Magic Love

Magic Love
Melenyapkan Diri




...***...


Sudah kubilang, jangan panggil aku 'Rere'! Rere sudah mati! Aku benci Papa, aku benci kalian!" pekik Aruna. Air matanya akhirnya tumpah juga. Lantas dia mengambil langkah panjang menuju kursi tempat tas kecilnya tertinggal tadi. Setelah itu, ia pun pergi.


Erna hendak mengejar, tetapi tangannya ditahan oleh Surya. "Biarkan saja! Biarkan dia merenungkan semuanya!" pungkas Surya melarang istrinya mengejar Aruna.


"Tapi, Mas ...." Erna berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Surya. Tatapannya terlihat memohon agar dirinya dibiarkan untuk mengejar anak tirinya.


"Dia nggak akan dengerin kamu, Erna. Hatinya sedang kalut. Biarkan dia sendiri dulu!" sergah Surya. Akhirnya Erna mengalah, lalu memeluk tubuh suaminya untuk menumpahkan rasa sedihnya.


...***...


Sedangkan di tempat lain, Aruna mengemudikan mobilnya dengan perasaan bimbang. Ia bingung harus bersikap bagaimana. Haruskah ia bahagia karena dirinya ternyata punya kakak? Atau membenci sang papa yang ternyata lebih memilih Erna dan anaknya ketimbang dia dan ibu kandungnya. Aruna mengingat semua kejadian yang sudah berlalu dengan Kezia. Mereka tidak pernah ada akur-akurnya. Aruna selalu bersikap dingin dengan Kezia. Seringkali bertengkar karena berebut semua barang-barang yang diberikan oleh papanya. Menurut Aruna, Kezia tidak berhak mendapatkan sesuatu dari sang papa. Dan yang lebih membuat Kezia semakin tersudutkan, mamanya selalu membela Aruna. Namun, Aruna selalu menganggap itu hanya sebuah kepalsuan belaka.


"Arghh! Jadi aku harus panggil dia 'kakak' sekarang? Kenyataan macam apa ini?!" Aruna mengerang frustrasi sambil memukul setir kemudi. Tiba-tiba kenangan ketika ibunya berpesan untuk tidak membenci keluarga baru papanya melintas kembali dalam pikirannya. "Jadi ini maksud Mama? Kenapa Mama nggak bilang dari awal? Kenapa papa lebih memilih mereka, Ma? Kenapa?" Aruna meraung lagi. Ia menepikan mobilnya di tepi jalan raya yang agak sepi. Tepatnya di sebuah jembatan yang di bawahnya ada sungai.


Aruna menangis sesegukan, ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Kenyataan yang dia dapatkan sekarang membuatnya lebih sakit hati kepada papanya, dan merasa bersalah dengan saudara kandungnya. Kezia bahkan tidak diizinkan oleh mamanya untuk membantu usaha papa kandungnya sendiri, karena takut Aruna sakit hati. Rasanya Aruna ingin sekali melampiaskan kemarahannya dengan menenggelamkan diri.


Turun dari mobilnya, Aruna berjalan menyusuri bahu jalan pada sisi jembatan. Kendaraan di sana tidak terlalu ramai, membuat Aruna sedikit lebih tenang tanpa adanya kebisingan. Aruna berjalan meninggalkan mobilnya di jembatan beton yang menghubungkan jalan di atas aliran sungai yang begitu besar. Di tepi pembatas jembatan itu ia berdiri. Menatap aliran air di bawah sana. Airnya terlihat tenang, tetapi pasti mampu menghanyutkan benda apa saja yang masuk ke dalamnya. Aruna sempat berpikir, jika dirinya masuk ke air, mungkin masalahnya juga akan ikut mengalir. Namun, Aruna tidak sepicik itu. Dia bukanlah gadis lemah yang akan kalah dengan masalah.


Jika berpikir hidup selalu sulit, apa mungkin jika mati bisa jadi lebih baik? Setiap orang pasti mempunyai kesulitan dalam hidup, tetapi kesulitan itu tidak akan berhenti dengan mengakhiri hidup dengan cara melenyapkan diri sendiri. Aruna juga pernah belajar ilmu agama. Melenyapkan diri adalah hal yang dilarang dalam ajaran agamanya.


