MAFIA GIRL AND THE TWINS

MAFIA GIRL AND THE TWINS
GALA DINNER



Malam menjelang. Alexa tampil dengan gaun warna pink, sesuai dengan usianya yang masih tujuh belas tahun. Salah satu maid menatap wajah cantiknya tanpa make up.


"Nona, mau kah kau berdandan sedikit, agar wajahmu tak terlalu pucat?" tawar maid itu.


Alexa mengangguk. Ia memang tak bisa berdandan. Meja riasnya hanya ada bedak tabur bayi. Maid itu bergegas ke kamarnya dan mengambil peralatan makeup yang baru saja ia beli.


"Duduklah, Nona!" pintanya setelah sampai kamar Alexa lagi.


Gadis itu menurut. Para bayi sudah tidur di kamarnya bersama beberapa maid.


"Saya baru membelinya tadi, ini adalah produk makeup herbal jadi tak akan membuat kulit asli Nona tetap bagus," jelas maid itu.


Hanya riasan tipis. Alexa sudah sangat cantik. Maid menyisir dan menata rambut anak majikannya. Lalu mengambil jepit rambut mutiara dari saku bajunya.


"Sekarang, Nona bisa berkaca dan melihat penampilan Nona sendiri," ujar maid.


Alexa berbalik. Ia terpana melihat wajahnya jauh lebih cantik ketika di makeup. Maid memang mengaplikasi wajah gadis belia itu tidak berlebihan.


"Nona cantik sekali bukan?" tanya maid meminta pendapat.


Alexa mengangguk antusias.


"Apa ini milikmu?" tanyanya ketika melihat jepit rambut mutiara di kepalanya.


"Sekarang itu milik Nona. Benda itu terlalu bagus di kepala saya," jawab maid.


Alexa membalik tubuh dan memeluk maidnya. Maid juga senang dipeluk nona mudanya.


"Nona!" panggil Joe, pria itu belum sadar perubahan wajah adik angkatnya itu.


Alexa pun menguraikan pelukannya. Mengambil tas warna perak sesuai sepatu hak tingginya. Joe baru sadar akan penampilan Alexa yang sangat cantik. Jantung pria itu bergemuruh kencang. Ia akan menjaga penuh nonanya. Karena yakin akan banyak pria yang mendatangi gadis itu dan memanfaatkan kepolosannya.


"Apa kita jadi berangkat Uncle Joe?"


"Ah, iya. Mari Nona," jawab pria itu tergagap.


Joe menekuk lengannya. Alexa mengait lengan itu dengan rangkulan lengannya. Mereka berjalan beriringan keluar rumah. Alexa tidak lagi memerintah untuk menjaga ketiga adik kembarnya. Para maid sangat tahu tugas mereka. Menaiki mobil Bentley warna pink. Mobil yang di cat khusus dan satu-satunya di dunia untuk gadis cantik dan kaya raya. Mobil itu melesat meninggalkan halaman mansion mewah.


Setelah tiga puluh menit, mobil bercat khusus itu pun berhenti. Petugas valet pun membuka pintu untuk Alexa dan Joe. Pria itu menyerahkan kunci pada petugas. Lalu, kembali memasang lengannya. Alexa mengaitkan lengannya di sana. Keduanya memasuki ruangan dengan langkah anggun. Semua menatap dua orang yang baru saja datang itu.


Semua mata menganga melihat kecantikan Alexa. Andrew Smith menatap tak percaya mantan pacarnya begitu cantik. Ia jadi cemburu dengan semua pria yang kini menatap gadis itu dengan pandangan memuja. Pria itu tambah marah lagi ketika Harry menyambangi gadis itu dan mengambil alih gandengan tangan Joe.


Joe sendiri sangat tampan dengan balutan formalnya. Taxedo warna hitam pekat sangat pas dengan tubuh kekarnya.


Alexa menatap Harry dengan pandangan penuh. Ia mencari kemana wajah culun dan menyebalkan di pandangan gadis itu.


"Tumben kau tampan Tuan Robinson?" ledek Alexa.


Harry sedikit menyentak tubuh gadis yang tinggi sehidungnya itu. Pria itu merengkuh pinggang ramping dan menggoyangnya mengikuti irama musik.


"Ck ... dia berperilaku seperti gadis terhormat. Apa kalian tau jika ia sudah memiliki tiga anak kembar tanpa suami?" ujarnya mengumbar cerita.


Tidak salah Andrew bercerita tentang hal itu. Alexa sendiri yang mengakui ketiga bayi itu adalah anaknya.


"Jangan bergosip yang tak benar!' tegur salah satu pebisnis.


Joe mendengarnya. Ia mengepal erat. Tapi, sejurus kemudian ia tersenyum penuh arti.


Bisik-bisik itu mulai menyebar tak tentu. Hingga terdengar di telinga Alexa dan Harry. Pria itu menatap gadis yang kini berada dalam rengkuhannya.


"Apa yang mereka bicarakan adalah dirimu dan tiga anak yang kau bawa kemarin?" tanya pria itu.


Alexa mengangguk sekilas. Harry mempererat pelukannya. Alexa sangat nyaman dalam pelukan pria itu. Harry makin berani dengan mendekatkan wajah dan mengecup singkat hidung gadis itu.


"Kau mesum sekali Tuan Robinson?" sindir Alexa.


Harry terkekeh. Ia jatuh cinta dengan gadis dalam pelukannya itu. Iris hitamnya menatap iris hazel Alexa. Gadis itu berdebar. Ada getaran aneh yang masuk ke pori-porinya. Ia merinding ketika Harry mengecup lembut bibirnya.


"Tuan Robinson," panggil gadis itu lirih.


"Nona Pierce," sahut Harry.


Dua tubuh yang saling menempel itu makin menjauh dan kini berada di balkon dengan penerangan redup. Kedua bibir sudah saling bertaut.


Alexa merasa berbeda ketika Harry memagut bibirnya. Tidak seperti ciuman yang dulu Joe pernah berikan bahkan Andrew. Ciuman Harry sangat lembut.


Pria itu melepas ciumannya. Napas keduanya menderu. Alexa ingin dicium lagi. Gadis itu kembali menyambar bibir yang memujanya tadi. Kembali mereka berciuman.


"Menikahlah denganku," ajak Harry di sela-sela ciumannya.


Alexa melepas tautan bibirnya. Ia menatap pria itu lekat. Ada kesungguhan di sana. Pria dewasa memintanya menjadi istri.


"Maukah kau jadi istriku?" pinta Harry lagi.


Alexa mengangguk tapi kemudian menggeleng lalu lama ia mengangguk lagi. Harry terkekeh.


"Aku akan menunggumu hingga siap. Kita kembali ke dalam. Aku sudah lapar," ajaknya..


Alexa mengangguk. Keduanya pun kembali ke ruang utama.


"Nona, Joe memukuli Tuan Smith di taman depan!" teriak supirnya.


"Apa?"


bersambung.