MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
BARU TAHU



Andrew begitu tertarik dengan gadis cantik beriris amber ini. Pria itu juga seorang CEO di perusahaan milik ayahnya. Walau tak sebesar milik perusahaan yang dipimpin Alexa.


"Bagaimana apa kau mau jadi kekasihku?" tanya Andrew.


Alexa mengangguk dengan semburat merah di pipi. Pria itu tersenyum lebar. Mereka mengumumkan diri menjadi sepasang kekasih.


Pertemuan berakhir, mereka pun pulang. Satu kecupan di bibir dilayangkan oleh Andrew. Alexa pun kaget.


"Kau menciumku?" tanyanya tak suka.


"Loh, sepasang kekasih memang harus berciuman sayang," ujarnya.


"Kalau adik kakak, apa juga demikian?" tanya Alexa polos.


"Tentu tidak. Kecuali, kakakmu itu jatuh cinta atau memiliki rasa padamu," jawab Andrew terkekeh.


Alexa tercenung, kini ia baru tahu. Apa yang dilakukan oleh pamannya bukan lah bentuk kasih sayang yang selama ini ia pikirkan.


"Nona," panggil Joe dalam mobil.


"Aku pulang dulu, Ndrew," pamit gadis itu.


"Oke, sayang. Sampai jumpa lagi," ujar Andrew kembali melayangkan ciuman pada kening gadis itu.


Kecupan pria yang baru saja jadi kekasihnya, sama rasanya ketika Joe mengecupnya. Gadis itu menatap pria yang kini sedang fokus menyetir. Joe tampak tenang, walau hatinya begitu gusar. Ia sangat yakin, jika nanti, Alexa akan mulai menjaga jarak dengannya. Tidak ada lagi pelukan juga ciuman seperti biasanya.


'Aku tau aku salah. Begitu memanfaatkan kepolosannya selama dua tahun ini. Untung, aku tak gegabah menidurinya,' gumamnya penuh penyesalan.


Alexa hanya diam hingga sampai rumah. Ia tak marah pada Joe hanya saja, ia kesal dirinya yang terlalu naif jadi perempuan. Mengira ciuman yang sering pria itu berikan adalah ciuman ayahnya. Itulah yang selama ini ia anggap.


"Aku terlalu bodoh," gumamnya pelan.


"Bistel!" sambut ketiga bayi sambil berloncatan.


"Uncle, kita harus bangun kamar untuk mereka," ujar Alexa tiba-tiba.


Joe tergagap. lalu ia mengangguk melaksanakan perintah nonanya. Pria itu memanggil beberapa perancang interior. Banyak kamar di mansion ini. Maka ia hanya mengubah beberapa untuk ketiga bayi itu.


"Nona, bagaimana jika kita ambil kamar ini saja, ini paling luas dan bisa kita design untuk mereka," ujar Joe.


Alexa pun setuju. Seorang design interior datang dan memberi beberapa gambar. Alexa memilih beberapa warna kontras dan pastel yang dipadukan. Ia juga membeli tiga box bayi, agar ketiganya bisa tidur di tempat mereka masing-masing.


Butuh waktu dua minggu untuk merubah bentuk kamar tamu. Para bayi langsung ditempatkan di kamar itu.


"Nona, ada masalah di sektor A!'


Joe datang dengan wajah menahan kesal dan amarah. Alexa mengangguk. Ia masuk kamar dan mengganti bajunya, lalu dengan langkah tegap ia mengikuti Joe.


"Jaga anak-anak!" titahnya.


Gadis itu mendengar kabar jika ada perebutan wilayah di sektor A. Padahal jelas-jelas wilayah itu adalah milik Ayahnya. Gadis itu memegang senjatanya. Ia sedikit mengernyit.


"Kok, enteng ya?"


Ketika ia melihat dan menarik pelatuknya. Tiba-tiba keluarlah gelembung sabun.


"Sejak kapan pistolku jadi seperti ini!" bentaknya kaget.


Joe juga sangat terkejut.


"Kapan Nona membeli mainan ini?" tanyanya.


Alexa menggeleng tanda tak tahu.


"Telepon rumah, minta maid menyusuri tempat dan singkirkan semua mainan senjata!" titahnya.


Joe langsung menelepon mansion dan meminta semua maid mengambil mainan yang berupa senjata.


"Pasang cctv di area anak-anak!" titah Alexa kemudian. "Lalu kita pergi ke perusahaan pembuatan senjata, aku ingin ambil senjata di sana!"


Mobil melaju kencang. Di mansion para maid langsung memisahkan semua mainan berbentuk senjata. Senjata yang Alexa pegang sudah aman di laci yang terkunci rapat. Gadis itu lupa, jika dia sendiri yang menaruh pistolnya itu. Setelah mengambil senjata, mereka mendatangi sektor A.


Para mafia yang bertikai langsung menyambut Alexa dan rombongan dengan rentetan senjata. Gadis itu juga mahir memainkan senjata mematikan itu. Dengan begitu berani ia menembakkan dan melesatkan peluru-peluru tajam pada semua orang yang menentangnya.


"Habisi!" pekiknya.


Semua dihabisi. Tak ada yang tersisa. Alexa mengusap peluh di kening dan melangkah mendekati salah satu ketua mafia yang menyerobot tanah miliknya.


"Kau cari mati?" ancamnya lalu menodongkan pistol.


Pria itu kencing di celana. Alexa menarik pelatuk dan keluarlah gelembung sabun tersebut.


"Cis, sama senjata mainan saja kau takut!" ejeknya menghina.


Bersambung