"Gini banget, sih, hidup aku?" keluh Aruna sambil menghela napas panjang. Ia sapu dengan kasar lelehan air mata yang sesekali masih keluar. Aruna sadar, dia harus lebih tegar.


Aruna menopangkan kedua lengannya pada pembatas besi jembatan itu. Kepalanya mendongak menatap langit. Menatap awan putih yang tengah berlarian dikejar oleh angin. Pikirannya menerawang mencari ketenangan.


"Meong!" Suara itu membuat atensi Aruna teralihkan. Gadis itu mengedarkan pandangannya mencari sumber suara yang ia yakini berasal dari seekor kucing.


"Ngapain kamu di situ?" Setelah menemukan sosok yang Aruna cari, dia pun bertanya. Padahal, kucing itu tidak mengerti perkataan Aruna.



"Hey, diem di situ! Biar aku selamatin kamu. Jangan banyak gerak! Nanti kamu kecebur," seru Aruna lagi, dan hanya dibalas dengan suara kucing yang tidak dimengerti sama sekali.


Aruna menjulurkan tangannya melewati celah besi pembatas yang berupa pagar kecil-kecil. "Ah, kayaknya nggak bakalan muat, deh. Kucingnya gede," ujar Aruna berkata sendiri.


Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia nekat menaiki pagar pembatas itu agar dirinya bisa mengambil kucing itu lebih mudah. Namun, saat dirinya baru menginjak tumpuan besi tersebut, tiba-tiba saja tubuhnya ada yang menarik dari arah belakang, hingga tubuhnya terpelanting dan jatuh pada pelukan seseorang. "Aaaaah!" pekik Aruna terkejut.


"Aruna, kamu ngapain? Kamu nggak boleh berbuat nekat kayak gitu! Apa pun masalah kamu, aku yakin kamu kuat menjalaninya," ujar si pelaku yang dari suaranya adalah laki-laki.


"Lepasin!" Aruna memberontak minta dilepaskan, tetapi orang tersebut malah memeluknya lebih erat.


"Aku nggak akan lepasin kamu. Kamu nggak boleh mati dengan cara ini. Aku masih berharap kamu bisa hidup panjang bersamaku, Aruna." Penuturan lelaki tersebut membuat kepala Aruna sontak mendongak. Menatap wajah lelaki itu dengan jelas.


"Juno!" pekik Aruna.


Pandangan mereka pun terkunci. Juno–si pahlawan yang salah sasaran menatap manik coklat Aruna dengan lekat. Sorot matanya terlihat sayu dan sembab seperti habis menangis, ada lingkaran hitam yang menggantung di kelopak mata itu karena kurang tidur semalaman perihal insiden kecoak. Juno yang tidak tahu apa-apa merasa iba dengan kondisi Aruna. Dia berpikir jika Aruna sedang terpuruk dengan masalah keluarganya. Hingga ia tidak bisa beristirahat dengan baik selama ini. Ya, Juno tahu tentang masalah keluarga Aruna dari Alfath. Semenjak pertemuannya dengan Putri waktu itu, ia langsung menginterogasi Alfath. Dan selama ini Juno menghilang, karena dirinya tidak mau dibenci oleh Aruna kalau dia terus memaksa perempuan itu, seperti yang dikatakan oleh Alfath.


"Juno, lepasin, nggak! Apa-apaan, sih, kamu?" Aruna memberontak lagi. Dipeluk sedemikian erat membuatnya terasa sesak.


"Aku nggak akan lepasin kamu. Kamu nggak boleh mati," pekik Juno ketakutan sendiri.


"Kalau kamu nggak lepasin aku. Kucing itu yang akan mati."


Juno tersentak mendengar itu. Perlahan pelukannya mulai mengendur. Dengan sigap Aruna pun meloloskan diri dengan mendorong tubuh Juno sedikit keras. "Maksudnya apa? Kok, kucing? Bukannya kamu yang mau menyeburkan diri?" tanya Juno bingung.


Aruna mengatur napasnya yang tersengal, lalu menatap Juno dengan tatapan bengis. "Menyeburkan diri apa? Aku mau nyelamatin kucing itu." Tangan Aruna tertuju pada seekor kucing malang yang terlihat gemetaran menunggu pertolongan.



...***...


Aku kasih gambar jembatannya, ya. Biar kalian bisa membayangkan posisi Aruna dan kucing itu 😅