Magic Love

Magic Love
Akad Nikah




...***...


Siang dan malam silih berganti. Waktu yang berputar tidak pernah bisa kembali. Segala sesuatu yang sudah terjadi hanya bisa disyukuri. Jika itu sebuah keburukan, kita tinggal membenahi.


Waktu dua minggu telah berlalu. Hari yang dinantikan untuk menggapai kebahagiaan telah datang. Kini, Aruna tengah berdandan untuk menjadi ratu dalam acara pernikahan. Mereka tengah berada di dalam kamar hotel tempat resepsi pernikahan Aruna diselenggarakan. Hotel terbaik milik keluarga Kingsley.


"Cantik banget, sih, anak mama!" Erna yang membantu MUA memakaikan baju pengantin Aruna begitu terpesona. Anak tirinya itu terlihat memukau dengan balutan kebaya pengantin berwarna silver yang dipadukan dengan balutan kain jarik elegan khas pernikahan. Hiasan rambut berupa sanggul yang dipenuhi bunga melati basah, pun dengan mahkota bertabur permata kecil melingkar di atas kepalanya, serta untaian anak rambut yang sengaja dibuat keriting menjuntai di pipi. Tak ayal membuat penampilan Aruna bagaikan seorang putri.


"Bener, kan, Zi?" Erna bertanya kepada Kezia yang tengah duduk di tepi ranjang dan ikut memperhatikan. Perempuan hamil itu mengacungkan kedua jempolnya tanda setuju. "Eh, kamu makan apa itu? Pagi-pagi udah makan mangga muda." Erna memprotes anaknya kembali, saat penglihatannya memindai isi piring yang sedang dipegang anaknya.


"Enak, Ma," balas Kezia sambil mengunyah mangga muda. Aruna dan Erna hampir meneteskan air liur mereka gara-gara melihat kelakuan Kezia.


"Hih, Kak Zee. Asam, kan, itu?" Aruna menelan ludahnya berkali-kali melihat Kezia dengan nikmatnya melahap mangga muda di pagi hari.


"Nggak, mau coba?" Aruna bergidik disodorkan sepiring mangga muda yang sudah diiris tipis-tipis itu. Berkali-kali ia menelan ludahnya.


"Dih, ogah. Kakak mau gagalin acara pernikahan aku? Gara-gara sakit perut abis makan mangga muda?"


"Udah, udah. Ini, kan, udah selesai dandannya. Mending kita keluar, soalnya bentar lagi mempelai prianya datang." Erna menghentikan perbincangan tidak penting anak-anaknya tersebut.


Suara dering ponsel milik Erna menyita atensi semua orang yang berada di dalam kamar. Erna segera menyahut ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Lalu menerima panggilan telepon yang berasal dari kontak suaminya. Tak banyak berbincang, karena suaminya hanya mengabarkan jika mempelai pria sudah datang. Setelah itu, panggilan pun selesai.


"Tuh, kan. Baru aja diomongin. Papa kalian udah ngabarin kalau mempelai pria udah datang." Erna langsung menggandeng tangan Aruna, "yuk, Sayang, kita keluar!" ajaknya antusias.


Aruna mendadak gugup. Ia menggenggam tangan Erna sedemikian erat, dengan keringat dingin menguasai telapak tangannya.


"Jangan gugup, Sayang!" Erna mengusap tangan Aruna lembut. Seolah tahu apa yang dirasakan sang pengantin tersebut.


"Zee, udah dulu, dong, makannya! Dampingin adik kamu dulu, ini!"


"Iya, iya." Dengan berat hati Kezia menyimpan piring yang masih menyisakan mangga muda kesukaannya di atas meja. Lalu menggandeng tangan adiknya yang berseberangan dengan posisi mamanya. Keningnya mengernyit tipis, saat merasakan hawa dingin di tangan Aruna. Ia tahu, jika adiknya itu sedang merasakan demam panggung luar biasa. "Na, dingin banget tangan kamu. Coba ikutin aku, deh! Tarik napas ... buang! Tarik napas ... buang!" Seolah terhipnotis Aruna memperagakan apa yang diinstruksikan Kezia kepadanya.


"Udah mendingan, kan?" Aruna menganggukkan kepala saat kakaknya kembali bertanya. Lalu mengikuti langkah kedua perempuan yang menggandengnya, setelah ibu negara memberikan aba-aba untuk pergi dengan segera.


...***...


Semua orang yang hadir di acara pernikahan itu nampak terkesima dengan kedatangan Aruna. Perempuan yang jarang berdandan itu, hari ini memang terlihat luar biasa. Juno pun sampai lupa caranya mengedipkan mata. Kedua matanya enggan berpaling menatap calon istrinya.


"Jun, kalau lo gugup dan berubah pikiran, gue siap gantiin lo, kok!" Celetukan Alfath berhasil menarik pandangan Juno ke arah lelaki yang duduk di sebelahnya itu. Lirikan tajam ia layangkan pada sahabatnya yang masih saja mencari kesempatan merebut Aruna.


"Lo udah bosen idup, ya?" tanya Juno sinis pada lelaki yang kini menyengir kepadanya sambil mengacungkan kedua jarinya ke udara. Mengajak berdamai.


