
...***...
Waktu berjalan dengan cepat. Setelah Juno melamar di telepon malam itu, Aruna jadi tambah bersemangat. Perempuan itu dengan malu menjawab 'iya'. Hal itu sungguh membuat Juno merasa bahagia. Pulang nanti, Juno berjanji akan melamar dengan resmi.
Sudah sepekan Juno berada di Jepang, dan Aruna menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Selama Juno tidak ada, Aruna pulang-pergi ke kantor menggunakan kendaraan umum atau taksi online. Terlalu beresiko jika dirinya meminta kembali mobil inventaris yang pernah ditarik sang papa. Semua karyawan pasti akan curiga tentang hubungan Aruna dengan Surya.
Juno juga pernah menawarkan mobilnya untuk dipakai oleh Aruna, tetapi perempuan itu menolaknya. Membawa mobil mewah tiba-tiba ke tempat kerjanya, pasti akan jadi pusat perhatian sejagat perusahaan. Bisa-bisa Aruna disangka wanita simpanan.
Pencarian bukti terhadap kecurangan Bana masih terus dicari. Namun, lelaki itu terlalu mahir dalam menyembunyikan aksi liciknya. Aruna sedikit kesulitan untuk mendapatkan titik lengah Bana dan membuatnya dipenjara.
"Aruna, kamu pulang naik bus lagi?" tanya Dena setelah jam kerja mereka selesai.
Aruna yang masih sibuk membereskan barang-barangnya pun menoleh pada Dena yang tengah berdiri dan melongok di balik kubikel miliknya. "Iya, Bu Dena. Seperti biasa," jawab Aruna enteng. Lalu melanjutkan aktivitasnya tadi.
"Pulang bareng aku aja!" ajak Dena menawarkan. Aruna sudah selesai beres-beres. Ia berdiri tegak dengan tas selempang yang sudah tersampir di bahu.
"Bu Dena ngajak pulang bareng? Tumben!" sindir Aruna sembari mengernyitkan kening.
"Sekali-kali nggak apa-apa, lah. Asal jangan tiap hari aja," dengus Dena.
Aruna tertawa kecil. "Ya, udah, ayo! Nggak baik nolak kebaikan orang," ujar Aruna menyisakan senyuman manis di bibirnya.
Di perjalanan, kedua perempuan yang bekerja dalam satu departemen pekerjaan itu tidak banyak bicara. Mereka cenderung diam dan fokus dengan aktivitas masing-masing. Dena sibuk mengemudikan mobil, sedangkan Aruna sibuk memainkan ponsel.
"Bu Dena, kita mau ke mana?" Aruna yang baru sadar jika jalan menuju rumahnya sudah terlewati sontak bertanya sambil celingukan ke luar jendela mobil.
"Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat," jawab Dena tanpa mengalihkan pandangannya ke arah jalan di depan mobilnya.
"Ke mana?" Aruna sedikit panik, menatap wajah Dena dengan tatapan penuh selidik.
"Nanti kamu juga tahu." Setelah berkata seperti itu, Dena menginjak pedal gasnya perlahan. Membuat kecepatan mobil itu bertambah sedikit kencang.
Tak lama mobil itu berhenti di depan sebuah bangunan tua. Bangunan bertingkat dengan lapisan beton dan tiang penyangga di setiap sudut bangunannya, sepertinya bangunan itu sudah ditinggalkan sebelum rampung diselesaikan.
Aruna semakin bingung. Pandangannya menyisir semua bagian tempat itu. Tempat itu sangat sepi, bahkan suara burung penanda petang menyapa pun terdengar nyaring sekali. Ditambah kehadiran rumput ilalang yang tingginya melebihi tinggi badan. Sungguh, menambah kesan menyeramkan.
"Bu Dena, kita mau ngapain ke sini?" tanya Aruna. Air mukanya terlihat ketakutan. Kedua matanya terus beredar melihat ke sekitar.
"Kita mau nemuin seseorang. Ayo, turun!" ajak Dena sembari keluar dari mobilnya. Melihat Aruna yang diam saja, Dena pun mengitari depan mobilnya menuju pintu mobil pada sisi Aruna. Lantas membuka pintu itu sedikit kasar.
"Ayo, turun!" ajak Dena lagi. Kali ini nadanya terdengar tinggi.
Dena mendengus kesal. Dengan tidak sabar ia menarik tangan Aruna dengan kasar. "Ayo, turun, ah! Banyak omong, deh!"
