perkataan Juno membuat kening Aruna mengernyit dalam. Kedua matanya menatap wajah Juno dengan tatapan penuh tanya. "Maksudnya? Kamu mau pergi ninggalin aku? Kamu udah nyerah?" tanya Aruna dengan raut wajah kecewa.
Juno tertawa kecil mendengarnya. "Kenapa kamu mikirnya kayak gitu? Aku memang mau pergi, tapi cuma sementara. Aku nggak mungkin nyerah untuk mendapatkan hati kamu. Apalagi kamu pernah bilang kalau aku adalah orang pertama yang mengantri di depan hati kamu ketika gemboknya terbuka."
Hati Aruna sedikit terenyuh dengan kata-kata Juno, tetapi belum bisa menetralkan gemuruh rasa tidak rela dalam hatinya. "Terus kamu mau pergi ke mana? Jauh?" tanya Aruna lagi.
"Papi aku nyuruh ke Jepang untuk mengurus perusahaan Oma di sana bersama Abizar. Mungkin sedikit lama, aku pasti akan merindukan kamu," terang Juno.
"Jepang?" Aruna tertegun. Jika Juno pergi ke luar negeri, berarti Juno tidak akan mudah pulang pergi seperti yang dilakukannya tempo lalu, saat dia melakukan perjalanan ke Surabaya.
"Ya."
"Berapa lama?"
"Aku belum tahu, mungkin sekitar tiga sampai empat bulan. Tergantung pemahaman Abizar tentang bisnis yang akan kami kembangkan. Karena selanjutnya, dia yang akan melanjutkan bisnisnya. Sekalian belajar," jelas Juno.
"Bukannya Abizar nggak mau tinggal di Jepang?" tanya Aruna. Dia tahu masalah itu karena Juno pernah cerita kepadanya.
"Dia harus mau. Lagipula dia juga nggak akan selamanya di sana. Kalau dia sudah menguasai ilmu bisnis dengan matang, dia bisa melebarkan sayapnya di mana pun yang dia inginkan."
Aruna terdiam sejenak, mencoba mencerna perkataan Juno. "Baiklah, hati-hati!" ucap Aruna sedikit mengulas senyum terpaksa. "Aku juga mau berterima kasih sama kamu. Karena berkat kamu, aku bisa menemukan duri yang bersembunyi di perusahaan Suryafood," lanjut Aruna.
"Aku hanya membantu sedikit, kamu sendiri yang berhasil menjebak mereka," ungkap Juno. "Udah, deh. Kita duduk dulu di sana!" Juno menggiring tubuh Aruna ke meja khusus yang sudah dihias sedemikian rupa. Di atasnya sudah ada makanan dan minuman terbaik di kafe tersebut, "kita makan dulu!" ajak Juno.
Aruna begitu tersanjung saat Juno menarik kursi kosong untuk dia duduki. Mereka duduk berhadapan terhalang oleh meja makan. Senyum simpul tersemat di bibir Aruna dan Juno, mereka saling pandang meleburkan rasa canggung yang selama ini menjadi penghalang di antara keduanya. Lalu menikmati makanan yang tersaji dengan hati yang melambung tinggi.
"Aku ...." Kata itu keluar dari mulut Juno dan Aruna bersamaan setelah keduanya selesai makan. Keduanya tersenyum, lalu Juno mempersilakan Aruna berkata duluan.
"Kamu aja, deh!" Aruna menyuruh balik Juno.
"Kenapa?" Aruna mengerti heran.
"Nanti aku cemburu. Bisa, kan?" Juno bertanya, tetapi dengan nada sedikit memaksa.
"Aku usahakan," jawab Aruna sambil terkekeh pelan. Juno mendengus karena tidak puas dengan jawaban Aruna, tetapi dia tidak bisa memaksa perempuan itu untuk berkata 'iya', karena hubungan mereka sendiri belum jelas ikatannya.
"Terus, kamu mau ngomong apa?" Giliran Juno yang bertanya kepada Aruna.
Aruna mendorong kaca mata yang bertengger di batang hidungnya, mengalihkan rasa gugup dengan apa yang akan dia katakan berikutnya. "Aku mau bilang, kalauโ"
Drrrrt ... drrrrt ... drrrrt ....
Ponsel yang bergetar di saku celana Juno mengalihkan perhatian Juno. Aruna pun menghentikan kata-katanya ketika Juno tiba-tiba tersentak dan langsung merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel tersebut.
"Sebentar, ya. Aku angkat teleponnya dulu." Juno menginstruksi dan langsung berdiri. Berjalan sedikit menjauh dari tempat Aruna dan berbincang dengan seseorang yang melakukan panggilan telepon kepadanya.
Beberapa menit Aruna menunggu. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari sosok Juno. Sedikit tidak sabar dengan apa yang hendak dia ucapkan kepada Juno. Tekadnya sudah bulat untuk mengutarakan kata hatinya sekarang.
"Maaf, tadi papi aku yang telepon. Dia bilang sudah dalam perjalanan ke bandara, dan menyuruhku untuk menyusul sekarang juga," terang Juno setelah panggilannya berakhir dan menghampiri Aruna lagi.
"Kamu mau berangkat sekarang? Papi kamu juga ikut?" tanya Aruna.
"Iya, papi dan mami juga ikut. Mereka hanya beberapa hari saja sembari bersilaturahmi dengan Oma di sana. Satu jam lagi pesawatnya take-off. Jadi aku harus pergi sekarang juga." Juno menghela napasnya, lalu menghampiri tempat duduk Aruna dan berdiri tepat di hadapan perempuan itu.
Aruna pun ikut berdiri, keduanya terlibat adu tatap tanpa berucap. Seolah tidak rela akan berpisah.
"Maaf, ya. Perjalanan ini benar-benar mendadak. Papi baru mengatakan hal ini tadi sore. Sedangkan aku sudah menyiapkan tempat ini jauh-jauh hari. Kalaupun nggak ada acara perusahaan kamu di bawah sana, tadinya malam ini aku memang mau mengajak kamu makan malam di sini." Juno berucap setelah keheningan tercipta beberapa saat.
"Iya, nggak apa-apa," balas Aruna dengan setengah hati berkata.
"Aku pergi, ya." Dengan berat hati Juno memundurkan langkahnya, lalu berbalik setelah agak jauh dari tubuh Aruna. Dan ketika lelaki itu melangkah maju hendak meninggalkan tempat itu. Suara Aruna yang terdengar lantang, membuat Juno tersentak dan sontak mengerem mendadak.
"Juno, I love you."
Juno berbalik badan, menatap Aruna dengan sorot mata berbinar. "Apa kamu bilang?" tanyanya memastikan.
...***...
...Ciyeee, ngaku ๐๐...
...Kasih dukungan othornya, ya. Jika suka novel ini kasih giftnya boleh, dong ๐คญ...