"Tenang, Bro. Namanya juga usaha," ucap Alfath menyembunyikan senyum getir di bibirnya. Tak bisa dipungkiri, hatinya masih teramat nyeri. Melihat perempuan yang dia cintai dinikahi oleh sahabatnya sendiri.


"Udah, woy. Mau lanjut nikah, nggak? Itu Aruna udah duduk sebelah lo." Devan yang menjadi saksi dari pihak Juno pun ikut menginterupsi.


Juno memutar kepalanya, didapatinya Aruna sudah duduk manis di sampingnya. Aruna tertunduk malu. Juno sampai harus memiringkan kepalanya untuk melihat wajah cantik calon istrinya itu.


"Ayo, halalin dulu! Kalau udah sah, mau dilihat semunya juga nggak perlu susah-susah."


Juno langsung mendongak mendengar sindiran keras dari penghulu. Tak pelak semua orang pun tergelak.


Hening ....


"Saya terima nikah dan kawinnya, Aruna Rhea binti Surya Permana dengan mas kawin tersebut, Tuuunaaaai!"


"Bagaimana, Saksi? Sah?"


"Sah."


"Alhamdulillah." Serempak semua orang yang di sana berucap syukur atas lancarnya acara akad pernikahan tersebut.


Terlebih untuk kedua mempelai pengantin. Mereka tidak pernah menghilangkan senyuman di bibir.


Terutama Juno. Diciumnya kening Aruna dengan penuh cinta. Kedua matanya menatap Aruna penuh damba. Fokusnya pada bibir merah menyala. Rasanya ingin segera ********** sampai tak bersisa.


...***...


Satu persatu prosesi adat pernikahan telah dilakukan tanpa halangan. Kini, hari sudah menjelang petang, tetapi tamu undangan malah semakin ramai. Acara bebas dari resepsi pernikahan itu kian meriah, tetapi sepasang pengantinnya nampaknya sudah merasa lelah.


"Kapan selesainya, sih? Capek aku." Biasanya yang sering mengeluh kelelahan di acara pernikahan adalah mempelai istri, tetapi ini malah sang suami. Sudah berkali-kali Juno mendengus kesal sambil menopangkan dagunya di bahu Aruna. Mereka baru selesai melakukan sesi foto untuk baju yang ke lima.


"Bentar lagi, kok. Para tamu masih banyak. Masa kita harus mengusir mereka semua," ucap Aruna seraya menyelipkan senyum lucu di kedua sudut bibirnya, "Kamu, tuh, kayak anak kecil banget, sih," tambahnya lagi sedikit gemas.


Helaan napas kasar terlontar dari hidung Juno. Ia angkat dagunya dari bahu Aruna, lalu menatap wajah istrinya tersebut dengan tatapan berbeda. "Gimana kalau kita aja yang pergi dari sini?"


"Jangan! Nanti orang-orang nyariin kita. Masa pengantinnya nggak ada." Aruna membantah usul suaminya.


"Biarin aja. Aku udah nggak sabar pengen berduaan sama kamu di kamar kita."


Blush!


Semburat merah sontak menguar di pipi Aruna. Jantungnya seperti disengat aliran listrik dengan kekuatan penuh. Berasa tertarik oleh daya magis tatapan Juno yang membuatnya melambung tinggi. Membayangkan apa yang terjadi jika mereka berduaan nanti.


"Woy, masih sore. Nggak usah mikir yang nggak-nggak dulu." Teguran dari Naomi–bibi kecil Juno, membuat sepasang suami-istri itu terlonjak kaget. Keduanya kompak menoleh dengan tatapan tidak bisa diartikan. Mungkin mereka tidak senang, ada seseorang yang mengganggu kemesraan mereka tersebut. Terlebih Juno.


"Aunty ganggu aja, si!" protes Juno yang dibalas cengiran oleh Naomi.


"Lagian mesra-mesraan nggak lihat tempat. Nggak lihat masih banyak tamu?"


Juno mencebikkan bibir, "Sirik," dengusnya sebal.


"Ngapain sirik. Nggak lama lagi aku bakalan nyusul kalian, kok. Soalnya aku juga udah ketemu sama jodoh aku barusan." Naomi tersenyum dengan pandangan menerawang.


"Heh, siapa?" Juno terkesiap mendengar pengakuan bibinya. Baru kali ini ia mendengar perempuan itu tertarik dengan lawan jenisnya.


"Sayangnya udah pulang, dan kami belum sempat kenalan." Naomi menekuk wajahnya. Merasa kecewa dengan pertemuan singkatnya dengan lelaki yang dia katakan adalah jodohnya.


...***...



...Hayo, Kira-kira siapa jodohnya Naomi 😅...


...Eh, betewe. selamat, ya Juno dan Aruna. Semoga jadi pasangan SAMAWA. 🥰...


...Aku mau datang numpang makan, tapi nggak punya undangan. Maklum hotelnya berbintang, nggak cocok sama sendal akoh yang masih suka nempel tanah merah. Jadi cuma bisa do'ain aja 😭🤧...