"Bu Dena, kenapa jadi maksa aku, sih? Aku nggak mau. Ini sakit!" Aruna meronta berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Dena. Namun, entah dari mana datangnya kekuatan Dena, yang begitu kencang menggenggam pergelangan tangan Aruna, hingga perempuan itu merasa kesakitan. Dena seolah punya ilmu kebatinan, sehingga tenaga dalamnya tidak mampu digoyahkan oleh tarikan tangan Aruna.
"Makanya jangan berontak! Sakit, kan?" Bukannya melepaskan, Dena malah memarahi Aruna.
Aruna diseret oleh Dena masuk ke dalam bangunan kosong itu. Menaiki pijakan anak tangga yang terlihat usang dan masih terlapisi semen. Ketika sampai di lantai paling tinggi bangunan itu, Dena mendorong tubuh Aruna hingga tersungkur di lantai yang penuh debu.
"Aww!" Aruna memekik kesakitan. Tangan dan lututnya sedikit lecet terkena serpihan batu kerikil dan bongkahan puing-puing bangunan yang berserakan. Aruna bersimpuh di lantai sambil membersihkan lukanya dari debu yang menempel. Atensinya teralihkan pada dua pasang sepatu dengan dua orang yang berdiri di hadapannya. Entah dari mana datangnya mereka. Sepertinya mereka adalah orang yang katanya hendak ditemui oleh Dena.
"Halo, Aruna. Sampai juga kamu di sini." Aruna sontak mendongakkan kepalanya mendengar suara itu.
"Pak Bana? Pak Danu?" Aruna menatap dua lelaki itu bergantian.
Kedua lelaki itu tersenyum remeh melihat ketidakberdayaan Aruna. "Iya, apa kamu kaget kenapa kami bisa ada di sini? Mana Aruna yang katanya hebat? Yang pura-pura menjadi karyawan biasa, padahal kamu adalah anak dari pimpinan perusahaan," ucap Bana penuh sindiran.
Kedua mata Aruna terbeliak sempurna, ia tidak menyangka jika Bana sudah mengetahui hubungannya dengan Surya. "Pa–Pak Bana sudah tahu?" tanya Aruna mendadak gagap.
Bana pun tertawa sarkas dan diikuti oleh Danu. Setelah itu, Bana menekuk lututnya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Aruna. Tangannya hampir menyentuh dagu runcing Aruna, jika saja Aruna tidak menghindar dengan memalingkan wajahnya. "Tentu saja saya tahu. Saya juga tahu kamu sedang mencari bukti kecurangan saya. Kamu pikir semudah itu, hah?" seru Bana sarkas.
"Aku akan mendapatkan bukti itu dan kupastikan kalian mendekam di jeruji besi," seru Aruna tak kalah sarkas. Kedua matanya mendelik tajam kepada Bana, lalu ke Danu, setelah itu pada Dena yang sedari tadi hanya diam menyaksikan.
"Aww!" Aruna memekik ketika rambutnya ditarik ke belakang dan membuat kepalanya mendongak mengarah pada Bana.
"Sebelum kamu mendapatkan buktinya, saya akan melenyapkan kamu terlebih dahulu." Ancaman itu begitu menusuk di telinga Aruna. Nyalinya sedikit menciut, dengan kening yang berkerut. "Saya akan menjatuhkan kamu dari gedung tinggi ini! Walaupun nyawamu nanti masih tertolong, nggak akan ada orang yang menolongmu di tempat seperti ini. Kamu akan mati secara perlahan karena kehausan dan kelaparan. Syukur-syukur kamu bisa langsung mati, biar kamu tidak merasakan penderitaan terlebih dahulu," tambah Bana menakut-nakuti.
Bana melepaskan rambut Aruna dengan sedikit mendorongnya. Perempuan itu kembali mengaduh dan meringis merasakan rasa sakit.
"Dena, ikat perempuan itu!" Kini, giliran Danu yang berbicara dan memerintah pada keponakannya.
Dena terlihat menelan ludahnya kelat. Sebagai perempuan, dia merasa takut jika melakukan kejahatan yang fatal. Apalagi jika harus melenyapkan nyawa seseorang. Namun, dengan ragu kaki perempuan itu tetap melangkah mendekati Aruna. Sebelumnya ia mengambil sebuah tali dari dalam tasnya.
"Bu Dena, jangan dengerin mereka, Bu! Aku tahu Bu Dena ini orang baik. Walaupun dulu pernah mengerjai aku, tapi Bu Dena sudah menyesalinya, kan? Melenyapkan nyawa itu dosa besar, Bu. Ibu juga bisa masuk penjara," Aruna menyeret mundur tubuhnya menjauhi Dena, tetapi langkah Dena terlalu lebar membuat Aruna sulit untuk menghindar.
...***...
...Dukung terus novel ini, ya. Biar aku semangat buat melanjutkan sampai tamat 😁...